
. Dinda terkejut dengan kedatangan Aldi. Namun ia masih memeluk reifan yang menangis. Hadi penasaran mengapa bisa Dinda di panggil bunda oleh anak kecil yang setahunya belum bertemu dengan mereka. Setelah Reifan bisa lepas dari Dinda, Dinda beranjak dan menatap tajam pada Aldi. Tatapan itu sangat berbeda, Aldi merasa nafasnya sesak karena tatapan Dinda yang tak sehangat dulu.
"Maaf ayah. Aku tolak perjodohan ini." Ucap Dinda segera berlalu dari hadapan mereka. Aldi tak ingin kehilangan kesempatan, ia segera menyusul meski harus ke kamar Dinda sekalipun. Aldi meraih tangan Dinda yang berlari sembari terisak menaiki tangga.
"Dinda. Tunggu! Dengarkan aku dulu."
"Dengar apa lagi Al? Kau jelas-jelas sudah punya istri. Dan istrimu sedang hamil." Teriakan Dinda berhasil membuat Hasan dan Hadi terkejut. Hasan sendiri tak tahu jika Aldi punya istri lagi saat ini.
"Aldi? Apa-apaan ini? Kau menikah lagi tanpa memberitahu ayah? Lalu kenapa kau bersedia datang kemari jika kau sudah punya istri." Geram Hasan dari bawah menatap Aldi yang berada di tengah tangga bersama Dinda.
"Ayah... kalian salah faham."
"Tidak. Aku tidak salah faham. Avril sendiri yang bilang suaminya seorang presdir. Kau tega Al. Avril itu wanita baik, dan kau menjadikanku selingkuhanmu? Avril itu temanku Al." Timpal Dinda lagi terus memojokkan Aldi.
"Tuh kan ayah. Dia salah faham. Avril bukan istriku. Dia memang istri dari seorang presdir. Tapi presdir itu bukan aku. Kau tahu Alvian Revano? Dialah suami Avril. Bukan aku." Setelah Aldi menjelaskan demikian, suasana menjadi hening seketika.
"Dinda. Biar aku jelaskan yang sebenarnya." Lirih Aldi membujuk Dinda agar ia mau mendengarkan penjelasannya.
"Om. Apa Aldi boleh meminta waktu untuk bicara dengan Dinda?" Aldi beralih menatap Hadi yang dengan ragu mengangguk mengiyakan.
"Bo-boleh silahkan. Tapi jangan di kamar Dinda." Hal itu cukup membuat Aldi menyunggingkan senyum di wajahnya. Dengan terpaksa, Dinda membawa Aldi menuju halaman samping rumah.
. Di dalam, Hadi dan Hasan masih di selimuti rasa penasaran akan pertemuan Aldi dan Dinda.
__ADS_1
"Rei... cerita pada kakek! Kenapa kau memanggil kakak itu dengan panggilan bunda." Titah Hasan dengan nada membujuk agar Reifan mau bercerita tentang Dinda.
"Bunda... suka main sama Eifan di rumah. Bunda cantik. Bunda baik. Eifan sayang bunda." Jawabnya cukup membuat Hadi paham akan maksud Reifan.
"Baiklah kalau begitu aku sudah mengerti." Tutur Hadi kini tersenyum lega.
"Kakek... Eifan rindu bunda. Bunda sayang Eifan. Bunda sayang daddy." Ucapnya lagi kini terdengar lebih merengek.
"Sebentar ya. Bundanya ada urusan dulu." Bujuk Linda mengambil Reifan dari pangkuan suaminya.
"Daddy?" Tanyanya mencari-cari dimana Aldi.
"Daddy sedang bersama bunda. Eifan sama kakek mau? Kita ke atas lihat bintang yu!" Hadi ikut membujuk Reifan dan dengan menurut, Reifan beralih ke pangkuan Hadi.
"Avril itu mantan pacarku saat SMA. Dia sudah menikah dengan Alvi tepat usia Rei memasuki ke 2 tahun. Sepeninggal Syifa, hanya Avil yang bisa menjadi ibu pengganti untuk Rei. Semula ayah Hasan dan ibu Linda merawat Rei, tapi Rei seperti tidak betah dengan mereka. Maka, dengan rela Avil menawarkan diri untuk merawat Rei sembari menunggu Alvi kembali untuk melamarnya saat itu. Jujur, aku memang sangat mencintai Avil. Dia cinta pertamaku, dan rasa cinta itu terasa hampir habis aku berikan untuknya. Karena Avil sudah mau merawat Rei, jadi aku selalu membalasnya dengan apapun yang dia butuhkan. Seperti mengantarnya ke mall, ke dokter, atau bahkan ke kantor Alvi pun jika aku luang, aku selalu mengantarkannya. Jika kau berpikir aku adalah suami Avil, itu salah Dinda. Avil adalah bukti cinta yang tak bisa ku gapai. Sampai aku bertemu denganmu. Awalnya aku tidak tertarik padamu sama sekali, namun saat melihat Rei begitu menyayangimu, rasanya aku sedang melihat Syifa."
"Jadi kau hanya menganggapku sebagai mendiang istrimu saja?" Dinda menyela dengan sirat emosi yang terlihat.
"Semula memang begitu, tapi semakin lama, aku mencintaimu karena aku melihat dirimu yang tak ada pada Syifa. Haha seharusnya duda sepertiku tak boleh banyak bicara. Perempuan mana yang mau mendengarkan. Iya kan Dinda?" Kali ini, Dinda terdiam membisu mendengar penjelasan Aldi. Ia merasa ingin menghubungi Avril dan memastikan apa yang di katakan Aldi itu benar adanya atau hanya sekedar mengalihkan kesalahan saja.
"Dinda... aku sudah menjelaskan yang sebenarnya padamu. Saat ini aku mencintaimu, Rei pun menyayangimu, dan orang tua kita sudah merestui. Aku ingin kau kembali padaku Dinda." Lirih Aldi yang menunduk karena sudah tak kuasa jika harus berpandangan dengan Dinda. Namun, Dinda masih memilih diam tak menanggapi setiap ungkapan Aldi. Setelah dirasa lama keduanya hanya diam, Aldi pun menghela nafas dalam sesaat lalu beranjak.
"Maaf sudah berharap lebih. Mau itu kau atau orang lain, seharusnya aku tak setuju untuk datang menemui wanita yang di lamar oleh mertuaku atau pun mama. Setelah ini, aku pastikan Rei tak akan menanyakan keberadaanmu lagi. Hak asuh akan aku berikan sepenuhnya pada Alvi dan Avril." Tutur Aldi kemudian ia melangkah dengan perasaaan yang teramat gundah.
__ADS_1
"Apa karena itu Rei memanggil Avril dengan panggilan mommy?" Mendengar pertanyaan tersebut, langkah Aldi terhenti dan wajahnya menoleh sedikit.
"Iya." Jawab Aldi dengan singkat. Ia sudah tak tahu lagi harus berkata apa, meskipun menjelaskan panjang lebar pun, Dinda pasti tidak mempercayainya.
"Apa Avril juga yang di maksud oleh teman-temannya?" Batin Dinda mengingat kembali ucapan Demira tempo hari.
Melihat Aldi berlalu tanpa menoleh kembali, Dinda merasa bersalah pada Aldi karena sudah berpikir yang macam-macam.
"Bagaimana? Apa urusannya sudah selesai?" Tanya Hadi dengan santai. Aldi hanya tersenyum tipis menyimpan perasaan kecewanya.
"Ayah, ibu, om, tante. Maaf sepertinya Aldi harus pulang malam ini." Sontak mereka begitu terkejut. Mengapa mendadak?
"Aldi... tapi kenapa? Kita baru membicarakan tanggal pernikahanmu dengan Dinda." Ucap Salma menahan niat Aldi agar tidak pulang.
"Saya tidak akan menikahi wanita yang tidak mau menikah dengan saya tante. Maaf. Saya ambil Rei kembali." Tutur Aldi menjawab pertanyaan yang muncul dari masing-masing kepala mereka.
Ketika Aldi sudah menggendong Reifan, ia segera berlalu tanpa ingin menoleh ke belakang.
"Jadi, apa tanggal pernikahannya sudah di tentukan?" Tanya Dinda membuat Aldi berbalik dan termangu mendengar pertanyaannya.
"Aku menerimanya ayah." Lirihnya kemudian.
-bersambung
__ADS_1