Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
75. Penghargaan


__ADS_3

Pertandingan final untuk senior diadakan. Setelah putaran semi-final junior, ada Railene dan Laura yang berhasil bertahan. Archi, karena cederanya harus duduk di bangku tunggu. Dia hanya kecewa pada dirinya sendiri dan merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi harapan saudara kembarnya. Selebihnya dia baik-baik saja dan di bawah penghiburan Railene yang sugestif, Archi tidak terlalu berat di hatinya.


Pada putaran final senior, Ben melawan sosok yang lebih tinggi darinya. Jangkung dan kurus, tapi lumayan untuk melihat tulang kerasnya. Laki-laki itu tidak terlalu tampam tapi memiliki tempramen garang yang agak aneh. Ben tampaknya agak terganggu dengan itu.


Pertandingan dimulai dengan sengit di awal. Namun, menuju akhir, ada kecurangan di pihak lawan. Lawan melukai titik vital terlarang dengan sengaja. Membuat Ben jatuh dan sangat kesakitan di bawah telinganya yang tidak tertutup pelindung kepala. Pelanggaran keras, lawan langsung didiskualifikasi. Ben sendiri terluka dan ada darah karena robekan akibat benda tajam yang dibawa lawan.


"Oke, jangan disentuh lukanya. Biar diobati dulu. Kemenangan Ben udah pasti. Lainnya bersiap untuk pertandingan berikutnya," kata pelatih dan membawa Ben ke unit kesehatan. Railene tidak mengikuti tapi memberi Ben dukungan mental.


"Kamu istirahat, aku akan menemuimu nanti."


"Oke, hati-hati dan semoga berhasil pertandingannya," kata Ben masih sempat menjawab dengan cengiran. Railene tersenyum dan mengangguk.


Ben dibawa dan Archi serta satu senior yang bertanggung jawab mengikuti untuk menemani Ben. Lainnya duduk di kursi dan mendukung untuk pertandingan final junior setelah istirahat setengah jam. Railene fokus dan melakukan pemanasan lagi.


Lawannya kali ini adalah sosok yang lagi-lagi lebih tinggi darinya. Ada perasaan krisis. Railene tidak tahu apakah dia akan menang atau tidak. Dia akan menggunakan bantuan kekuatan mentalnya lagi. Sekalian latihan dan mengembangkan kekuatannya.


Dalam tiga puluh menit, dia akhirnya maju ke dalam lapangan matras. Melihat penampilan lawan yang suportif, Railene merasa rumit. Masih ada pemikiran di hatinya bahwa dia curang, tapi menurut kemampuan, itu juga murni kemampuannya sendiri. Jadi, sebenarnya ini adalah abu-abu dan Railene mengklaimnya bahwa itu benar. Toh, tidak ada aturan dan larangan menggunakan kekuatan psikologis lawan untuk menang.


Peluit berbunyi dan seketika Railene memancarkan aura keberuntungannya dan rasa dominasi yang kuat. Lawan hampir lemas dan berkecil hati. Kekuatan serangannya secara bertahap melambat dan akhirnya memberi Railene kesempatan. Melakukan tendangan dan pukulan, Railene menjatuhkan lawan. Namun, Railene harus mengakui bahwa kekuatan mental lawan cukup tangguh. Dengan hal-hal dan kehebatan lawan, jika Railene tidak menggunakan kekuatan mentalnya, dia akan kalah lebih awal. Sekarang dia menghela napas syukur karena menggunakan kekuatan mental sejak awal. Meksipun agak melelahkan, hasilnya jauh lebih baik.

__ADS_1


Kondisi dalam dua menit berlalu seperti sangat lama. Railene yang menggunakan kekuatan mental untuk menyerang, pada latihan pertamanya dia sudah banyak mengeluarkan energi. Karena belum terbiasa, itu cukup boros dan perlahan membuat Railene lemas. Wajahnya secara bertahap memucat dan ada butir keringat dingin di dahinya. Melirik waktu yang tinggal beberapa detik, Railene berhenti menggunakan kekuatan mentalnya dan menyerang dengan secepat yang dia bisa. Untungnya lawan masih sedikit terpengaruh dan Railene menang pada akhirnya.


Wajahnya yang cantik terlihat pucat. Tapi, senyuman di wajahnya membuatnya bersinar di antara para suporter yang bergema. Dia melihat teman-temannya yang melompat gembira. Railene berjalan ke arah mereka sambil memulihkan tenaganya.


"Railene keren banget!!! Aaah!" jejeritan di sekitarnya terdengar dan Railene untuk pertama kalinya merasakan euforia kemenangan dalam pertandingan fisik ini. Dia tertawa dan membuat jeritan di sekitarnya bertambah parah.


Di tribun paling bawah dan dekat dengan lapangan, Diza memeluk lengan Bram dengan bahagia. Tindakan alam bawah sadar yang dia lakukan membuat Bram tersenyum dalam kebahagiaan ganda. Diza senang karena Railene menang dan baik-baik saja. Bram senang karena anak-anak menang dan pelukan Diza di lengannya.


"Ayo temui mereka nanti," ajak Bram berusaha agar suaranya terdengar di antara sorakan para penggemar.


"Oke oke!" kata Diza masih memperhatikan Railene yang tengah dipeluk teman-temannya.


Upacara penghargaan dilaksanakan di hari itu juga. Sistem poin diterapkan dan Railene berhasil meraih medali perak di turnamen pertamanya. Peraih medali emas adalah Laura. Sosoknya yang unggul dan sangat ganas dalam serangan terhadap lawan membuatnya terkenal seketika. Wajah datar kikuknya tidak menyurutkan kesukaan para pendukung.


Juara ketiga junior berasal dari dojo lain. Itu adalah sosok yang menjadi lawan Laura di babak ketiga. Cantik, anggun, dan memiliki senyum diplomatik yang baik. Tipikal pengusaha yang sering memenangkan hati pemegang saham. Railene terbiasa mengamati dan menilik beberapa kemiripan pada dirinya yang dulu.


Upacara penghargaan dibagi dalam empat kategori. Junior laki-laki, junior perempuan, senior laki-laki, dan senior perempuan. Di junior laki-laki, dojo Railene tidak memenangkan satu pun penghargaan. Tetapi masing-masing di senior laki-laki dan senior perempuan, memiliki juara masing-masing. Ada Ben yang meraih medali emas dan senior bernama Hara yang meraih medali perunggu.


Kemenangan dari dojo Railene adalah yang terbanyak dan mendominasi. Ada dua dojo yang tidak memenangkan apapun mungkin karena masih baru dan belum melihat standar di turnamen tahun ini. Dojo asal Railene adalah dojo tertua yang memiliki banyak prestasi. Jadi, tidak ada yang heran dengan kemenangan para murid dari dojo Railene. Mereka masih menjadi yang terbaik.

__ADS_1


Setelah berkemas dan hendak pulang, Diza serta Bram datang membawa Railene dan Ben. Pihak dojo tidak mengalami masalah dan mempersilahkan. Toh, pesta dengan keluarga memang wajar dilakukan. Railene yang berada di mobil dengan bundanya langsung dicurahi perhatian maksimal. Ben sendiri sampai terkena getahnya, apalagi dia terluka di titik vital yang penting. Jika benda tajam milik lawan menembus lebih dalam, Ben mungkin memerlukan jahitan dan harus dibawa ke rumah sakit untuk memastikan tidak ada urat atau syaraf yang terpotong. Posisinya sangat dekat dengan tempat nadi berada dan sangat berbahaya.


"Untungnya lukanya ringan dan hanya goresan yang agak dalam. Ini sangat berbahaya, kenapa ada peserta yang membawa senjata tajam ke pertandingan? Tim keamanan yang memeriksa kurang ketat, harusnya diperkuat lagi biar nggak kejadian kayak gini lagi. Ini bahaya banget," ujar Diza sambil memeriksa luka Ben. Sebagai seorang dokter, Diza merasa berkewajiban memeriksanya. Apalagi Ben adalah teman terdekat putrinya dan mungkin juga akan menjadi putra tirinya.


Railene tidak bisa menahan senyum mendengar omelan Diza. Ben sendiri pasrah diperiksa. Dia tidak secengeng itu untuk mengeluh karena sedikit goresan di kulit. Tapi, dia mendengarkan Diza dengan penuh perhatian. Sama seperti dia mendengarkan Railene. Dia sangat patuh dan tidak memiliki banyak pendapat yang berbeda. Selama itu masuk akal dan benar, Ben setuju.


Keempatnya pulang ke rumah masing-masing setelah Diza mengambil mobilnya yang ditinggal di dojo. Teman-teman lain belum terlihat karena mereka mengadakan makan bersama setelah pertandingan. Tidak seperti Railene dan Ben yang langsung diangkut oleh Diza dan Bram.


Railene melihat medali perak di lehernya dan tersenyum ringan.


"Selanjutnya, apa yang harus aku pelajari?"


***


Hai hai, maaf jarang update karena kondisi nggak memungkinan dan masih sakit.


Jangan lupa like dan komentar.


Have a nice day!😊

__ADS_1


__ADS_2