
Ruangan itu terbuka.
Ben dan Railene takjub sekaligus terkejut. Di dalam ruangan itu cukup gelap. Hanya penerangan dari luar perpustakaan yang membantu keduanya melihat isi di dalamnya.
Merasa semakin penasaran, Railene memutuskan untuk masuk. Ben gagal mencegahnya. Ia panik di tempat karena suasana di dalamnya sangat gelap.
Melihat sekitar yang sepi, Ben ikut masuk.
Ia menemukan Railene sedang meraba dinding dan beberapa saat kemudian, ruangan itu terlihat lebih baik. Ada lampu bohlam di atasnya. Keduanya mulai memperhatikan sekitar.
Railene tidak tahu apa yang membuatnya sangat penasaran pada ruangan ini. Tapi sesuatu membawanya ke sini hingga ia menemukan ruangan rahasia ini. Dan itu muncul di mimpinya. Ia terhenti sejenak. Mengingat mimpinya dua hari yang lalu dan petunjuk yang ditinggalkan oleh seseorang.
...
Two days ago...
Railene kembali mendapati dirinya berada di padang rumput yang sangat luas. Ia mengenali tempat itu sebagai alam mimpi dimana ia bicara dan bercengkerama dengan sebuah suara tanpa wujud yang ia namai Inchara. Beberapa kali ia kembali ke tempat ini. Namun, tidak sering. Saat pertama kali datang, ia bahkan tidak tahu bahwa ini akan menjadi kesinambungan.
Ia memeperhatikan langit lalu tidur terlentang di atas padang rumput. Menunggu Inchara kembali menyapanya. Tak berapa lama suara yang terdengar seperti suara gadis kecil terdengar.
"Aristokelly!"
"Lama nggak ketemu, Chara!" Balas Railene dengan senyuman kecil di wajahnya.
"Berapa lama? Aku pikir kita baru bertemu kemarin?"
"Aku rasa sekitar tujuh bulan?"
"Ah, kurasa kita punya masalah perbedaan waktu," ujar Inchara. Sosok tak terlihat itu diam lagi. Railene tertawa kecil.
"Jadi, kenapa aku ada di sini lagi?"
__ADS_1
Inchara terdengar berdengung sebentar. Kemudian kembali bersuara dengan nada serius. Railene mendengarkan dengan seksama.
"Aku tidak pernah mengerti kenapa aku ada dan tercipta di dunia seperti ini, Lene. Tapi, sekarang aku sepertinya tahu alasannya!"
Railene terdiam. Membiarkan Inchara bercerita lebih banyak. Ia mendengarkan dengan teliti bahkan sampai membuatnya mendudukkan diri. Ada satu hal yang membuat dirinya dan Inchara terhubung dalam mimpi. Sosok tak terlihat itu seperti misi dari konsekuensi kelahirannya kembali. Sebuah puzzle yang saat ini terpecah dimana-mana. Railene harus menemukan kepingannya dan menyusunnya agar ia tahu tujuannya terlahir sebagai gadis ini.
"Jadi, Lene. Itu bernama Ghost Gypsy, penulis acak yang menciptakan semuanya berhubungan dengan tujuanmu dan mungkin ini berhubungan denganku."
Railene mengerutkan keningnya. "Jadi dia hantu?" Tanyanya kemudian.
"Aku rasa bukan. Mereka mengatakan kepadaku agar menyampaikan ini untukmu. Kamu bisa menemukannya di balik rak buku dengan isi yang sudah usang," ujar Inchara jelas.
"Mereka? Siapa?"
"Aku tidak tau. Yang jelas mereka berpakaian aneh dan ada lingkaran putih di atas kepala mereka," Inchara terdengar ragu mengatakannya. Railene membayangkan sosok itu sedang mengingat apa yang ia lihat.
Mendengar ciri-cirinya ia jadi mengingat Tuan Malaikat yang pernah bertemu dengannya di awal ia menjadi arwah. Ia mulai menghubungkannya dengan misi aneh ini. Menebak-nebak untuk apa semua kemampuan abnormalnya yang dapat ia gunakan di dunia nyata.
"Aku rasa kamu lebih rumit daripada itu semua. Apa kamu dibohongi, Lene?" Tanya Inchara dengan polosnya.
Railene tertawa beberapa saat. "Nggak kok. Aku harus cari tau sendiri," ujarnya kemudian.
...
Kembali ke saat ini. Railene menyusuri rak-rak buku yang berjejer. Penuh debu dan tampak sangat tua. Ia mencari kata kunci Ghost Gypsy di antara judul dalam cover-cover tua itu.
Mencarinya seharusnya mudah melihat dari jumlah rak kecil dan isinya yang terbilang tidak banyak. Hanya ada dua rak besar di sisi kanan dan kiri, isinya jarang-jarang. Sisanya adalah rak-rak kecil yang lumayan padat di tengah-tengah ruangan.
"Kamu cari apa, sih?" Ben mengikuti Railene berjalan menyusuri isi perpustakaan rahasia ini.
Railene tidak menjawab dan fokus mencari. Ben berdecak lirih dan memilih menunggu di sudut ruangan dekat pintu masuk. Berjaga-jaga jika ada petugas perpustakaan yang datang mendekat. Bocah sebelas tahun itu lebih memilih menjaga keamanan bagi teman sekaligus sosok yang ia anggap adiknya sendiri. Ia sudah pasrah karena toh ia sering menikmati ketegangan itu sendiri. Bersama Railene, artinya menantang segalanya untuk ditelusuri.
__ADS_1
Railene sendiri masih sibuk mencari. Saking seriusnya ia hampir tersandung sesuatu. Melihat ke bawah ia menemukan sebuah buku bersampul kuning usang. Railene mengambilnya dan menemukan tulisan dalam karakter China. Di sudut cover terdapat tulisan kecil bergaya italic dengan sebutan "Hantu Gipsi".
"Gotcha!" Berseru kecil, Railene membawa buku itu menuju Ben. Bukunya tidak terlalu tebal dan terbilang seukuran lebih kecil daripada novel.
"Bantu aku sembunyikan ini," pinta Railene pada Ben yang sedang kebingungan.
"Kamu mau mencurinya?" Ben berwajah pucat. Meskipun sudah sering melanggar, ia terkadang masih sedikit takut melakukan kejahatan.
Railene berdecak malas. "Aku pinjam ini. Nanti kubalikin kapan-kapan," ujarnya sambil mengipasi udara. Menganggap itu enteng dan tidak ada apa-apanya.
Ben pun menurut. Ia sudah sering membujuk Railene dan itu berakhir sia-sia. Jadi daripada ia kembali membuang waktunya, ia memilih menurut. Memasukkan buku bersampul kuning itu di balik bajunya yang masih agak kebesaran. Ternyata ada gunanya juga ia memakai baju yang selalu sedikit kebesaran dari ukuran aslinya.
Setelah misi selesai, Railene dan Ben membereskan tempat itu kembali seperti semula. Mematikan lampu, menutup pintu dan menguncinya lagi, lalu kembali menggeser rak sesuai sebelumnya.
Railene bersenandung kecil. Wajah cantiknya yang juga imut menjadi objek yang sangat enak dilihat. Begitu pun oleh Ben. Berkali-kali ia melihat ekspresi puas itu, berkali-kali ia kembali dibuat berdecak kagum. Sepertinya ini juga alasan mengapa Ben selalu menuruti keinginan Railene. Demi melihat wajah bahagia itu, Ben tidak keberatan menjadi pelanggar peraturan sekolah.
Keduanya kembali ke depan kelas. Ternyata kegiatan mereka tidak memakan waktu lama. Hanya terhitung satu jam mereka meninggalkan depan kelas dan kembali lagi dengan hasil memuaskan. Sayangnya, ada sosok yang siap membuat konfrontasi dan menyulut konflik lebih jauh. Sosok yang selalu membuat Railene menggelengkan kepala dengan tatapan iba.
Railene tahu bahwa gadis yang sejak dulu membencinya itu akan terus menerus membuatnya kesulitan. Tapi, bukan Railene namanya jika ia harus repot mengurus hal yang tidak perlu. Ia sudah terbiasa keluar dari kelas. Bersenang-senang sendiri di ruangan-ruangan seni atau laboratorium. Bercengkerama dengan guru-guru di kantornya sampai menyusup ke kelas di jenjang SMP. Ikut belajar sebagai siswa yang tidak disadari oleh gurunya. Hanya siswa di kelas itu saja yang tahu perilaku Railene dan malah bersenang-senang bersama.
Tanpa gadis yang membencinya ketahui, Railene selalu menunggu konfrontasi yang akan dilaporkan gadis itu kepada sang guru yang membuatnya dikeluarkan dari kelas. Ia tidak membenci perlakuan itu dan justru bersenang-senang sendiri. Mungkinkah ia harus mengajak gadis itu sesekali keluar dari kelas dan ikut bersenang-senang dengannya? Itu terdengar seru.
Ben agak bergidik ketika melihat Railene terkikik kecil di sampingnya.
"Siapa yang bakal jadi korbannya lagi?" Ben membatin pasrah.
***
Terima kasih kepada yang sudah setia menunggu dan membaca cerita ini.
Saya pikir saya tidak akan update selama beberapa hari karena kesibukan UAS. Jadi, sampai jumpa lain waktu...😊👋🏻
__ADS_1