Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
96. Bujukan


__ADS_3

Makan malam keluarga Aristokelly berjalan seperti biasa. Seperti keluarga aristokrat yang menjunjung etika makan, tidak ada yang bicara sampai makanan penutup disajikan. Kedua orang yang duduk berdampingan saling memandang beberapa kali dan salah satunya memiliki kegugupan yang kuat. Tentu saja itu Ben, orang seperti Railene tidak akan gugup selama dia tahu apa yang dipikirkan orang lain di sekitarnya.


Setelah menu utama selesai, makanan penutup datang. Inchara keluar dan ingin menikmati pertunjukan yang akan dimulai Ben. Gadis non-manusia itu selalu suka melihat hal-hal malang terjadi pada Ben, hampir sama seperti Railene yang menyukai untuk kejahilannya dimana-mana.


"Ehem, Papa, Bunda, Kakek, Nenek, aku mau ngomong sesuatu," Ben memulai setelah mendapat kode dari Railene.


Di kursi samping Ben, Railene duduk tegak sambil memotong pudingnya menjadi beberapa bagian. Saat Ben bicara, Railene makan dengan tenang. Dan kelompok orang tua mengalihkan atensi dari makanan kepada anak sulung di keluarga mereka.


"Mau ngomong apa?" Tanya Bram dengan sikap wibawanya yang biasa.


Ben menghela napas panjang sementara Inchara diam-diam menepuk-nepuk bahu Ben seolah mempersiapkan Ben untuk pertarungan. Railene di samping diam-diam mengamati dengan geli, tapi tidak tersenyum atau tertawa. Dia bahkan mengobrol dengan Inchara melalui telepati sambil makan puding.


Mendapatkan dukungan Inchara, Ben lebih percaya diri dan mengutarakan hal-hal yang sudah disepakati antara dia dan Railene.


"Aku sama Railene mau ke Maldives lusa buat nemenin Railene kursus komputer sama seorang guru di sana," kata Ben dengan sedikit kegugupan dalam suaranya. Anak laki-laki dingin ini akan menjadi sangat berbeda di depan keluarganya.


Kegiatan makan tiba-tiba berhenti. Keempat orang tua serempak menjatuhkan alat makan. Yang paling terlihat menolak dan kaget adalah Diza.


Ben dan Railene ikut meletakkan alat makan. Terdiam menunggu jawaban. Sebenarnya yang menunggu hanya Ben karena Railene sudah mendengar semua pikiran dari keluarganya. Semuanya menolak dan tidak mengizinkan kecuali ia sendiri dan Ben.


"Sepertinya nggak gampang. Chara, beri Ben kekuatan supaya dia bisa melindungi kita," kata Railene bertelepati.


"Oke!"


Inchara berdiri di sebelah Ben dan hanya mereka berdua yang bisa melihatnya. Ben melirik dengan aneh dan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan gadis itu. Dia melirik Railene yang diam dan sedang melihatnya.


Tiba-tiba Ben melihat gerakan dan suara ceria Inchara. Gadis itu mengangkat tangannya tinggi dan berjingkrak seperti sesuatu yang dia lihat di lapangan basket sebelum pertandingan dimulai. Cheerleaders. Dan suara yel-yel Inchara masuk ke telinganya.


"Ben semangat! Ayo ayo! Ben semangat! Ayo ayo. Ben ayo lindungi Railene! Ben semangat! Ayo ayo~"


Railene hampir tertawa terbahak-bahak melihat Inchara meniru anak-anak perempuan cheers yang setiap minggu berlatih di lapangan basket sekolah mereka. Nada, suara, bahkan gerakannya sangat mirip. Tapi yang kurang hanyalah ekspresi wajah. Ekspresinya bukan menyemangati, tapi ekspresi serius yang membawa tekanan ke arah Ben.

__ADS_1


Ben yang disemangati berkedut di sudut bibirnya. Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat usaha Inchara yang anehnya membawanya kepada tujuan besar untuk menyukseskan permintaan Railene. Dia memang tertekan, tapi juga termotivasi.


Melihat pikiran Ben, Railene hampir tersenyum. "Bagus, Chara. Kamu keren banget!" kata Railene dengan bangga.


Inchara tersenyum dan berjalan kembali ke sisi Railene. Siap melanjutkan menonton pertunjukan. Ben di sisi lain menghadapi tekanan dan semangat tertentu.


"Kita bicara setelah makan," kata Bram yang kemudian memecahlan ketegangan di meja makan. Menciptakan ketegangan baru yang tidak diketahui.


Ben dengan pasrah mengangguk.


...


Kedua orang yang duduk di kursi interogasi (re: sofa ruang keluarga), menjual senyuman manis mereka setelah menceritakan dan sedikit membujuk keempat orang tua di depan mereka. Tidak ada suara yang terdengar sementara ekspresi keempat orang tua itu berbeda-beda satu sama lain. Yang satu terkejut, yang lainnya heran, lainnya lagi seperti tersambar petir, dan satu lagi agak marah. Kedua oknum adalah Ben dan Railene yang telah menceritakan rencana mereka untuk pergi ke luar negeri hanya bertiga dengan asisten artis Railene, Maria.


Satu keluarga berkumpul di ruang keluarga dengan situasi tegang. Sebenarnya satu-satunya yang sangat santai adalah Railene yang sudah membaca pikiran keempat orang itu. Inchara juga ada di sana dan duduk di samping Railene seolah menjadi anak ketiga dari keluarga Aristokelly.


"Kenapa harus jauh-jauh dan buru-buru?" Tanya neneknya.


"Harus guru itu? Juga kenapa lusa banget?" Kini Diza yang bertanya penuh kekhawatiran.


"Syuting Railene dimulai sebulan lagi. Dan kalau nggak belajar cepet-cepet nanti Railene nggak mencapai standar yang ditetapin Om Jack," kata Ben terus memberikan alasan.


"Nanti biar Bunda bilang sama Om Jack dan kalo mau ke sana, Bunda temenin." Diza menjawab cepat dan bersiap menelepon Jack. Keduanya sudah saling kenal semenjak Railene memasuki dunia hiburan bertahun-tahun lalu.


Railene sudah dapat menebak langkah Diza, jadi dia dengan tepat waktu mencegahnya.


"Bunda nggak perlu temenin aku sama Kakak. Ada Kak Maria juga yang ikut sama kita. Kak Maria kebetulan pernah tinggal di sana beberapa tahun dan kenal lingkungan di sana. Bunda, Papa, Nenek sama Kakek nggak perlu khawatir," kata Railene berhasil menghentikan gerakan Diza.


Tapi keempat orang itu tetap khawatir. Akhirnya mereka berdiskusi panjang dan lama. Railene dan Ben berkali-kali membujuk dengan sabar dan penuh jaminan. Untuk membuat kedua perempuan di keluarga itu bebas khawatir, Railene mengizinkan Diza menelepon Maria. Mengobrol dan berdiskusi sampai yakin.


Semua diskusi selesai pukul sembilan malam. Diza akhirnya diyakinkan dan mulai menasihati kedua remaja itu. Mereka hanya mendengarkan dan sesekali menjawab dengan yakin.

__ADS_1


...


Railene, Ben, dan Inchara berkumpul di kamar Railene setelah pembicaraan panjang bersama keempat orang tua. Mereka duduk dan saling memandang. Bersamaan, Railene dan Ben menghela napas lega sambil tersenyum. Inchara di samping mereka ikut tersenyum cerah, terinfeksi emosi kelegaan Railene.


"Oke, rencana berhasil. Kita tinggal minta cuti besok. Kayaknya Kakak harus nyiapin banyak jaminan buat diizinin." Railene berjalan ke atas tempat tidurnya dan merebahkan diri. Memandang Ben dengan jenaka.


"Kenapa cuma aku?" Tanya Ben bingung.


"Karena yang istimewa cuma satu, Ben, kamu kurang istimewa," kata Inchara menyela dan mengangguk takzim. Railene nyengir dan mengirim jempol ke arah Inchara.


Ben dengan otak cerdasnya akhirnya mengerti apa yang mereka bicarakan. Ya, tentu saja ini soal prestasi dan siapa yang jadi anak emas di sekolah. Ben menghela napas panjang dan terbiasa dengan ejekan adiknya. Mengakui kalau dia memang tidak sekompeten Railene di bidang kemampuan otak.


"Hmm.., aku harus bikin rencana. Ayo bantuin!" Ben berdiri dengan semangat.


Railene dan Inchara saling memandang.


Beberapa detik kemudian...


"Selamat malam Kakak!"


"Selamat malam, Ben!"


Kedua gadis itu melambai dan menutup pintu kamar, membiarkan Ben terlantar di luar kamar Railene.


"Adik yang tidak berbakti!" gumamnya dengan marah dan kembali ke kamar. Diam-diam merencanakan balas dendam untuk kedua gadis itu.


***


Note: Hei, aku selalu lupa ngasih pengumuman kalo gak update. Jadi beberapa hari ini aku sakit dan beberapa gejala mirip sama gejala Omicron. Aku overthinking. Jujur ga kepikiran update. Aku gatau aku sakit biasa atau kena virus, tapi emang blm baik2 aja, ga berani periksa dan agak lega karena agak mendingan. Doakan aku cepet sembuh dan maaf ngilang mulu.🙈


Jangan lupa like dan komentar.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2