RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
121


__ADS_3

"Rei? A-aunty?" Lirih Avril dengan terbata.


"Aunty Avil." Ucap Reifan lagi. Saat itu juga jantung Avril berdegup dengan kencangnya mendengar panggilan baru yang diberikan Reifan padanya. Sungguh menyayat hati, ia benar-benar tak menyangka bahwa Reifan sudah melupakan perannya sebagai ibu.


"Kenapa kau memanggil Mommy begitu Rei? Siapa yang menyuruhmu memanggil Mommy begitu?" Suara Avril yang semula lirih kini mulai meninggi. Terlihat raut wajah Reifan seperti ketakutan melihat tatapan Avril yang begitu tajam menusuk, ditambah cengkraman tangan Avril pada pundaknya kian keras sehingga Reifan merasa kesakitan.


"Nona... mohon longgarkan tangan anda." Pinta Ima, sang pengasuh Reifan dengan sopan berbicara pada Avril.


"Diam! Aku ingin tahu siapa yang menyuruhnya begitu tidak sopan padaku." Benar-benar menakutkan, tatapan Avril pada Ima begitu tajam dan seperti akan lepas dari tempatnya. Avril beralih menatap Reifan yang mulai memperlihatkan ekspresi ketakutannya.


"Jawab Mommy sekarang Rei! Siapa yang menyuruhmu memanggil Mommy begitu." Tegas Avril kembali bertanya.


"Da-Daddy...." jawab Reifan dengan nada lirih dan sedikit merengek hampir menangis.


"Apa?" Bersamaan dengan itu, pegangan Avril perlahan terlepas hingga Ima bisa dengan mudah menarik Reifan pada pelukannya. Dan setelah itu, Avril terlihat mematung tak lagi bergerak. Tatapannya kosong tak mempercayai apa yang terucap dari anak sekecil Reifan yang mustahil untuk berbohong meski ia sebetulnya tak mempercayai hal itu. Bahkan saat Ima membawa Reifan memasuki mobil dan meninggalkannya di sana, Avril masih terdiam mematung dengan berderai air mata terduduk lesu di tempatnya. Ray yang tepat waktu datang menyusul pun segera menghampiri Avril dengan ekspresi terkejut.


"Nona. Kenapa Nona duduk di sini? Nona baik-baik saja?" Tanya Ray mencoba membantu Avril untuk bangkit dari duduknya.


"Reifan Ray. Reifan."


"Reifan kenapa Nona? Apa dia sakit?" Avril langsung menggeleng menanggapi pertanyaan Ray ini.


"Bukan Ray. Rei tak menganggapku lagi." Dan pecah sudah tangis Avril. Ia menutupi wajahnya dengan tangan seraya terus menangis pilu di depan Ray.

__ADS_1


"Apa maksud Nona?" Ray benar-benar tak faham dengan maksud Avril. Tak menganggap bagaimana?


"Rei tak lagi memanggilku Mommy Ray. Dia memanggilku Aunty. Dan... dan Aldi yang menyuruhnya."


"Apa Nona yakin Tuan Aldi yang meminta Rei mengatakan itu?"


"Kau pikir anak sekecil dia akan berbohong?"


"Maaf Nona." Ray menunduk menyesali pertanyaan konyolnya tersebut. Mengenyampingkan kesedihan Avril, Ray harus segera membawa Avril ke dalam mobil dan membawanya berlalu dari area Mall. Sepanjang jalan, Avril terus menangis sesenggukan seakan rasa sakitnya sangatlah menyakitkan. Bahkan sampai di rumahnya, Avril masih belum meredakan tangisnya, namun Ray membiarkannya duduk di ruang tamu dan ia sendiri harus segera kembali ke kantor. Sepeninggal Ray, Bu Rumi segera menghampiri Avril yang terus menangis di ruang tamu. Ketika Bu Rumi memeluknya, tangisnya semakin menjadi seakan menunjukkan bahwa ia tengah terluka begitu dalam dan terasa sangat perih.


"Salah aku apa Bu? Kenapa Rei tak menganggapku sebagai Ibunya lagi? Kenapa dia menganggapku sebagai orang asing?" Mendengar keluhan yang memilukan tersebut, Bu Rumi tak langsung paham dengan apa yang di ungkapkan oleh Avril.


"Ibu tak mengerti dengan apa yang kamu katakan." Ucap Bu Rumi berharap Avril mengulang ucapannya dan menjelaskan maksud dari hal tersebut.


Ketika Avril tengah bersedih hati, terdengar teriakan Siska dari kamarnya memberi tahu bahwa Zeeya menangis. Dengan cepat Avril bergegas menuju kamarnya dengan setengah berlari menaiki tangga dan kemudian meraih putrinya yang mungkin merasa lapar.


"Avril... sepertinya Zeeya lapar. Aku kira dia buang air, ternyata tidak." Jelas Nadia yang ikut panik melihat keponakannya menangis dengan keras.


"Putri Bunda.. kesayangan Bunda.. kamu lapar nak?" Sesegera mungkin Avril mencari tempat yang nyaman untuk menyusui Zeeya, dan Siska berpamitan untuk pergi meninggalkan kamar Avril. Meski ia tengah menyusui Zeeya, namun hatinya tak bisa menahan rasa pilu sebab ucapan Reifan masih terdengar jelas di telinganya.


"Kau kenapa? Apa kau bertengkar dengan Alvi?" Tanya Nadia ketika melihat Avril terus menerus menitikkan air matanya. Avril kemudian menggeleng menanggapi pertanyaan Nadia, ia tak ingin kesedihannya berubah menjadi stres berkepanjangan. Ia berulang kali berpikir dimana letak kesalahannya, mengapa Reifan tak lagi menganggap dirinya sebagai Ibu. Apa karena Dinda? Meski memang begitu, kenapa harus dengan cara ini Dinda dan Aldi memisahkannya dengan Reifan. Sejujurnya ia tak sanggup jika sampai Reifan tak menganggapnya begini. Ia akan kuat jika jauh dari Reifan, namun ia tak akan kuat jika ikatannya terputus tanpa sebuah alasan yang jelas. Nadia sendiri memilih diam dan hanya mengelus pundak Avril yang mungkin tak mau bercerita apapun saat ini.


Di samping itu, Ray menghadap Alvi yang kini tengah menandatangani sebuah agenda dan beberapa berkas lainnya. Ia terlihat bimbang dengan kabar Avril yang sedang tidak baik. Terlebih lagi, Avril pasti sangat syok berat dengan kenyataan yang baru saja di terimanya.

__ADS_1


"Ada apa Ray? Kenapa tak bicara? Kau mau cuti?" Tanya Alvi tanpa menoleh sedikitpun pada Ray.


"Tidak Tuan. Saya...." Ray tiba-tiba menggantungkan jawabannya sehingga Alvi menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arahnya. Dengan tatapan penasaran, Alvi mencoba menebak apa isi pikiran Ray saat ini.


"Atau kau mau membatalkan kerja samaku dengan Amar Sanjaya? Kau masih tak terima dengan perilaku Aulian kan? Tenang saja Ray. Aku sudah memastikan sendiri kalau Amar Sanjaya tidak ikut serta dengan apa yang di lakukan Aulian. Bahkan dia bilang, dia tak akan mempedulikan Aulian lagi, meski Aulian adalah anaknya sendiri."


"Bukan itu Tuan." Mendengar tanggapan Ray begini, Alvi mendadak melongo. Ia sudah menjelaskan panjang lebar, tapi bukan ini yang di maksud Ray? Apa-apaan ini? Mungkin pertanyaan konyol tersebut yang mewakilkan ekspresi Alvi saat ini.


"Jadi?" Tanya Alvi setelah menghela nafas sesaat dan menunggu Ray memberikan jawabannya.


"Nona Avril menangis Tuan." Sontak Alvi mendelik mendengar jawaban Ray yang ia rasa hanya sebuah berita yang tidak terlalu besar. Sebab ia hanya berpikir kalau Avril mungkin tengah mengalami baby blues. Jadi wajar saja jika Avril menangis tanpa alasan.


"Setelah melahirkan, biasanya wanita mengalami baby blues. Mungkin Avril juga begitu. Dan itu hal yang wajar jika hanya menangis. Bu Rumi mungkin bisa mengatasinya." Jelas Alvi yang menebak kemungkinan yang terjadi pada Istrinya.


"Bukan karena itu Tuan." Ucap Ray lagi membuat Alvi mulai kesal.


"Katakan saja intinya Ray. Jangan membuatku malu karena salah menebak apa yang terjadi."


"Nona menangis karena Rei, Tuan."


"Rei?" Alvi memiringkan kepalanya saat mendengar nama Rei di ucapkan.


"Iya Tuan. Kata Nona, Rei sudah tak menganggapnya sebagai Ibu. Panggilannya menjadi berubah, bukan lagi Mommy, tapi Aunty." Mendengar jawaban kali ini, Alvi yang semula menyimak, wajahnya berubah terkejut dan tak percaya jika Reifan berkata demikian.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2