Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
108.


__ADS_3

Syuting adegan pertama sedang berjalan. Ceritanya adalah tentang seorang ibu dan anak yang tinggal di sebuah rumah sewaan kecil dekat dengan pemukiman buruh dan pekerja lepas. Mereka baru saja secara bertahap mengalami kesulitan karena beberapa kebijakan pekerja yang membuat sang ibu lebih sulit untuk bertahan dan mencari pekerjaan.


Sang anak baru berusia 13 tahun dan merupakan gadis kecil yang bersekolah di SMP biasa di dekat pemukiman. Karena biaya yang berkurang dan menjadi sulit bahkan untuk makan lengkap, sang anak harus putus sekolah. Adegan saat ini adalah tentang bagaimana sang ibu mencoba menyampaikan bahwa kondisi ekonominya sulit dan meminta putrinya untuk berhenti sekolah sementara waktu.


Railene bersiap di lokasi. Dia berdiri di pintu sebuah ruang tamu kecil dengan Kaho di dalamnya. Kaho sedang berlutut dan bersandar di tepi sofa, memegang sebuah buku dan beberapa kertas bertuliskan tagihan tersebar di beberapa tempat. Ada juga satu kertas yang dipegangnya erat.


"Semua ready?" Jack bersuara di balik layar monitor. Railene dan Kaho mengangkat tangan tanda persetujuan.


"Oke, adegan 27, rolling, action!"


Pintu rumah sewaan terbuka dan muncullah Railene dengan wajah yang ceria dan beberapa kecerahan di matanya. Peran Railene adalah seorang gadis bernama Tiar. Sang ibu sedang duduk di ruang tamu dengan wajah kusut, memandangi surat PHK yang baru saja dia baca.


Tiar kembali, Sang ibu mencoba menyembunyikan jejak kesuraman dan ketidaknyamanan di hatinya. Melihat putrinya yang baru saja kembali dengan membawa satu kantong plastik berisi dua butir telur dan beberapa lembar uang kertas hasil menjual kerajinan tangan dari plastik, sang ibu menyambut dengan senyum yang dipaksakan. Tiar yang selalu peka menyadari bahwa ibunya agak salah hari ini. Jadi, dia berjalan mendekat, meletakkan barang yang dia bawa dan bertanya.


"Bu, ada apa?"


"Tidak..., ibu baik-baik saja. Bagaimana hasil penjualan hari ini?"


Tiar menyadari ibunya menyembunyikan sesuatu, tapi dia tidak tahu apa. Dia melihat buku dan beberapa kertas bertuliskan angka tagihan serta kertas yang dicengkeram erat oleh ibunya. Ada logo samar yang ia kenali sebagai logo perusahaan buruh tempat ibunya bekerja. Dia menduga bahwa itu terkait pekerjaan. Dia memilih untuk tidak bertanya dan menjawab dengan jujur.


"Hari ini seperti biasa. Oh ya, tadi ada seorang Kakek yang minta tolong ke Tiar, terus dia kasih Tiar uang." Tiar menjawab dengan senyuman.


Matanya yang cerah penuh dengan energi positif. Sang ibu tidak tega memberitahunya tentang hal-hal sulit yang dia alami. Jadi, dia tersenyum kecil dan memuji Tiar.

__ADS_1


"Oke, Cut!"


Saat Jack berteriak, adegan selesai tanpa NG. Hanya pengulangan dua kali untuk memastikan efek. Adegan dengan cepat berlalu.


Peran Railene di awal masih sangat ringan. Berperan sebagai gadis polos pekerja keras yang jujur adalah kemudahan baginya. Adegan dilanjutkan sampai beberapa babak dan selesai pada pukul delapan malam. Railene mengganti bajunya dan bersiap untuk pulang.


Selama syuting, Railene hampir tidak melihat asisten Kaho sampai saat terakhir adegan selesai. Ini aneh baginya. Dia terbiasa memperhatikan anomali orang sekitar. Dan karena Kaho adalah jenis orang langka yang tidak dapat ia baca pikirannya, dia hampir selalu memusatkan perhatiannya pada aktris itu. Semakin ia perhatikan, semakin kental keakraban yang membuatnya merasa aneh.


Apalagi, dia saat ini berpapasan dengan asisten Kaho yang memakai masker hitam dan hanya menyisakan mata indah dengan pupil hitam obsidian yang membuatnya merasa lebih akrab lagi. Railene bahkan hampir tercengang ketika tahu bahwa asisten itu bahkan tidak dapat dibaca pikirannya.


"Railene, apakah kamu langsung pulang?" Tanya Kaho yang kebetulan lewat diikuti asistennya.


"Ah, ya. Aku harus pulang karena udah malam." Railene masih menjawab dengan ramah.


Sambil duduk diam di mobil perusahaan, Railene memejamkan mata dan membiarkan jiwanya masuk ke dalam Alam Jiwa. Dia bertemu Inchara dan memberitahu beberapa detail yang ia anggap aneh. Sejujurnya Railene tidak akan terlalu memikirkan jika Kaho hanya tidak dapat dibaca pikirannya, tapi dia menjadi semakin penasaran ketika mengetahui kebenaran asistennya juga. Apalagi ditambah dengan aura akrab yang tidak dapat dijelaskan. Railene mulai membimbing pemikirannya untuk tenang dan mengurutkan kejadian.


"Di ruang memori itu, aku juga merasakan keakraban yang sama. Inchara, apakah menurutmu ada hubungan antara aku dan orang-orang itu? Dan itu masih dalam familia?" tebak Railene, alisnya yang cantik berkerut dalam.


Inchara yang duduk di sampingnya memperhatikan dengan seksama. Dia juga melihat kekusutan Railene. Sebenarnya, Inchara tidak terlalu mengerti keterjeratan yang dialami Railene. Baginya kekuatan dan anugerah ajaib yang terjadi antara dirinya dan Railene adalah hal mutlak yang tidak perlu dipertanyakan. Meskipun ada kalanya dia merasa penasaran, Inchara lebih sering memiliki ketenangan pikiran dan beberapa petunjuk yang dia ketahui tiba-tiba.


Inchara tahu Railene sedang mencari asal-usulnya. Mengapa dia adalah Orang Pilihan, mengapa asal-usulnya sangat misterius, mengapa banyak hal tidak dapat dijelaskan dan memiliki hubungan yang membingungkan, dan masih banyak mengapa lainnya yang dia lihat di pikiran Railene. Tapi, meskipun Inchara terkadang ikut bertanya-tanya, dia merasa tidak telalu ingin tahu jawabannya. Walaupun dia hanya merasa tenang ketika Railene memiliki kemajuan dalam petunjuk yang dia peroleh sendiri.


"Railene, ada beberapa efek yang seharusnya terjadi. Sekarang ada tiga orang yang tidak dapat kamu baca pikirannya. Kenapa kamu tidak memulai sama yang pertama kali kamu temui tidak dapat dibaca pikirannya? Bukannya kamu bilang mereka memiliki keakraban yang mirip?"

__ADS_1


Inchara menyarankan beberapa hal yang dapat dia simpulkan.


Railene memiliki ide ini, tapi dia entah mengapa merasa bahwa jika dia harus memulai, dia harus memulainya dari Kaho, bukan pemuda aneh yang misterius bernama Alan. Juga, sejak terakhir kali dia bertemu sebelum ke Maldives, Railene tidak pernah melihat laki-laki itu. Meskipun dia tidak lupa, dia tidak merasa bahwa Alan memiliki petunjuk yang sangat penting.


"Aku merasa dia bukan bagian terpenting dari petunjuknya." Railene berkata dengan samar dan menyatakan pikirannya.


"Dia bukan petunjuk terpenting, tapi ada sesuatu di tangannya yang aku pikir itu petunjuk untukmu. Mungkin sebuah pengantar," kata Inchara dengan ekspresi polos.


"Sebuah pengantar? Apakah kamu memiliki petunjuk lainnya?" Tanya Railene dengan beberapa harapan di matanya.


Inchara menggeleng. Dia tidak memiliki petunjuk lain. Tapi, dia memberitahu Railene tentang sesuatu.


"Sejak pertama kali bertemu, Alan adalah permulaan untuk kontakmu terhadap petunjuk baru," kata Inchara.


"Kenapa kamu nggak bilang di awal?" Tanya Railene dengan mengangkat alis.


Inchara berkedip polos. "Kamu merasa akrab dengan dia, dan kupikir kamu sudah menemukan keanehannya," katanya membuat Railene terdiam kemudian mengangguk ringan.


"Mari kita cari tahu!"


***


Hai hai, jangan lupa like dan komentar.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2