RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
68


__ADS_3

. Bagas terdiam dan ia mendadak gugup setelah ia dan Maira berjabat tangan. Dan anehnya, Maira tidak di kenalkan pada yang lain oleh Dinda.


Bahkan Dinda sengaja menyuruh Maira untuk berbincang dengan Bagas. Maira sendiri pun merasa bingung, mengapa dirinya di suruh mengobrol dengan pria asing.


"Emm anu... apa kau teman Dinda?" Tanya Maira memulai pembicaraan.


"Tepatnya teman Aldi." Jawab Bagas melawan rasa gugupnya. Baru pertama kali ia berbincang dengan perempuan asing. Keduanya kembali menjadi canggung dan saling mencuri pandang.


"Kaku sekali." Ucap Avril dari balik jendela. Ia mengintip bagaimana Bagas menghadapi Maira. Bukan hanya Avril, ternyata Dinda dan Reno pun ikut mengintip.


"Maira juga tidak biasanya pendiam begitu." Dinda ikut kesal pada Maira.


"Hei Din. Apa kau sudah berencana mengenalkan Bagas dan temanmu?" Tanya Avril beralih menoleh pada Dinda di atas kepalanya.


"Ya begitulah." Jawab Dinda dengan santai.


"Papa... ayo main...." ajak Reifan yang berlari menghampiri Bagas. Avril cs menepuk dahinya karena Reifan yang merusak suasana. Mereka serentak melirik pada Alvi yang ternyata tengah menelepon.


"Papa?" Tanya Maira memiringkan kepalanya menatap Bagas.


"Ahh iya. Rei selalu memanggilku papa." Jawab Bagas kemudian menggendong Reifan dan di tanggapi anggukan oleh Maira.

__ADS_1


"Apa yang Dinda rencanakan?" Batin Maira mendadak hatinya menjadi gelisah. Ia ada feeling jika Dinda hendak mendekatkannya dengan Bagas. Bagas melempar senyum lalu beranjak lebih dulu membuat Maira menyernyit dan berpikir bahwa Bagas tidak sopan. Tapi, ia pun merasa penasaran karena Dinda tak akan memperkenalkan seseorang jika orang itu tidak baik.


"Papa?" Tanya Reifan yang merasakan Bagas gemetaran dan wajah yang memucat.


"Ah sial. Aku tak bisa berlama-lama dekat dengan wanita kalau bukan karena pekerjaan. Aku juga tak tahu cara berinteraksi dengan baik pada dia. Apa dia marah? Atau akan membenciku? Ahhh benar-benar sial." Batin Bagas sembari terus melangkah memasuki rumah. Namun ia terkejut saat mendapati teman-temannya masih mengobrol di ruang tamu, dan yang lebih heran, obrolan mereka seakan tak sejalan. Yang satu bicara apa, dan yang satunya lagi apa. Terlihat seperti orang yang kepergok selingkuh oleh pasangannya.


. Malamnya, setelah semua keluarga dan kerabat dekat sudah berkumpul, Dinda turun dari lantai atas bersama Yasmin dan Maira. Avril tersenyum penuh haru melihat Dinda yang ia rasa seperti Syifa. Avril menoleh pada Linda, dan ternyata Linda pun berpikiran hal yang sama. Sehingga Linda mengangguk pada Avril yang menoleh ke arahnya. Secara refleks, Aldi beranjak dari duduknya dan ia menghampiri Dinda di ujung tangga, bayangan Syifa terasa begitu jelas memenuhi pikirannya saat menatap kedua mata Dinda. Saat keduanya sudah berada di tengah ruangan yang sudah berhiaskan beberapa dekorasi sederhana namun terlihat begitu mewah. Dari tempatnya, Avril terhenyak menatap Dinda dan Aldi yang masih berpegangan tangan, ia samar merasa ada kehadiran Syifa yang terasa tiba-tiba. Entah apa, namun rasanya ia berada satu ruangan dengan temannya yang sudah meninggal 3 tahun yang lalu itu. Terasa di benak Avril kini Syifa tengah menggunakan gaun yang hampir sama dengan Dinda. Dan dalam sekejap ia menepis pikiran itu karena menurutnya hanya halusinasi. Namun meski tak terlihat, Avril masih merasakan Syifa melewati Aldi dan beralih terhenti di belakang Dinda dengan tersenyum meski hanya sesaat. Air mata Aldi berderai tanpa sadar, ia pun merasakan hal yang sama. Senyuman itu terlintas jelas di benaknya.


Setelah pertukaran cincin, Dinda yang penasaran mengapa Aldi menangis pun kemudian mengajak Aldi berbincang hanya berdua dan bertanya langsung mengapa Aldi sampai menitikkan air mata di acara yang menurutnya membahagiakan. Namun, kali ini di malah tersenyum menanggapi pertanyaan Dinda yang mungkin menimbulkan beberapa anggapan.


"Apa bahagia tak boleh menangis? Bukankah saat perasaan yang teramat bahagia, justru akan di wakilkan dengan tangisan?"


"Tapi air matamu keluar dari kiri Al. Itu artinya air mata kesedihan." Dinda membalas cepat dengan lantang. Semula Aldi terdiam, lalu ia tertawa dan menepuk pipi Dinda dengan gemas.


"Matamu Al. Seakan mengatakan apa yang tak bisa kau jelaskan dengan kata-kata. Kau menyembunyikan sesuatu dariku kan? Al. Sekarang kita sudah bertunangan. Apa salahnya kau jujur padaku. Jika kau tak bisa jujur dari sekarang, bagaimana nanti setelah menikah?" Mendengar hal iru, Aldi kembali diam dan memalingkan wajahnya dari Dinda.


"Kau berpaling Al. Katakan sekarang padaku!" Pinta Dinda dengan tegas.


"Baiklah. Aku akan jujur. Aku merasa Syifa ada saat kita berpegangan tangan sampai bertukar cincin. Itulah yang membuatku menangis, dia tersenyum bahagia melihatmu. Dia juga sangat bahagia melihat Reifan yang bahagia malam ini. Hanya itu. Tak ada yang aku sembunyikan lagi. Apa masih ada yang kau curigai?" Kini giliran Dinda yang terdiam dan memalingkan wajahnya.


"Bahkan setelah meninggal pun, kau masih hidup di hatinya. Syifa, aku iri padamu." Batin Dinda menjadi begitu sendu.

__ADS_1


"Nah.... sekarang kita berfoto." Ucap Avril berhasil memecah kecanggungan dari keduanya.


"Ambil posisi!" Bagas ikut menimpali lalu sama-sama sibuk mencari posisi yang memungkinkan. Tanpa sengaja, ia kembali berdekatan dengan Maira, sehingga membuatnya gugup dan wajahnya merona. Ketika mereka melihat hasil pemotretannya, mereka tertawa melihat salah satunya selalu ada yang salah gaya di setiap foto yang berbeda.


Dinda akhirnya mengerti, selain Syifa yang begitu spesial di mata Aldi, namun sikap teman-temannya pun membuatnya merasa hangat.


"Jadi, kapan kalian menikah?" Tanya Avril beralih menatap kedua temannya.


"Yaa tergantung keputusan ayah saja." Jawab Dinda dengan gugup dan tertawa kecil.


"Hemmm kau sangat bahagia Dinda..." ejek Avril membuat Dinda semakin gugup.


"Hei Avil. Jangan mengejek Dinda. Kau juga sama!" Ucap Reno menegur Avril yang terlihat jail.


"Ehhh maaf tuan Reno. Tidak ada yang datang saat saya bertunangan." Balas Avril dengan puas. Memang benar, Alvi melamarnya hanya sendiri bermodalkan tekad di tengah perang hati yang Avril rasakan akibat Aldi yang bertunangan dengan Syifa.


"Oh iya aku lupa." Cetus Reno beralih menghampiri Dewi yang tengah bersama Reifan. Dinda masih berpikir keras maksud dari ucapan Avril.


"Avril. Maksusmu tidak ada yang datang?"


"Alvi datang ke rumahku sendirian. Alvi bilang, ia tak tahu bagaimana cara melamar karena tak ada wali, mertuaku sudah lama meninggal, jadi dia memintaku langsung pada ayah." Sontak Dinda langsung menoleh pada Alvi yang kini menyusul Reno dan bermain dengan Reifan.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2