
4 tahun kemudian...
Seorang gadis kecil berusia lima tahun berdiri di depan pintu bercat putih dengan kerutan di dahinya. Wajahnya sedikit ragu, kemudian yakin, dan berakhir ragu lagi. Ia masih berdiri di depan pintu itu, pikirannya bercabang banyak hingga ia melamun. Saat pintu itu terbuka pun, gadis kecil itu tetap di tempatnya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk pelipisnya, tanda ia sedang berpikir.
Seseorang yang membuka pintu langsung heran mendapati ada gadis itu di depan pintunya. Ia memperhatikan gadis yang terlihat lucu saat berpikir itu hingga terkekeh singkat. Ia berjongkok demi menyamakan tinggi gadis kecil itu.
"Apa yang kamu pikirkan, Railene? Kenapa berdiri di depan pintu?" tanya sosok itu membuyarkan lamunan gadis kecil yang ternyata adalah Railene.
"Bunda!" Railene terkejut kemudian tersenyum.
Railene mendekat dan memeluk Diza. Diza langsung menggendongnya dan melanjutkan perjalanannya menuju dapur. Tadinya ia ingin mengambil minuman dan kembali berkutat dengan berkas-berkas, tapi ia melihat putrinya seperti sedang bimbang memikirkan sesuatu. Jadi ia mengurungkan niatnya untuk kembali bekerja setelah mengambil minum.
Diza menemani Railene dan menuju ruang keluarga. Saat ini sedang malam dan hanya ada mereka berdua saja selain para maid yang sedang beristirahat. Kakek dan nenek Railene sedang ke luar kota untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Akhirnya Railene hanya sendiri bersama Diza.
"Ada apa, hem? Kenapa belum tidur? Ini udah malam, sayang." Diza memulai deep talk setelah mendudukkan Railene di pangkuannya. Ia menyalakan televisi dengan volume kecil. Semata-mata mengusir keheningan yang ada.
Railene memutar badannya. Menghadap Diza dan membuat wajah imut. Diza terkekeh dan mengelus kepala putrinya.
"Pasti mau minta sesuatu. Ayo, mau apa?" Diza menembak.
"Bunda..., Railene mau sekolah." ujar Railene berwajah serius, yang sayangnya itu masih terlihat lucu.
Tapi, Diza mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia membatu karena ini adalah kalimat sakral yang ditunggu-tunggu setelah sekian lama keluarganya menbujuk gadis kecil itu untuk pergi ke sekolah. Biasanya Railene akan menolak jika ditawari masuk sekolah. Dan hari ini, adalah hari bersejarah bagi Diza karena akhirnya putrinya mau masuk sekolah.
Railene melihat bundanya melamun sambil melihatnya terkejut. Dia tahu itu. Tapi, ia punya hal penting yang harus dibahas bersama bundanya. Sudah lama ia ingin mengeksplorasi banyak hal di luar sana yang dulu, di kehidupan pertamanya, ia tidak bisa melakukannya lantaran masa mudanya terenggut untuk fokus bekerja.
Ia tertarik pada bidang kedokteran setelah membaca buku-buku Diza, tertarik pada seni dan musik, juga pada bela diri yang dulu tidak sempat ia pelajari. Mungkin ia memang ahli ekonomi dan pebisnis yang handal, tapi itu semua adalah keharusan yang terjadi di masa lalunya. Ia tidak punya pilihan dan memang harus mempelajarinya demi keluarganya. Bahkan sebelum memiliki keinginan sendiri, Railene sudah ditentukan lebih dulu tujuannya.
Kali ini, ia diberi kesempatan kedua. Ia bisa mencari hal-hal yang ia sukai. Ia bisa mempelajari semua yang dulu tidak masuk dalam kriteria ayahnya. Ia akan terbang dan menjelajahi semua tempat yang tidak sempat ia datangi.
"Kamu beneran mau sekolah, sayang?" Diza bertanya membubarkan imajinasi Railene.
Melihat bundanya bersemangat dengan binar bahagia, Railene tidak ragu mengangguk. Ia sudah berjanji akan menjalani hidup sesuai keinginannya dan membuat bundanya bahagia. Maka, itulah yang akan ia lakukan sekarang sampai ia pergi dari dunia entah kapan.
"Iya, Bunda. Railene ingin keliling dunia. Kata Tante Susan, Railene harus sekolah dulu." ujar Railene mengingat alasan kekanakkan demi naturalnya sikap yang sesuai dengan anak usia lima tahun.
"Oh ya? Oke, besok Bunda daftarin Railene di TK yang bagus. Gimana?" ujar Diza bersemangat.
__ADS_1
Tapi, Railene menggelengkan kepala. Hal ini membuat Diza bingung.
"Railene mau kuliah kayak Kak Ratna." sahut Railene seketika membuat Diza tersenyum maklum.
Diza sangat sadar bahwa putrinya memang tidak terlalu cocok bermain dengan anak-anak seusianya. Railene lebih suka mengobrol dengannya atau teman-teman dokternya tentang segala hal yang tidak lazim dibicarakan anak-anak. Ia tahu Railene sangat jenius bahkan sebelum usia dua tahun putrinya sudah bisa membaca. Itu benar-benar seperti mukjizat bagi Diza dan keluarga. Ia juga bisa membayangkan jika Railene berada di antara anak-anak kuliahan, putrinya pasti bisa mengimbangi mereka.
Namun, ada hal yang membuat Diza khawatir. Railene terlalu menonjol dan begitu pintar sampai membuat orang dewasa takut akan kapasitasnya. Jika di umur lima tahun saja ia sudah se-jenius itu, bagaimana saat sudah dewasa? Bukankah putrinya akan menjadi monster yang tirani? Diza khawatir ia tidak bisa menjaga Railene jika banyak pihak yang menganggap putrinya terlalu di luar nalar manusia. Tapi, ia juga tidak bisa mengekang Railene yang ingin terbang setinggi mungkin. Maka, ia harus membimbing Railene dan membuatnya bersosialisasi dengan cukup.
"Kalo gitu, Railene harus punya ijazah SD, SMP, dan SMA dulu baru bisa kuliah." Ujar Diza membuat penawaran. Ia tidak akan membiarkan Railene menjadi pusat semua orang mencari kelangkaan. Putrinya terlalu berharga untuk menjadi superior yang rawan diincar pihak yang rakus akan segalanya.
Railene melihat Diza. Matanya menangkap kekhawatiran Diza dan semua yang dipertimbangkan oleh bundanya itu. Ia tersenyum kecil. Bukankah ia beruntung memiliki dua ibu yang sangat menyayanginya di kedua kehidupannya?
Maka Railene mengangguk senang. Itu sudah lebih dari cukup. Ia bisa menyelesaikan pendidikannya dengan cepat sambil mengeksplorasi banyak hal. Waktu yang cukup lama, tapi Railene akan membuatnya menjadi lebih singkat.
"Oke, Bunda. Railene akan lulus dengan cepat biar bisa masuk kuliah kayak Kak Ratna." ujar Railene kembali membawa-bawa nama tetangganya yang sudah lulus kuliah dan sedang menempuh S2 di London, Inggris.
Diza tersenyum maklum dan mengangguk. "Besok setelah mendaftar di sekolah baru, kita belanja perlengkapan sekolah Railene, ya?" ujar Diza yang langsung disetujui Railene dengan semangat. Sudah lama ia tidak merasakan sensasi menjadi anak sekolahan. Kira-kira adakah seorang teman yang akan Railene dapatkan di sana? Ia tidak berharap banyak.
***
"Aristokelly?" sebuah suara menyapa Railene yang kebingungan.
Awalnya ia menikmati dan kebingungan sedikit. Tapi, setelah mendengar suara yang lembut dan mengalun indah itu, Railene semakin kebingungan karena tidak menemukan sosok yang bicara padanya. Ia berputar, mencari dengan mata tajamnya secara teliti, tapi nihil. Tidak ada siapa pun di padang rumput itu selain dirinya sendiri. Hanya satu yang ia tahu, suara ini pasti milik seorang perempuan.
"Railene Aristokelly?" suara itu terdengar lagi.
Railene mengerutkan kening. Ia sungguh tidak mendapati siapapun di sana. Pada akhirnya ia memandang langit dan bertanya pelan.
"Siapa yang bicara?"
Hening. Desauan angin berhembus mengisi pendengarannya. Ia menghela napas tipis lalu tiduran di atas rerumputan, terlentang menghadap langit. Memikirkan banyak hal sampai ia kembali mendengar suara itu.
"Aku tidak punya nama." Ujar suara itu kembali. Railene bergeming lalu tertawa kecil. Ia menganggap bahwa diamnya suara tadi karena sedang memikirkan bagaimana memperkenalkan dirinya sendiri.
"Kenapa kamu tertawa?" suara itu kembali terdengar. Sebuah nada tanya yang heran membuat Railene membayangkan sosok gadis kecil seumurannya yang sedang mengajaknya bicara.
"Kamu lucu." sahut Railene tersenyum. Ia masih memandangi langit biru, menikmati waktu yang sepertinya mengalir dalam mimpinya. Railene cukup menyadari itu bahwa ia sedang berada di alam bawah sadarnya dan sadar dalam mimpinya sendiri.
__ADS_1
"Benarkah? Kamu orang pertama yang mengatakannya." kata suara itu lagi.
"Apa sebelumnya ada yang bicara denganmu selain aku?" tanya Railene penasaran.
Hening. Railene sekarang membayangkan bahwa sosok pemilik suara itu sedang berpikir. Mungkin ia sedang meletakkan jarinya di dagu? Atau mungkin juga sedang berkerut bingung.
"Tidak. Kamu yang pertama."
Railene langsung tertawa lagi. Kali ini suara itu tidak menginterupsi bingung. Desau angin mengiringi tawa menyenangkan Railene. Sepertinya juga sosok dibalik suara itu juga menikmatinya. Tawa Railene sungguh indah dan menghilangkan semua perasaan negatif.
"Kalau gitu, kamu mau jadi temanku, Chara?" tanya Railene setelah tawanya berhenti.
"Chara?" suara itu terdengar bingung.
Railene tersenyum, "Namamu. Inchara, artinya suara yang merdu. Apa kamu suka?" ujar Railene membuat sekitarnya hening.
"HWAAAAAA...!"
Setelah suara itu, muncul seruan-seruan lain yang masih berasal dari suara yang sama. Railene kembali tersenyum lebar. Ia membayangkan bahwa sosok yang ia namai dengan sebutan Inchara sedang mengeluarkan segala hal yang membuatnya dalam ketakjuban.
"Aku suka! Lene, terima kasih!"
"Kalau gitu, kamu udah jadi temanku. Terima kasih kembali, Chara." ujar Railene tersenyum hangat ke arah langit biru.
***
.
5 years old Railene.
#gambar diambil dari pinterest, bukan milik Author.
.
Tencu..., mohon dukungannya dengan like dan komentar ya...😊
__ADS_1
.