Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
36. Bertemu Lagi


__ADS_3

Sudah seminggu terlewati semenjak Railene pertama kali mendaftar di latihan karate. Hari ini jadwal latihannya berbarengan dengan Ben. Dan lebih menariknya lagi, ia melihat dua orang yang dia kenali setidaknya tiga tahun yang lalu.


Keduanya adalah saudara kembar Kinoka yang tiga tahun lalu mengajaknya berkenalan dan langsung memintanya menjadi adik mereka. Setelah pertemuan itu, dia tidak pernah lagi bertemu dengan keduanya. Itu membuat Railene sedikit kecewa karena tidak memiliki akses untuk setidaknya kembali melihat Ferdinan Kinoka, mantan orang kepercayaannya di masa lalu. Sekarang, melihat mereka ada di sini, Railene terpaku sejenak.


Dari kejauhan Dea melihat sosok Railene dan segera berlari dengan riang. Memanggil gadis kecil itu dengan heboh. Hal itu membuat banyak kepala menoleh, termasuk kembar Kinoka yang menyipitkan mata mereka. Lalu salah satunya terlihat berhasil mengenali karena wajah Railene tidak banyak berubah dari usianya yang lima tahun. Masih sama imutnya, masih sama mempesonanya.


"Rail, kamu baru datang? Ayo ayo, kenalan sama mereka berdua. Hari ini mereka baru masuk lagi. Ayo!"


Dea memeluk Railene dan menariknya mendekati kerumunan. Railene sudah kembali menormalkan wajahnya dan memasang senyum riangnya yang biasa. Menyapa semua orang dan pandangannya kembali berakhir pada sepasang kembaran itu.


"Adik kecil? Kamu kah itu?" Salah satu dari kembar itu bicara. Dari nada suaranya itu jelas sang kakak, Arkan. Hanya bocah ekstrovert itu yang mempunyai gaya dan keberanian untuk menyapa duluan. Di sampingnya, Archi seperti baru menyadarinya dan langsung melirik Railene dengan sering. Gayanya tidak berubah.


"Kak Arkan," sapanya dengan nada hangat.


Railene mengenali keduanya. Mereka tampak bertambah tinggi banyak. Itu sedikit mencubit hati Railene karena untuk masalah tinggi badan, dia sedikit sensitif. Tubuhnya tidak bertambah banyak tingginya. Hanya saja semuanya memiliki nilai kecantikan yang mengesankan. Matanya cemerlang dan jernih. Kulit putihnya sangat lembut dan begitu bersih. Rambut hitam panjangnya sehalus sutra. Semuanya tampak pas pada Railene dan itulah yang membuatnya mempesona.


"Itu benar. Adik Rail, apa kabarmu? Kami selalu mencari kamu tiga tahun lalu. Tapi itu akhirnya nggak bertahan lama. Papa Mamaku membawaku dan Archi ke Singapura untuk pengobatan. Dan kami baru kembali beberapa bulan lalu. Adik Rail, aku bersyukur kamu masih ingat kami!" Arkan langsung berbicara penjang lebar.


Ia meraih tangan Railene dengan binar kebahagiaan yang melimpah ruah. Railene ikut tersenyum, menelisik ke dalam pikiran Arkan dan Archi yang memproyeksikan kejujuran dari kata-kata Arkan. Bahkan kini dia mendengar isi pikiran kedua bocah itu. Sedikit terkejut karena si pendiam Archi sama bersemangatnya dengan Arkan saat melihat dia. Hanya saja bocah pemalu dan pendiam itu tidak mengekspresikannya. Dia masih suka menyembunyikan apa yang dia rasakan.


"Apa sekarang Kakak udah sembuh?" Tanya Railene kemudian.


Arkan mengangguk dengan semangat. Dia telah menjalani operasi pencangkokan ginjal enam bulan lalu. Ada pendonor mati otak yang bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Arkan hingga dia bisa sembuh dan tidak perlu cuci darah lagi. Itu cukup melegakan karena ginjalnya cocok dan tidak ada reaksi penolakan.


Railene senang mendengar kedua kembar itu baik-baik saja dan bahkan Arkan kini telah sehat kembali.


"Rail, kamu kenal Kak Arkan sama Kak Archi?" Dea menginterupsi pertemuan orang-orang ini.


Railene segera menyadari dan menceritakan dengan singkat pertemuan mereka. Itu bukan hal spesial, namun cukup membuat beberapa orang terkejut. Tidak disangka bahwa adik kecil mereka mengenal kembar Kinoka yang populer itu. Railene sendiri tidak tahu bahwa sosok yang mengaku sebagai kakaknya itu begitu populer di kalangan tempat latihan ini.


Dia segera mengetahuinya ketika Dea dengan baik hati menceritakan semuanya. Dari semenjak kedatangan si kembar satu bulan lalu, hingga bagaimana keduanya menjadi sumber pertengkaran gadis-gadis tingkat menengah. Mendengar cerita Dea, Railene tidak bisa menahan tawa karena itu lucu. Tapi kemudian ia menyadari sesuatu. Banyak orang memperhatikannya sejak tadi.

__ADS_1


Itu berasal dari kelompok karate menengah dan beberapa penonton di tribun. Semenjak ia masuk dan mengobrol dengan kembar Kinoka, dia sudah mendapati intuisi seperti itu. Dan entah mengapa dia merasa bahwa tatapan mereka sedikit tidak bersahabat.


"Rail, karena kamu kenal Kak Arkan sama Kak Archi, kamu harus hati-hati!" Kalimat Dea yang agak berbisik itu membuat Railene mengangkat alisnya.


"Kenapa?" Tanyanya dengan heran.


"Hampir semua murid di sini adalah fans mereka berdua. Kecuali murid perempuan yang berada di tingkat lebih tinggi, kamu harus waspada ke semua orang. Mereka cukup barbar." Dea menjelaskan dengan gaya gosip yang kental. Wajahnya terlihat bergidik ngeri dan menggambarkan bagaimana semua orang terlihat di pandangan matanya.


Sudut bibir Railene berkedut samar. Itu terdengar cukup konyol di telinganya. Namun, sepertinya itu adalah kenyataan. Sekarang ia menjadi pusat perhatian intens karena kembar Kinoka terutama Arkan, sering sekali mangajaknya bicara. Dan sepertinya dia sudah menjadi target utama kewaspadaan para fans si kembar.


"Mereka mengerikan," komentar Inchara tiba-tiba membuat Railene menghela napas pasrah.


...


"Bagaimana perkembangan Railene di sekolah?" Diza bertanya dengan membawakan segelas kopi dari mesin otomatis dan menyerahkan salah satunya kepada Jean.


Jean menerimanya. "Masih baik-baik saja. Dia menyelesaikan lukisan baru minggu lalu. Itu sangat bagus dan rasanya ingin sekali memajangnya di galeri museum. Putrimu benar-benar berbakat, Diza." Jean menanggapi diakhiri tawa kecil. Selama lebih dari lima tahun berkenalan dengan Diza dan Railene, Jean sudah membuang keformalannya sejak beberapa tahun lalu. Ia hampir sama seperti Susan yang sudah menjadi sahabat Diza.


"Belum saatnya untuk dia menerima banyak beban dari bakatnya. Railene masih kecil. Bakatnya yang luar biasa akan menjadi sasaran para ahli dan mereka akan berlomba-lomba merebut Railene agar berada di sisi mereka. Sungguh, Je, Railene adalah mutiara yang diinginkan semua orang. Aku sendiri kewalahan karena dia sangat pintar." Diza berbicara dnegan nada khawatir namun ada rasa bangga terselip.


Jean memandang Diza sambil menghela napas. Tersenyum kecil karena memahami benar kalimat Diza. Dia dan orang-orang yang dekat dengan Railene sudah menyadarinya sejak lama. Railene tidak biasa. Dia terlalu superior di antara anak-anak seumurannya bahkan dia melampaui anak-anak yang lebih tua darinya.


Seorang pembelajar cepat, mempunyai memori forografi yang akurat, seorang pengamat yang cerdas, dan dapat menguasai banyak bidang dalam satu waktu. Penampilannya yang mempesona juga merupakan faktor pendukung paling besar. Railene sangat sempurna di mata semua orang. Dia cantik san berbakat. Tapi itu terlalu mengerikan. Dia adalah monster dalam banyak bidang. Jika dipublikasikan, pasti akan menarik minat banyak orang. Mereka akan berlomba memburunya, menjadikannya sekutu, beberapa mengawasi dengan permusuhan, menganggapnya saingan. Itu, situasi yang sangat berat.


"Kamu benar. Semakin luar biasa dia, semakin kita harus melindunginya," ujar Jean menanggapi.


Ia kemudian memikirkan penawaran kerja sama yang kemarin baru saja ia setujui. Merenungkannya lalu menghubungkannya dengan Railene. Dengan bakatnya, bukan tidak mungkin Railene akan menjadi bagian dari talenta muda yang terpilih. Ditambah lagi dia banyak memiliki rasa penasaran dan suka mencoba hal baru. Kemungkinan Railene tertarik pada dunia entertainment tidak bisa kecil. Railene selalu expert dalam seni. Dan dia mempelajarinya untuk bersenang-senang.


"Aku harap dia selalu baik-baik saja," gumam Jean yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri.


***

__ADS_1


[Spoiler allert]


Chit Chat Rebirth :


Diza : Untuk apa naskah ini? Kamu benar-benar mau membuatku terikat dengan seseorang?


Railene : Terikat dengan siapa Bunda?


Diza : Bukan siapa-siapa. Ini bukan urusan anak kecil. Sana main sama Ben dulu.


Railene : *Hmmm, mencurigakan* *Berlari menjauh dan bermain dengan Ben*


Saya : Bunda Diza memangnya nggak tertarik?


Diza : Menurutmu?


Jean : Sabar, Diza... YC semakin sulit hari demi hari.


Diza : Menyebalkan.


Saya : Ouwh, maaf saja. "Menyebalkan" adalah nama belakang saya. Lebih baik Bunda Diza bersiap-siap untuk adegan selanjutnya.


Diza : ...


Jean : ..., aku ingin memukulnya sekali saja.


***


Like nya jangan lupa. Terima kasih...


Have a nice day.😊

__ADS_1


__ADS_2