Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
104. Semakin Rumit


__ADS_3

Railene terbangun di kamar hotelnya. Inchara memindahkannya semalam setelah keluar dan tertidur karena kehabisan tenaga. Railene baru pertama kalinya mengalami itu dan Inchara sempat bingung menghadapinya. Untungnya dia menerima informasi di kepalanya tentang proses yang sedang dilalui Railene.


Terbangun dalam keadaan linglung, Railene terdiam di tempat dan menelusuri kejadian yang dia alami sepanjang malam. Dia menghela napas panjang setelah mencernanya dengan kejernihan pikiran. Inchara keluar saat ini dan duduk di dekat Railene berbaring.


"Rail, apa kamu baik-baik aja?"


Railene memandangnya dan mengangguk. Dia mengusap wajahnya dan turun untuk mandi. Pukul delapan, masih satu jam lagi sebelum kelas Mr. Smith dimulai. Railene juga belum sempat membaca sisa buku yang dibawanya kemarin.


"Chara, apa Ben atau Kak Maria datang ke sini?" Tanya Railene setelah keluar dari kamar mandi dan makan sarapan yang diantarkan pelayan hotel.


"Um, Ben datang dan aku bilang kamu butuh tidur lebih lama karena bergadang semalam," kata Inchara dan duduk di samping Railene. Dia memegang salah satu buku dalam bahasa asing untuk dibacanya sekilas.


"Oke. Yang selamam, apa kamu tau apa yang terjadi?" Tanya Railene kemudian. Dia masih penasaran dan menganalisisnya setelah terbangun. Tapi, dia masih bingung dengan proses itu. Apa yang terjadi? Dan kenapa tidak ada tanda pengingat atau petunjuk tertentu?


"Itu proses normal yang dialami Orang Pilihan. Kata mereka, kamu datang ke dalamnya tanpa persiapan karena kemajuan kekuatan mentalmu yang tidak terduga. Bola kristal biru adalah identitasmu, yang seharusnya datang setelah kamu meninjau pusaka terakhir dan melakukan perjalanan ke Taffy, itu wilayah tersembunyi yang disebutkan di buku pertama Ghost Gypsy." Inchara menjelaskan tentang apa yang diterimanya tadi malam dari "mereka".


Railene terdiam dan mencerna.


"Kekuatan mentalku bukan pertumbuhan yang normal?" Tanya Railene dengan bingung. Untuk masalah ini dia meragukannya karena dia membutuhkan waktu hampir lima tahun penuh untuk menumbuhkan kekuatannya hingga saat ini. Menurutnya itu masih agak lambat ketika dia membandingkan kemampuan dan fungsi mentalnya.


"Itu benar. Menurut sejarah, pertumbuhan kekuatan mental Orang Pilihan butuh waktu sekitar 20 tahun jika itu sampai di levelmu sekarang. Kamu kuat terlalu cepat dan proses yang seharusnya runtut jadi berantakan." Inchara meletakkan buku dan bicara dengan nada normal. Dia memperhatikan wajah Railene yang berubah beberapa kali.


Railene tidak bicara lagi. Dia menatap makanan dan kehilangan nafsu. Pola pemikirannya berputar cepat dan menyadari keadaannya saat ini tidak terlalu dapat dia mengerti. Dan tentang kristal biru yang dikatakan sebagai identitasnya, Railene sejujurnya masih terdistorsi.


Dia telah bertanya sejak lama. Sejak dia menerima misi di kehidupan kedua, dia benar-benar mulai meragukan dirinya sendiri. Lebih tepatnya, dia meragukan identitasnya. Siapa dia yang sebenarnya? Apa identitas yang dia miliki sebenarnya. Apakah itu identitas tubuh Railene, atau identitas jiwanya yang merupakan Renzi.

__ADS_1


Dia sangat bingung. Dan ketika dia sampai di ruang memori, dia menjadi benar-benar memikirkannya. Banyak kemungkinan yang muncul di kepalanya. Banyak tebakan samar yang mengelilingi kepalanya dengan berantakan.


Dia menghela napas panjang dan bersandar di sofa. Lelah secara mental ketika dia merasa bahwa apa yang dia hadapi bukan lagi misi sebagai syarat diberi kehidupan kedua. Tiba-tiba memikirkan apa tujuannya mengetahui semua itu. Meskipun dia memiliki ambisi, rasa kompetisinya memiliki tujuan untuk kedamaian dan kebebasannya sendiri. Railene tidak pernah menyukai belenggu dan sejujurnya hal-hal yang menjadi misteri ini telah membuatnya kelelahan sejak lama.


Inchara merasakan fluktuasi emosi Railene yang tidak menyenangkan. Dia meraih bahu Railene dan menariknya mendekat. Inchara memeluknya dan dengan lembut mengusap punggung Railene yang tegang.


Railene membiarkannya dan bersandar di pelukan hangat Inchara. Merasa sedikit lebih baik dan nyaman. Dia diam sejenak dan memikirkan rencananya sendiri.


Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. Diikuti suara samar Ben yang mengingatkan Railene untuk segera pergi karena waktu menunjukkan hampir jam sembilan pagi. Railene keluar dari pelukan Inchara dan berjalan menuju pintu dengan membawa barang-barangnya serta buku yang dipinjamkan oleh Mr.Smith atau S.


"Oh, apa kamu udah sarapan?" Tanya Ben saat melihat Railene yang membuka pintu.


Railene menjawab dengan nada normal dan Ben tidak mengetahui perjalanan emosinya dalam satu malam hingga pagi ini. Inchara telah memasuki Alam Jiwa dan Railene memintanya untuk menyelidiki kristal identitas serta kebenaran dari kehadiran Orang Pilihan itu sendiri. Dia akan mencari jawabannya nanti.


Untuk saat ini, Railene memiliki ambisi yang lebih mendesak karena kejadian semalam. Dia ingin memastikan tentang keluarga kandung tubuh ini dan ingin mencari tahu apakah keluarga tubuh ini memiliki hubungan dengan semua misinya atau hanya karena jiwanya saja yang ditakdirkan.


...


Sebuah mobil edisi terbatas memasuki villa pinggir kota. Ada perkebunan sederhana di sisi kiri dan kanan jalan. Pemandangan villa sangat bagus dan asri, pagi yang sempurna menuju musim panas.


Seorang sopir membuka pintu belakang dan seorang pria paruh baya dengan anak laki-laki muda keluar dari dalam. Mereka adalah Alan dan ayahnya, Hudson. Keduanya menuju pintu masuk villa dengan ekspresi yang berbeda.


"Katakan pada kakekmu tentang tebakanmu. Katakan yang sebenarnya dan jangan mengelak lagi." Hudson berbicara dengan peringatan sebelum memasuki pintu.


"Baik." Alan di belakangnya menjawab dengan nada pasrah.

__ADS_1


Mereka memasuki ruang tamu dan menemui seekor kucing yang sedang menonton televisi. Kucing maine coon abu-abu belang berusia satu tahun itu terlihat seperti raja yang dilayani. Itu adalah pemandangan biasa di rumah kakek Alan karena pria tua itu lebih menyayangi kucing-kucingnya dibandingkan cucunya.


"Piccaso, dimana Kakek?" Alan bertanya tanpa sadar. Karena sering bermain ke tempat ini, dia sering melihat kakeknya mengobrol dengan ketiga kucing kesayangannya.


"Maooww..." Piccaso, si kucing maine coon abu belang seolah menjawab pertanyaan Alan.


Hudson memandang putranya dan mengangkat alis heran. Dia jarang mengunjungi kakek Alan dan tidak terlalu akrab dengan kebiasaan lelaki tua itu. Alan memandang Hudson dan berdehem ringan.


"Kakek di halaman belakang," kata Alan ringan.


Hudson memandangnya semakin aneh. "Apa yang kamu lakukan? Bicara dan menerjemahkan kucing?" Tanyanya dengan ekspresi menghakimi seolah Alan adalah makhluk paling aneh. Mungkin jika Alan bukan putranya, Hudson akan menendangnya keluar karena bicara omong kosong.


"Itu basa-basi. Ini jam 7 pagi, Kakek biasanya minum teh di halaman belakang," kata Alan lalu mendahului ayahnya memasuki ruang di dalam villa. Beberapa pelayan menunduk dan menyapa hormat kepada kedua pria itu.


Setelah melewati beberapa lorong, mereka sampai di pintu belakang taman tertutup di villa. Ada jembatan dan sungai kecil dengan ikan koi hidup berenang di dalamnya. Tumbuhan anggur yang terawat merambat di teralis khusus yang sengaja untuk menanam anggur di sana.


Tidak jauh, beberapa kursi santai berjejer di dekat sungai kecil dengan payung elegan yang sangat menenangkan. Di sana duduk seorang pria tua dengan dua kucing di sisi kanan dan kirinya.


"Kakek!" Alan menyapa dengan senyum di wajah tampannya.


***


Hei hei.


Jangan lupa like dan komentar.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2