Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
83. Petunjuk Kedua


__ADS_3

"Hah?"


Railene setengah bangun dan segera duduk dengan Inchara yang melompat-lompat di atas tempat tidurnya. Dia bangkit dan menyesuaikan penglihatannya. Mencoba menyadarkan dirinya sendiri yang masih mengantuk, dia minum air putih untuk menjernihkan pikiran.


Setelah sederetan kegiatan bangun paksa, dia fokus dan meminta Inchara mengulang kalimatnya.


"Petunjuk buku kedua muncul dan itu agak jauh dari tempat kita sekarang. Ini bakal jadi perjalanan panjang dan kayaknya perlu persiapan yang panjang," ujar Inchara dengan semangat. Wajah cantiknya tersenyum ceria.


Railene mengangkat alisnya terkejut sekaligus heran. Itu hampir tujuh tahun penantian setelah buku pertama muncul. Dia telah lama berlatih, mengembangkan kekuatan dan terus menerus bertanya tentang apakah ada petunjuk baru. Rajin mengunjungi perpustakaan Alam Jiwa berharap satu rak baru ditambahkan di dalamnya. Rajin bermeditasi sampai muntah karena kekacauan energi mentalnya hingga sakit kepala selama berhari-hari. Railene merasa ini adalah kabar yang membahagiakan selama tujuh tahun penantiannya.


"Jelasin detailnya!" katanya dengan nada penasaran.


"Uhm, ini agak sulit dijelasin. Ayo ke Alam Jiwa, ada tiga buku petunjuk baru di perpustakaan. Itu dikirimkan pria berpakaian putih itu lagi."


Railene mengangguk dan berkonsentrasi memasuki Alam Jiwanya dengan tubuh fisiknya. Dalam bunyi plop tubuhnya dan Inchara hilang dari kamar tidur tanpa jejak keberadaan. Muncul kembali di depan rumah yang kini sudah sebesar villa kelas atas. Memasukinya, ruang utama dan kamar-kamar lainnya telah menjadi lebih luas berkali-kali lipat dari pertama kali Railene berkunjung.


Segera di perpustakaan Alam Jiwa, dia melihat tiga tumpukan buku berbeda warna dan ukuran. Yang terkecil tertulis "Manual Kunci Terakhir" dengan sampul kertas tipis kecokelatan. Di bawahnya adalah buku bersampul hijau keras dengan kunci gembok merekat menutup buku itu. Buku hijau itu tanpa judul dan terlihat paling tua di antara ketiganya karena karat di gembok dan sudut-sudut yang sedikit rusak. Sedangkan buku ketiga, itu masih buku berwarna kecokelatan dan merupakan buku paling besar. Di atasnya ada sebuah gambar simbol yang terlihat persis sama seperti yang ada di dahi Inchara.

__ADS_1


Railene menganalisis satu per satu dan belum membukanya.


Empat tahun lalu, dia berhasil membuka sampul buku Ghost Gypsy pertama dan memang ada benda di dalamnya. Dikatakan bahwa isi dari sampul itu adalah kunci untuk membuka petunjuk penting. Benda dengan ujung runcing yang merupakan tabung pipih seukuran telapak tangan anak kecil itu terbuat dari besi yang memiliki mekanisme rune tertentu. Railene maupun Inchara sama-sama tidak mengetahui maksud rune tersebut dan mengapa benda itu disebut kunci. Sekarang, Railene mengerti artinya. Benda besi itu hanyalah wadah untuk kunci terakhir di dalamnya. Dan Railene tahu bahwa buku yang harus dibacanya untuk pertama kali adalah yang berjudul "Manual Kunci Terakhir" itu.


"Chara, beritau aku kalau udah mau pagi, aku mau baca tiga buku ini dulu," ujar Railene kepada Inchara yang masih berdiri di sampingnya.


Inchara tersenyum dan mengangguk. Dia segera keluar dari perpustakaan villa dengan suasana hati yang baik. Bermain dengan layar tipis di ruang utama, melihat koleksi baru dan penambahan fitur ruangan. Masih sama, hanya ada beberapa hal baru di masing-masing kamar. Benda-benda kecil yang Inchara selidiki satu per satu kegunaannya.


Tanpa khawatir tentang apa yang Inchara lakukan di villa ini, Railene tenggelam dalam buku pertama. Tulisannya normal dan menggunakan kaligrafi panjang yang memenuhi standar estetika, tapi menjadi sulit untuk dibaca. Pembeda huruf berpasangan dengan ejaan kuno membuatnya sedikit lebih keras memahami isi bacaan.


"Orang-orang yang bikin ini punya banyak waktu luang...," gumamnya dengan sedikit keluhan.


Railene keluar dari perpustakaan dan berlari cepat ke arah ruang peralatan. Mengabaikan Inchara yang sedang beratraksi di ruang utama dengan menggunakan tali panjang yang dapat memvisualisasikan isi pikiran. Inchara melihat Railene berlari dan menjatuhkan alat peraga, berjalan ke ruang peralatan dengan penasaran.


"Rail, kamu cari sesuatu?" tanya Inchara yang melihat Railene mondar mandir menyebrangi dari satu rak ke rak lainnya.


"Uhuh, pena rune, ini buat buka benda yang dikunci rune itu," katanya menjawab sambil meraih tongkat pena kayu yang salah satu ujungnya membentuk lengkungan sulur. Itu tipis seperti pena biasa, namun sedikit lebih berat untuk ukuran pena biasa.

__ADS_1


"Apa kamu udah tau cara bukanya? Aku mau liat!" Inchara berseru dan mengikuti Railene ke perpustakaan. Berjalan cepat dan melupakan tumpukan alat-alat kecil yang berserakan di ruang utama.


Railene mengambil benda rune itu dari balik kotak yang disimpan di atas mejanya. Pola aneh yang rumit di atas benda tabung pipih itu hanya seperti pahatan biasa jika dilihat sekilas. Tapi, itu memiliki alur dari awal hingga ujung pembuatan rune. Railene sudah mengingatnya dengan jelas. Yang harus dia lakukan sekarang adalah mengisi lekuk pahatan itu dengan tinta khusus pembuka rune.


Railene duduk dan mulai menggambar dengan serius. Karena ukuran bendanya kecil, Railene harus berkonsentrasi agar tidak meleset dan mengacaukan benda itu. Dalam buku dijelaskan bahwa jika terjadi kesalahan saat membuka, dibutuhkan waktu yang lama untuk mengulangi mekanisme dan itu sangat merepotkan. Menunggu tinta rune hingga kering, itu memakan waktu berminggu-minggu. Tapi, itu hanya berlaku jika gagal. Jika berhasil sampai di ujung, tinta rune akan dengan cepat meresap dan membuka klik di dalam tabung pipih sehingga bisa dibuka.


Melihat Railene yang serius, Inchara tidak bicara dan diam di tempat seperti patung, enggan mengganggu. Karena hubungan intuisi pikiran Railene dengan dia, Inchara dapat memahami dan diam-diam mengerti arti tindakannya. Ketika Railene serius, dia tidak akan mengganggunya sama sekali dan akan dengan keras kepala menjauhkan hambatan-hambatan di sekitar Railene. Seperti saat ini, menjadi patung adalah pilihan terbaiknya. Lagi pula, dia hanya setengah manusia yang tidak bisa terluka secara fisik, jadi dia akan bebas dari pegal-pegal.


Beberapa menit kemudian, Railene menyelesaikan ujungnya dan segera menyingkirkan pena rune. Melihat reaksi tabung pipih dengan pola rune yang perlahan bersinar keperakan. Kedua makhluk di ruang perpustakaan diam dan memperhatikan dengan cermat.


Alur-alur garis rune berputar cepat dan mengalirkan cahaya. Ketika cahaya sampai di ujung dan resapan tinta rune berakhir, terdengar bunyi klik kecil dengan celah sempit muncul di antara pipihnya. Railene melihatnya dengan hati-hati dan membuka isinya.


"Wow, kunci yang indah..."


***


Hai hai jangan lupa like dan komentar.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2