Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
50. Perencanaan Pertama


__ADS_3

"Kamu kelihatan seperti itu," kata Selena dengan jejak kekaguman yang rumit. Sedikit bertanya-tanya seberapa cerdas gadis kecil di depannya itu sehingga mampu menguasai pemrogramman di usia delapan tahun? Kapan dia menyelesaikan matematika dan sistem algoritma yang rumit?


"Seperti apa?" Tanya Railene sambil memiringkan kepalanya. Itu terlihat lucu dan normal dimiliki anak kecil. Sekarang dia benar-benar terlihat sesuai usianya.


Lagi-lagi Selena tertawa dalam hati. Dia belum pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki banyak karakter kuat dalam dirinya sendiri. Sosok yang diragukan karena auranya berubah-ubah ketika dia melakukan sesuatu.


"Seperti programmer atau mungkin... hacker. Kamu tau istilah itu?"


Railene mengangguk kecil. Ia melakukan semuanya dengan jujur untuk memperkuat akar kepercayaan di antara dia dan Selena. Dia tahu bahwa hanya Selena yang mampu dia jangkau untuk saat ini karena melibatkan pertemuan langsung. Dia belum memiliki akses secara online karena sumber daya yang dia miliki belum dapat tercapai bahkan meskipun itu bersumber pada jejaring sosial elektronik. Semuanya masih memiliki jejak yang dapat dilacak oleh Bundanya. Ia tidak bebas melakukan banyak hal di sana.


"Aku bisa programming dan hacking!" Railene mengaku dengan serius.


Selena kali ini terkejut lagi. Wajahnya sedikit memiliki riak dengan sebelah alis terangkat. Ia memandang Railene lekat seperti melihat sosok malaikat kecil dan iblis. Menatap ke dalam matanya yang segelap hitam dan sejernih kristal, ia meragukan banyak hal dalam hidupnya.


"Darimana kamu belajar hacking? Apa karyawan IT di perusahaan Kakekmu yang mengajarinya?" Selena benar-benar penasaran.


"Sebenarnya nggak ada yang ngajarin. Ini dari buku yang ada di perpustakaan sekolah," ujar Railene mengangkat bahu. Mengingat bahwa dua tahun lalu ia telah meyelinap dan menjelajahi separuh perpustakaan gedung SMP dan menemukan dasar hacking di rak bagian bahasa. Entah siapa yang meletakkan sembarangan di sana, mungkin salah satu siswa membawanya dan terburu-buru meletakkan di sembarang tempat. Hanya ada satu buku itu dan termasuk tipis. Waktu itu ia hanya iseng membacanya dan kemudian mencoba-coba di komputer sekolah beberapa kali.


Ia juga ingat pernah menyebabkan masalah dengan jaringan ujian komputer sekolah dan diam saja tanpa mau mengaku sementara orang-orang teknis sibuk memperbaiki apa yang ia kacaukan. Sejak saat itu, ia tidak berani lagi mengacaukan komputer sekolah kecuali sekali saat kejadian menakuti dua siswa nakal. Ia belajar diam-diam menggunakan komputer di rumah Ben yang bebas pengawasan dan lebih canggih dari miliknya dengan imbalan Ben diajari materi pelajaran setiap kali ia menggunakannya untuk hal-hal ilegal itu.


"Apa kamu udah mampu meretas sesuatu?" Tanya Selena lagi. Dia benar-benar kagum dengan kecerdasan gadis kecil di depannya itu.

__ADS_1


"Um, hanya enskripsi tingkat rendah dan menengah. Aku jarang mempelajarinya karena belum terlalu menguasai." Railene menunduk dengan senyum kecil. Ia sedikit malu karena teringat kelakuan nakalnya yang menyebabkan masalah bagi teknisi komputer sekolah. Tidak ada yang tahu rahasia itu kecuali dia dan Ben. Sekarang ia membaginya dengan Selena. Selain dirinya sendiri hanya dua orang ini yang tahu bahwa ia bisa hacking.


Programming dan hacking memiliki perbedaan. Tidak semua programmer bisa meretas. Peretas kebanyakan adalah penguasa pemrograman dan bermetamorfosis dari hanya menciptakan program melalui kode bahasa komputer atau pemecah kode sumber menjadi pembobol sistem keamanan elektronik dalam beberapa tingkat.


Meretas tidak hanya tentang bagaimana seseorang mencuri atau mengintip data orang lain begitu saja. Itu berupa strategi, susunan sistem dan tingkat kecepatan yang tidak bisa dideteksi oleh keamanan dasar maupun tingkat lanjut. Orang-orang yang ahli dalam bidang ini umumnya mengetahui dengan benar nilai-nilai dan seluk beluk di dalamnya. Misterius karena tanpa jejak dan berbahaya karena bisa membongkar segalanya hanya dari data.


"Itu udah bagus. Apa kamu berniat mendalaminya?"


Railene mengangkat alis dengan tanda tanya. Menatap mata Selena dan melihat seseorang yang sepertinya akan dikenalkan padanya sebagai guru. Ia sudah menebak rencana Selena.


"Apa Kak Lena bakal ngenalin aku sama seseorang yang pinter hacking?" Tanya Railene dengan senyum cerah. Dia benar-benar menebaknya dengan tepat.


Selena tertawa dan menangis dalam hati. Dia memang tidak bisa mengejutkan gadis kecil di depannya. Bahkan dengan rencana yang baru saja muncul, itu terdeteksi oleh gadis kecil itu. Kemampuan pembacaan masa lalu yang mengerikan.


"Hmm, itu seorang kenalan yang beberapa kali menjalin kerja sama dengan interpol internasional. Dia beberapa kali membantu melacak dan meretas informasi buronan internasional dan merupakan hacker senior dengan kegagalan tidak lebih dari lima kali sejak ia memulai dalam karir hacking 10 tahunnya," kata Selena menjelaskan dengan senyum kecil.


Ia mengingat seorang pria galak dengan tempramen yang sulit diatur di masa lalunya. Dia bertemu dengan sosok itu untuk pertama kalinya dan langsung dikritik dengan kata-kata kejam. Orang yang tidak sopan.


"Apa aku bisa ketemu dia?"


"Itu bisa diatur. Kalau kamu mau, aku bakal bilang ke dia." Selena mengangguk.

__ADS_1


Railene tersenyum kecil. Dia mengangguk patuh dan setuju dengan rencana itu. Toh tujuannya memang begitu serakah dan besar. Ketika dia belajar sesuatu, maka tidak baik unuk bertingkah setengah-setengah. Karena sudah belajar meretas, mengapa tidak sekalian menjadi profesional di bidang itu?


"Oke, aku bisa atur. Apa yang baru kamu tulis?"


Selena kembali pada topik kerja sama mereka. Terlepas pada bakat Railene yang mengejutkan, dia masih fokus pada tujuan saling menguntungkan mereka. Ia sudah mencapai kesepakatan pada beberapa hal dan menjadi objek kerja sama mereka sudah dibahas di awal. Mereka setuju bahkan Railene berencana merancang kontrak isi dan konsekuensinya setelah pertemuan ini.


"Dalam satu bulan, kita bakal mulai kerja sama. Tapi, ada beberapa hal yang aku butuhkan dan belum bisa memenuhinya karena gerak terbatasku." Railene mendorong kertas yang sudah ia tulisi dengan kalimat yang rapi itu dan membiarkan Selena membacanya.


Ia melanjutkan, "Aku butuh bantuan Kak Lena buat semua barang yang ada di situ. Apa bisa?"


Selena membacanya dengan wajah tenang. Tidak ada riak apapun namun ia memang sedikit terkejut dengan isinya. Meskipun begitu, mengingat bakat Railene, ia menjadi biasa lagi.


"Aku bisa dapat semua ini. Kapan kamu butuh ini dan gimana aku harus mengirimkannya?"


Railene tersenyum lebar, "Bulan depan. Kak Lena bakal aku kasih alamatnya waktu pengirimannya bulan depan. Untuk uang muka, aku baru mengumpulkan segini."


Railene mengangkat tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu seukuran dua kali telapak tangan orang dewasa yang cukup lebar. Itu mirip koper kecil yang sedikit tinggi. Ia membuka kuncinya dan terpampanglah puluhan kertas berwarna merah di dalamnya.


"Ini ada lima juta, sisanya aku bayar bulan depan."


***

__ADS_1


Like jangan lupa. Terima kasih.


Have a nice day!


__ADS_2