
"Jadi, pecahan itu jika semakin besar angka di bawah, maka semakin kecil nilai pecahan. Karena...,"
Guru matematika yang mengajar di depan kelas sedikit Railene abaikan. Gadis kecil itu lebih memilih mengerjakan struktur mini lego yang kemarin dibelikan oleh Jean sebagai hadiah mingguan. Yup, hadiah mingguan. Setidaknya Jean yang mengatakan hal itu.
Semenjak Railene berusia empat tahun, Jean sudah mulai memberikan lego dan permainan menyusun seperti itu. Setiap minggu, jika Railene berhasil menyelesaikan legonya, maka minggu depannya Jean akan memberikan lego baru untuk diselesaikan.
Ben, teman sebangkunya menjadi kebingungan. Gadis kecil yang baru seminggu masuk sekolah ini begitu santai dan terlalu bebas. Beberapa hari lalu, ia mengikuti Railene menuju ruang seni rupa sendirian. Berkat kunci ruangan yang entah Railene dapatkan dari mana, mereka bisa masuk dengan bebas.
Ternyata gadis kecil itu mengambil kuas dan kanvas berukuran sedang. Menggambar sketsa selama beberapa menit kemudian menyembunyikannya di balik lemari penyimpanan. Ben sangat bingung dengan tingkah Railene. Gadis kecil yang lebih muda darinya itu sangat tidak tertebak jalan pikirannya.
Saat ini juga.
"Railene, apa yang kamu lakukan? Kamu nggak memperhatikan Bu Guru?" Ben mengingatkan dengan berbisik.
Tempat duduk mereka yang ada di belakang menjadikan semuanya yang dilakukan Railene tersamarkan. Railene menoleh singkat dan mengangkat bahu acuh. Menjawab dengan jawaban yang dia sadari bahwa itu benar.
"Bundaku udah ngajarin itu. Aku bosan," ujarnya dengan lirih.
Suasana di kelas unggulan memang selalu sepi saat kegiatan belajar mengajar. Membuat jika ada yang mengobrol, pasti akan langsung ketahuan. Ini pula mengapa Railene tidak bisa bebas merakit lego. Terkadang bunyi klik dari bersatunya lego membuat suara yang begitu keras. Maka dari itu Railene memainkannya dengan hati-hati.
Berbeda dengan Railene yang begitu tenang, Ben berwajah sebaliknya. Sosok gadis yang sudah ia anggap temannya itu terlalu santai. Membuatnya kewalahan menasehati karena ia merupakan teman semejanya. Ia ingin sekali membuat Railene berhenti berkelakuan aneh di kelas dan mulai memperhatikan pelajaran.
"Railene, kalau ketahuan nanti kita dihukum." Ben berujar dengan bisikan panik.
"Nggak akan!" Railene menjawab santai.
"Railene, aku serius. Bu Berta itu galak. Kemarin kamu tau kan, Heri aja dihukum berdiri di depan kelas karena ketiduran. Kalo dia tau kamu malah mainan lego, bisa-bisa hukumannya lebih parah." Ben kembali bersuara.
"Kalo kamu terus berisik begini, Bu Berta pasti bakal tau. Makanya diam!" Railene berujar santai lagi.
Ben terdiam. Memikirkan ucapan Railene ada benarnya. Tapi, ia tidak bisa tidak khawatir pada apa yang tengah gadis kecil di sampingnya lakukan. Terlalu bebas. Ia takut Railene akan dihukum oleh guru karena tidak memperhatikan.
"Railene, aku serius. Meskipun kamu nggak mau memperhatikan, pura-pura aja. Aku nggak mau kamu ketahuan mainan lego waktu pelajaran!" Ben kembali berujar. Mengabaikan keacuhan Railene yang sangat menyebalkan bagi sebagian orang. Namun, bagi Ben itu malah tambah membuatnya khawatir.
__ADS_1
Railene yang keras kepala cenderung membuat Ben pusing dengan bagaimana tingkah gadis kecil yang begitu bebas dan sesuka hatinya itu. Ia baru tahu bahwa Railene adalah orang yang seperti itu. Jika Ben tahu bahwa Railene adalah jelmaan prankster terbaik, dia pasti akan mati berdiri melihat aksi Railene saat ide usilnya muncul.
"Railene..., berhentilah main-main!" Ben kembali berbisik.
Railene menengok. Hanya sejenak sebelum kembali pada kegiatannya. Menurutnya Ben itu terlalu srtict alias kaku. Cerewet dan sangat penurut. Ia tidak habis pikir dengan Ben yang begitu. Hidupnya seperti tidak bebas sama sekali. Membuatnya mengingat masa lalunya. Dulu, hidupnya pun mungkin seperti Ben yang dituntut untuk selalu bersikap manis dan taat. Ia tidak mau hidup dengan cara seperti itu lagi.
"Railene..., aku mohon berhentilah. Kalau kamu berhenti, nanti aku traktir es krim di kantin!" Ben kembali membujuk.
Railene terkekeh dalam hati. Lucu sekali teman semejanya ini. Mana bisa jiwa dewasa sepertinya mudah luluh hanya karena es krim.
"Nggak tertarik!" Balasnya iseng.
Ben makin panik di tempat duduknya. Ia menggeser kursinya semakin dekat. Memperingatkan Railene sambil berbisik.
"Aku juga akan traktir makan di kantin!"
"Aku bawa bekal dari Bunda," ujar Railene santai.
Railene menoleh sekilas. Menatap Ben yang matanya berisi penuh harapan. Ia terkekeh dalam hati. Wajahnya memperlihatkan sebuah pertimbangan palsu.
"Nggak mau!" Jawabnya akhirnya. Kembali menyusun legonya.
Ben makin khawatir di atas kursinya.
Di sisi lain, ada sosok yang memperhatikan dengan wajah tidak suka. Kebetulan ia melihat Railene dan Ben begitu dekat dan tidak memperhatikan pelajaran. Gadis berkuncir kuda dengan mata belo itu menjadi iri. Kenapa mudah sekali bagi Railene untuk dekat dengan Ben yang sejak dulu dia sukai. Bahkan ketika sudah dekat, Railene malah mengabaikan Ben yang sejak dulu ingin ia dekati.
Ia benci sekali melihat Railene. Mengapa wajah gadis lima tahun itu begitu imut dan cantik? Mengapa tidak dirinya yang mendapatkan perhatian Ben? Mengapa guru-guru selalu menyanjungnya padahal kerjanya hanya bermain-main saat di kelas? Ia tidak mengerti.
Sementara itu, Ben semakin cerewet dan berisik. Ia memperingatkan Railene terus menerus. Railene pusing mendengar semua hal yang keluar dari Ben. Ia ingin sekali membungkam anak laki-laki itu untuk sementara waktu. Bisakah?
Ketika Railene sedang pusing dengan pikirannya. Guru yang disebut-sebut dalam kalimat Ben pun mendekati mejanya. Sadar akan radar bahaya, Railene tidak panik sama sekali. Ia menyembunyikan legonya dengan natural. Membiarkan Ben yang belum sadar dari kecerewetannya terus asik bicara.
Barulah saat berada di samping mejanya, Railene membekap mulut Ben. Ben pun tersadar dan terkejut ketika mendapati sosok guru yang ia katakan galak tadi. Wajahnya memucat dan ia melirik takut-takut.
__ADS_1
"Ben, Railene, apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya sang guru dengan tatapan menyelidik. Ia menatap Ben dan Railene bergantian. Sebenarnya sedikit menghindari aura charming Railene yang membuatnya tidak tega untuk menegurnya.
"Ti... tidak. Bukan apa-apa, Bu!" jawab Ben segera setelah Railene melepaskan bungkaman tangannya.
"Kalau begitu kalian berdua kerjakan soal yang ada di papan tulis. Jika kalian memperhatikan, pasti kalian tau bagaimana mengerjakannya."
Titah sang guru membuat Railene berdecak malas dalam hati. Namun, ia dapat mengendalikan wajahnya menjadi sosok gadis imut yang menyiratkan ketidaktarikan atas dunia. Ben sendiri menjadi gugup. Sibuk memperingatkan Railene membuatnya lupa memperhatikan. Ia melihat soal di papan tulis tentang pecahan dan hitungannya. Di mata Railene itu sangat gampang, namun di mata Ben itu sedikit rumit karena ia tidak mendengarkan penjelasan sebelumnya.
Mereka berdua pun maju ke depan di bawah tatapan teman-teman sekelas. Saat di depan papan tulis, Railene berkata di samping Ben.
"Ini karena kamu terlalu berisik!"
"Oke, aku tau ini salahku." Ben pasrah disalahkan. Railene tertawa dalam hati.
***
Chit Chat Rebirth :
Saya : Pengumuman, mungkin saya akan mempercepat pertumbuhan Railene karena di masa depan saya butuh flashback.
Railene: Oh ya? Mempercepat sampai mana?
Saya : Entahlah, saya sibuk. Nanti aja!
Railene : Dasar! Selalu aja kabur kalo ditanyain. Bunda, nasehatin Kak YC dong.
Diza : Maaf, sayang. Bunda digaji sama YC. Jadi kita nurut aja ya...
Railene : Sejak kapan Bunda pro Kak YC?
Diza : Entahlah...
***
__ADS_1