
Suara Gery mengisi udara di dalam ruangan makan itu. Meja yang penuh dengan beberapa menu hampir goyah. Railene terkejut hingga jantungnya hampir terpukul.
Matanya yang tenang menjadi panik seketika dan kemudian berangsur stabil. Dia mengamati kedua orang yang kini hampir tanpa citra sibuk memukul dan bertahan. Yang memukul adalah Gery lengkap dengan ocehan penuh keluh kesahnya. Dan tentu saja yang dipukul adalah Alan. Pemuda itu bertahan dan memegang tinju Gery untuk melindungi tubuh dan kepalanya dari dipukuli.
"Apakah menurutmu aku orang yang baik hati, hah?! Kamu mencubitku sampai ke tulang!!!" Gery memarahi dengan fasih.
"Kalau kamu nggak kelihatan bodoh, aku juga nggak bakal cubit sekeras itu!" Alan membalas sengit. Wajahnya sudah terdistorsi dari ketenangan. Ekspresinya kesal tapi lebih kepada tidak berdaya dan sedikit kilat rasa bersalah. Hanya saja dia menutupinya dengan baik.
"Bodoh bodoh, kamu yang bodoh!!" Semakin marah Gery, semakin membuatnya hilang kendali.
"Oke cukup, bisakah kamu tenang? Railene masih di sini!"
Kalimat Alan seperti menekan tombol jeda. Gery langsung berhenti dan sepertinya kembali ke dunianya. Lehernya secara mekanis memutar ke arah Railene dan dia melihat gadis itu tersenyum anggun tanpa penghinaan atau menertawakannya. Tapi, dia lebih malu ketika melihatnya seperti ini. Idolanya begitu anggun dan sebagai penggemar dia telah membuat keributan kekanakkan seperti itu di depannya.
Wajah Gery dengan cepat berubah merah. Dari leher merambat ke wajahnya. Jika efek visual ditambahkan, mungkin ada asap di atas rambut Gery. Railene tertawa sampai sakit perut di Alam Jiwa. Jejak jiwanya mengendalikan tubuhnya saat ini, tapi yang asli telah lama berada di Alam Jiwa dan tertawa liar. Tentu saja bersama Inchara di sampingnya.
Setelah mengendalikan diri dan tidak menemukan sesuatu yang lucu lagi, Railene kembali mengendalikan tubuhnya sendiri. Dia tersenyum lebih lebar dan berkata dengan pelan. Meredakan rasa malu dua orang di depannya.
"Persahabatan kalian sangat baik seperti saudara. Kadang aku dan kakakku juga bertengkar satu sama lain. Itu normal," kata Railene diangguki Gery dengan mekanis seperti robot.
Alan di sampingnya menghela napas panjang dan sedikit malu karena reaksi di usia dewasa mereka kalah dengan reaksi gadis remaja yang belum cukup umur di depannya. Dia tidak menunda dan meredakan suasana.
"Itu benar. Ngomong-ngomong makanannya udah datang semua, ayo makan dulu dan bahas hal-hal lain setelah makan," kata Alan pada akhirnya.
"Oke, ayo makan dulu," ujar Railene mengangguk menanggapi.
...
__ADS_1
"Jadi apa yang mau Kak Alan omongin?" Tanya Railene setelah sesi makan mereka selesai.
Meja di atas sudah di bersihkan dan tersisa tiga cangkir teh dan dua makanan penutup yang dipesan oleh Railene sendiri. Waktunya cocok dan suasananya sudah mereda. Gery juga telah kembali normal dan beberapa kali bereaksi seperti fanboy yang gila. Railene sesekali tertawa.
Tapi itu sudah berlalu, bisnis harus tetap diselesaikan. Jadi dia bertanya dengan menebak. Dia juga beberapa kali mendengar isi pikiran Gery yang sangat terbuka. Kebanyakan 99 persen tentang pujian terhadapnya dan ketika dia bertanya kepada Alan, Railene dapat mendengar beberapa konten yang asing namun akrab. Gery mengetahui urusan Alan dan itu tentang warisan turun-temurun.
"Kalian bisa ngobrol, aku keluar dulu," kata Gery kemudian setelah mendapat lirikan dari Alan.
Railene mengangguk samar. Dia hampir yakin bahwa Alan memang berhubungan dengan identitasnya sebagai Orang Pilihan sehingga tidak boleh ada yang mengetahui detailnya. Warisan, semua kejadian yang dia alami, dan bagaimana Alan berbeda dari semua orang di sekitarnya, Railene dapat mengetahui itu bahwa keduanya berhubungan sedikit banyak. Jadi, dia menjadi tenang seketika dan sedikit bersemangat.
"Ya, ini tentang sesuatu yang penting dalam keluargaku. Keluargaku menjaga sebuah benda dan rahasia turun-temurun. Beberapa waktu lalu aku sempat cari kamu karena kalung yang kamu pakai memiliki simbol yang sangat akrab. Dan aku langsung menemui kamu dengan cara yang mungkin membuat kamu waspada. Itu salahku sebelumnya dan aku juga masih ragu waktu itu. Apakah kamu objek tugasku atau bukan, aku ragu."
Alan menghela napas sejenak. Railene mengamati dan pada akhirnya sampai di kesimpulan akhir. Orang di depannya memang orang yang berhubungan dengan rahasia besarnya. Atau mungkin dia harus menyebut keluarga Alan sebagai Para Penjaga yang dia lihat di buku dari tiga buku yang pernah muncul sebelumnya.
"Tapi, aku kembali yakin setelah membaca catatan leluhur dan peninggalan dari keluargaku. Disebutkan bahwa objek tugasku adalah seseorang yang memiliki pikiran dalam, memiliki kekuatan yang nggak bisa dinalar oleh sains dan dapat membuat banyak hal dengan ilusi. Kami menjadi penjaga dari benda ini dan selama benda ini ada di tangan kami, kami nggak akan terserang secara mental. Tapi, ketika benda ini benar-benar berada di tangan yang seharusnya, kami secara alami terlindungi dan harus melanjutkan tugas lanjutan."
"Kamu mungkin punya benda lain dengan simbol yang sama dengan yang keluargaku jaga. Kalau di buku leluhur, kamu seharusnya punya empat benda. Kalung, gelang, anting dan cincin. Apa kamu punya salah satunya?"
Railene termenung sejenak. Alan menyembutkan empat yang artinya masih ada satu lagi yang tidak diketahui keberadaannya. Dia memiliki kalung dan gelang kaki dari seri empat set. Alan memiliki satu yang dijaganya. Dia tidak tahu apakah itu anting atau cincin. Dari salah satu benda itu, Alan pasti akan memberikannya kepadanya.
"Ya, aku punya dua di antaranya," ujar Railene berkompromi. Dia telah yakin 80 persen bahwa Alan memang keluarga penjaga yang dimaksud dalam buku Ghost Gipsy.
"Kamu punya dua?! Bukannya kamu berusia lima belas tahun?" Tanya Alan diiringi wajah terkejutnya.
"Ya, apa ada masalah?" Railene bingung. Tapi mungkin dia bisa menebak sedikit.
Alan masih heran dan kemudian kembali tenang menjelaskan.
__ADS_1
"Di buku leluhur, seharusnya keempat benda itu akan kembali ke kamu setelah kamu berusia 40 tahun. Aku kurang tau tentang syarat dan hal spesifiknya, tapi seharusnya itu ditemukan setelah akumulasi kekuatan," jelas Alan dengan tenang.
"Tapi itu bukan masalah, kamu punya dua dan itu hal baik. Dan ini..., cincin yang seharusnya milikmu." Alan mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. Membukanya dan mengambil rantai yang menautkan cincin yang tampak luar biasa.
"Ini disebut Cincin Ingatan. Setelah menguasainya, kamu bisa mengingat tugasmu dan siapa kamu sebenarnya."
...****************...
Chit Chat Rebirth:
Alan : (Makan kacang di pojokan) Kita terlalu bertele-tele nggak, sih?
Railene : (Makan kacang juga) Ssstt..., jangan keras-keras. Nanti Kak Yuchi denger. Kamu nggak tau ya dia lagi buntu nyari ide, makanya dia bikin dialog kayak gitu... (Berbisik sambil celingukan)
Alan : Kenapa lagi dia? Nggak gara-gara tugas kelompoknya lagi kan?
Railene : Itu gara-gara tugas kelompoknya lagi.
Inchara : Kasihan Kak Yuchi, orang intovert dan pemalas kayak dia pasti tertekan banget karena sekelompok sama orang rajin dan ekstrovert semua.
Alan : Huft, mungkin setengah depresi dia...
Saya : (lewat dan mendengar kalimat terakhir Alan) Siapa yang depresi?
Alan : Bukan siapa-siapa, Kak, hehe...
Railene : Misi dulu ya Kak..., kita mau hafalan dialog dulu... (kabur sambil nyeret Inchara)
__ADS_1
Saya : (curiga) kinda sus...