
Sebuah ruangan dengan banyak kanvas dan peralatan melukis menjadi tempat merenung Railene. Ia duduk di depan sebuah kanvas berukuran dua kali lipat dari tubuhnya. Diam sambil memandangi lukisan yang baru saja ia selesaikan.
Cat dan kuas di sekitarnya berserakan, cahaya sore dari jendela menyiram pendar keemasan pada tubuhnya. Membangun siluet indah dengan sepasang mata yang sedalam samudra. Kulit putihnya bersinar dan menjadi pemandangan yang sangat mempesona.
Sayangnya itu adalah pemandangan tersembunyi. Tidak ada siapapun selain dirinya di dalam ruangan. Ia menikmati dirinya sendiri dan menjadi sosok yang menekuri setiap helaan napas dan sisa ruang di sekitarnya.
Kanvas di depannya menantang kisah dan membawa penampakan yang begitu indah. Guratan warna dan perpaduannya menjadikan seolah lukisan itu hidup. Dengan teknik gambar arsir semi tiga dimensi, lukisan itu seolah abadi. Mengelana di antara rentang waktu yang berciri khas begitu kuat.
Railene bergumam di tempatnya. Pandangannya turun pada sisi pojok lukisan. Tangannya terulur bersamaan kuas yang menggoreskan judul lukisan dan namanya. Indah, tegas, dan pekat.
"Inchara - Railene A."
"Apa itu aku?"
Sebuah suara yang akrab bertanya dengan nada takjub. Railene tersenyum kecil, tidak menjawab. Namun, dia menyetujui itu dalam hatinya.
"Akankah aku terlihat seperti itu kalau berhasil jadi manusia?" Tanyanya lagi.
"Mungkin," jawabnya tanpa membatin. "Aku selalu membayangkan kamu berwujud perempuan kecil yang memiliki sepasang sayap di punggung. Kamu selalu punya mata yang berbinar-binar dan polos," tambahnya kemudian.
"Itu cantik."
Railene tersenyum kecil. Ia meletakkan kuasnya, turun dari kursinya dan berjalan menuju jendela. Berdiam diri di sana dengan pandangan jauh menatap matahari yang tenggelam di balik gedung-gedung.
"Chara, susah mengelabuhi Bunda. Lebih susah mengelabuhi Paman Tam. Aku belum menyerah, ada banyak cara untuk mendapatkan seseorang yang dapat dipercaya, tapi aku kekurangan kesempatan karena keduanya ketat banget," ujar Railene berpikir banyak. Akhir-akhir ini ia merasa sedikit tertekan karena berusaha untuk mencapai tujuannya tanpa ketahuan atau dicurigai.
"Kenapa kamu tidak memanfaatkan penggemarmu?"
Railene mengangkat alisnya. Sedikit bingung karena Inchara menyebut penggemar yang dimilikinya. Ia bertanya-tanya, siapa yang dimaksud? Sejak kapan dia memiliki penggemar yang cukup memenuhi syarat dan bisa dia andalkan untuk menjaga rahasianya? Railene tidak mengerti sama sekali.
__ADS_1
"Kamu selalu dikelilingi banyak orang. Mereka penggemarmu, kan?"
Mendengar itu, Railene tertawa kecil. Setiap hari banyak yang datang dan menghampirinya. Tapi, itu untuk mengambil manfaat dan keuntungan dari mengenalnya secara dekat. Yang benar-benar mendekat dengan tulus bisa dihitung dengan jari. Seperti Ben, dan para orang dewasa yang ada di sekitarnya.
Namun, mereka semua belum dapat dikatakan sebagai penjaga rahasia yang baik. Mereka kebanyakan masih terhubung dengan Diza dan otomatis akan melaporkan apapun kegiatannya kepada Diza. Dan Railene sangat sadar bahwa sejak ia dilahirkan dan bertemu Diza, sosok yang menjadi Bundanya itu selalu protektif. Diza mendukungnya apapun yang diinginkannya, namun dia juga kan melindungi tanpa ada celah untuk orang lain menyakitinya.
"Aku nggak tau, Chara. Tapi, intuisiku mengatakan dalam beberapa bulan ke depan, aku bakal menemukan agen rahasia yang cocok." Railene berujar.
Dia menghela napas lagi sebelum berbalik, menyimpan lukisannya di pojokan, dan keluar dari ruang seni. Ia kembali ke kelasnya dan mengambil tas. Tidak ada siapapun kecuali dia dan tas miliknya. Orang-orang sudah pulang ke rumah masing-masing sejak dua jam yang lalu. Hanya Railene yang tersisa dan beralasan sedang ingin melukis di sekolah. Paman Tam juga tidak keberatan dan menjemputnya sedikit terlambat. Toh, dia mendapat konfirmasi dari Railene yang mengirimkan pesan melalui ponsel Jean. Meskipun memiliki ponsel sendiri, dia tidak pernah membawanya ke sekolah.
Setelah mengambil tasnya, Railene menuju ruangan Jean sambil menunggu jemputan.
"Tante Je, apa Paman Tam udah jemput?" Tanya Railene begitu dia memasuki ruangan pribadi Jean.
Jean sedang sedikit mengerjakan sesuatu ketika mendapatkan pertanyaan itu. Ia mengalihkan perhatiannya pada Railene dan tersenyum hangat. Meminta Railene mendekat dan menunggu beberapa saat.
"Belum, Paman Tam-mu masih di jalan. Sini, masuk dan tunggu dulu," ujarnya sambil mengibas-ngibas tangannya dengan bersemangat.
Jean sendiri menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan bergabung di sebelah Railene.
"Apa kamu main game baru?" Tanya Jean ketika melihat tabletnya yang biasa dipinjam Railene menampilkan gambaran game yang tidak biasanya dimainkan Railene.
"Iya, Tante. Soalnya beberapa hari terakhir temen-temen Railene pada sibuk ujian. Terus, nggak ada event game yang baru. Dan lagi, setiap main aku menang terus, bosan, nggak ada tantangannya lagi," ujar Railene sambil masih memainkan tablet Jean.
Jean tersenyum kecil dan mengambil ponselnya, memeriksa pesan Paman Tam yang mengabarkan bahwa ia sudah ada di lobi. Jean mengetikkan beberapa kata dan menginterupsi Railene.
"Ayo, main game-nya nanti lagi. Paman Tam udah nunggu di bawah," ujar Jean hangat.
Railene segera menyelesaikan game-nya dan menggandeng tangan Jean menuju lift. Keduanya mengobrol sepanjang menuju lobi. Saat sampai lobi, Railene melihat Paman Tam dan berpamitan pada Jean. Keduanya berpisah setelah Railene menaiki mobilnya.
__ADS_1
Di saat itu, Jean mendapatkan sebuah pemberitahuan e-mail. Dia menurunkan pandangannya dan mengamati layar ponselnya.
"Acara pencarian bakat?" Alisnya sedikit terangkat dengan bingung. Ia melihat dengan jelas bahwa sebuah perusahaan industri terkenal yang mengirimkannya. Ini merupakan penawaran kerja sama langsung kepadanya selaku pemilik sekolah.
Perusahaan yang bersangkutan ingin mengadakan pemilihan bakat muda untuk anak usia 7-15 tahun. Itu cocok untuk kriteria usia anak di sekolah internasional yang ia bawahi. Mengenai kerja sama ini, perusahaan bersangkutan akan mengadakannya sekali saja dan merupakan pengajuan yang langka.
Jean tidak mengerti mengapa target yang diajak kerja sama adalah sekolah yang ia bawahi. Secara sekolah ini belum lama berdiri. Dapat dihitung hanya belasan tahun semenjak didirikan pertama kali. Sedangkan untuk penawaran dari perusahaan, sisanya adalah sekolah-sekolah swasta campuran yang sudah lama berdiri. Hanya LEJHS yang termuda.
Jean memutuskan untuk menghubungi sekertarisnya mengenai penawaran kerja sama langsung yang ia terima. Dia akan membicarakan dan mengadakan rapat dengan dewan direksi dan beberapa guru penting. Ini terlalu tiba-tiba baginya dan pasti ada motif tertentu untuk perusahaan pengirim.
...
Di sisi lain, sebuah gedung pencakar lantai 15.
"Apa ada tanggapan?" Jack bertanya pada sekertarisnya.
"Ada dua sekolah yang tidak langsung menerima dan meminta kejelasan melalui meeting. Ini FJHS dan LEJHS." Sekertarisnya langsung mengabarkan.
Jack menghela napas panjang. Setelah memikirkan cara selama dua hari, ia memutuskan untuk mengambil langkah besar. Mendirikan acara pencarian bakat ke sekolah-sekolah internasional dan swasta hanya untuk mendapatkan perhatian dari gadis kecil yang diincarnya. Setidaknya jika ia bekerja sama dengan sekolah yang bersangkutan, ia akan memiliki banyak kesempatan untuk melihat apakah gadis kecil itu tertarik dan mencoba hal baru yang ia tawarkan.
"Baik, adakan meeting dengan mereka. Program ini dirancang untuk tiga bulan ke depan. Ini berbarengan dengan awal semester baru anak-anak sekolah. Saat itu, gadis Railene ini seharusnya sudah menginjak bangku SMP, kan?" Jack bergumam dengan semangat dan sedikit gugup.
"Ya, seharusnya dia tetap berada di sekolah yang sama. Orang tuanya sangat protektif dan sekolah ini memiliki sistem yang cukup ketat. Ini tidak akan mudah," ujar si sekertaris menambahkan.
Jack bersandar di kursinya sambil melihat kembali data Railene. Ia tersenyum samar. Menyiapkan rencana ini tidaklah mudah. Ia bahkan menyiapkan beberapa kursi untuk para talenta muda lain. Hanya demi mengejar gadis kecil ini, Jack mengerahkan banyak usaha. Ia tidak ingin gagal di tengah jalan.
***
Hai, terima kasih kepada para pembaca yang masih setia dengn cerita ini. Jangan lupa like dan komentarnya..
__ADS_1
Have a nice day!😊