Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
85. Berita Film


__ADS_3

Sekolah belum berakhir dan Railene kabur ke perpustakaan sekolah karena kelas sudah damai tanpa guru-guru killer yang akan mengganggu teman-teman sekelasnya. Railene akrab dengan mereka karena jarang sekali ada yang memiliki kesan buruk pada Railene di kelasnya. Itu terutama terjadi karena jasa Railene yang sangat penting di kelasnya.


Railene bukan orang pelit sehingga sering membagikan catatan lengkap dan rapinya kepada semua orang di kelas melalui Ben. Dia adalah manusia tak tersentuh yang bahkan nomor ponselnya tidak diketahui siapapun di sekolahnya kecuali tiga laki-laki terdekatnya; Ben, Arkan, dan Archi. Tapi meskipun begitu, karena jasa diam-diam dan hati baiknya, tidak banyak yang membencinya di kelas. Itu tidak termasuk perempuan yang iri karena kecantikannya dan sering menyakitinya dengan gosip murahan yang dapat dengan mudah ia sangkal tanpa bicara apa pun.


Kembali ke saat ini, dia minum yogurt dengan nikmat sambil membaca buku dongeng terbaru di meja dekat jendela lebar. Inchara masih di sisinya dan dengan hidmat membaca buku dari perpustakaan juga. Keduanya terlihat harmonis dan tentu saja orang-orang biasa tidak bisa melihat Inchara yang tiduran tengkurap di meja depan Railene.


Bulan Januari akan segera berakhir dan hujan tidak turun terlalu sering. Namun, saat ini cuaca di luar agak mendung dan kemungkinan hujan turun dalam beberapa menit. Railene selesai membaca buku dongeng dan meringkasnya dengan senyum cantiknya. Melihat langit mendung, dia bertanya-tanya berapa lama sebelum hujan turun.


"Apa kamu mau mempercepat hujan turun?" tanya Inchara yang juga selesai membaca bukunya.


"Apa kamu bisa menurunkan hujan?" tanya Railene terkejut. Dia hampir tahu bahwa kekuatan Inchara adalah tentang dirinya sendiri, jadi tidak memiliki eksternal yang dapat mengendalikan alam.


"Tidak. Tapi, Lu Shizu bisa. Kata Xiaoxiao, dia baru aja membuka kekuatan baru. Pengendalian partikel lewat telekinesis," kata Inchara dengan senyuman polosnya.


Railene terkejut dan memiliki kekaguman dalam hatinya. Itu begitu kuat dan pasti melelahkan. Dia sendiri mengalami kengerian ketika over power dan kekuatannya dipakai untuk hal-hal besar. Dan ketika dia tahu kekuatan Lu Shizu yang mencengangkan, dia merasa bahwa itu luar biasa.


"Apa dia udah mengendalikannya dengan baik?" tanya Railene dengan penasaran.


Inchara menggelengkan kepalanya, "Tidak tau. Itu muncul minggu lalu dan Xiaoxiao bilang kalo Lu Shizu bisa melakukannya," kata Inchara dengan polosnya.


Railene mengela napas dan tersenyum tipis. Menggerakkan jarinya dan mencubit pipi Inchara dengan ringan. Dia sedikit tidak berdaya dengan ketidakmanusiawian Inchara. Terkadang dia manusiawi dengan tingkat emosi tertentu yang tidak berlebihan, terkadang itu sangat polos tanpa gangguan memikirkan perasaan atau keadaan orang lain. Sama seperti sekarang. Inchara masih sering tidak menyadari tingkat-tingkat tertentu dari yang disebut "orang lain bisa melakukannya". Dia biasanya menyetarakan standarnya sesuai tingkat Railene yang luar biasa. Tentu saja itu tidak bisa sama terhadap setiap orang termasuk Lu Shizu yang murni masih anak-anak. Tidak sepertinya yang telah mengalami dua kehidupan di dunia ini sehingga dapat meningkatkan begitu cepat tanpa hambatan ketidaktahuan yang ekstrem.


"Nggak perlu. Biar turun secara alami," kata Railene menanggapi Inchara.

__ADS_1


"Oke." Inchara setuju tanpa keberatan. Dia dan Railene adalah satu kubu dan satu persetujuan jadi tidak pernah ada kemungkinan perdebatan di antara mereka.


Memandang jendela sebentar, Railene akan membawa buku baru sebelum ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Dia kembali duduk dan melihat bahwa itu berasal dari Jack. Terdiam sebentar, sepertinya dia menyadari sesuatu dan melihat tanggal. Sepertinya sudah setahun lebih dia memainkan film sejak terakhir kali. Dia menghela napas panjang dan melihat pesan yang ditebaknya dengan benar.


Om Sutradara : [Hei bocah Railene, waktunya melepaskan waktu santaimu. Ada naskah bagus yang mungkin kamu bakal suka. Datang ke perusahaan nanti dan temui aku di kantor. Oke, jangan sampai lupa!]


Railene menghela napas kesal. Inchara mengangkat kepalanya dan melihat wajah Railene yang setengah kesal. Dia mengulurkan tangannya dan menepuk kepala Railene pelan.


"Kamu baik, ayo kabur kalo kamu tidak mau datang!"


Railene tersenyum kecil dan menggeleng, "Kalo aku nggak datang, dia yang datangin aku. Nggak apa-apa, nanti aku liat dulu, toh aku bisa nolak kalo nggak suka," ujar Railene dengan nada setengah enggan.


"Oke oke, kamu baik, kamu baik. Apa kamu mau ngajak Ben juga?" nada tanya Inchara sedikit bergembira. Railene mengangkat sebelah alis tanpa sadar, sepertinya dia melihat sesuatu yang janggal.


"Hah? Apa sekarang aku jadi tukang gosip?" Inchara bertanya polos. Nada suaranya bingung dan agak terkejut, sepertinya dia sedang merefleksi sebentar sebelum memandang Railene lagi.


"Apa tukang gosip itu buruk?" tanyanya lagi.


Railene berkedut di sudut bibirnya. Membuka mulutnya siap menjelaskan, kemudian menutup mulut lagi. Sejujurnya agak bingung karena dia tidak yakin apakah gosip yang dibicarakan Ben dan Inchara adalah buruk. Toh, itu hanya berisi cerita sehari-hari di Alam Jiwanya, dia menyebutnya gosip karena nada cerita mereka yang luar biasa aneh dan bersemangat, terutama Ben.


"Hmm, itu baik selama kamu nggak ngomongin orang lain. Oke, kamu cuma bisa menyebutkan kejadian sehari-hari dengan jujur dan itu bisa disebut gosip yang baik," kata Railene pada akhirnya.


Inchara mengangguk penuh pemahaman baru dan tersenyum cerah. Railene tidak mengganggu pola pikir Inchara lagi dan mengambil buku baru. Sepertinya agak merasa bersalah karena mendefinisikan pembicaraan aktif mereka sebagai gosip.

__ADS_1


...


Railene memasuki gedung perusahaan setelah turun dari mobil yang mengantarnya. Ben diikuti Inchara di belakangnya datang bersama karena penasaran dengan film barunya. Ketiga remaja dengan salah satunya non-manusia masuk seperti gaya klasikal putri dan pangeran. Cantik dan tampan dengan penampilan yang menyegarkan.


Melewati lobi, Railene beberapa kali menyapa karyawan yang sedang memiliki keperluan atau berjalan di sana. Sebelum masuk lift, dia melewati meja penyambut dan melihat sosok perempuan yang baru pertama kali dilihat olehnya. Perempuan itu melihat Railene dengan kaku dan penuh kejutan. Sebelum melewatinya Railene langsung disapa dengan gagap olehnya.


"Ha-halo..., Rail-Railene..., nama saya Anna, pegawai baru dan baru bekerja dua bulan lalu. Aku..., eh saya penggemarmu. Oh-oh tunggu, boleh... boleh minta tanda tanganya!"


Mengambil buku kecil dengan gugup, karyawan baru bernama Anna itu menghampiri dan hampir tersandung. Mendekati Railene dan hanya berani menjaga jarak sekitar satu meter. Perempuan yang lebih pendek dari Railene itu sangat gugup dan tangannya bergetar saat menyerahkan buku dan bolpoin.


Railene memandangnya dengan lucu, namun tidak menertawakannya. Dia tersenyum ramah dan mengambil buku serta bolpoin dari tangannya. Gerakan otomatis Anna yang kaku sangat imut dan agak canggung. Railene dengan sangat jelas mendengar isi pikirannya yang berantakan dan hati yang penuh teriakan bahagia. Sekilas saja Railene sudah tahu bahwa perempuan yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu adalah penggemar beratnya. Tulus dan jujur.


"Oke, dimana aku bisa menandatangani?" tanya Railene sambil memegangi buku bersampul biru muda itu.


"Itu... sam-sampul. Tolong tanda tangani di sampul," katanya masih gagap.


Railene selesai menandatangani dan menyerahkan kembali. Setelah episode kecil itu, dia, Inchara, dan Ben masuk ke lift dan langsung menekan tombol angka 9, lantai dimana kantor Jack berada.


***


Hai hai, jangan lupa like dan komentar.


Have a nice day!😊

__ADS_1


__ADS_2