Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
81. Alam Jiwa


__ADS_3

Alam Jiwa adalah ruang nyata dalam inti jiwanya. Railene pernah membaca buku fantasi online yang menceritakan hal-hal seperti ini. Sekarang dia tidak menyangka bahwa dia memilikinya sendiri. Meskipun pernah menebaknya, dia tidak aktif dalam harapan karena dia sangat tahu seberapa fiksinya itu.


Saat ini Railene berada di dalamnya. Padang rumput luas masih terbentang tak berujung. Satu-satunya perbedaan pandangan adalah munculnya sebuah rumah sederhana yang klasik, agak kuno, tapi estetikanya menyenangkan mata. Memberikan perasaan hangat yang hidup ketika memasukinya.


Ruang di dalamnya tidak besar dengan pola lingkaran. Porosnya adalah ruang utama dengan sofa cokelat berbahan sutra dan bulu angsa. Karpetnya tebal dan lembut, sangat nyaman diinjak kaki. Ruang utama dikelilingi ruang lainnya. Ruang terbesar adalah kamar tidur berukuran king size yang terbuat dari bahan berkualitas tinggi yang pastinya berharga ratusan juta jika diproyeksi ke dunia nyata karena terbuat dari sutra berkualitas tinggi, selimut bordir emas, dan kerangka ranjang emas.


Di dalam ruangan itu juga terdapat kamar mandi. Ada kolam mata air panas kecil, tempat pancuran, bak berendam elegan, peralatan mandi yang anehnya tidak memiliki merek, dan tiga jubah mandi berbulu halus tergantung di lemari kayu kecil. Semuanya yang ada di dalam ruangan terbuat dari kayu dan beberapa memiliki motif kayu.


Di samping ruang kamar adalah ruang buku dengan jumlah terbatas. Railene menanyakan dari mana asal buku itu dan Inchara menjawab itu muncul sendiri ketika rumah ini juga muncul. Itu bisa disebut ruang belajar yang elegan dan masih klasik yang memanjakan mata. Bedanya ada teknologi bergerak yang dapat mengatur dan mencari posisi buku yang diinginkan. Railene melihat daftar buku di layar transparan aneh di samping meja belajar satu-satunya. Perintah dapat di lakukan dengan suara seolah rumah klasik ini merupakan smart home.


Ruangan lainnya adalah dapur bergaya mediterania yang langsung terhubung dengan ruang makan. Furnitur banyak berbahan kayu poles dan peralatan masak yang dapat dikatakan keren. Teknologi di dapurnya juga sangat lengkap. Mesin cuci piring otomatis yang membersihkan lima kali lipat dan steril daripada kekuatan tangan, microwave, kompor canggih pola kayu, dan kulkas 8 pintu berbahan kayu yang ruang-ruangnya dipisahkan berdasarkan jenis makanan yang dapat memperbaharui stoknya sendiri. Railene bertanya-tanya dari mana bahan-bahan itu berasal.


Ruang selanjutnya tidak memiliki isi sama sekali kecuali sebuah bantal duduk di tengahnya. Lantai dan dindingnya semua kayu dan ada lampu hangat bergantung di atas bantal duduk. Railene memasuki ruangan itu dan anehnya merasakan energinya bertambah. Sebelum sempat Railene bertanya, Inchara yang sedari tadi di belakangnya maju menjelaskan dengan antusias.


"Rail, ini adalah ruang latihanmu. Aku bilang sebelumnya kalau sekarang kamu bisa latihan dengan hasil dua kali lipat lebih kuat. Ini di sini, kamu bisa bermeditasi dua jam sehari di sini," kata Inchara dengan gembira.


"Ruang latihan? Energi ini muncul dari mana?" Tanya Railene dengan aneh dan setengah takjub.


"Oh, itu berasal dari alam ini sendiri. Jumlahnya tidak terbatas," kata Inchara lagi.


"Bukannya ini alam jiwaku? Apa semua kekuatan ini berasal dari jiwaku? Ini... mirip recycle kan? Dari aku kembali ke aku?"

__ADS_1


"Bukan gitu. Walaupun ini alam jiwamu, tapi energi dalam ruangan ini sebenarnya inti dari segel yang terbuka. Ini kayak stok energimu sendiri yang disiapkan buat kamu latihan," ujar Inchara.


"Kamu tau dari mana asalnya?"


"Aku tidak tau. Tapi, ini berhubungan dengan asal muasal yang kamu cari," kata Inchara dengan alis berkerut. Wajahnya yang mungil terlihat bingung. Dia menggaruk kepalanya tanpa sadar.


Railene tersenyum dan mencubit kecil pipi Inchara karena gemas. Tidak melanjutkan bertanya karena dia berencana membaca buku di ruang belajar nantinya. Dia menjelajah ruang selanjutnya atau ruang terakhir yang berada dalam lingkaran.


Itu adalah ruang yang tidak terlalu luas dengan banyak alat yang belum pernah dilihat Railene sama sekali. Dia tidak tahu apa saja yang berada di dalamnya, tapi dari ukuran besar kecilnya, Railene dapat menghitung jumlah benda-benda itu tidak lebih dari 30 buah. Railene kemudian bertanya pada Inchara.


"Ini ruang peralatan dan senjata koleksi. Kamu adalah pemilik kekuatan mental yang kuat dan punya senjata atau peralatan yang pastinya beda dari mereka yang punya kekuatan fisik. Aku akan jelasin satu per satu," kata Inchara bersemangat.


Railene mencegah terlebih dahulu. Dia kira sudah cukup untuk saat ini. Railene menghitung waktu di dalam hatinya dan menebak bahwa sudah pagi di dunia nyata. Dia akan melanjutkan pencarian nanti dan mempelajari di waktu luangnya. Kemudian dia menanyakan pertanyaan terpenting sebelum keluar dari alam jiwa.


"Oh, itu... kamu belum cukup kuat sekarang, jadi saat ini kamu masih membawa tubuh aslimu. Alam Jiwa ini terikat sama kamu dan ada di dalam tubuhmu. Sebelum kamu bisa memisahkan kesadaran, kamu tetap bakal bawa tubuhmu sendiri ke sini kalau masuk saat ini," ujar Inchara dengan penjelasan lugas.


"Jadi, kalau aku ke sini, aku hilang di kamarku sekarang?" Tanya Railene dengan terkejut.


Inchara mengangguk polos. Railene mengurut keningnya sejenak dan menghela napas. Dia merasa bahwa dia terlalu lemah saat ini. Dan jika yang dikatakan Inchara adalah kebenarannya, maka Railene akan sulit memasuki Alam Jiwa nantinya. Dia tidak bisa seenaknya mengilang dan muncul tiba-tiba. Bahkan jika dia membolos kelas, akan ada kemungkinan ditemukan jika dia keluar tiba-tiba setelah berkunjung di sini.


"Apa ada perbedaan waktu di dunia nyata dan Alam Jiwa?" Tanya Railene selanjutnya.

__ADS_1


Inchara menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang seperti itu di sini," katanya polos.


"Terus, apa bisa teleportasi atau pindah ke tempat lain kalau aku masuk ke sini?" Tanya Railene lagi.


Inchara kembali menggeleng. "Rail, ini Alam Jiwa bukan alat atau kendaraan yang bisa pindah tempat. Selama tubuhmu atau jiwamu ada di sini, kamu tetap diam di tempat," ujar Inchara lagi masih dengan nada polosnya.


Railene menghela napas panjang. Meskipun tadinya memiliki sedikit harapan, tapi Railene tidak begitu kecewa. Dia tidak bisa muluk-muluk dan berharap bahwa Alam Jiwa ini begitu ajaib dan spektakuler sehingga tidak memiliki kelemahan. Dia sendiri masih lemah dan dia mengerti bahwa konsep dan kekuatan Alam Jiwa mengikuti perkembangannya sendiri. Jika dia kuat, mungkin akan ada banyak manfaat lain yang bisa dia lihat di sini.


Dia mengangguk dan keluar. Kembali ke dunia nyata, Railene melihat jendela dari balkon yang sudah agak bercahaya. Dia melirik ke arah jam digital yang menunjukkan waktu 5 menit sebelum jam bangun alaminya. Kemudian melirik Inchara yang duduk di sampingnya, memperhatikan dengan senyum hangat yang ceria.


"Selamat pagi, Rail!"


Railene tersenyum begitu saja, "Selamat pagi, Chara."


Itu pagi indah yang lain.


***


Hai hai..., maybe akan banyak absen dalam minggu-minggu ini karena banyak tugas dan UAS. Semoga para readers masih setia menunggu, hehe...


Jangan lupa like dan komentar.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2