
. Tengah malam, tepatnya ketika semua orang sudah tertidur lelap, Dinda terbangun merasakan perutnya terus berbunyi.
"Aih.. lapar." Ucapnya seraya bangkit dari tidurnya. Menyadari adanya pergerakan, Aldi ikut membuka mata dan ia mendapati istrinya sudah berjalan menuju pintu. Aldi terbelalak tak bisa menahan diri untuk menyusul Dinda yang sudah hampir membuka pintu. Di peluknya dengan erat Dinda dari belakang dan menariknya kembali ke tempat tidur.
"Al... hei apa-apaan? Lepaskan aku Al!" Dinda meronta-ronta karena terheran sekaligus terkejut mengapa suaminya membawa dirinya kembali ke tempat tidur.
"Diam di sini atau mati saja sekalian." Lirih Aldi langsung ke telinga Dinda dengan suara yang terdengar begitu tegas.
"Apa-apaan ancaman itu? Siapa yang mau mati? Mati karena apa? Aku hanya ingin makan saja." Batin Dinda masih meronta-ronta ingin di lepaskan. Setelah lepas, ia menjauh segera dari Aldi yang kini sudah terduduk di atas ranjang.
"Kau gila Al."
"Kau yang gila." Balas Aldi sama-sama menyiratkan amarah di wajahnya.
"Aku gila apa?" Mendengar pertanyaan itu, Aldi menyeringai lalu ia tertawa dengan lepas membuat Dinda semakin penasaran akan sikap suaminya malam ini.
"Al.. ayolah. Nanti saja. Aku lapar sekarang. Kalau sudah makan, kau boleh melakukan apapun, ya! Please! Aku mau makan." Ucap Dinda dengan memohon agar Aldi mengizinkannya keluar. Aldi hanya tersenyum seraya menggeleng menanggapi permohonan Dinda padanya. Melihat Aldi yang tak menanggapi, Dinda berbalik dan ia segera meraih pintu untuk membukanya.
"Apa kau yakin akan keluar dengan pakaian seperti itu?" Sontak Dinda yang sudah bersiap untuk keluar, ia mendadak mematung dan perlahan melihat pakaiannya sendiri. Ia terbelalak lalu menutupi sebagian tubuhnya dengan tangan.
"Kau mau menggoda siapa hah?" Terdengar suara Aldi begitu menekan. Dinda berlari kembali ke atas tempat tidur lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kau tidak bilang." Protes Dinda dengan sedikit berteriak.
"Hehhh tak mungkin kau tak merasakannya sendiri." Setelah kalimat ini selesai, keduanya saling diam dalam waktu yang cukup lama. Aldi menghela nafas malas kemudian ia beranjak dan keluar tanpa berbicara pada Dinda. Karena penasaran, Dinda mengambil piyama kimononya untuk membuntuti Aldi. Ia terheran mengapa Aldi tak mengajaknya makan, dan hanya sendirian saja mengambil makanan. Ketika Aldi berbalik dengan makanan di kedua tangannya, ia menatap datar pada Dinda yang menatapnya dari balik tembok.
"Kenapa ke sini?"
"Aku lapar." Jawab Dinda dengan polos menatap Aldi yang masih datar membalas tatapannya.
__ADS_1
"Sudah aku bawakan." Aldi berlalu begitu saja meninggalkan Dinda yang menjadi kesal karenanya. Dinda menyusul suaminya yang sudah jauh meninggalkannya di ambang jalan ke arah dapur. Ia yang merasa takut suasana malam, segera berlari dan tak ingin Aldi lebih dulu memasuki kamar. Dinda terengah saat ia mendahului Aldi yang hampir menjatuhkan makanannya karena Dinda.
"Hati-hati. Kenapa berlari?" Tegur Aldi kemudian meletakkan makanan tersebut di meja sofa.
"Takut."
"Aih. Takut hantu?"
"Ih jangan keras-keras Al. Kalau hantunya dengar bagaimana?"
"Kau ini seperti anak kecil saja. Sudahlah! Ayo makan. Katanya lapar?" Dinda akhirnya duduk di depan Aldi dan ia hendak meraih sendok, namun Aldi lebih dulu meraihnya. Dinda terlihat kesal dengan sikap Aldi tersebut. Sudah tahu ia sedang kelaparan, tapi Aldi terus menjahilinya.
"Aaaa" tanpa di duga, Aldi menyuruh Dinda membuka mulut untuk melahap makanan yang ia berikan pada Dinda. Dinda tertegun kemudian ia tersenyum dan mulai membuka mulut. Dinda melahap semua makanan yang ternyata hanya untuknya. Ia tak henti-hentinya tersenyum merasa beruntung mendapatkan suami seperti Aldian.
"Apa kau juga begini Syifa? Sepertinya kau akan marah padaku nanti karena aku sangat bahagia dengan Aldi." Batin Dinda yang entah pada siapa. Ia memfokuskan gumaman dalam hatinya pada Syifa yang jelas sudah meninggal.
"Sayang... mau minum." Aldi terhenyak, ia meraih dahi Dinda takut jika ada yang salah pada istrinya.
"Kau tak mau aku panggil sayang?"
"Oh jelas mau lah sayang. Kenapa tidak dari awal kau memanggilku begitu?"
"Ihhh Al... kau malah jadi begini. Sudah ah aku tidak mau memanggilmu begitu lagi."
"Ehhh kenapa sayang?" Goda Aldi membuat Dinda semakin merajuk.
Setelah makannya selesai, Dinda kembali ke tempat tidur dengan memasang wajah murung.
"Sayang kenapa marah sayang?" Tanpa melihat situasi, Aldi terus menggoda Dinda yang hanya mendelik ke arahnya. Setelah itu Dinda menyelimuti dirinya lagi dan membelakangi Aldi.
__ADS_1
"Yaaahhhh si sayang nya marah." Keluh Aldi berharap Dinda berbalik dan mengajaknya bicara. Namun, lama menunggu, Aldi melihat Dinda yang ternyata sudah tertidur lelap.
"Hehhhhh tidur." Keluhnya lagi, dan kali ini Aldi berbaring dengan memeluk Dinda sampai ia terlelap.
. Paginya, Dinda terlihat sudah bersiap tanpa membangunkan Aldi yang masih tertidur. Meski tengah kesal, namun Dinda merasa kasihan pada Aldi jika terus ia diamkan.
"Al... sudah siang. Ayo bangun!" Ucap Dinda mencoba mengguncangkan tubuh Aldi agar segera bangun dari tidurnya. "Al.... sudah jam berapa ini?" Sekali lagi Dinda memanggil Aldi sedikit keras.
"Hmmmm" hanya begitu tanggapan Aldi seraya menggeliat dan kembali melanjutkan tidurnya.
"Ishhh Al... aku harus ke toko hari ini. Kalau kau tidak bangun juga, aku tinggal sekarang." Ucap Dinda yang sudah kehilangan kesabaran. Aldi terbangun lalu ia menatap ke arah Dinda sesaat lalu mengecup ringan bibirnya agar istri kesayangannya itu diam. Setelahnya Aldi beranjak menuju kamar mandi.
Tak perlu menunggu lama, Aldi keluar dengan hanya memakai handuk pendek saja. Dinda menatap suaminya dengan datar dari sofa.
"Sudah? Kau pakai sabun atau tidak?" Mendengar pertanyaan bernada ejekan tersebut, Aldi membalas menatap Dinda tak kalah datar.
"Ya sudah. Kalau begitu aku mandi lagi biar kau menunggu semakin lama." Cetus Aldi merasa jawabannya ini sudah tepat, ia berbalik dan hendak memasuki kamar mandi lagi.
"Ehhh... iya iya maaf. Aku hanya bercanda." Dinda beranjak dari duduknya dengan sedikit memohon karena ia sudah tak bisa berlama-lama di rumah. Jika bukan karena hari ini ada Maira akan menemuinya ke toko, Dinda tak akan tergesa-gesa dan merasa di kejar waktu.
"Kamu kenapa pagi ini terlihat terburu-buru."
"Maira ke sini. Dia bilang ingin bertemu denganku."
"Ohhh.... tidak bertemu Sean lagi?"
"Apa yang kau bahas? Sean siapa? Aku tak kenal dengan dia."
"Benarkah? Terus kenapa kau begitu dekat dengan anaknya?"
__ADS_1
"Xaviera sedang merindukan ibunya. Jadi aku memberinya kehangatan hanya untuk menenangkan saja."
-bersambung