
"Darimana kamu dapat semua uang ini?" Tanya Selena heran. Seorang anak kecil sepertinya tidak mungkin diizinkan memegang uang sebanyak itu.
Railene tersenyum kecil. "Ini uang saku sisa selama dua bulan," ujar Railene dengan polosnya.
Selena tertegun dan diam beberapa saat. Dia melihat bahwa Railene dipenuhi rencana yang matang dan perhitungan yang akurat. Bahkan di dalam bisnis dengan orang dewasa asing yang berbahaya seperti dia, gadis kecil itu tidak memiliki keraguan untuk mundur. Dia mempersiapkan segalanya dengan baik.
"Kak Lena cukup kirim tagihannya bulan depan ke aku sekalian barang-barang itu." Railene menunjuk kertas yang dipegang Selena dan kembali menutup koper kecilnya kemudian ia serahkan kepada Selena.
"Railene, kamu nggak perlu membayar sisanya. Anggap aja hadiah dari aku karena kamu membantuku menyelesaikan misi di malam itu. Untuk barang-barang ini, bagiku masih hadiah yang kecil," ujar Selena tulus.
"Tapi Kak-"
"Aku benar-benar ingin memberimu hadiah. Jadi, biar aku yang bayar sisanya. Bulan depan aku kirimkan ke kamu sesuai petunjuk. Gimana kamu akan menghubungiku?" Selena mengubah topik cepat agar Railene tidak menolak lagi.
Railene terdiam sebentar dan mengangguk kecil. Ia mengambil buku catatan kecilnya dan meminta alamat e-mail Selena. Ia tidak akan menggunakan pesan singkat atau semacam komunikasi langsung dalam percakapan yang ringkas. Untuk urusan bisnis seperti ini, e-mail adalah yang paling cocok.
Keduanya berpisah setelah menyelesaikan semuanya. Selena membawa kertas berisi daftar barang beserta koper kecil milik Railene dan melompat dari balkon lantai dua. Railene yang melihat adegan itu terkejut dan menjadi kagum. Dia belum pernah menyaksikan gerakan aksi yang begitu keren secara langsung.
"Chara, aku mau lompat kayak gitu juga. Kira-kira bisa nggak ya?" Tanya Railene pada Inchara dengan gumaman.
Ia berdiri di balkon dan melihat Selena hilang di kelokan hutan pohon kelapa dan menyatu dengan malam. Sosoknya yang misterius dan berbahaya menjadi cocok dalam kekokohan dan kegesitannya. Ia secara alami mengagumi Selena dan semua kemampuannya.
"Kamu bisa kalau belajar," ujar Inchara damai. Railene hanya bergumam di antara sunyinya malam.
__ADS_1
...
Berminggu-minggu terlewati. Tahun ajaran baru sekolah kembali di mulai. Para siswa dengan seragam memenuhi pelataran dan area sekolah. Banyak dari mereka berkelompok dan bising dalam percakapan. Gedung SMP LEJHS otomatis menjadi yang lebih ramai.
Rata-rata murid di sana adalah orang-orang yang baru mendaftar. Hanya ada satu kelas yang memiliki penghuni tetap hasil kelulusan dari gedung Sekolah Dasar. Itu adalah lulusan kelas unggulan yang tetap di satukan dalam satu kelas. Berbeda dengan kelas reguler yang berbaur dengan siswa baru lainnya. Siswa Unggulan mendapatkan fasilitas dan jaminan lebih baik.
Itu adalah kelas yang ditempati oleh Railene dan Ben. Kedua orang itu bertemu di gerbang dan masuk ke gedung SMP. Tampak begitu akrab dan tidak terganggu sama sekali ketika kerumunan beberapa kali memperhatikan mereka dengan berbagai tatapan.
Ben dan Railene tampak memiliki tinggi badan yang agak terpisah jauh. Namun, hanya Railene yang tahu bahwa dalam dua bulan ini dia memiliki kenaikan tinggi badan. Itu tiga centimeter yang berharga untuknya. Dia ingin berbangga diri, namun sayangnya itu tidak banyak memiliki efek ketika ia berjalan di samping Ben yang jangkung.
Ben sendiri sedang asik bercerita. Dia melihat wajah datar Railene yang biasa dan mengidentifikasikan bahwa Railene tampak normal seperti kesehariannya. Dalam keadaan biasa, Railene memang jarang tersenyum. Hanya jarang dan beberapa kali akan membiarkan orang lain melihat mata cerahnya yang riang.
"Rai, kamu tau nggak, ternyata sepupuku yang lebih tua setahun dari aku udah punya pacar. Katanya itu keren. Rai, apa menurutmu punya pacar itu keren?"
"Itu dia. Aku ingat bulan lalu dia bilang dia berpacaran dengan gadis kutu buku. Tapi sekarang berubah lagi." Ben menghela napas. Tidak mengerti jalan pikiran sepupunya tentang berganti pacar secepat itu.
"Oh ya? Siapa lagi yang jadi pacarnya?" Railene bertanya dengan geli. Sejujurnya tingkat percakapan ini adalah rileksasi baginya.
"Dia bilang pacarnya lebih suka lolipop cokelat daripada bunga. Sepertinya gadis itu lebih muda darinya." Ben membuat tebakan.
"Gimana kamu tau kalau dia lebih muda?"
"Hanya gadis-gadis muda yang suka lolipop manis. Kamu juga begitu dan kamu lebih muda dari aku."
__ADS_1
Railene menoleh dan berhenti sejenak. Memandang Ben dengan alis terangkat. Dia menyadari sekarang bahwa Ben terlalu sering membuat kebiasaannya sebagai contoh tentang bagaimana gadis-gadis biasanya bersikap atau suka tentang sesuatu.
"Nggak semua anak perempuan yang lebih muda suka lolipop cokelat. Kadang aku benci benda itu kok!" Railene berujar dengan tenang dan melanjutkan jalannya.
"Baiklah. Intinya pacarnya begitu. Apa menurutmu pacaran itu baik? Terus dia bilang dia harus berganti pacar setiap bulan biar nggak bosan. Itu aneh menurutku. Menurutmu gimana?"
Railene tertawa kecil. Dia masih lanjut berjalan ketika menjawab Ben. Teringat tentang masa lalunya dan hubungan asmaranya tidak yang bisa dikatakan baik. Dia tidak memiliki banyak pendapat selain pikiran tentang betapa melelahkannya pacaran itu.
"Itu nggak baik. Kamu sebaiknya jangan mencontoh dia. Gimana pun, kalau kamu sering ganti pacar, itu menunjukkan kalau kamu nggak setia. Juga, jangan pacaran sebelum kamu berusia di atas dua puluh tahun. Itu lebih baik pacaran kalau kamu udah dewasa." Railene berujar lugas dan terkesan cuek menyampaikannya.
Namun, dia tidak tahu bahwa kata-katanya mempengaruhi Ben dengan sangat baik. Laki-laki itu benar-benar menerapkannya sepanjang usia remaja hingga dewasanya. Railene tidak tahu itu, bahwa Ben akan selalu mempercayai apapun yang dikatakan olehnya. Tanpa syarat.
Keduanya tidak membahas lebih jauh dan memasuki kelas setelah sampai di ujung koridor lantai tiga. Kelas mereka berada di pojok dan merupakan kelas yang cukup mewah dengan basis sistem yang telah diatur. Itu hanya terdiri dari tiga ruangan belajar dan sisanya adalah ruangan kesenian. serta perpustakaan yang berada di pojok sisi lain.
Tidak banyak orang di koridor dan masing-masing kelas berada di tingkat berbeda. Yang berbeda dari kelas unggulan hanyalah fasilitas dan murid-murid semi-internasional. Tidak ada persingkatan kelas seperti lulus dua tahun dan sebagainya. Namun siswa bisa melaporkan kondisi ini dan mendaftar untuk lulus dua tahun. Itu juga diizinkan oleh sekolah.
Railene dan Ben adalah dua orang yang mengambil keputusan ini. Mereka masuk kelas dan duduk bersama kembali. Karena sudah saling mengenal sebelumnya, Railene berbaur dengan teman-teman sekelas seperti reuni kecil. Yang tidak diketahui sebagian besar siswa termasuk Railene adalah bahwa akan ada dua pendatang baru sebagai anggota kelas mereka beberapa saat kemudian.
***
Jangan lupa like dan komentarnya. Terima kasih.
Have a nice day!😊
__ADS_1