Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
69. Lu Shizu


__ADS_3

Kasus Internasional yang dihadapi Selena menjadi sangat penting. Dia hampir tidak memiliki waktu untuk evaluasi bersama Railene atau menemuinya sendiri. Railene juga tidak mencarinya karena tahu bahwa ada hal besar dan peperangan strategi di sisi gelap dunia. Dia kebetulan hanya seorang anak yang tahu sedikit urusan ini.


Railene melanjutkan syuting film pertamanya. Hari ini adalah adegan dimana Eda Mimo dan Oba bertemu sosok mitologi Putri Bunga. Seperti namanya, Putri Bunga secantik bunga, putih, dan sangat lembut. Karakter ini dimainkan oleh sosok pemalu Lu Shizu, gadis kecil riang yang tempo lalu mengajak Railene bicara saat casting. Bahkan mereka mengobrol tentang naskahnya dengan riang.


Railene ingat gadis kecil itu. Sosok aktif yang imut dan menyenangkan. Suaranya juga lucu seperti susu, bahkan Railene yang tidak terlalu toleran terhadap anak-anak seumurannya bisa menjadi betah di dekat Lu Shizu. Gadis kecil berusia enam tahun itu seperti matahari kecil yang bersinar, menyenangkan.


Mengingat Lu Shizu, Railene tersenyum geli. Penata rias di depannya yang melihat senyum Railene di tengah diamnya bertanya penasaran.


"Apa sesuatu yang bagus terjadi?" Tanya penata rias dengan senyum penasaran.


"Ya, temanku akan datang," ucap Railene lugas. Wajahnya senang tapi nadanya tenang.


Melihat Railene bersikap dewasa, penata rias tersenyum geli. Wajah mungil yang kekanak-kanakkan itu tidak cocok untuk pembawaannya yang dewasa. Bukannya menimbulkan keagungan yang sombong, itu terlihat seperti hal lucu yang dapat melubangi jantung siapa saja yang belum terbiasa. Tersapu keimutan yang menawan.


"Teman barumu?" Tanya penata rias dengan penasaran lagi.


"Hmm, iya, kami baru ketemu dua kali." Railene mengangguk takzim. Seperti seorang Kakak perempuan kecil yang senang dikunjungi adiknya.


Penata rias juga menanggapi dengan manis. Meletakkan kesenangan Railene tetap stabil. Railene yang tersenyum bukan hal yang langka, tapi keindahan itu sesering apapun orang melihatnya, mereka akan ketagihan dan menjadi candu.


Belum selesai Railene dirias, teriakan menyenangkan datang dari luar ruang kostum dan rias. Railene mengangkat alisnya, memandang cermin dan menunggu pintu yang terlihat dari cermin, terbuka.


"Tante penulis, selamat siang!"


"Om kamera, selamat siang!"

__ADS_1


Nada cerah yang berulang di luar semakin jelas dan sapaan-sapaan balasan terdengar. Tak berapa lama sosok kecil pendek masuk dari pintu yang dibukakan asistennya. Gadis kecil Lu Shizu masuk menyeret boneka beruang kecil di tangan kanannya.


Railene melihatnya, Lu Shizu juga melihatnya. Tubuh Railene kaku lalu bergetar, Lu Shizu tersenyum cerah tanpa tahu apa-apa. Dia berlari mendekat dan menyapa Railene. Railene menjadi pucat dan badannya bergetar lebih banyak. Dia mulai kesulitan bernapas.


"Kakak? Kamu udah datang?" Lu Shizu menyapa gembira.


"Jangan mendekat!" Railene berteriak seketika. Tidak keras, hanya seperti tenggorokannya yang terjepit. Dia tampak menghidari menatap boneka yang dibawa Lu Shizu.


Lu Shizu berhenti tepat waktu. Menjadi bingung dan merasa aneh, kenapa kakak yang seminggu lalu bermain dengan gembira bersamanya menjadi aneh ketika bertemu dengannya lagi? Lu Shizu bertanya-tanya apa yang salah. Dia sedikit sedih dengan penolakan kakak cantiknya yang baik.


Orang-orang di dalam ruang kostum menemukan keanehan Railene. Kemudian salah satu staf penata kostum menyadari masalahnya. Dia bergegas menggendong Lu Shizu dan membawanya keluar dari ruang ganti. Asistennya mengikuti dengan bingung dan aneh.


Setelah Lu Shizu keluar, Railene menghela napas lega. Masih ada tremor di sekujur tubuhnya dan ada titik-titik keringat dingin di dahinya. Rasa cemas dan takut luar biasa di hatinya berangsur reda. Tapi, meskipun begitu, Railene masih memiliki bayangan yang sangat mengerikan di kepalanya.


"Railene, kamu baik-baik aja? Ada apa?" tanya penata rias yang agak cemas.


Beberapa menit kemudian, Lu Shizu masuk dengan wajah murung. Tidak ada lagi boneka di tangannya. Sang asisten memandang sambil menghela napas pada Lu Shizu dan Railene.


Lu Shizu mendekati Railene, tampak sedih dan merasa bersalah. Railene yang masih tegang menoleh dengan tajam, mencari-cari benda yang paling ditakutinya. Setelah memastikan tidak ada boneka di tangan Lu Shizu, dia merilekskan tubuhnya. Memandang Lu Shizu yang menyedihkan. Railene tidak bisa menahan untuk tidak menghela napas.


"Kakak, maafin aku. Aku nggak tau kalau Kakak takut sama boneka. Maaf...," ucap Lu Shizu sambil membungkukkan tubuhnya.


Railene bangun dan memegang bahu Lu Shizu. Membuatnya kembali berdiri tegak. Merasa sedikit lucu dengan wajah kecil bersalah itu. Tremor Railene sudah banyak berkurang dan bahkan sedikit terhibur dengan tingkah polos Lu Shizu.


"Oke, kamu nggak tau, jadi kamu nggak salah. Jangan sedih, ya," kata Railene dengan lembut. Kulitnya tidak lagi pucat dan di atas kelucuan Lu Shizu, Railene banyak membaik.

__ADS_1


Lu Shizu mengangkat wajahnya. Matanya masih berkilat dengan rasa bersalah, tapi melihat senyum Railene, dia memutuskan bertanya. Memastikan apakah benar-benar tidak masalah.


"Beneran? Kakak baik-baik aja, kan?" Tanya Lu Shizu denhan suara kecilnya.


Railene mengangguk dengan meyakinkan. Memperbaiki ekspresi Lu Shizu menjadi lebih baik. Railene mencubit pipi berlemak Lu Shizu. Dan seketika agak ketagihan.


"Apa Kakak penata kostum yang memberitahumu?" Tanya Railene selanjutnya. Agak sedikit penasaran bagaimana staf itu tahu phobianya. Dia melihat sekeliling dan tidak mendapati staf tadi. Mungkin sedang sibuk.


"Hu um, Kakak kostum bilang kalau Kakak Rail takut sama boneka, terus katanya kalau Kakak Rail liat boneka, kamu bisa pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Jadi, aku buang bonekanya karena takut Kakak Rail dibawa ke rumah sakit. Kakak beneran baik-baik aja, kan? Nggak perlu dibawa ke rumah sakit, kan?" Lu Shizu menjelaskan dengan nada kekanak-kanakkannya. Railene berkedut di sudut mulutnya. Entah mengapa ingin mengoreksinya karena dia tidak selemah itu. Kecuali, tingkat ekstrem, Railene tidak akan pingsan apalagi dibawa ke rumah sakit. Tapi, untuk menghibur wajah kecil adik barunya, Railene mengangguk.


"Aku baik-baik aja. Nggak perlu dibawa ke rumah sakit. Jadi jangan sedih, oke?"


Lu Shizu mengangguk patuh. Anak penurut itu sangat baik di mata Railene. Bahkan sekarang dia sedang pamer kepada Inchara dalam batinnya. Seolah orang yang ketakutan dan pucat tadi bukan dirinya.


"Ah, Chara... apa kamu bakal seimut dia? Liat Lu Shizu, dia lucu banget. Aku mau dia jadi adikku." Railene berujar dalam hatinya.


Inchara lama diam sebelum sebuah kalimat membuat Railene terkejut dengan kekaguman dan ketidaksengajaan.


"Rail, kamu ingat apa yang aku bilang sebelumnya tentang seseorang yang juga seorang terpilih di sekitarmu? Itu dia, Lu Shizu adalah orang pilihan itu dan kemampuannya baru muncul baru-baru ini, tapi belum bisa mengenali kamu sama dengan dia."


Kata-kata Inchara begitu mengejutkan Railene.


***


Hai maaf baru update karena lagi sibuk UTS, hiks..

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar.


Have a nice day!😊


__ADS_2