Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
29. Geng Pemula


__ADS_3

Tempat pelatihan itu berupa lapangan dengan matras karet untuk lantainya. Di sekelilingnya adalah tribun dengan lima tingkat. Itu digunakan untuk beristirahat atau menampung penonton jika sedang ada event tertentu.


Tempat itu menjadi arena latihan sekarang. Beberapa murid senior sudah datang dan berlatih dengan pelatih masing-masing. Kebanyakan satu pelatih menaungi sekitar 15 murid di tingkat yang sama.


Sementara itu, di kelompok Railene, dia menjadi pusat perhatian. Wajahnya yang cantik dan imut membuat semua orang terpesona dalam sekali memandang. Ditambah seragam yang agak kebesaran di tubuhnya membuat gadis itu terlihat seperti mengenakan pakaian cosplay. Satu kata. Menggemaskan.


Rata-rata di kelompok Railene adalah anak laki-laki, otomatis mereka memiliki ketertarikan yang kuat terhadap Railene. Hanya ada tiga perempuan tersisa, dan itu merupakan anak-anak yang lebih tua darinya. Paling tua berusia sekitar 14 tahun, sisanya antara 11 atau 10 tahun. Anak laki-lakinya juga tidak ada yang seumuran dengannya. Paling muda berusia 10 tahun. Hanya Railene yang paling muda di antara kelompok pemula.


"Hai, apa kamu baru masuk hari ini?"


Railene yang sedang memperhatikan tingkatan kelas lain berlatih, menoleh. Matanya yang jernih dan cemerlang menangkap gambaran seorang anak laki-laki jangkung yang cukup menarik. Tinggi Railene tidak mencapai bahunya dan terpaksa gadis itu mendongak demi mendapati senyuman manis laki-laki itu. Ciri khasnya ada pada rambutnya yang dipotong cepak. Itu hampir botak karena masih menyisakan satu sentimeter yang mengisi kepalanya.


Railene mengamati gambaran dan pancaran mata si laki-laki. Ia mendapati kenarsisan yang sedikit berlebih dalam kepribadian anak laki-laki di depannya. Seorang playboy sejati? Railene sedikit merasa lucu karena itu.


Meskipun begitu, Railene menjawab dengan benar. Ia mengangguk dan menerima perkenalan Jefri, si anak laki-laki playboy berusia 12 tahun. Railene menerimanya karena Jefri masih memiliki nilai kebaikan. Jefri bukan jenis pisau yang bersembunyi. Laki-laki itu sangat jujur dan tidak munafik pada apapun. Lebih menariknya lagi, dia sangat terbuka dalam menyampaikan ketidaksukaannya pada orang lain.


"Aku juga baru masuk selama seminggu. Tapi, aku udah kenal semua orang di sini. Mereka semua fans-ku!" Jefri menjelaskan dengan bangga. Nadanya ramah namun karena isi kalimatnya yang begitu narsis, Railene tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.


Untuk sesaat pemandangan Railene yang tertawa membawa dampak keheningan yang begitu damai. Jefri bahkan terpaku di tempatnya. Memegangi dadanya yang tidak tahu mengapa bergetar begitu hebat. Sejenak semua orang tidak bisa mendengarkan apapun, terutama sekelompok siswa pemula yang berada di sekitar gadis itu.


Railene belum menyadarinya namun suara tawa itu begitu menyenangkan. Itu cukup lama sebelum ia membuka matanya dan mendapati Jefri tertegun dengan wajah merona. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun ia berhasil membangunkan Jefri.

__ADS_1


"Kalo gitu, Kak Jef bisa perkenalkan aku ke semua orang?" Tanya Railene lucu. Nadanya yang dewasa tidak cocok dengan suara kekanakkan itu. Namun efek menggemaskannya begitu terasa hingga tangan semua orang gatal ingin mencubit pipi Railene yang masih memiliki banyak lemak bayi.


"Ah, tentu aja bisa! Ayo aku kenalin ke yang lain!" Jefri sangat bersemangat. Di saat yang sama ia ingin menarik Railene, tapi melihat tubuh mungil yang begitu rapuh itu, Jefri agak takut menyentuhnya. Ia takut menyakiti Railene.


"Oke, para fans yang budiman. Perkenalkan, ini adik kecil baru kita, namanya Railene. Dan Railene, perkenalkan mereka adalah fans-ku," ujar Jefri dengan nada sombong yang arogan. Ada sedikit nada main-main yang menghiasi senyumannya yang secerah matahari.


"Fans gundulmu!" Seseorang menyahut. Dia adalah anak laki-laki dengan perawakan jangkung dan sedikit lebih tinggi dari Jefri. Kulitnya putih dan matanya sipit.


"Jef, jangan mulai deh," ujar seorang lainnya dan langsung bertindak memukul kepala semi-botak Jefri.


Railene menyaksikan pemandangan itu dan tersenyum geli. Agak belum terbiasa dengan sikap narsis laki-laki di sampingnya. Ia melihat sekitar dan mendapati pemandangan bahwa semua orang memiliki kesan yang cukup bersahabat dengan Railene. Hanya satu yang memiliki cara memandang jaim dan dingin. Railene melihat itu dan tidak mempermasalahkannya. Lagi pula orang itu tidak memiliki sikap permusuhan pada Railene. Dia hanya dingin dan tidak menanggapi lebih.


"Aku Farhan, dia Darren, dia Hansen, dia Kevin, dia Gery, dia Baron, dia Aris. Yang cewek itu Kak Laura, Gaby, sama Dea. Ada dua orang yang nggak masuk, kamu bisa liat mereka di hari lain."


"Namaku Railene," ujarnya singkat.


Semua orang tersenyum kecuali sosok yang disebut Kak Laura. Dia hanya mengangguk kecil dan menoleh ke arah lain. Enggan terlibat lebih jauh dan berlarian menuju tepi lapangan.


"Berapa umurmu? Lima tahun?" Tanya Jefri dengan sembrono.


Railene menggerutu dalam hati. Alisnya naik sedikit dan ada gelenyar ketidaksukaan dalam tatapan matanya yang jernih. Ia membenci kesalahpahaman ini.

__ADS_1


"Aku delapan tahun," jawabnya singkat. Menatap sengit ke arah Jefri dengan tatapan permusuhan.


Terlihat seperti adik kecil yang sedang marah, semua orang tidak bisa tidak menahan napas. Oh, kelucuan itu tidak bisa dibendung.


Satu orang yang bernama Dea langsung menubruk Railene dalam pelukan. Begitu gemas hingga ia lupa bahwa mereka hanya orang asing. Namun gadis sepuluh tahun itu tidak peduli. Dengan mata yang berbinar cerah dan kuncirnya yang bergerak kesana kemari, ia memegangi tangan mungil Railene dan menenangkannya.


"Jangan khawatir Rail, kamu nggak perlu dengerin omongan Kak Jefri. Dia playboy yang suka menipu. Ayo, jangan main sama dia," ujar gadis itu menggiring Railene ke tepi lapangan.


Yang lainnya mengikut sambil membenarkan ucapan Dea. Meninggalkan Jefri yang tercengang dan merasa sakit hati di saat bersamaan. Dia mencengkeram dadanya dengan dramatis. Kata-kata Railene yang penuh kemarahan dan tatapan kebencian itu menyakitinya.


"Ya ampun, aku bikin Railene-ku marah. Dia benci sama aku? Ya Tuhan..., apa yang harus kulakukan?" Wajahnya penuh penderitaan.


Laura yang kebetulan melewatinya mencibir tajam.


"Kamu memang pantas dibenci. Railene nggak bakal suka sama buaya penangkaran kayak kamu!" Laura berkata begitu dan langsung berlalu. Wajahnya penuh penghinaan memandang Jefri. Jijik dan memandangnya seolah dia sampah.


Satu tusukan itu membuat Jefri jatuh terduduk. Lesu seolah hilang harapan. Dia benar-benar bersikap seolah dunia sudah hancur di saat Railene melihatnya dengan kebencian. Juga kata-kata Laura merasuk dengan mulus, merobohkan puing-puingnya sampai rata menjadi tanah.


Di sisi lain, Railene memandang Jefri aneh.


"Bukankah dia lebih cocok belajar akting daripada karate?" batinnya ketika memandang bagaimana Jefri terkapar setelah dilewati oleh Laura.

__ADS_1


***


Hai, jangan lupa like dan komentar. Terima kasih.😊


__ADS_2