RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
108


__ADS_3

Karena dirasa obrolan Dinda dengan Emira mendekati serius, Dinda memutuskan untuk mengajak Emira ke sebuah taman kecil yang tak jauh dari tokonya. Maira membawa 3 cup kopi yang ia pesan dan beberapa camilan dari aplikasi pengantar makanan.


"Aku tak menyangka, Lian sampai sejauh itu. Jujur saja, aku tak tahu apa-apa meski aku dan Lian pernah menjadi suami istri. Selama aku menjadi istrinya, Lian tak pernah membahas tentang dunia kerjanya sendiri. Saat pulang ke rumah, dia hanya makan dan tidur, setela itu dia kembali sibuk. Terkadang, wajahnya sangat menakutkan." Tutur Emira yang mendengar kabar mantan suaminya.


"Tapi aku lebih tak menyangka pada Lio. Sebelum kejadian itu, dia seperti sedang tertekan. Amarahnya meluap begitu saja dengan membawa Aldi dalam masalahnya. Tapi, entah kenapa, aku yakin yang membuatnya sampai bertindak begitu bukan hanya karena aku dan Aldi, tapi ada faktor lain yang mempengaruhi." Ujar Dinda pun mengungkapkan apa yang ia pikirkan.


"Aku pikir kakak masih dengan Aulian. Aku tak menyangka kalau kalian bercerai." Ucap Maira ikut menimpali obrolan Dinda dan Emira. Mendengar hal itu, Emira hanya tersenyum getir mengingat betapa kejamnya Aulian pada dirinya.


"Kak Dinda.... ada tamu untuk kakak." Teriak Nisa dari persimpangan jalan. Meski merasa ragu, Dinda meminta izin pada Emira untuk meninggalkannya sebentar.


"Dinda itu gadis yang baik ya? Dia mengingatkanku pada Amel. Kalau dia masih hidup, aku yakin dia akan setuju jika punya adik ipar seperti Dinda."


Maira yang tak tahu akan siapa nama yang di sebutkan Emira pun lantas bertanya "Amel itu siapa kak?" Dan Emira tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut.


"Amel itu teman baikku, dan dia juga kakak dari Aldian. Kalau lihat mereka bersama, aku selalu dibuat tertawa. Sebab mereka seperti kucing dan anjing yang selalu bertengkar dimanapun dan kapanpun. Tapi, terkadang aku iri pada mereka yang selalu saling melindungi. Kakak perempuan yang melindungi adik kecilnya, dan adik laki-laki yang melindungi kakak perempuannya."


Belum selesai mereka berbincang, Emira di kejutkan oleh suara ponselnya yang berbunyi. Ia segera meraih dan menjawab telepon yang masuk dengan nomor tanpa nama.


"Baiklah pak. Terima kasih." Ucapnya setelah perbincangan dirasa selesai, dan ia meletakkan ponselnya kembali.


"Maira.. maaf ya. Aku pergi duluan. Dan katakan pada Dinda maaf tidak pamitan langsung. Aku ada urusan." Ucap Emira beranjak dari duduknya.


"Baiklah kak. Hati-hati." Maira ikut beranjak dan membiarkan Emira berlalu dari hadapannya. Setelahnya, Maira membawa kopinya dan kopi Dinda kembali ke toko Dinda yang ternyata memang ada tamu. Namun ia terlihat berbinar saat tahu siapa tamu yang datang.

__ADS_1


"Reifan... hai.... main dengan aunty yuk!" Ucapnya setelah meletakkan kopi di meja Dinda dan beralih menghampiri Reifan di pangkuan Dinda.


"Tidak mau!" Reifan menanggapi dengan memalingkan wajahnya kasar dan memangku tangan dengan angkuh.


"Ehhh awas kau ya!" Maura bersiap untuk menggelitik Reifan sehingga anak itu tertawa dan turun dari pangkuan Dinda lalu berlari menghindari Maira.


"Hei nak. Cepat lahir! Lihat kakakmu sudah berlari kemana-mana." Ucap Dinda menatap perut Avril yang sudah membesar. Avril yang mendengarnya hanya tertawa seraya mengelus pelan perutnya yang terasa ada sebuah gerakan di dalamnya.


"Sabar nak. 2 bulan lagi kau akan bertemu kakakmu." Avril ikut menimpali karena merasa anak di dalam kandungannya sudah bereaksi pada ucapan Dinda.


"Wahhhh kau sudah mau berlari ya?" Setelah Dinda mengatakan hal ini, keduanya lantas tertawa hingga suara tangisan Reifan berhasil menghentikan tawa mereka. Avril dan Dinda kemudian berlari menghampiri Maira yang ternyata tengah terduduk di depan mobil yang terhenti di depan tokonya. Terlihat pula seseorang keluar dari mobil dengan wajah panik.


"Nona... apa anda baik-baik saja?" Tanya Sean terlihat ragu meraih Maira karena adanya Dinda yang menghampirinya.


"Maira... kau tak apa?" Pekik Dinda segera berlari dan meraih Maira dengan hati-hati.


"Kakiku keseleo Din." Jawabnya meringis kesakitan. Dinda mencoba membantu Maira berdiri, namun ia tak sekuat itu membantunya. Dinda melirik pada Sean yang diam saja seakan ia ragu untuk membantu Maira. Dinda menghela nafas dengan berniat ingin menegur Sean, namun ia termangu melihat Avril yang merangkulkan tangan Maira ke pundaknya.


"Ayo aku bantu. Jika menunggu yang menabraknya untuk bertanggung jawab, aku rasa kita akan menunggu selamanya." Terdengar suara Avril menahan kesal dan melewati Sean begitu saja. Sean yang merasa tersindir ucapan Abril pun memberanikan diri menghalau mereka.


"Biar saya yang membawanya ke rumah sakit. Tapi Dinda harus ikut." Ucap Sean yang berpikir bahwa Dinda akan menjauh bila dirinya dekat dengan gadis lain.


"Tidak perlu. Saya bisa merawat teman saya di sini sendiri. Lagi pula, saya punya dokter pribadi, jadi tak perlu repot-repot harus ke rumah sakit." Balas Avril yang sudah terlanjur kesal pada Sean. Tanpa menanggapi sindiran tajam Avril, Sean segera membawa Maira ke dalam toko Dinda. Sementara Avril memilih menghubungi Noah agar menyusulnya ke sana.

__ADS_1


"Mommy... anty nya jatuh." Rengek Reifan yang masih menangis dan kini memeluk Avril dengan erat.


"Sudah... Om dokter nanti ke sini." Melihat Reifan yang menangisi Maira, Avril mencoba membujuk dan menghentikan tangis Reifan.


"Om dokter?".


"Iya sayang. Nanti mau main sama Om dokter kan?" Reifan mengangguk antusias dan ia memaksakan dirinya agar berhenti menangis. "Bunda... Om dokter mau ke sini." Teriak Reifan kemudian memanggil Dinda dan menghampirinya dengan berbinar.


"Iya sayang. Maaf ya.. bunda rawan anty nya dulu. Rei sama Mommy sebentar." Dengan tak enak perasaan, Dinda harus membiarkan Reifan dengan Avril selama ia merawat Maira yang kesakitan karena kakinya keseleo.


Sean di buat heran dengan panggilan pada kedua wanita di hadapannya. Dan yang paling membuat heran, mengapa Reifan memanggil Dinda dengan sebutan bunda? Namun hatinya sedikit lega saat Reifan ternyata lebih dekat dengan Avril dan bahkan memanggilnya Mommy.


"Mungkin anak itu memang memanggil Dinda dengan panggilan bunda." Batin Sean seraya menghela nafas lega.


"Kenapa anda menabrak teman saya Tuan?" Tanya Dinda tanpa menoleh sedikitpun pada Sean.


"Tidak Din. Ini bukan salahnya." Maira mencoba menenangkan Dinda yang ia rasa sudah mulai marah.


"Diam Mai... kau jangan membelanya. Susah jelas kau jatuh tepat di depan mobilnya." Dinda masih menyalahkan Sean meski secara tak langsung.


"Dinda... maaf. Tadi aku memang tak tahu jika ada orang di area parkir." Ucap Sean mencoba menjelaskan namun tak membuat Dinda percaya. .


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2