Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
13. Teman Baru


__ADS_3

Hari pertama berjalan dengan lancar. Railene menceritakan harinya dengan riang kepada bundanya. Saat ini mereka berada di ruang kerja Diza di rumah sakit. Diza masih bertugas, namun tidak sibuk dan karena itulah ia bisa menemani Railene sekarang.


"Oh ya? Jadi teman barumu langsung cubit pipi kamu gitu?" Diza bertanya antusias. Ia sedikit geli mendengar cerita putrinya tentang seorang anak laki-laki yang bertindak impulsif terhadap putrinya. Lalu tertawa ketika Railene bercerita dengan mendeskripsikan wajah gugup si anak laki-laki karena kelancangannya.


Mereka berbincang banyak dengan seru. Tak berapa lama sosok dokter muda berkacamata memasuki ruangan dengan membawa antek seperguruannya.


"Selamat sore, Dokter Diza, Railene!" Menyapa ceria, ia masuk begitu saja dan langsung mengeluarkan sebuah susu kotak mahal lalu menyerahkannya ke Railene. Di belakangnya, ada dua orang yang juga menyapa, namun tidak memiliki tindakan seagresif si kacamata.


"Sore Dokter Syam, tumben kemari. Apa ada perlu sesuatu?" Diza bertanya setelah memberikan Railene susu kotak yang sudah ia buka.


Railene ikut terdiam dan menikmati minumannya. Ia selalu bersenandung dalam hati bahwa menjadi anak kecil memang enak. Tidak perlu berpikir banyak, hanya menjadi penyaksi orang-orang dewasa di sekitarnya bersikap. Menertawakan beberapa yang suka menjilat dan orang-orang yang menjadi budak karena jabatan. Lalu bersenang-senang dan jahil sana sini tanpa perlu dihakimi kekanakkan, toh dia memang masih anak-anak saat ini. Dia menyukai beberapa hal itu dan menikmatinya. Terutama saat bersama Jean dan Syam, dua manusia yang bersedia jadi partner in crime Railene dalam melakukan banyak hal.


"Ah, tidak. Hanya mampir untuk bertemu Railene. Bolehkah aku mengajaknya keluar?" Syam bertanya penuh harap. Melirik Railene sesekali seperti mendambakan makhluk imut itu.


"Ah, tentu saja. Apa jam praktekmu sudah selesai?" tanya Diza dengan nada geli. Pria yang lebih muda setahun darinya itu terkekeh senang.


"Ya, hari ini berakhir cepat. Kalau begitu, boleh aku bawa Railene sekarang?" tanya Syam tidak sabaran.

__ADS_1


Diza mengangguk dan tersenyum kecil. Ia memberi nasehat kepada Railene agar menurut dan tidak nakal. Railene hanya mengangguk dan masuk ke gendongan Syam.


Diikuti anteknya, Syam yang menggendong Railene segera pamit pergi menuju taman rumah sakit. Ia mengoceh kepada Railene yang masih menikmati susu kotaknya. Memperhatikan wajah tampan Syam yang sedikit menghiburnya. Entah bagaimana bisa sifat mereka yang berkebalikan malah membuat mereka akrab. Dan sadar atau tidak sadar, cerita Syam seharusnya tidak bisa dimengerti bocah seumuran Railene. Bahkan kedua anteknya bingung kenapa atasannya malah menceritakan kisah cintanya yang menyedihkan kepada Railene yang masih bau susu.


"Kamu tau, Railene? Aku bingung banget hadapin mamaku yang minta mantu terus. Iya tau aku udah tua, tapi kan nggak harus dijodohin juga. Kalo nggak sesuai kan nanti malah rusak hubungannya. Menurutmu, aku harus ngapain?"


Syam benar-benar bertanya pada Railene. Gadis kecil itu memperhatikan dalam diam. Setelah beberapa detik, Railene menyerahkan kotak susu yang sudah kosong kepada Syam. Mengerti artinya, Syam mengambil itu dan membuangnya ke tong sampah yang ada di sekitarnya.


"Om nikah aja sama Bunda." Jawab asal Railene. Iya, dia hanya bersikap polos seperti anak kecil.


"Eh? Dokter Diza? Oh, nggak nggak..., sebelum Om ngelamar bisa-bisa dijambak duluan sama dia!" ujar Syam dengan bergidik ketakutan. Kedua antek Syam menahan tawa mengingat sesuatu yang lucu di masa lalu.


Ternyata Syam pernah menyukai Diza, namun memiliki pendekatan yang salah. Syam menaruh bunga dalam jumlah besar di depan pintu apartemen Diza hingga membuat Diza diomeli oleh tetangga karena menganggap kekasihnya begitu mengganggu ketentraman. Diza yang bingung karena merasa tak memiliki kekasih pun akhirnya tahu siapa yang melakukan hal konyol itu di depan apartemennya. Ia memberi Syam sebuah peringatan dan memarahinya ketika tengah berdua saja. Membuat Syam menyesal dan berjanji tidak akan melakukan tindakan itu lagi.


Namun, itu tidak berhenti di sana. Syam yang merasa sudah berhasil mendekati Diza karena ia lumayan sering bersama dengan Diza, akhirnya melamar Diza di depan semua orang. Melibatkan pertunjukan akrobatik paling konyol sepanjang masa yang membuat Diza ketumpahan wine. Tidak hanya itu saja, sambutan berupa konfeti yang cukup banyak membuat Diza mengalami iritasi selama seminggu karena sebuah kertas kecil tajam masuk ke dalam mata kanannya.


Sejak saat itu Syam selalu mengemis maaf dan akan berhenti mengejar Diza karena sudah mendapati peringatan dari perempuan dingin itu. Syam bahkan mengganti kompensasi pengobatan dan bersedia melakukan apa saja demi mendapatkan maaf dari Diza. Namun pada akhirnya mereka menjadi teman baik dan cukup dekat satu sama lain. Syam pun berhasil move on dan kini sedang berpacaran dengan model fashion. Hanya saja ia enggan menikah dan selalu mendapati omelan dari Mamanya.

__ADS_1


Railene selesai mengamati dan tersenyum kecil. Ia hanya diam dan mengamati sekitar yang cukup ramai. Beberapa pasien berkursi roda atau yang membawa infus di tiang beroda mengisi setiap sudut taman. Syam dan dua anteknya membawa Railene ke sebuah ayunan anak-anak. Ada dua anak kecil lain di sana. Salah satunya anak yang menggunakan pakaian pasien dan satunya lagi dengan pakaian biasa.


Keduanya laki-laki dan mereka sedang bermain bersama. Kedua anak laki-laki itu sepertinya kembar identik. Bentuk wajah dan struktur wajahnya sama. Namun ada sebuah pembeda yang Railene sadari ada di sana. Yang menggunakan pakaian pasien memiliki tahi lalat di dekat bibirnya, sedangkan yang satunya tidak ada.


Setelah turun dari gendongan Syam, Railene langsung menuju ayunan dan duduk di sana. Syam berjalan ke belakang Railene dan mendorong pelan ayunannya, lalu ia duduk di bangku tak jauh dari sana. Mengawasi Railene. Kedua antek Syam pamit untuk pemeriksaan rutin pasien. Syam mengizinkan dan tidak keberatan. Lagi pula dia suka jika hanya berduaan dengan Railene.


Kedua anak laki-laki tadi memperhatikan. Si pakaian pasien berlari mendekati Railene. Senyumnya sangat cerah seperti sinar matahari. Yang berpakaian biasa memperhatikan dari jauh.


"Hai, namaku Arkan. Dia adikku Archi. Boleh aku jadi teman kamu?" Railene yang ayunannya sudah berhenti karena ulah anak laki-laki itu pun menatap lamat-lamat. Ia mempelajari mata anak laki-laki itu dan mengangguk kecil.


Si bocah lelaki yang berumur sekitar 8 tahun itu tersenyum riang lalu memanggil kembarannya. Setelahnya dia kembali bertanya.


"Jadi, siapa namamu?"


"Railene,"


***

__ADS_1


.


__ADS_2