Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
32. Sogokan Yang Berharga


__ADS_3

"Rai, bisa nggak kamu diam di tempat dan ajarin aku soal-soal ini. Aku nggak pinter di pelajaran IPA. Dan sebulan lagi Ujian Nasional. Sebagai teman yang baik, bukannya kamu harusnya bantuin aku?" Ben merengek sepanjang waktu.


Membawa buku di tangannya dan mengikuti Railene mengelilingi rak-rak di perpustakaan sekolah. Railene tidak memperhatikan Ben dan masih sibuk mencari buku baru yang dikatakan oleh penjaga perpustakaan. Itu adalah hobinya. Sejak dia dilahirkan kembali, semua orang sudah tahu hobi pertama dan selalu menjadi urutan pertama gadis kecil itu adalah membaca buku.


Semua buku di perpustakaan sekolah sudah Railene baca dalam waktu satu tahun. Setiap bulan akan ada sejumlah buku baru dan Railene akan menjadi yang pertama membacanya. Menenggelamkan dirinya di antara tumpukan novel atau buku pengetahuan baru. Semuanya ia lahap habis. Bahkan meskipun itu hanya pengetahuan tingkat SD yang tidak Railene perlukan sama sekali, gadis kecil itu masih membacanya untuk mengajari adik kelasnya sesekali.


Rata-rata orang yang melihat kelakuan Railene tidak akan mengerti mengapa ia bertindak begitu. Di mata banyak orang, Railene memiliki hobi aneh yang tidak bisa dipahami. Dia adalah penunggu abadi perpustakaan sekolah. Setiap orang yang mencari Railene akan mengunjungi perpustakaan lebih dulu sebelum ke tempat lain. Jika tidak ada, berarti dia ada di ruang seni rupa. Jika tidak ada lagi, maka dia sedang bermain musik di ruang musik atau mengunjungi kantor Jean.


Dan mengapa banyak orang mencari Railene, itu adalah alasan yang sama mengapa Ben membuntutinya saat ini.


"Nanti aja," ujar Railene singkat. Mengabaikan Ben dan masih memutari rak-rak buku.


"Nanti kapan? Lagian lebih penting mana, ngajarin aku biar lulus Ujian Nasional atau cari buku yang baru datang?" Ben mencoba peruntungan. Masih mengikuti Railene dengan patuh. Memperhatikan profil wajah indah itu dengan penuh harap.


Railene berhenti sebentar. Melirik Ben sebelum tersenyum. Ben memiliki harapan besar melihat senyum Railene.


"Tentu aja lebih penting nyari buku baru. Hus hus..., jangan ganggu!"


Kata-kata Railene meruntuhkan senyum harapan Ben. Bocah laki-laki berkacamata itu memandang Railene dengan menyedihkan. Tertegun dan tiba-tiba menjadi sedih karena ditolak oleh Railene. Namun..., dia tidak menyerah.

__ADS_1


Ben diam-diam pergi ke kantin sekolah, merogoh sakunya dan menghabiskan seluruh uang sakunya selama lima hari untuk membeli satu lusin yogurt kesukaan Railene. Mengenal Railene selama tiga tahun tidak sia-sia baginya. Ia sangat tahu bahwa Railene paling lemah jika disogok dengan yogurt mahal ini. Apalagi dalam jumlah besar.


Ben tahu apa yang disukai dan dibenci Railene. Gadis delapan tahun itu menyukai buku, yogurt, es krim, dan voucher VIP film aksi atau fantasi. Tinggal menyerahkan salah satu instrumen itu dengan jumlah yang memuaskan, maka Railene akan memandangnya dan memenuhi hal yang dibutuhkan. Gadis kecil itu meskipun kaya raya dan begitu dimanjakan, dia hanya menyukai hal-hal sederhana itu. Bentuk materialistis yang berbeda dari banyak orang.


Ben tidak keberatan selama dia bisa mendapatkan pengajaran berharga Railene dan bisa di sampingnya di masa depan, dia akan membuang uangnya untuk Railene dengan sukarela. Dia tahu Railene sangat jenius. Suatu hari nanti gadis yang menjadi teman bermainnya itu akan meroket ke ketinggian yang tak bisa dia capai dengan mudah. Maka ia selalu belajar dengan keras. Setidaknya, ia ingin terus bersama Railene di kelas-kelas yang akan mereka lewati di masa depan. Ia akan mengambil jalur cepat dan lulus dua tahun untuk masing-masing jenjang SMP dan SMA.


Railene adalah sahabat sejatinya satu-satunya. Seorang yang dia anggap adik dan dia benar-benar menyayangi Railene tanpa syarat. Railene sangat cemerlang dan banyak orang akan memiliki hati iri hingga ada yang menyakiti. Setidaknya, Ben ingin berdiri di samping Railene untuk melindunginya dan menjaganya dengan benar.


Saat ia kembali ke perpustakaan, dia melihat Railene di tempatnya yang biasa. Itu adalah ruang baca khusus untuk siswa VIP. Saat ini hanya Railene sendiri yang ada di ruang itu. Ben masuk setelah menempelkan kartu akses di sisi pintu. Railene terlihat sedang larut dalam buku-buku tentang astronomi. Itu cukup tebal dan sangat berat. Kontras dengan tubuh kecil Railene.


Ben sudah biasa melihat pemandangan itu dan segera mendekat. Ia duduk di kursi sebelah Railene dan menyingkirkankan belasan buku yang dia yakin, dibawa oleh Railene menggunakan troli buku yang ada di pojok ruangan.


Railene sensitif saat mendengar kata yogurt. Ia melirik kantung plastik yang dibawa Ben dan tidak bisa tidak tertarik. Apalagi ketika dia melihat, itu ada dua belas dan masih dingin. Railene masih membaca buku, namun ia menelan ludah karena menginginkan minuman dingin itu.


Ben tahu Railene sudah melihat dan tertarik. Namun, ia tidak berniat mempermainkan Railene. Dia memang memandangnya lucu, tapi dengan segera ia menjejerkan kedua belas botol yogurt itu di atas meja. Railene memperhatikan. Embun dingin di setiap botol membuatnya goyah sekali lagi. Lalu, tatapannya jatuh pada Ben yang sedang tersenyum padanya dengan tulus.


Railene melirik botol-botol yogurt dan Ben berkali-kali sebelum menghela napas dan menyerah. Ia mengambil salah satu botol dan meminta Ben membukakan segelnya. Ben tahu itu dan segera membukakan dengan senyuman lebih cerah. Ia tahu Railene akan selalu menyerah dengan hal-hal yang disukainya.


Menunggu beberapa menit setelah Railene menghabiskan satu botol pertamanya, Ben segera bertanya.

__ADS_1


"Jadi kapan kita mulai?"


Railene menghela napas. Lalu merebut buku di dekapan Ben dan membukanya. Bertanya dengan nada biasa.


"Kamu perlu belajar yang mana?" Tanya Railene to the point.


Mata Ben dengan segera berbinar dan menunjuk beberapa bab dalam buku. Itu adalah tentang rangkaian listrik beserta teorinya dan juga tentang alam semesta. Yang terakhir adalah siklus bulan. Railene memandangi Ben dengan matanya yang sipit.


"Apa kamu tidur sepanjang kelas dan nggak dengerin guru? Kenapa kamu tanya hampir semua materi kelas akhir?" Railene merasa tertipu. Bukan karena itu materi yang sulit baginya. Namun, ia tidak akan selesai dengan cepat karena mengajari Ben banyak materi. Sedangkan ia dengan mudah luluh hanya karena yogurt yang menggugah selera itu?


Ben terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tahu Railene akan mengatakan itu jadi dia dengan sengaja menawarkan hal-hal selanjutnya. Ia akan meminta orang rumahnya untuk mempersiapkan apa yang dia minta.


"Kamu tau kan ada film aksi yang keluar hari ini. Kita akan nonton sepulang sekolah. Aku yang pesan kursi buat kamu, gimana?" Ben dengan senyumnya yang menawan mengharapkan Railene akan luluh.


"Oke, deal!" Railene langsung memulai pelajarannya. Ben mengikuti dengan damai dan hati senang.


***


Hai, terima kasih yang masih setia membaca cerita ini. Jangan lupa like dan komentar. Kritik dan saran saya terima dengan tangan terbuka.😊

__ADS_1


Have a nice day!


__ADS_2