
Railene dalam keadaan pingsan dan penampilannya cukup menyedihkan. Ada kantung oksigen di mulut dan hidungnya. Sebuah bantalan empuk membuat lehernya tegak dan menopangnya tetap diam di tempat. Dan saat ini, ia hanya berbaring di kamarnya yang sudah diatur menyerupai ruang perawatan.
Diza dan kedua orang tuanya satu jam sekali mengecek keadaan Railene. Lebih banyak Diza yang menunggui putri kecilnya sadar. Beberapa orang datang setelah mendengar Railene disiksa oleh teman sekelasnya dengan kejam. Tentu saja itu para tetangga dan beberapa kenalan dokter Diza. Ada Jean yang menetap beberapa saat sebelum diusir halus oleh Diza untuk kembali kepada pekerjaannya.
Hanya berkisar lima jam dan semuanya sudah kembali tenang. Diza tidak mengambil jalur hukum, namun dengan tegas meminta kebijaksanaan kepala sekolah untuk membuat Claudya dikeluarkan. Orang tua Claudya kooperatif dan mengerti itu. Lagi pula, mereka tidak memiliki kuasa hukum yang kuat karena mereka tahu, anak mereka yang membuat kesalahan. Ketiganya pergi dengan wajah masam.
Railene segera dipindahkan ke rumahnya dan Diza mengatur kamar Railene sedemikian rupa hingga gadis kecilnya bisa istirahat dengan nyaman. Sementara orang luar khawatir tentang keadaannya, Railene kembali masuk dalam mimpi dimensinya. Dimensi dimana hanya ada dirinya dan suara Inchara.
...
"Apa yang terjadi denganmu?" Suara Inchara menggema dan Railene menghela napas tipis.
"Kamu tau, kadang yang kita rencanain bisa sedikit meleset meskipun itu berhasil," ujar Railene dengan gaya dewasanya, namun itu terlihat lucu karena tubuh dan suaranya masih khas anak-anak.
"Maksudnya? Apa yang kamu bicarakan?" Nada suara Inchara jelas bingung dan Railene membayangkan itu dengan senyum kecil.
"Aku pengin belajar bela diri, tapi Bunda selalu melarang karena takut aku terluka. Hari ini aku ngelakuin sesuatu yang menggiring opini Bunda bahwa aku perlu buat belajar bela diri." Railene menjelaskan awalnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Inchara tidak tahu. Faktanya, dunia mimpi dan alam nyata memang berbeda. Tidak bisa saling mengintip satu sama lain.
"Aku membuat leherku hampir patah. Oh, bukan cuma itu. Aku hampir mati untuk kedua kalinya," ungkap Railene dengan efek ngeri di wajahnya.
"Apa kamu mencoba bunuh diri?" Tanya Inchara. Nadanya sedikit khawatir dan ada keterkejutan yang terdengar jelas di telinga Railene.
__ADS_1
Railene menyeringai dan terkekeh kecil. Ia yang tadinya dalam posisi duduk, kini berbaring telentang di antara rerumputan dan memandang langit dengan jenaka. Seolah-olah dirinya sedang berhadapan dengan Inchara.
"Bisa dibilang gitu. Aku hampir bunuh diri melalui orang lain," kata Railene melanjutkan. Ia terkekeh singkat namun kembali bercerita.
"Aku memanfaatkan kebencian seseorang buat bikin aku babak belur dalam penyerangan. Sadar kalau orang ini terlalu tempramen waktu diganggu. Aku pikir dia bakal memukulku dengan cara ringan, ternyata aku dicekik sampai hampir mati!" Railene terkekeh di akhir kalimatnya.
Hening selama beberapa saat sebelum Inchara berseru-seru terkejut. Ikut terkekeh kecil sebagai balasan. Merasa itu lucu karena keinginan Railene harus terlaksana bagaimana pun caranya.
"Apa kamu selalu begitu?" Tanya Inchara pada akhirnya.
"Nggak. Tapi, buat kali ini, aku merasa perlu. Semakin lama orang itu benar-benar mengganggu. Diam-diam membully orang lain dan aku nggak mungkin diam aja karena tau ini," ujar Railene menjelaskan.
Dia beberapa kali melihat Claudya bersikap tidak menyenangkan kepada orang lain hanya karena beberapa kata yang tidak diinginkan Claudya. Meskipun tidak punya antek dan pengikut, Claudya sangat kuat dan mendominasi kekejamannya sendiri. Karena ancaman Claudya, anak-anak itu tidak berani melaporkannya. Bahkan salah satu anak pernah DO hanya karena kesalahpahaman yang sengaja diatur Claudya. Anak sebelas tahun itu bertingkah terlalu jauh dan kejam.
"Wah, kamu menjadi pahlawan tanpa sadar." Inchara merespon dengan kekaguman dalam suaranya. Tidak dibuat-buat.
Railene tertawa kecil. Orang mungkin berpikir bahwa Railene sepenuhnya korban. Tapi, tidak seperti itu. Railene sangat membuat manfaat dari hal-hal yang dianggap orang sebagai berkorban. Ketika penyerangan dilakukan, dia mengambil manfaatnya. Railene sudah memikirkan ini dengan benar. Namun, sekarang cukup diluar ekspektasi.
Selain dia hampir mati, ia meninggalkan resiko bahwa tidak akan ada orang lain yang membantunya menjelaskan situasi. Dia tidak tahu bagaimana keadaan di luar saat ia pingsan. Namun, menurut perhitungannya, teriakan yang ia buat sebelum Claudya membuatnya tidak bisa bersuara pasti cukup untuk didengar orang lain.
Ia berharap begitu karena dengan ini rencananya akan berjalan mulus. Pertama, itu tentang belajar bela diri. Kedua, Claudya akan tersingkir karena terlalu kejam. Ketiga, Railene bisa mengambil hari libur untuk mempelajari sesuatu yang ia pinjam beberapa hari lalu dari perpustakaan. Railene mendapatkan tiga manfaat dari pengorbanannya kali ini.
"Chara, udah berapa lama aku di sini?" Tanya Railene dengan heran.
__ADS_1
Dia sudah cukup lama berada di dunia mimpi. Haruskah ia kembali? Tapi ia tidak tahu caranya.
"Aku tidak tau. Mungkin memakan waktu berjam-jam di duniamu," jelas Inchara dengan analisis kemungkinannya. Railene mendengar itu dan akhirnya membiarkannya saja tanpa berniat memaksakan diri untuk sadar.
Railene memanfaatkan ini untuk berbicara tentang buku Ghost Gypsy yang terakhir kali ia temukan dalam perpustakaan. Tulisan dan aksara dalam buku itu tidak biasa. Railene tidak dapat mengenalinya dengan benar dan sepertinya itu berasal dari aksara kuno.
"Chara, apa kamu tau tentang tulisan tegak lurus yang sedikit melengkung di ujungnya?" Tanya Railene akhirnya.
Hening beberapa saat. Inchara berpikir cukup lama dalam hal ini. Mungkin mengingat, mungkin juga mempelajari kalimat Railene.
"Oh, Aristokelly. Aku bahkan tidak mengerti huruf apapun," ujarnya kemudian. Nadanya terdengar sedih.
Railene tercengang sesaat. Lebih kepada mengisyaratkan kata tentang 'lalu kenapa kamu berdiam lama seolah sedang memikirkannya?' kepada Inchara. Dia gemas namun kemudian menghela napas tipis. Lagi pula dimensi ini cukup alami tanpa ada tanda-tanda keberadaan yang lain. Jadi sangat memungkinkan jika Inchara tidak mengerti apapun yang ia pelajari di dunia luar.
"Baiklah. Nggak papa. Tapi, apa kamu punya petunjuk lain? Mungkin sesuatu yang ditinggalkan orang-orang yang kamu ceritakan beberapa hari lalu?" Pancing Railene lagi. Ia tidak bisa menyerah begitu saja.
"Sepertinya belum ada. Tapi, mereka terus membicarakan tentang satu nama." Inchara bersuara setelah keheningan benerapa detik.
Railene duduk dari posisi berbaringnya. Matanya yang jernih menantikan dengan cerah. "Apa itu?" Tanyanya tak sabar.
"Omen-Tune," ujar Inchara dengan jelas.
***
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia membaca dan menunggu cerita ini. Like dan komentar untuk masukan atau kritik saya terima dengan tangan terbuka. 😊