
Susan telah selesai dan tampak lebih segar setelah mandi. Meskipun begitu, jejak kemerahan di bawah matanya masih terlihat dan dia tampak letih. Satu-satunya yang membuatnya tidak terlihat menyedihkan hanyalah binar di matanya yang cerah dan bersemangat.
Railene sudah siap dengan tas kecil di punggungnya. Pelayannya, Mala, mengikuti dengan tenang dan mengantar keduanya ke depan pintu. Segera Susan dan Railene masuk mobil dengan suasana ringan.
"Apa kamu nggak ngajak temanmu?" Susan bertanya sekedar basa basi.
"Nggak, semuanya punya urusan sendiri," ujar Railene dengan tenang. Dibandingkan dengan beberapa jam lalu, suasana hatinya telah membaik.
Jawaban Railene sesuai harapan Susan. Dia tersenyum lebar dan matanya penuh kemenangan. Kapan lagi dia memiliki waktu eksklusif berdua dengan Railene? Hampir setiap saat gadis kecil itu dimonopoli semua orang di sekitarnya. Susan harus sering berbagi dengan orang lain untuk bisa menghabiskan waktu dengan Railene. Kali ini dia sangat puas karena meskipun sedikit terlambat, dia tidak menunda kepulangannya.
Keduanya mengobrol sepanjang perjalanan. Untuk menuju pantai, butuh tiga jam untuk lalu lintas normal dan kecepatan normal Susan berkendara. Railene bermain game sesekali dan membiarkan Susan fokus menyetir.
Keduanya sampai bertepatan dengan waktu makan siang. Berjalan menuju villa pinggir pantai milik keluarganya, Susan juga memesan makanan dari restoran untuk diantarkan ke villa. Keduanya memasuki villa dan menuju kamar masing-masing. Meskipun Railene masih kecil, dia selalu suka menyendiri dan memiliki batasan dengan orang lain, termasuk Susan. Bahkan jika dia tidak sedang sakit atau tidak berdaya, dia akan menolak untuk tidur bersama Bundanya. Kecuali dia yang mengambil inisiatif sendiri, dia hampir tidak pernah berbagi kamar dengan siapapun.
Kamar Railene dan Susan ada di lantai dua dan bersebelahan. Itu adalah kamar bergaya klasik dengan furnitur alam yang mendominasi. Meskipun begitu, peralatan dan kesesuaian dalam ruangannya mengikuti teknologi dan cukup baik secara keseluruhan. Terutama karena ada balkon luas yang langsung menghadap ke arah pantai. Letak villa yang berada di dekat karang dan cukup tinggi, membuat semua pemandangan dari balkon terlihat menakjubkan.
Di dalam kamar hanya terdapat satu king size bed, nakas dua sisi yang dilengkapi lampu tidur, televisi, meja dan kursi untuk bersantai, dan lemari dengan cermin besar. Balkon dan kamar dipisahkan pintu kaca berhorden putih. Ketika dibuka, angin segar yang tidak terlalu kuat akan menerpa dan mengirimkan udara yang sejuk ke dalam ruangan.
Di balkon sendiri terdapat dua kursi bersantai yang cocok untuk bersantai sambil menikmati pemandangan. Di sanalah tempat kesukaan Railene. Setelah melemparkan tasnya dengan asal-asalan ke atas tempat tidur, dia membuka pintu balkon dan bersantai dengan segelas susu dingin di meja kecil di sampingnya. Menikmati pemandangan dengan damai dan senyuman kecil.
Susan sendiri tidak mengganggu Railene dan sedang beristirahat. Mereka makan siang sendiri-sendiri dan Railene memberi Susan waktu untuk tidur. Dia tahu bahwa dokter satu itu belum beristirahat sama sekali sejak kembali dari luar kota.
__ADS_1
...
Pukul empat sore. Railene dan Susan sudah ada di tepi pantai. Masing-masing dari keduanya menggunakan kacamata hitam dan berbaring di kursi pantai yang sudah disewa. Susan memesan satu kelapa muda segar dan meminumnya dengan hidmat.
Karena hari kerja, pantai tidak terlalu ramai namun cukup banyak dikunjungi. Kebanyakan dari pengunjung adalah anak-anak muda yang bergerombol atau para orang tua yang anaknya masih kecil. Banyak penjual minuman atau stand makanan yang didirikan tidak jauh dari tepi pantai. Itu ramai dan cukup terlihat hidup.
"Tante, aku mau main dulu!" Railene turun dari kursi pantainya dan berjalan sambil menenteng ember dan sekop kecil.
"Jangan jauh-jauh!" Sahut Susan melihat Railene mendekati pasir basah yang terkena buih ombak. Dia melirik sesekali dan mengawasi dalam diam.
Railene sendiri hanya berpura-pura membuat istana pasir. Inchara baru saja memberitahunya tentang seseorang yang mengikuti sejak ia keluar dari rumahnya. Railene belum tahu siapa itu karena ia belum bertanya lebih jauh. Setelah agak jauh dari Susan, baru dia mengobrol dengan Inchara.
"Dia ada di tepi pantai tidak jauh dari kamu, perempuan yang sendirian dan pegang kamera. Itu orang yang sama yang kamu temui beberapa hari lalu di perjamuan. Yang kamu ketemu di toilet," ujar Inchara memberi informasi lengkap.
Railene menoleh ke kanan dan ke kiri lalu menemukan wanita yang dimaksud. Posisi dan apa yang dia bawa sesuai dengan yang disebutkan Inchara. Itu memang detektif wanita yang beberapa hari lalu ditemuinya.
Ia ingat bahwa saat di toilet, ia memberi petunjuk jalan keluar untuk detektif itu. Dan Railene hampir tahu semuanya tentang identitas wanita itu. Tersenyum kecil dengan menunduk, Railene tidak menyangka rencananya berhasil dalam sekali kesempatan.
Ia sadar bahwa wanita itu sedang mencari tahu identitasnya dan bagaimana dia bisa begitu percaya diri memberikan jalan keluar padanya. Railene sudah menduga ini akan terjadi dan dia membiarkannya. Ini adalah caranya membuka koneksinya untuk jalan di masa depan.
Mengamati wanita itu dari jauh dan sesekali bermain dengan pasir, ia tahu bahwa wanita itu hampir selalu berfokus padanya. Bahkan kamera yang menggantung di lehernya ia gunakan sebagai alat mata-mata. Sungguh berniat.
__ADS_1
Railene menoleh ke belakang dan melihat Susan yang tidur lagi. Ia memastikannya dengan bantuan Inchara melalui persepsinya. Mungkin karena terlalu kelelahan istirahat tiga jam tadi belum cukup untuknya. Dan ini adalah kabar baik untuk Railene.
Berdiri perlahan, ia melemparkan sekop dan embernya lalu menyapu telapak tangannya dari butiran pasir. Kali ini, dia memandang terang-terangan ke arah wanita itu. Karena penglihatannya yang tajam, Railene dapat melihat keterkejutan wanita itu. Mungkin dia tidak menyangka bahwa Railene bisa menemukannya di antara orang-orang yang berkunjung.
Railene berjalan dan membawa aura misterius yang sedikit tidak biasa untuk wanita itu. Namun, ia tetap berdiri di tempat dengan ekspresi dinginnya yang berbahaya. Kilat ingin tahu melintas di matanya. Dia memperhatikan Railene yang tersenyum kecil dan berjalan ke arahnya.
"Halo Nona, kita ketemu lagi!" Railene menyapa hangat. Nadanya sama cerianya dengan yang diingat oleh wanita itu terakhir kali.
"Hmm," ujarnya berdehem sambil mengangguk. Keduanya berhadapan dengan stabil. Satunya memancarkan aura waspada, satunya lagi santai dan misterius.
"Bisa kita bicara?" Wanita itu memulainya. Dia tidak benar-benar menganggap Railene sebagai anak kecil biasa. Ia sudah tahu itu. Mana ada anak kecil yang mampu melihat dan mengenalinya dalam jarak seratus meter tanpa keraguan? Hanya gadis kecil ini yang mampu. Dia bahkan menyapanya dengan mantap tanpa rasa takut pada orang asing.
Mendengar pertanyaan wanita itu, Railene tersenyum sedikit lebih lebar.
***
Hai hai maaf hilang selama bebrdapa hari karena ada hajatan yang membutuhkan tenaga saya, wkwk.
Terima kasih buat yang masih setia baca cerita ini. Jangan lupa likenya.
Have a nice day!😊
__ADS_1