
Setelah mengerjakan Ujian Nasional, Railene buru-buru ke lokasi syuting untuk mulai mengambil adegan film barunya. Dia hanya pergi bersama Maria yang menjemputnya di sekolah dan masuk ke studio tempat kru barunya mulai. Beberapa aktor sudah mulai adegan sampingan karena adegan utama dengan tokoh utama Railene belum memiliki jadwal kecuali sore hari. Ini juga menyesuaikan jadwal UN gadis 15 tahun itu selama tiga hari pertama.
"Railene, perlu istirahat sebentar? Beberapa adegan tertunda karena beberapa pendatang baru yang salah penempatan," ujar penata rias khususnya ketika wanita 30 tahun itu melihat Railene datang.
"Nggak perlu, Kak. Ayo langsung ke riasan," kata Railene sambil menoleh ke arah ruang ganti tertentu dimana nama Kaho tertulis di pintu masuknya.
"Oke, ganti baju dulu."
Railene dengan cepat menyesuaikan penataan untuk adegannya saat ini. Ada total dua adegan dengan intensitas yang lumayan hari ini. Dan dia akan berperan dengan Kaho dalam dua adegan itu karena keduanya memerankan karakter ibu dan anak. Railene sedikit menantikan ini karena Kaho sendiri adalah lawan yang menurutnya misterius.
Selain karena tidak dapat dibaca pikirannya, Kaho juga merupakan sosok dengan reputasi yang tidak bisa dia capai saat ini. Dia hanya putri kecil yang dikagumi kebanyakan kalangan muda, tidak seperti Kaho, seorang ratu film yang sudah dikenal semua orang. Perkembangan karirnya memang sangat bagus karena keterampilan aktingnya yang luar biasa, tapi itu belum sampai pada tingkat legenda seperti Kaho.
Film kali ini adalah jenis film sastra dari naskah asli Alan yang telah disesuaikan. Temanya agak berat dan berfokus pada moral feminis dari dua tokoh utama perempuan ganda, Railene dan Kaho. Dalam kisah ini, ada dua orang perempuan yang hidup di tengah budaya patriarki dan memiliki banyak tekanan. Terutama seorang perempuan dewasa seperti yang akan diperankan oleh Kaho, seorang ibu single parent yang membesarkan sendiri putrinya di tengah masyarakat yang kejam.
Namun, ini bukan hanya perjuangan ibu dan anak biasa. Di dalamnya ada beberapa latar tragedi yang menyebabkan sang ibu memiliki masalah dengan mentalnya. Ini juga akan menceritakan bagaimana putrinya, yang akan diperankan oleh Railene, menyelesaikan masalah dan menahan tekanan yang lebih berat di pundaknya. Kisah ini sangat gelap dan lebih berfokus pada penyelesaian konflik yang sebenarnya sederhana, namun sulit.
Naskah yang ditulis oleh Alan sangat bagus. Itu juga salah satu alasan mengapa Railene setuju untuk membintangi film ini. Alasan lainnya adalah karena Jack adalah sutradaranya, Railene sudah mengenalnya selama beberapa tahun dan menjadi akrab serta santai. Selain itu karena dia agak pusing dan butuh hiburan, dia ingin melampiaskannya melalui akting.
Setelah selesai berganti pakaian sesuai karakter dan beberapa detail make up, Railene berjalan menuju lokasi syuting. Sebuah adegan sedang diambil saat ini dan jika dilihat dari jadwal, ini seharusnya adegan terakhir sebelum adegan miliknya dan Kaho. Dia berjalan ke dekat layar direktori dan duduk di kursi kosong sebelah Jack yang sedang berteriak "cut" untuk kesekian kalinya.
"Apa kamu mau makan dulu?"
Maria yang berjalan di dekatnya menawarkan kepada gadis yang setengah bersantai sambil memegang naskah itu. Railene menoleh dan melihat jam di pergelangan tangan Maria. Pukul dua siang dan dia belum makan untuk beberapa jam. Sekarang dia merasa agak lapar.
Railene melirik ke lokasi syuting dan merasa itu akan memakan waktu lama, jadi dia mengangguk pada permintaan Maria.
"Yang ringan aja, Kak!" kata Railene berpesan. Maria mengangguk dan pergi untuk membeli makanan yang menurut Railene "ringan".
__ADS_1
Setelah Maria menjauh, pintu ruang rias di belakangnya terbuka dan Kaho keluar dengan penampilan seorang ibu yang agak kurang sehat serta suram. Tapi, jika seseorang melihat sorot matanya, itu tidak sesuai dengan penampilan luarnya. Matanya sangat cerah dan ada senyum di sudut bibirnya. Tatapannya jatuh pada sosok gadis remaja yang setengah malas di atas kursi santai.
Merasakan tatapan datang ke arahnya, Railene menoleh dan mendapati Kaho berdiri di belakangnya bersama asistennya yang langsung menyingkir ke sudut. Melihat senyum indah dari ratu film, Railene tidak merasa gugup atau bersemangat layaknya orang-orang di sekitarnya bereaksi. Tapi, dia masih dengan ramah membalas senyum Kaho dan bertanya-tanya dalam hatinya. Banyak "mengapa" yang tidak menemukan jawaban, tapi dia tidak menunjukkan di wajahnya.
Kaho berjalan mendekat dan duduk di kursi yang kebetulan kosong di samping Railene.
"Halo, apakah kamu Railene?" Tanya Kaho dengan suara yang indah di telinga.
Railene balas tersenyum dan mengangguk, "Halo, Kak Kaho," jawab Railene.
Railene yang tidak dapat membaca pikiran Kaho mencoba mencari tahu apa yang ingin dibahas olehnya.
"Itu benar. Aku nggak terlalu berdedikasi sama akting karena masih belajar. Nggak seperti Kak Kaho yang udah go international," kata Railene sambil memuji dengan tulus. Dia menghormati orang-orang dengan dedikasi tinggi seperti Kaho.
__ADS_1
"Itu cuma kebetulan. Yang paling penting tetap proses belajarnya," kata Kaho menanggapi dengan positif.
Railene tersenyum dan mengangguk. Interaksi ini normal jika mereka adalah orang asing yang positif dan tidak mencurigakan di sepanjang proses. Railene juga sangat sadar bahwa dia memiliki perasaan hidup seperti kehidupan pertamanya ketika tidak dapat mendengar pikiran Kaho. Asing, menebak-nebak, dan rasa jarak.
"Kudengar kamu udah mau lulus SMA? Ini cukup awal untuk usiamu," kata Kaho kembali memulai percakapan.
"Ya, itu karena aku lompat kelas waktu masuk SD." Railene berkata dengan ringan. Ini bukan rahasia yang jarang diketahui. Banyak penggemarnya telah menulis banyak essai dan menulis biodatanya di internet. Sangat mudah untuk mengetahui siapa dia di kalangan selebriti papan atas. Apalagi dengan sederet prestasi di berbagai bidang yang dia pertahankan beberapa, Railene hanya meretas setengahnya untuk menghindari kecurigaan.
"Itu keren. Kamu sangat pintar." Kaho memuji dengan tulus. Sorot matanya memiliki kelembutan yang berbeda dengan temperamen tubuh dan gosip di lingkaran hiburan. Ada ekspresi yang membuat Railene merasakan 7 poin ketulusan, 1 poin kelegaan, dan 2 poin kasih sayang. Sangat samar hingga Railene tidak yakin dengan apa yang ia lihat.
"Itu berkat dukungan orang tuaku. Mereka sangat mendukung dan memperhatikan pekembanganku," kata Railene menyebutkan konstribusi Diza dalam merawatnya sejak bayi.
Kaho terlihat tertegun sejenak, lalu tersenyum. Kali ini kelegaan, kasih sayang, dan sedikit ironi muncul dalam ekspresinya. Sayangnya Railene gagal melihatnya karena Maria datang dengan boks makanan yang dipesan Railene. Kaho menyingkir dengan alasan menghubungi agen dan Railene tidak berpikir banyak.
Yang tidak diketahui Railene adalah, selama percakapannya dengan Kaho, sosok lain mendengarkan dengan cermat dan cahaya kehilangan di matanya lebih besar.
Saat ini Kaho datang ke sisinya, "Kakak, ayo pergi ke ruang ganti!" katanya kepada sosok lain.
"Hmm," ujar sosok lain itu dan berbalik dengan punggung kesepian.
***
Hai, lama nggak muncul. Kangen gak? Jangan2 udah pada lupa jalan ceritanya😭. Btw, maaf karena nggak update, saya lagi fokus sama dunia nyata yang selalu saya lupain di masa lalu wkwkwk.
Jangan lupa like dan komentar.
Have a nice day!😊
__ADS_1