
Aldi yang menyadari ketidaknyamanan Dinda berada satu ruangan dengan Avril karena Reifan yang terlihat begitu senang mendengarkan dan bahkan mengajak berbincang bayi di kandungan Avril.
"Avril maaf ya. Aku tinggal dulu. Dinda harus istirahat soalnya." Ucap Aldi perlahan beranjak dan saat itu juga Dinda ikut beranjak dari duduknya.
"Eh.. Bunda sakit?" Tanya Reifan beralih memperhatikan Dinda dan meninggalkan Avril di tempatnya.
Tidak sayang. Bunda baik-baik saja. "Jawab Dinda meraih wajah Reifan seraya tersenyum meyakinkan.
"Bunda bohong. Kalau Bunda sakit, Bunda bilang! Nanti Eifan temani Bunda." Alangkah terkejutnya Dinda mendengar celotehan Reifan yang terasa diluar dugaan. Ia merasa terharu ternyata Reifan begitu memperhatikannya. Anak sekecil ini sudah mengerti apa yang harus ia lakukan jika Bundanya sakit.
"Ya sudah Al. Kalau kalian akan istirahat, aku dan Raven pamit dulu." Ucap Avril menyela perbincangan satu keluarga yang tepat masih berada di depan matanya. Avril beranjak lalu meraih pundak Ravendra yang seolah mengerti maksud dari ucapan Avril.
"Kak Aven. Nanti main lagi ya! Sekarang Eifan mau temani Bunda." Ucap Reifan seakan memberikan salam perpisahan pada Ravendra.
"Iya Eifan. Raven pulang dulu ya!" Melihat anak-anak yang sudah saling melepas, Avril tersenyum tipis lalu menarik tangan Ravendra bersama-sama keluar dari rumah Avril.
"Em.. Avil!" Panggilan Aldi tersebut berhasil membuat Avril terhenti dan menoleh kepada Aldi. "Hati-hati. Kalau ada apa-apa, hubungi aku segera." Lanjut Aldi tanpa ingin mendengar pertanyaan yang akan terlontar dari mulut Avril. Sedangkan Avril sendiri hanya tersenyum menanggapi lalu berlalu kembali menuju pintu utama. Melihat suaminya yang mengkhawatirkan gadis lain, Dinda terdiam membisu dengan tatapan yang sayu.
Ketika Dinda hendak duduk di tepi ranjang, Reifan yang mengekorinya sedari tadi pun mendahuluinya duduk. Ia memeluk Dinda dengan penuh kasih sayang layaknya anak pada ibu kandungnya.
"Sembuh ya Bunda...." ucap Reifan berhasil membuat Dinda tersenyum haru dan membalas pelukan anak tirinya itu.
"Terima kasih sayang. Oh iya. Bunda ada kejutan untuk Rei." Dengan antusias, Dinda melepas pelukannya lalu meraih sebuah gambar yang sama sekali tidak dimengerti oleh Reifan.
"Rei akan punya adik." Jelas Dinda namun tak membuat Reifan mengerti.
"Adik? Tapi Bunda perutnya tidak seperti Mommy." Dan kalimat itu terasa seperti sebuah pernyataan tak terduga bagi Dinda.
"Sayang. Kan adik bayinya masih kecil. Mommy juga begitu kan dulu? Rei ingat tidak? Nanti juga Bunda seperti Mommy." Kali ini Aldi ikut menimpali dan mencoba menjelaskan agar putranya bisa mengerti meski sedikit.
__ADS_1
"Jadi, disini ada adik bayi?" Tanya Reifan menatap perut Dinda lalu menoleh kembali pada Ayahnya yang mengangguk menanggapi pertanyaannya. Entah kenapa, raut wajah Reifan sangat berbeda jika di bandingkan dengan saat ia tahu bahwa Avril tengah mengandung. Bahkan Reifan sendiri yang mengatakan tentang bayi pada perut Avril yang saat itu belum ada yang tahu tentang kehamilan Avril.
"Rei tidak senang?" Tanya Dinda berubah sendu melihat reaksi Reifan yang tak seharunya ia terima.
"Eifan takut Bunda. Nanti adik bayinya pergi. Eifan mau sama adik bayi." Seketika itu juga, Aldi dan Dinda menyernyit tak mengerti. Mereka seakan saling bertanya dengan maksud dari ungkapan Reifan.
"Rei tenang saja. Adik Rei pasti akan temani Rei seperti Rei temani Bunda sekarang." Dengan masih menyimpan beribu pertanyaan, Dinda perlahan kembali memeluk Rei dengan penuh kehangatan dan berharap Rei akan lebih bersemangat.
"Daddy...." rengek Reifan yang tanpa diduga tiba-tiba menangis pelan sehingga keduanya mendadak khawatir takut jika Reifan kesakitan.
"Rei... kau baik-baik saja? Kenapa menangis? Katakan pada Daddy apa yang sakit?" Melihat Reifan yang terisak keras, Aldi tak bisa menahan dirinya untuk tetap diam saja. Ia segera meraih putranya itu dan beranjak, namun Reifan menggeleng dan menyuruhnya untuk kembali duduk dengan masih memangkunya yang menangis.
"Eifan takut Daddy... Adik bayinya nanti pergi dan tak sayang Eifan." Rengeknya sehingga menimbulkan anggapan bahwa Reifan hanya berpikir Dinda akan pulang dengan membawa adiknya.
"Siapa yang akan pergi nak? Bunda dan Daddy akan terus di sini temani Rei. Kalau Bunda dan Daddy pergi, pasti akan membawa Rei juga." Dinda mengelus lembut kepala Reifan berharap anak itu akan tenang.
"Bunda dan adik bayi jangan tinggalkan Eifan ya! Janji?" Dengan polosnya Reifan mengajak Dinda mengikat janji kelingking membuat Dinda dan Aldi tersenyum lalu tertawa bersamaan.
"Kenapa? Aku perhatikan akhir-akhir ini kau sering melamun."
Dengan menoleh sesaat, Avril menghela nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Aku merindukan Rei." Jawab Avril membuat Alvi yang menghela nafas.
"Kenapa tidak di temui? Kau tahu kan Raven juga ingin bermain dengan Rei? Ada masalah dengan Aldi? Atau dengan Dinda? Aku ingat-ingat, sejak kau pulang dari rumah Aldi waktu itu, sikapmu berubah. Kau jadi pendiam dan tidak bersemangat. Bahkan kau sering melamun." Mendengar tebakan Alvi tentang pikirannya, Avril menggeleng menanggapi tanda ia mengelak atas dugaan Alvi terhadapnya.
"Aku tak ada masalah dengan siapapun Al. Hanya saja, aku merasa kehadiranku dalam keluarga Aldi malah akan membawa masalah. Aku takut Dinda salah faham padaku yang terus bertemu dengan Aldi dan Rei."
"Kenapa kau berpikir begitu? Wajar saja jika kau bertemu dengan Rei, karena kau yang merawatnya dari bayi."
__ADS_1
"Aku juga sempat berpikir begitu, tapi kan Dinda berbeda Al. Dia sekarang Ibu tiri Rei yang sah. Ibu asuh yang sah. Sedangkan aku? Aku tak ada wewenang atas Rei sedikitpun."
"Lalu, kau mau apa? Kau mau menghindar terus? Sampai kapan? Bukankah Rei sangat menantikan kelahiran anak kita?"
"Tetap saja Al..."
"Sudah ya! Jangan terus memikirkan hal yang tidak perlu. Sekarang, bagaimana kalau kita beli keperluan Zeeya yang belum lengkap." Alvi yang memang berniat ingin menenangkan istrinya, ia merasa memiliki kesempatan dengan mengajak Avril untuk berpergian.
"Tolong!" Rengek Avril meminta bantuan agar ia bisa berdiri tanpa mengkhawatirkan perut besarnya. Dan karena merasa hal itu sangat lucu, Alvi pun tertawa meski tangannya membantu Avril berdiri.
"Ihh tidak lucu. Aku memang kesulitan." Rengek Avril lagi.
"Hahaha kau jadi gendut sayangku." Begitu jelas Alvi habis-habisan mengejek Avril dengan puas.
"Nyinyinyinyi. Ini karena ulahmu juga."
"Ehhh malah menyalahkan aku? Kau juga suka kan?"
"Siapa?"
"Kau lah... kau yang selalu memancingku."
"Kau yang salah kenapa aku yang disalahkan?"
"Heumm bersikap seolah-olah kau yang disalahkan."
"Memang kenyataannya begitu."
"Sudah ah. Nantinya jadi masalah yang panjang. Sekarang, sebaiknya bumil pakai sweater hangatnya. Terus pakai sepatunya! Sini, Ayah pasangkan talinya!" Mendengar candaan Alvi tersebut, Avril tak bisa menahan senyumnya yang kian mengembang. Bisa-bisanya Alvi merubah situasi tegang menjadi sangat menyenangkan.
__ADS_1
"Terima kasih ya Ayah!" Kini giliran Avril yang bercanda dengan terselip sebuah tawa sehingga keduanya tertawa bersama. Sebelum pergi, Alvi mengecup kening dan pipi Avril, lalu punggung tangan dan telapaknya. Hal itu terasa menjadi sebuah rutinitas baginya sebelum pergi.
Bersambung