
Setelah pertandingan, syuting, dan misi pertamanya, Railene memiliki waktu santai yang lama. Kegiatannya sama saja seperti sebelum dia bergabung dalam banyak kegiatan asing. Ketika dia benar-benar ingin sedikit beristirahat, Railene juga sedang mencari petunjuk buku kedua Ghost Gypsy. Dia juga melatih kemampuan mentalnya hingga semakin kuat.
Hingga suatu hari, Railene kehilangan koneksi dengan Inchara. Secara total, dia tidak dapat menemukan fluktuasi kehidupan dalam jiwanya. Seperti hilang begitu saja.
Itu adalah hari dimana ia akan berulang tahun kurang dari satu minggu.
Awalnya, ketika Railene bangun pagi seperti biasa, ia tidak mendapati sapaan selamat pagi Inchara. Itu tidak biasa terlepas dari kebiasaan jalan-jalan atau alasan tidur Inchara. Dan untuk pertama kalinya, Railene merasa sedikit kosong dalam jiwanya. Tidak ada lagi visual ruang dalam benaknya. Hanya kosong.
Railene tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia masih menenangkan dirinya. Inchara selalu bersama Railene hampir selama lima tahun ini. Dia selalu mendengar celetuk tiba-tiba dan sapaan selamat pagi dari teman jiwanya. Dan ketika itu hilang tiba-tiba, dia merasa tidak nyaman.
Dalam kesehariannya, Ben memperhatikan perubahan Railene. Gadis kecil itu sering mengerutkan kening, menghela napas panjang, dan agak murung. Dia telah mencoba bertanya tentang apa yang terjadi. Sayangnya Ben mendapati jawaban standar anak perempuan yang mainstream.
"Railene, kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa," katanya dengan helaan napas tipis.
Saat ini keduanya sedang di perpustakaan sekolah. Ben terbiasa menemani Railene membolos dan kali ini juga sama. Sudah hari ke dua ketika ia melihat Railene tidak biasa sama sekali. Dia sejujurnya bingung dan hanya bisa menghiburnya diam-diam, membelikan beberapa botol yogurt atau sekantong permen rasa susu kesukaan Railene.
Railene sendiri masih mencoba memanggil Inchara dalam benaknya. Sejujurnya dia galau dan benar-benar memikirkan banyak kemungkinan dalam benaknya. Tidak ada penjelasan dalam buku Ghost Gypsy tentang fase ini. Umumnya yang disebut Penunjuk Jalan tidak akan hilang begitu saja. Dia juga tidak memiliki informasi yang memadai tentang seluk beluk hal-hal ini.
Semakin memikirkannya, Railene semakin banyak memiliki kemungkinan. Pertama, mungkin saja Inchara menghilang untuk memproses lonjakan energi dan kekuatan yang ia peroleh selama beberapa bulan ini. Kedua, Inchara akan memiliki tubuh dan membutuhkan waktu untuk membentuknya, jadi dia tidak bisa menemani Railene dalam pikirannya, menghilang untuk pembentukan tubuh sejati. Ketiga, Inchara pergi dengan hal-hal rahasia yang selalu dibawakan oleh informannya. Entah dia akan kembali atau tidak, Railene tidak tahu. Dan yang terakhir, mungkin saja Inchara akan benar-benar hilang dari hidupnya.
Memikirkan hal terakhir, Railene merasa sedih dan hampa. Bagaimanapun dia telah menganggap Inchara sebagai adiknya, keluarganya, temannya yang berharga. Railene memiliki kasih sayang terhadap Inchara sebagai saudara perempuan. Ketika dia hilang, dia bingung dan tertekan.
"Railene, serius, sebenernya kamu kenapa?" tanya Ben dengan wajah khawatir.
__ADS_1
Railene menoleh untuk melihat sahabatnya yang sangat suka paranoid itu. Untuk sesaat dia tersenyum lalu menggelengkan kepala. Dia belum akan menceritakan hal-hal berantakan ini pada Ben. Jangankan keberadaan Inchara, Ben saja tidak tahu kekuatan apa yang dimilikinya saat ini.
"Aku cuma bingung dan ada soal sulit yang belum bisa aku kerjain," jawab Railene tersirat.
Ben mengerutkan kening dan diam. Dia tidak tahu kualifikasi kesulitan Railene. Dalam hatinya, Railene adalah sosok yang lebih unggul dan dia mengaguminya. Jika Railene saja sulit untuk menyelesaikan, Ben tidak yakin dia akan bisa membantu. Meskipun begitu, dia berusaha dan bertanya.
"Soal apa? Ada yang bisa kubantu?"
Railene menggeleng. "Bukan apa-apa. Aku punya beberapa jawaban, cuma harus nyari yang tepat aja. Ini nggak ada hubungannya sama kamu," ujar Railene dengan nada biasanya.
Ben yang sudah mengenal Railene hampir selama lima tahun hanya mengangguk. Jika Railene sudah menemukan jawabannya dan hanya ambigu dengan hasil, dia tidak bisa ikut campur. Dia mengenal Railene dan tahu bagaimana rutinitas saat ia berpikir tentang sesuatu. Kecuali Railene meminta pendapat, dia tidak boleh menginterupsi.
"Oke, ayo makan siang dulu! Sekarang udah istirahat," kata Ben sambil menutup buku dan berdiri.
Railene mengangguk dan mengikuti.
Duduk di balkon kamar, samar-samar Railene memandang langit sore sendirian. Tanpa Inchara yang biasanya mengobrol dengannya, harinya lebih sepi dari biasanya. Dia lalu memikirkan bundanya sekilas dan menghela napas lega.
Dalam beberapa hari, Diza dan Bram semakin mengakrabkan diri. Diza sendiri sudah memberitahu Railene keputusannya untuk mempertimbangkan Bram sebagai ayahnya. Railene tidak memiliki alasan menolak, apalagi menurutnya Bram juga sangat baik. Dia tidak memiliki masalah.
Ding.
Suara notifikasi ponsel membuat Railene tersadar. Dia mengambil ponselnya dan melihat satu tanda pesan masuk. Melihat itu adalah Arkan yang mengajaknya bermain di akhir pekan sebelum ulang tahunnya.
Arkana: [Rail, coba tebak siapa yang aku temui di mall.]
__ADS_1
Railene menjawab kerandoman Arkan selanjutnya.
Railene: [Siapa?]
Arkana: [Teman di lokasi syuting, Shizu. Kami ketemu di restoran sushi. Dia keluar sama mamanya, kami ngobrol.]
Railene berhenti sejenak. Melihat nama Lu Shizu, dia tiba-tiba memiliki pemikiran mengenai Inchara. Railene tahu bahwa Lu Shizu adalah Orang Pilihan seperti dia. Meskipun dia tidak tahu tentang apakah Lu Shizu sudah mengembangkan koneksi spiritual dengan Penunjuk Jalannya, dia masih ada hubungannya dengan misteri semesta yang berhubungan dengan keberadaan Inchara.
Railene tertegun dan kemudian memikirkan kemungkinan untuk berbicara dengan Lu Shizu tentang rahasia ini. Toh, tidak ada larangan bahwa Orang Pilihan tidak boleh bicara satu sama lain tentang rahasia ini. Asalkan tidak diketahui orang lain, ini tidak akan menjadi masalah.
Dengan cepat Railene menghitung untuk pertemuan dengan Lu Shizu.
Railene: [Kak Arkan, ajak Shizu buat main sama kita minggu ini. Kayaknya kalo dia ikut jadi makin seru.]
Railene membalas Arkan dengan positif. Dia tahu karakter hangat dan ceria Arkan. Dengan ajakan untuk keseruan dan lebih banyak teman, Arkan akan semakin senang. Bocah itu lebih suka keramaian dan bicara banyak dengan kesenangan. Dia akan setuju dengan mudah.
Tak berapa lama, jawaban datang.
Arkana: [Ide bagus. Oke, aku bakal ajak Shizu juga!]
Melihat pesan itu, Railene tersenyum lega. Dia menghitung hari dan akan ada dua hari sebelum bermain dengan mereka. Railene menantikan lusa. Dia memiliki kontak dengan Lu Shizu, tapi itu milik agennya alias nomor yang dipegang untuk bisnis. Railene sendiri juga menggunakan nomor bisnis untuk menghubungi Lu Shizu sebelumnya, jadi dia tidak memiliki kontak pribadi.
Dia bisa saja mencuri dengan hacking, tapi karena Lu Shizu adalah temannya, akan tidak sopan mencari tahu menggunakan hal-hal itu. Jadi dia hanya bisa menunggu.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar.
Have a nice day!😊