
"Ini nggak susah kok." Railene berujar ringan.
Dia melanjutkan, "Kakak bagian dari badan militer khusus dan juga anggota investigasi kriminal internasional yang lagi sembunyi, aku cuma mau kita kerja sama untuk berbagi informasi satu sama lain. Ini kerja sama individu dan aku nggak akan ikut campur sama urusan rahasia negara. Tapi, kalau Kakak butuh bantuan, aku bakal bantuin dengan informasi yang aku punya," ujar Railene lancar.
Ia memperhatikan perubahan ketajaman mata Selena. Karena terbiasa dengan wajah datar itu, Selena terkendali secara raut. Hanya saja matanya tidak bisa berbohong. Cahaya di matanya sedikit lebih tajam dan redup. Railene tidak tahu apa yang dipikirkan Selena. Kemampuan kambuhannya tidak bekerja saat ini, jadi ia tidak bisa membaca apa yang dipikirkan Selena.
Ia hanya menebak-nebak bahwa sosok di depannya ini adalah seseorang yang suka bersembunyi dan misterius. Selena bahkan memiliki pekerjaan ganda. Di kancah kepolisian internasional, dia adalah bos besar dan atasan yang dihormati karena tingkat kecerdasan dan kecakapannya. Namun, di dalam militer, dia masih dianggap rata-rata dan hanya sedikit lebih unggul sehingga dapat memasuki pasukan khusus dalam tiga tingkat seleksi di percobaan pertamanya.
Selena melakukan hal yang berat dan pasti memiliki lebih banyak tekanan. Dia selalu berhati-hati, msiterius, dan memiliki banyak rahasia di depan orang lain. Tapi, itu semua tidak berguna untuk Railene. Gadis kecil itu hanyalah kaca pembesar yang pasti bisa melihat setitik debu kecil dalam hidup seseorang. Kemampuannya membaca masa lalu sangat membantu. Ia tidak kekurangan informasi, hanya saja ia ingin akses.
Masih memandang Railene, Selena sendiri tidak tahu bagaimana informasi pribadinya yang seharusnya dalam perlindungan tingkat S, diketahui gadis kecil di depannya.
"Darimana kamu dapat informasi tentangku?" Selena bertanya curiga. Dia memikirkan banyak kemungkinan. Salah satunya adalah menganggap Railene adalah hacker tingkat tinggi yang seperti jaring pukat harimau. Tidak memiliki celah.
"Aku nggak akan bilang itu darimana sebelum kesepakatan tercapai. Intinya, nggak ada informasi seseorang yang nggak bisa aku dapat." Railene mantap dengan jawabannya. Senyuman di bibirnya bertahan.
Selena menyipitkan matanya, "Apa jaminan yang kamu punya? Kalau kamu tau semuanya, kamu nggak akan butuh aku, kan?" Tanya Selena dengan jelas.
Railene menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Aku punya banyak informasi selama aku terlibat dalam satu hal. Itu bisa berupa penyelidikan, misi, atau keterlibatan dalam kejadian. Tapi, aku nggak punya akses dan hampir setiap saat nggak bisa lepas dari pengawasan orang tuaku," ujar Railene lugas.
"Dan untuk jaminan, Kakak bisa bikin kontrak antara kita. Kalau aku melanggar, Kakak punya hak memutuskan hukumannya." Railene melanjutkan dengan bijak.
Selena mengerutkan kening heran.
"Berapa umurmu? Dan apa tujuanmu terlibat dalam hal-hal berbahaya seperti ini? Kamu bahkan belum bisa lepas dari pengawasan orang tuamu. Bagaimana aku bisa percaya sama kamu?"
Railene mengerutkan bibirnya lucu. Dia tidak menyukai fakta yang baru saja ditanyakan Selena. Selain kepintaran dan rencana besarnya, ia memang anak delapan tahun yang masih berada dalam pengawasan orang tuanya.
Selena mengamati perubahan wajah Railene dan sekarang merasa bahwa tempramen itu lebih normal dimiliki seorang anak kecil sepertinya. Dia terheran-heran sebenarnya. Ada banyak hal yang tidak ia ketahui tentang gadis kecil di depannya kecuali apa yang ia dapatkan dari aksesnya secara internasional. Hanya saja, semuanya adalah informasi dasar. Tidak terperinci tentang apa saja yang terjadi dalam kehidupannya.
Selena mengerutkan keningnya. Samar merasa bahwa gadis di depannya tidak berbohong sama sekali. Matanya sejernih air dan itu tidak memiliki kebohongan di dalamnya. Sekilas, ia melihat dirinya sendiri dalam diri Railene. Ada rahasia semesta yang tidak ia ketahui tentang hidupnya juga. Hal-hal yang mendasarinya terlibat dalam militer khusus.
Railene pasti memiliki satu yang rumit. Dia tahu asal-usul Railene memang bukan putri kandung orang tuanya saat ini. Posisi yang hampir serupa dimana ia dirawat oleh orang tua angkatnya sendiri. Dia melupakan satu bagian dalam hidupnya tentang apa yang terjadi di masa lalunya sebelum bertemu orang tua angkatnya. Dan dia sedang dalam penyelidikan itu setelah orang tua angkatnya tiada dan meninggalkan misteri tentang masa lalunya.
Dia dan Railene pada dasarnya memiliki tujuan yang sama. Identitas mereka tersembunyi dari diri mereka sendiri. Ini sangat tidak nyaman dan dia bisa mengerti tujuan Railene. Hanya saja yang menjadi keheranannya adalah kenapa dia harus mencaritahunya di usia yang begitu muda. Dan bagaimana kesadaran itu muncul pada dirinya sendiri di usia yang begitu muda. Dia mulai merasa Railene dewasa secara sifat sebelum waktunya. Pikirannya juga serumit tingkatan orang dewasa. Ini adalah satu-satunya dan kelangkaan yang dia lihat untuk pertama kalinya.
"Buktikan sesuatu!" ujar Selena masih sedikit ragu. Bagaimana pun sosok di depannya adalah seorang anak kecil.
__ADS_1
Railene tahu dia hampir mencapai apa yang dia inginkan. Jadi dia kembali tersenyum diplomatis. Matanya memancar percaya diri.
"Selena Ainsley. 26 tahun. Kehilangan ingatan saat usia 7 tahun dan hidup dengan orang tua angkat Kevin Ronald dan Hazel Grace. Tujuan memasuki militer adalah mencari tahu orang tua kandung dan identitasnya. Menyelidiki kematian kedua orang tua angkat yang berhubungan dengan kejadian terorisme negara ini. Apa aku benar?"
Selena menegang di tempatnya. Selain dirinya sendiri, tidak ada yang tahu tujuannya. Bahkan itu tidak tercatat dimana pun dalam informasi pribadinya. Dia menyipitkan mata ke arah Railene. Yakin dalam satu aspek namun memiliki kecurigaan lain yang lebih besar.
"Siapa kamu sebenarnya?" Nada Selena begitu dingin dan tajam. Railene merasakan perubahan emosi dalam diri Selena. Dia tahu itu karena baru saja menyentuh titik sensitif seseorang.
"Kakak akan sepakat atau enggak? Identitasku sesuai sama apa yang Kakak cari. Tapi, kalau mau tau lebih jauh, pastikan kita punya kesepakatan di depan." Railene berkata tegas. Bahkan jika dia merasakan setitik intimidasi, itu tidak semengerikan ketakutannya di masa lalu.
Selena diam sebentar. Mempertimbangkan banyak hal dalam benaknya dan memandang Railene lekat. Mencari sesuatu yang membuatnya ragu. Dia tidak menemukan apa-apa selain mata jernih yang jujur dan tak tergoyahkan.
Pikirannya rumit, namun ia mulai mempercayai hal-hal yang ada pada Railene. Menurut instingnya, gadis di depannya benar-benar dapat dipercaya.
"Baiklah, mari buat kesepakatan," ujarnya kemudian membuat Railene tersenyum cerah.
***
Hai, jangan lupa like dan komentar. Terima kasih!
__ADS_1
Have a nice day!😊