Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
12. Kelas


__ADS_3

Railene berdiri di depan pintu calon kelasnya. Di sampingnya ada Jean yang menggandeng tangannya.


Tadi pagi, ia sudah meyakinkan Diza untuk tidak perlu mengkhawatirkannya. Lagipula sudah ada Jean yang lebih memiliki pengaruh di sekolah. Seseorang tidak akan meremehkannya dengan terang-terangan. Sudah cukup baginya untuk mengobservasi singkat semua siswa di kelasnya ini. Mereka memang pintar, namun sifat alami mereka masih melekat, kekanakkan.


"Kamu udah siap, Railene?" tanya Jean yang agak cemas karena tidak mendapati raut apapun di wajah imut Railene.


Railene menoleh, mendongak dan kemudian tersenyum kecil. Dia hanya sedang berekspektasi tentang orang-orang di dalam kelas. Mulai bertanya-tanya akankah orang di kelas ini cocok dengan jiwa dewasanya? Ataukah mereka hanya sekumpulan anak kecil yang kebetulan lebih pintar dari yang lain? Siapa yang tahu sebelum melihatnya sendiri.


Railene tidak berniat menonjolkan diri, tapi mungkin jika ia terlalu menyembunyikan kecerdasannya, anak-anak yang lebih tua darinya itu akan meremehkannya. Maka, sejak awal ia bertekad untuk bersikap setelah menilai situasi. Setiap manusia punya tempramen dan kekuatan mental masing-masing. Meskipun ia memiliki aura charming alami, tetap saja akan ada pihak yang tidak menyukai keunggulannya.


"Kalau gitu ayo kita masuk!" ujar Jean kemudian mengetuk pintu kelas.


Pintu terbuka dan menampilkan fitur wajah seorang wanita dewasa mungkin baru 20-an tahun. Wanita itu terlihat ramah dan hangat. Ia menyambut Jean dengan senyuman hormat.


Jean masuk setelah mendapat izin dari sang guru yang sedang mengajar. Tatapan mata seluruh manusia di kelas tertuju pada Jean dan Railene yang masih digandeng tangannya. Wajah imut Railene berhasil menarik perhatian seisi kelas. Bisik-bisik mulai terdengar.

__ADS_1


"Anak-anak mohon perhatiannya sebentar. Hari ini kelas kita kedatangan teman baru. Silahkan perkenalkan dirimu, nak!" ujar sang guru yang diangguki Railene. Ia melepas genggaman tangan Jean dan melangkah ke tengah panggung kelas. Memperhatikan sekilas wajah-wajah penasaran para calon teman sekelasnya.


"Perkanalkan, Namaku Railene Aristokelly, mohon kerja samanya." Salamnya dengan nada biasa. Ada senyum tipis di bibirnya ketika tidak mendapatkan ekspektasi terburuk. Setidaknya untuk saat ini.


"Baik, Railene bisa duduk di sebelah Benedict. Ben, angkat tanganmu!" guru itu langsung mengambil alih ketika Railene tidak berniat mengatakan informasinya lebih jauh.


Seorang laki-laki berkacamata dengan gaya rambut cepak berponi setengah dahi, mengangkat tangan. Penampilannya cukup rapi meskipun dasinya sedikit miring dengan seragam yang agak kebesaran. Railene berterima kasih dan menuju bangkunya. Tatapannya fokus pada si anak laki-laki tanpa memperdulikan teman-teman sekelasnya yang memperhatikannya dengan macam-macam pandangan. Tidak bisa dijelaskan. Secara dangkal anak-anak itu tampak heran, penasaran, dan kagum. Sisanya biasa saja dan ada satu atau dua yang merasa tersaingi--tentu saja ini berjenis kelamin perempuan.


Ia duduk di kursi dan menaruh tasnya di gantungan yang ada di samping mejanya. Meski ia terlihat begitu mungil dengan meja yang agak ketinggian baginya, Railene duduk dengan tenang. Ia menoleh ke kiri untuk melihat sosok teman di sampingnya. Anak laki-laki bernama Benedict itu masih memandangnya lekat dengan binar mata cerah. Bersemangat untuk memperkenalkan diri. Dalam sekali pandang, Railene dapat menyimpulkan bahwa karakter temannya itu akan sedikit membuatnya kewalahan. Oh, itu hanya firasat. Tapi, semoga saja tidak benar.


Railene membalas tersenyum, mengangguk kecil tanda menghargai bocah di sampingnya. Meskipun Railene sendiri adalah bocah, ia sering melupakan fakta itu. Jiwa dewasanya sering mendominasi akhir-akhir ini.


"Senang berkenalan denganmu." Ucap Railene ringan. Suara imutnya seringan kapas. Matanya tersirat rasa menghargai. Ia berekspektasi bahwa sekarang ia terlihat diplomatis. Sayangnya, begitu responnya diterima lawan bicara, Benedict atau Ben langsung berbinar. Tangannya gatal mencubit pipi Railene yang tentu saja langsung ia lakukan tanpa aba-aba. Tindakan impulsif-nya mengejutkan Railene sekaligus membuatnya terganggu.


Bocah lima tahun itu segera menepis tangan Ben karena tindakan tiba-tibanya. Ia memasang wajah kurang suka dan berakhir pada kegugupan Ben. Bocah laki-laki itu nampak terkejut namun kemudian tersadar. Ia ingat kata-kata ayahnya yang mengatakan bahwa dia harus menjaga sikap kepada orang yang baru ditemuinya. Sekali pun itu anak kecil seperti Railene.

__ADS_1


"Ah, maaf. Aku benar-benar minta maaf. Tadi... kamu sangat lucu. Aku... minta maaf!" Ben berulang kali menundukkan kepalanya dengan tangan terkatup satu sama lain. Mempraktikkan seberapa besar permintaan maafnya yang tulus.


Railene tertegun sejenak. Ia menatap mata Ben dan menemukan hal unik. Itu adalah tentang dia yang meskipun sering bertindak refleks dan sedikit impulsif, Ben memiliki sopan santun yang baik. Semua tindakannya benar-benar tulus dari hati. Tanpa sengaja pula ia melihat masa lalunya. Ben adalah anak tanpa ibu. Sang ibu meninggal ketika ia baru lahir. Seperti dirinya. Bedanya, yang Ben miliki sekarang hanyalah seorang Ayah yang melakukan segalanya demi Ben. Seperti Diza yang melakukan apapun untuk Railene.


"Nggak papa." Balas Railene tersenyum tipis. Ia memakluminya. Meskipun begitu ia belum akrab dengannya. Mungkin lambat laun ia akan menerima Ben sebagai teman pertamanya di sekolah ini.


Pelajaran kembali dimulai. Jean sudah keluar ruangan setelah menitipkan pesan pada sang guru untuk mengawasi Railene dengan baik. Dia juga berpesan agar sang guru tidak meremehkan anak berusia lima tahun itu. Sang guru tentu saja menuruti perintah sang pemilik sekolah itu. Lagi pula, bersikap bijak memang kebiasaannya.


Railene memperhatikan dan berusaha untuk tidak mengeluh bosan. Semua pelajaran dan hal-hal yang disampaikan sang guru, sudah lama Railene ketahui. Namun, ia mencoba fokus. Bertindak layaknya anak sekolah yang baik. Bagaimana pun, tidak ada yang tahu rahasia reingkarnasinya.


Railene menjawab beberapa kali pertanyaan yang terlontar padanya. Hal itu membuat kesan sang guru dan anak-anak lainnya menjadi kekaguman yang tidak bisa ditepis. Menambah kadar iri satu dua orang yang sejak awal membenci kehadirannya.


Railene cukup sadar akan hal itu dan memilih mengacuhkannya. Apa yang bisa dilakukan bocah kelas tiga SD? Paling-paling hanya ancaman klise kekanakkan dan beberapa pertengkaran konyol. Ini juga alasan Railene tidak terlalu menyukai anak-anak. Baik yang lebih muda, sepantar, maupun yang sedikit lebih tua. Meski terkadang ia sangat menyukai kepolosan dan kejujuran mereka. Railene sendiri sering melakukan itu tanpa sadar. Kedewasaannya hanya terletak pada cara berpikir dan keteguhan hati, sisanya ia mirip anak-anak. Sederhana dan murni. Hal itu juga yang membuat orang-orang dewasa di sekitarnya tidak pernah menaruh curiga kepada Railene yang seperti dewasa dan murni di saat bersamaan. Lagi pula, siapa yang bisa membayangkan hal-hal mitos seperti reingkarnasi dalam diri Railene?


Mungkin hanya mereka yang memahami semesta lebih baik dari yang lainnya.

__ADS_1


***


__ADS_2