Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
70. Orang Pilihan


__ADS_3

"Apa kamu serius? Lu Shizu adalah orang pilihan?" Railene masih terkejut.


Railene diam dengan ekspresi kosong, menatap Lu Shizu dengan mulai menjelajahi detail ingatannya. Sebelumnya, dia hanya melihat sekilas dan tidak melihat hal aneh. Ternyata setelah menyelidiki lebih dekat, Railene mendapati satu kejadian yang menjadi syarat orang terpilih.


Lu Shizu juga merupakan orang yang mengalami keajaiban dalam hidup ini. Berbeda dengan Railene yang mengalami kelahiran kembali. Lu Shizu adalah satu-satunya yang selamat dari sebuah kecelakaan besar di China saat berwisata grup dengan kelompok bermain dua tahun lalu. Ini menyebabkan Lu Shizu kehilangan ingatannya, tapi mendapatkan satu kemampuan yang cukup kuat dan meyakinkan, telekinesis.


Railene menemukan ingatan ini di bawah alam sadar Lu Shizu. Artinya, gadis kecil ini belum mengingat kecelakaan itu. Tapi gadis kecil itu kerap mengalami mimpi buruk meskipun tidak terlalu sering. Hal-hal yang menghantui itu membuat orang tua Lu Shizu memilih untuk meninggalkan China dan menetap di negara ini.


Railene menghela napas sedikit. Bertanya pada Inchara tentang apakah Lu Shizu sudah mengenali penunjuk jalannya atau bagaimana tingkat kemampuan milik Lu Shizu saat ini. Tapi, dia belum sempat menanyakannya karena gadis kecil di depannya meminta perhatiannya. Akhirnya keduanya mengobrol bersama. Membahas naskah dan bagaimana keduanya harus berakting.


Lu Shizu adalah gadis yang lumayan berbakat. Dia akan paham dan meskipun ada beberapa kesalahan, dia akan mengoreksinya dengan benar dan mempertahankan kualitas aktingnya. Railene cukup senang dengan pemahaman Lu Shizu. Keduanya berpisah saat Lu Shizu dipanggil untuk riasan dan kostum, sedangkan Railene dibawa oleh Maria yang baru kembali membeli makan siang Railene.


"Apa terjadi sesuatu tadi?" Tanya Maria pada Railene.


Railene sudah agak terbiasa dengan Maria yang sensitif terhadapnya. Dia mengangguk dan menjawab jujur.


"Shizu membawa boneka ke ruang ganti tapi udah dibuang," ujar Railene menjelaskan dengan singkat.


"Apa kamu baik-baik aja? Perlu sesuatu untuk menenangkan?" Tanya Maria perhatian. Meksipun nadanya datar dan tanpa raut wajah yang sesuai, Railene mengerti perhatiannya.


"Aku baik-baik aja. Umm... mungkin setelah syuting aku perlu beli yogurt sama cokelat," kata Railene dengan nada biasa.


Maria membantu Railene duduk di kursi dan membuka kotak makan siangnya. Lalu berkata, "Aku akan membelinya sekarang, kamu makan siang dulu."


Maria segera kabur sebelum Railene menolak. Railene berkedut di sudut bibirnya. Dia ingat bahwa Maria hampir selalu begitu. Apapun yang dia inginkan akan dikirim dengan segera, bahkan jika itu membutuhkan waktu atau perjalanannya cukup jauh, Maria akan bersedia mengantar atau membelikan sesuatu untuknya. Terkadang dia merasa tidak enak, tapi Maria selalu menolak untuk menyerah. Jadi, Railene mulai berhenti membahas hal tidak perlu yang dia inginkan kadang-kadang.

__ADS_1


"Rail, kamu baru makan siang?"


Railene menoleh dan mendapati Arkan yang mendekat dengan satu kotak kecil di tangannya. Ia pernah melihat Arkan membawa kotak itu hampir kemana-mana. Dan ia sudah tahu isi di dalamnya. Itu adalah harta karun bola cokelat dan permen buah yang enak. Railene mengenali bahwa rasanya sama dengan merek-merek yang dibeli khusus di luar negeri. Dan terkadang juga Arkan membaginya untuk Railene.


"Iya, Kak Arkan nggak makan siang?" Tanya Railene tersenyum kecil.


Arkan cengengesan dan duduk di sebelah Railene. "Aku udah makan siang. Liat, aku bawa kotak harta karun, apa kamu mau makan beberapa?" Tanya Arkan selanjutnya. Dia membuka kotak berwarna hitam itu dengan kunci klik di tengah-tengah kotak.


"Aku mau makan dulu," ujar Railene sambil menggeleng pelan. Dia merasa bahwa belakangan, dia menjadi lebih sering makan makanan manis. Dia sedikit terobsesi dengan kesehatan dan kebersihan jadi dengan enggan mulai mengendalikan dirinya sendiri dari terlalu banyak memakan makanan manis. Lagi pula Maria sedang membeli apa yang sedang dia inginkan saat ini.


Arkan tidak memaksa dan makan cokelat dengan gembira. Dia juga tidak berhenti bicara dan bercerita tentang apa saja, termasuk turnamen karate yang akan datang. Railene ingat dia ingin mengikuti turnamen ini juga, jadi dia banyak bertanya kepada Arkan.


"Kali ini turnamennya ada di luar kota. Tapi, untungnya saat itu kita udah selesai syuting. Latihan turnamen dimulai minggu depan, apa kamu mau ikut turnamen itu?"


"Hu um, aku nggak ada kerjaan dan mau ikutan itu. Kak Arkan ikut, kan?"


"Aku juga sering bolos, apa aku juga nggak bakal lolos seleksi?" Tanya Railene tiba-tiba. Dia menyadari juga karena kesibukan syutingnya, dia tidak bisa mengikuti latihan rutin karate untuk persiapan turnamen.


"Nggak apa-apa. Aku yakin kamu bakal lolos kok, aku ingat kamu selalu dipuji sama pelatih," ujar Arkan dengan nada gembiranya sambil menempuk bahu Railene.


Railene tertawa menanggapi. Dia melanjutkan makan dan mendengarkan Arkan bercerita. Setelahnya mereka syuting adegan lagi.


...


"Jadi, menurut yang seharusnya terjadi, Shizu punya kemampuan telekinesis dan baru bisa menggunakannya akhir-akhir ini? Dia juga belum bisa ngobrol lancar ke penunjuknya? Masih harus lewat mimpi gitu?"

__ADS_1


"Iya. Juga kekuatan utamanya bukan tentang kemampuan mental, tapi pengendalian terhadap benda. Dia pakai medan magnet bumi buat latihannya. Kecuali dia sendiri, tidak ada yang tahu kalau Lu Shizu bisa menggerakkan benda-benda," jawab Inchara.


Railene terdiam beberapa saat. Memikirkan bahwa ada manusia lain sejenisnya yang bisa menggunakan kemampuan yang berbeda, membuatnya sedikit takjub. Ia juga tiba-tiba merasa penasaran bagaimana kemampuan itu bekerja.


Sambil merebahkan dirinya di tempat tidur, Railene mulai bertanya-tanya tentang hal-hal mengenai ini.


"Apa aku bisa ngobrolin ini sama Shizu? Dia punya kekuatan di usia sekecil itu dan nggak bilang ke orang tuanya. Artinya dia bisa jaga rahasia dan punya dunianya sendiri, kan?"


"Begitukah? Mungkin... hehe," gema Inchara yang terkekeh kecil membuat Railene ikut tersenyum.


"Tentang teman-teman sesama penunjuk jalanmu, apa mereka punya aturan untuk para orang terpilih?"


"Aturan? Aturan tentang apa?"


"Misalnya, aku nggak boleh membahas tentang hal-hal semacam ini ke sesama orang terpilih dan semacamnya,"


"Sepertinya mereka tidak mengatakan apa-apa tentang itu. Mungkin artinya kamu boleh. Cuma, kamu tidak bisa menunjukkannya ke manusia biasa yang tidak bisa kamu percaya. Keberadaan kita adalah langka dan aku khawatir nanti akan menyebabkan masalah yang tidak perlu,"


Railene mengangguk dengan senyum kecil. Dia mulai menyadari bahwa Inchara mulai terlihat sifat manusianya. Pemikirannya juga berkembang, tidak sepolos sebelumnya. Railene merasa sedikit kehilangan. Hanya sedikit, dan dia masih bahagia dengan perubahan Inchara.


"Selama nggak menggangu, berarti boleh," ujarnya sambil mematikan lampu kamar dan bersiap untuk tidur.


***


Jangan lupa like dan komentar.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2