
. Dengan rinci, Nisa menceritakan apa yang terjadi setelah kepergian Dinda. Beberapa hari yang lalu, datang beberapa orang yang terlihat seperti bawahan Hadi yang saat itu hendak membawa Dinda pulang. Namun yang ini lain, mereka jauh lebih garang dari Andra.
"Atas dasar apa kau menyuruh kami untuk menutup toko." Bantah Nisa memberanikan diri meskipun seluruh tubuhnya sudah gemetar ketakutan.
"Ini perintah nona Dinda." Jawabnya tegas.
"Kenapa tidak kak Dinda saja yang kesini?"
"Nona Dinda sedang sibuk. Jadi dia mengutus kami untuk memberitahu kalian agar menutup toko ini."
Dan dengan terpaksa, Nisa menuruti ucapan orang-orang tak di kenal itu. Ia langsung mencoba menghubungi Dinda, namun sayang panggilan tidak tersambung. Beberapa kali Nisa mencoba, dan hasilnya tetap saja. Dinda seakan pergi menghilang tanpa jejak. Hingga Nisa memutuskan untuk ke rumah Dinda yang tak jauh dari daerah toko. Dan rumahnya gelap gulita tak ada penghuni. Sempat Nisa berpikir hendak bertanya pada Aldi, namun niatnya urung karena ia saja tak tahu bagaimana menghadapi Aldi sedangkan dia hanyalah orang biasa.
Sampai hari ini, dan malam ini, Nisa mendapat sebuah panggilan dari Dinda. Ia merasa senang bercampur sedih karena merindukan Dinda.
"Kakak ini sebenarnya siapa? Dan saat mereka menyebut nama kakak, sepertinya mereka sangat menghormati kakak." Tanya Nisa yang penuh rasa penasaran.
"Em.... besok kita ke toko ya... maaf aku mengantuk. Baru saja sampai. Besok saja aku ceritakan." Jawab Dinda terdengar gugup dan sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Ba-baiklah." Balas Nisa. Dan segera Dinda memutus sambungan teleponnya. Ia menghela nafas dalam sesaat dan perasaannya mendadak gelisah. Apa yang harus ia katakan pada Nisa? Apa harus ia ceritakan siapa dirinya dan alasan mengapa ia sampai ke kota J.
. Esoknya, sesuai perjanjian, Dinda bergegas menuju toko dan ia benar-benar terkejut mendapati tulisan "TUTUP" tepat di pasang pada pintu toko yang besar itu.
"Siapa yang berani menutup toko tanpa perintah dariku? Pencuri? Perampok? Atau apa Lio? Kenapa dia melakukan ini? Apa dia masih dendam? Tapi tidak mungkin? Tapi mungkin saja. Jika saja memang benar Lio pelakunya, aku tak akan pernah memaafkannya." Batin Dinda menatap kesal pada tulisan itu.
Perlahan Dinda membuka pintu toko dengan kunci cadangan yang ia simpan dirumah. Toko ini bukanlah sebuah tempat sewaan, Dinda membelinya untuk menjadi hak milik untuknya.
"Tak ada yang hilang, berarti benar mereka hanyalah suruhan." Batin Dinda lagi sembari berteriak. "Lio!!" Dan ia melempar vas bunga yang terbuat dari kaca hingga pecah berserakan.
Teriakan Dinda cukup membuat Nisa dan pegawai lain merasa terkejut. Mereka baru kali ini melihat kemarahan Dinda.
"Sial. Jika dendam. Jangan begini caranya." Ujar Dinda mendadak lesu.
"Kak..." panggil Nisa ragu.
__ADS_1
"Nis... bereskan toko seperti biasa. Aku ada urusan sebentar." Ucap Dinda dengan tegas sembari berlalu keluar toko dan ia setengah berlari hingga tepi jalan kemudian menghentikan sebuah taksi. Nisa menatap nanar kepergian Dinda yang terlihat jelas penuh kesedihan.
. Di rumah sakit, Reno membereskan berkas yang sudah di tandatangani Aldi pagi ini.
"Kau memang pekerja yang teladan. Masih sepagi ini kau sudah meminta tandatanganku." Ujar Aldi dengan nada ejekan.
"Semua gara-gara kau. Sialan. Aku masih ingin memeluk istriku pagi ini. Tapi Bagas terus meneleponku untuk tidak lupa berkas-berkas ini... argghhhh dasar jomblo-jomblo sial." Semprot Reno langsung ke wajah Aldi.
"Haha maafkan aku sobat. Bersabarlah sebentar lagi." Balas Aldi dengan tawa terbahak-bahak.
"Sampai kapan sialan." Reno masih membentak Aldi tepat di wajahnya.
"Ya sampai aku sembuh." Balas Aldi tak kalah membentak kali ini.
"Ya kapan kau sembuhnya?"
"Kau pikir aku tahu? Aku juga ingin secepatnya pulang brengsek. Kau pikir aku betah disini? Haih... aku merindukan Rei." Keluh Aldi melempar tatapan tajam dan mendadak menjadi sendu.
"Ish... sudahlah. Aku pergi." Ucap Reno langsung bergegas pergi. Tak lama setelah Reno berlalu, pintu kembali terbuka dan Aldi masih memejamkan matanya berpikir bahwa itu pasti Noah. Semakin dekat dan Aldi mencium bau aroma parfum yang tak asing. Dan seketika matanya terbuka saat mengingat parfum siapa yang ada di sampingnya sekarang.
"Apa ini? Mengapa dadaku sakit?" Batin Dinda masih menatap Aldi dengan perlahan meraih dadanya.
"Di-Dinda?" Lirih Aldi mendadak gugup.
"A-aku mengganggumu ya?" Dinda tak kalah gugup, namun ia bertanya dengan melempar senyum manisnya, dan secara perlahan Dinda berbalik hendak pergi. Dan secepatnya, Aldi meraih tangan Dinda hingga langkahnya terhenti.
"Jangan pergi." Kata itu terlontar begitu saja dari mulut Aldi. Dinda menyipit dan masih enggan membalikkan tubuhnya.
"Jangan pergi? Semudah itu dia bilang jangan pergi setelah dia menyebut nama mendiang istrinya di depanku? Ish... aku ini kenapa pula? Jika Aldi menyebut nama Syifa pun wajar saja. Apa yang membuatku risih?" Batin Dinda lagi.
"Dinda.." panggil Aldi membuyarkan lamunan Dinda.
"Ma-maaf Al. A-aku datang tiba-tiba." Ucap Dinda kini berbalik dan berhadapan dengan Aldi. Aldi segera menarik Dinda kedalam pelukannya membuat Dinda terkejut dan terheran akan hal itu.
__ADS_1
"Syukurlah kau baik-baik saja. Kemana saja kau? Hilang tiba-tiba dan sekarang datang pun tiba-tiba." 'Deg' jantung Dinda kembali berdebar keras. Bahkan Aldi pun bisa mendengarnya karena terlalu keras. Segera Aldi melepaskan pelukannya karena mungkin Dinda merasa tak nyaman. Saat keduanya berhadapan kembali, Aldi menyernyit saat melihat wajah Dinda bersemu merah.
"Wajahmu merah." Cetus Aldi meraih pipi Dinda. Namun 'plak' Dinda menampar pipi Aldi dengan keras dan masih terlihat kegugupannya saat ini.
"Mengapa kau memelukku tiba-tiba hah? Kau pikir aku wanita macam apa?" Pekik Dinda mengingatkan Aldi pada perangai Avril. Sontak Aldi tertawa mengingat akan hal itu.
"Kenapa kau sama dengannya?" Cetusnya lagi tanpa berpikir terlebih dahulu. Siapa lagi? Apa Syifa? Pikiran Dinda mulai menebak-nebak siapa yang dimaksud Aldi.
"Good morning Al." Sapa seorang wanita dari arah pintu setelah tepat ia membukanya. Dengan serempak, Aldi dan Dinda menoleh pada pemilik suara.
"Eh? Ada tamu ya?" Tanya Emira yang langsung menghampiri Aldi.
"Hai... apa kau pacar Aldi? Atau selingkuhan?" Seketika Dinda menyernyit mendapati pertanyaan konyol dari Emira. Selingkuhan? Apa dia terlihat semurah itu sampai ada yang bertanya dia seorang selingkuhan?
"Bu-bukan.. sa-saya...."
"Ohh... apa teman?" Tanya Emira selanjutnya menyela kegugupan Dinda. Dinda hanya mengangguk pelan dengan langsung menunduk. Ia berpikir mungkin wanita ini benar. Ia dan Aldi hanya sebatas teman.
"Ka-kalau begitu... saya permisi." Ucap Dinda yang langsung pergi tanpa mempedulikan panggilan Aldi.
"Siapa dia?" Tanya Emira ketika pintu belum tertutup sempurna. Namun Dinda segera menutup pintu rapat-rapat karena ia tak mau mendengar jawaban Aldi yang mengatakan bahwa dirinya hanyalah teman dari mulut Aldi langsung.
"Dia..."
"Oh.. lupakan. Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Ucap Emira menyela jawaban Aldi.
"Apa kau kenal Alvian Revano?" Tanya Emira selanjutnya.
"Kenal. Kenapa?"
"Tak apa. hanya bertanya. Dia teman lamaku."
"Ohhhh... dia suami mantanku. Avril"
__ADS_1
"Apa?" Pekik Emira tak percaya.
-bersambung.