Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
71. Persiapan


__ADS_3

Syuting adegan milik Railene akhirnya selesai. Peran Eda Mimo akan dilanjutkan dengan versi remaja dan dewasa. Railene tidak perlu datang ke tempat syuting apalagi untuk beramah tamah kepada artis lain yang akan memerankan perannya. Setelah berpamitan, Raielne fokus dengan turnamen karate.


Semua sore dan sabtu minggu paginya selalu dia habiskan di gelanggang. Bercengkerama dan berlatih hingga ke tingkat yang lebih mapan. Seleksi peserta juga sudah dilakukan dan hanya ada lima orang yang mengikuti turnamen di tingkat pemula. Hanya yang sudah mencapai tingkatan sabuk kuning yang bisa mengikuti turnamen untuk pemula. Itu adalah Railene, Archi, Laura, cowok sipit Darren, dan si tengil Jefri. Yang terakhir, Railene agak tidak menyangka bahwa playboy Jefri bisa lolos tahap seleksi pertama. Dia cukup hebat meskipun playboy.


Akhirnya, lusa adalah pertandingan perdana untuk turnamen karate ini. Railene masih berdiri di atas matras latihan dan mendengarkan analisis Laura. Di antara anak-anak tingkat pemula, Laura adalah salah satu yang sudah lama bertahan dan bahkan sudah memasuki sabuk oranye. Dia masuk dua bulan lebih awal dari Railene dan memiliki tingkat kekuatan yang cukup kuat. Faktor lainnya adalah dia gesit. Railene sendiri bisa merasakan tekad Laura untuk belajar dan menguasai ilmu bela diri.


"Oke, besok lawan kita masing-masing akan ditentukan berdasarkan berat badan, jadi Railene, kamu pasti bakal ada di kategori paling beda dari kita berlima kalau diliat dari pengukuran berat badan kemarin. Lawan kita dari sekitar 7 Dojo yang masuk undangan. Kita analisis peserta yang ikut dari data ini," ucap Laura sambil menunjukkan papan tulis dan satu kertas yang tertempel di atasnya.


Railene mendengarkan dengan cermat dan hati-hati. Untuk pertama kalinya dia mengikuti sebuah turnamen, ada sedikit kegugupan dan rasa ekstasi. Railene sedikit menantikannya.


Setelah berjalan di area pemula lebih dari 3 bulan, dia mulai dapat mempraktikkan beberapa yang sudah diajarkan. Meskipun sebelum mengikuti ini, Railene mencoba meyakinkan Diza lebih lama, dia berhasil masuk dan mendaftar. Sebenarnya jika semua tingkat pemula mendaftar, Railene mungkin tidak akan terpilih karena ada yang lebih kuat darinya. Hanya saja, beberapa mengundurkan diri dan merasa belum siap sehingga tidak mendaftar. Jadi, Railene terpilih karena maju.


Railene tidak memikirkan banyak hal untuk saat ini dan fokus pada turnamennya.


...


Di sisi lain.


Diza memandangi orang di depannya. Seorang pria yang tiba-tiba muncul di depan ruang praktiknya dengan senyuman ringan. Dia sedikit tercengang dan tanpa sadar tegang. Melihat wajah "teman dekat yang telah melamarnya" itu, Diza hampir menjadi sedikit terdistorsi. Wajahnya yang biasa tidak banyak memiliki emosi, kini terpampang jelas keterkejutan dan kegugupan.


"Kenapa kamu di sini?" Tanya Diza setelah lima detik terkejut.


"Jemput kamu. Ini udah jam pulang kerja, kan?" ucap Bram dengan enteng. Dia tidak berpaling dari Diza yang masih mencerna apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Diza menoleh untuk melihat pintu ruang praktiknya terbuka, terkadang ada perawat dan tenaga medis yang lewat. Tidak terlalu ramai tapi cukup menjelaskan bahwa jadwal praktik sudah selesai. Diza menjadi linglung sejenak mendengar jawaban Bram.


"Bukannya kamu ada di luar negeri?" Tanya Diza agak tidak yakin.


Bram tersenyum dan sedikit terkekeh. Ada kilatan lucu di matanya melihat Diza yang agak paranoid. Bahkan lupa bahwa mereka sudah tidak bertemu lebih dari satu bulan. Bram tidak menyangka juga bahwa urusannya di sana tertunda satu minggu dan mengakibatkan dia pulang terlambat. Tapi, siapa sangka, ketika dia pulang, dia tidak dinantikan oleh orang yang dicintainya.


"Oke, itu bisa diobrolin nanti. Waktunya pulang, ayo anterin aku ke rumah," jawab Bram bernegosiasi.


"Kamu ke sini naik apa?" Tanya Diza mengerutkan kening.


"Taksi. Kamu tau, aku baru pulang dari bandara. Kukira aku bakal liat seseorang nungguin di depan bandara dan jemput aku. Eh, ternyata ada yang lupa, jadi aku datengin aja orangnya." Bram mengangkat bahu ringan.


Kalimatnya membuat Diza terdiam, entah kenapa ada sedikit rasa bersalah mampir di hatinya. Seperti apa yang dikatakan Bram sangat menyedihkan dan seolah memang seharusnya dia menjemputnya saat pulang. Tapi Diza tahu bahwa dia bahkan bukan siapa-siapa selain teman dekat Bram. Bram juga tidak mengabarinya jika dia sudah pulang.


"Oke, i know. Yuk, pulang!" ajaknya dengan ramah. Tidak menganggap hal-hal yang sebelumnya dia katakan sebagai pembicaraan penting.


"Oke, kamu bisa tunggu di parkiran," ujar Diza membereskan barang.


Bram mengangguk dan keluar dengan senyum di wajahnya. Diza memperhatikan sosoknya yang tegap, dia menghela napas panjang. Melihat dirinya di cermin, Diza tidak memiliki ekspresi apapun selain kebingungan.


...


Sepulang latihan karate, Ben mampir ke rumah Railene dan mengobrol untuk belajar bersama. Ben juga memantapkan pengetahuan Railene pada tingkat tertentu. Berbeda dengan Railene yang masih sabuk kuning, Ben sudah berada di sabuk biru. Tiga tingkat lebih tinggi dari Railene meskipun belum termasuk kelas senior berat.

__ADS_1


"Ah, kamu udah tau peraturan utamanya, kan? Waktunya memang cuma dua menit, tapi itu lumayan ketat karena biasanya lawan suka mojokin kamu ke area biru atau bahkan merah. Aku sarankan, kamu tetap jaga posisimu di matras putih. Walaupun ini agak susah, tapi kalau kamu berhasil bertahan, lawan akan mudah menerima tekanan karena kamu nggak gampang dikecoh," ucap Ben dengan serius, seperti kakak baik yang sedang mengajari adiknya.


Railene pun mengetahui itu tapi menjadi lebih waspada. Bahkan jika dia akan sampai pada turnamen, dia belum pernah mengalaminya sebelumnya. Trik dan segala macam yang ada di pertandingan, tidak banyak yang ia tahu. Bahkan itu sangat sedikit. Railene bahkan sampai menghafal peraturan dan jenis pelanggarannya untuk menghindari terkena teguran.


"Oh ya, ini pelindung gigi yang baru aku beli buat kamu. Kayaknya muat di kamu," tambah Ben dan dengan senyum lebar menyerahkan satu kotak berukuran sedang.


Railene membuka isinya dan melihat pelindung gigi berwarna putih dan biru langit. Ada dua set dengan alat pembersihnya. Meskipun Railene juga memilikinya, dia punya yang biasa digunakan, bukan yang merek premium seperti yang diberikan Ben.


"Oke, makasih. Ini bagus," kata Railene memuji dengan tulus. Ben yang sederhana dan mudah disenangkan dengan pujian menjadi cerah dan tersenyum penuh kegembiraan.


Railene menyimpan kotak itu dan ingin mendengar lebih lanjut tentang pengalaman turnamen Ben sebelum diinterupsi suara pintu terbuka. Railene dan Ben saling memandang. Railene berlari ke pintu karena tahu Diza baru pulang. Ben mengikuti di belakang untuk menyapa.


"Bundaa-- eh?"


Sebelum Railene menyapa ceria seperti biasa, dia melihat sosok laki-laki yang sudah tidak asing lagi. Ben menyusul dan ikut berhenti. Lalu suaranya memanggil di ruang tamu.


"Papa? Kok di sini?" Tanyanya dengan polos.


***


Hai maaf baru up karena banyak UTS.


Jangan lupa like dan komentar.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2