
Sisi lain Alvi bahagia sang buah hatinya sudah lahir ke dunia, namun disisi lain, ia merasa khawatir pada kondisi Avril yang mendadak kritis setelah melahirkan. Setelah lama menunggu di luar pintu ruangan, akhirnya Noah dan seorang perawat keluar dengan nafas yang kasar. Setelah mendapat kode dari Noah, perawat tersebut langsung berlalu dari tempatnya.
"Huhft. Al. Kompensasi apa yang akan kau berikan padaku?"
"Apa maksudmu?" Jelas saja Alvi tak paham dengan maksud ucapan Noah, sebab ia ingin mendengar kondisi istrinya saat ini.
"Ada beberapa masalah pada kondisi Avril sampai dia menjadi kritis. Tapi, untungnya sekarang dia sudah membaik, tapi aku tak tahu kapan dia akan sadar."
"Apa karena melahirkan sebelum waktunya?"
"Tidak. Menurutku, Avril terlalu memaksakan dan kehabisan tenaga. Wanita melahirkan butuh tenaga ekstra, sebab ia berjuang antara hidup dan mati. Syaraf terputus sudah menjadi resikonya. Melahirkan itu taruhannya nyawa Al. Apa lagi Avril yang sejak awal kondisi tubuhnya sangat lemah."
"Aku tak mau tahu. Avril harus selamat! Lakukan apa saja Noah." Tanpa memikirkan sekitar, Alvi sadar tak sadar meraih kerah baju Noah dengan sirat amarah yang terlihat di wajahnya.
"Alvi! Apa yang kau lakukan?" Tegur Galih buru-buru melepaskan tangan adik iparnya dari Noah. Ia tak ingin Alvi menjadi tontonan semua orang yang melihatnya di sana.
"Dokter! Pasien sadar, dan beliau bilang ingin bertemu dengan suaminya." Ucap seorang perawat dari dalam ruangan. Mendengar hal tersebut, Alvi segera memasuki ruangan dan meraih Avril yang tengah mencoba memaksakan matanya terbuka.
"Al... Zeeya..." lirihnya menggenggam erat tangan Alvi.
"Zeeya baik-baik saja. Kau juga harus baik-baik saja sayang."
"Aku baik-baik saja."
"Avril.. kau harus istirahat. Pulihkan kondisimu dulu. Aku tak akan membiarkanmu menemui putrimu kalau tidak pulih." Ucap Noah menimpali dari belakang Alvi.
__ADS_1
"Al. Maaf ya. Kau keluar dulu! Aku akan memeriksa Avril." Pinta Noah kemudian.
"Noah. Ingat ucapanku tadi!" Dengan tegas dan penuh penekanan, Alvi beranjak dan merubah raut wajahnya yang semula lembut menjadi begitu datar.
"Berdoa saja. Aku juga sudah pernah bilang, nyawa itu bukan di tanganku. Aku hanya berusaha agar pasienku selamat dan kembali sehat." Mendengar jawaban Noah, Alvi mendelik lalu berbalik dan kembali keluar dari ruangan. Di sana sudah ada Aldi yang duduk di samping Galih. Sementara itu, Nadia menemui suster dan mengurus beberapa data mengenai Putri pertama dari Alvi.
"Kau sangat cantik Zeeya." Lirih Nadia saat ia menatap Zeeya yang tengah tertidur lelap dari balik kaca di luar ruangan. Ia belum bisa menemui Zeeya secara langsung dan Zeeya belum di perbolehkan bertemu dengan Avril.
Aldi beranjak dari duduknya lalu menerawang jauh ke dalam ruangan seakan ia tengah merenung setelah mengetahui kondisi Avril yang hampir seperti Syifa. Ia ingat, beberapa jam setelah Syifa melahirkan dan memberi ASI pertamanya pada Reifan sampai kenyang, Syifa meminta Aldi untuk menemaninya di ruangannya dan berbincang hal yang seharusnya tidak dibicarakan. Dimana Syifa meminta agar Aldi akan menjalani hidup dengan penuh rintangan sebagai ayah tunggal setelah kepergiannya, dan hal itu membuat Aldi terus dihantui rasa takut pada kehilangan orang terdekatnya.
Malam semakin larut, bahkan sudah memasuki waktu dini hari, Alvi masih terjaga dan tak ingin memejamkan matanya sebelum ia mendengar bahwa istri dan anaknya sudah bisa di pertemukan. Noah berpesan agar Avril harus segera tidur untuk memulihkan tenaganya dan meningkatkan kesehatannya.
"Al... waktunya kau tidur. Sekarang giliran aku yang berjaga." Ucap Galih yang baru kembali dari toilet untuk membasuh wajahnya.
"Tidak. Aldi saja yang tidur. Dia sudah menemaniku berjaga." Balas Alvi yang menoleh kepada Galih lalu pada Aldi.
"Kalau tidak mau ya sudah! Aku mau melihat keponakanku dulu." Melihat Galih yang berlalu dari tempatnya, Aldi dan Alvi saling berpandangan lalu mengikuti Galih menuju tempat bayi. Terlihat beberapa penjaga suruhan Galih masih berada di tempatnya dan tak sedikitpun memalingkan perhatian mereka dari bayi kecil yang berada di dekat jendela yang tengah tertidur dan sesekali menggeliat.
"Dia benar-benar putriku?" Lirih Alvi yang entah kepada siapa ia bertanya.
"Aku juga tak percaya dia anakmu. Haih keponakanku punya darah Revano." Balas Galih merasa ingin puas mengejek adik iparnya itu.
"Aku harap dia tidak seperti Om nya." Dan Alvi pun tak ingin kalah.
"Syifa. Apa kau setuju kalau kita jodohkan Rei dengan Putri mereka? Kau melihatnya kan? Dia cantik, dan sangat cocok dengan Rei." Batin Aldi tanpa sadar ia tersenyum menatap pada Zeeya.
__ADS_1
"Kau sedang merencanakan apa pada Putriku hah?" Geram Alvi membuyarkan lamunan Aldi seketika.
"Tidak. Aku hanya mengagumi calon menantuku saja."
"Apa? Calon menantu? Hahah maaf Aldi. Aku tak mau menjadi besanmu."
"Kalau ingat itu, aku juga tidak mau."
"Terus?"
"Tidak terus-terus."
Melihat perdebatan kedua orang yang berada di depannya, Galih meraih masing-masing dari pundak mereka dengan tekanan aura yang mengerikan. Galih segera membawa kedua orang itu pergi dari sana agar tak mengganggu tidur Zeeya.
Pagi menyingsing dan menyisihkan malam, Avril tersenyum penuh kebahagiaan saat ia mendengar kabar bahwa Zeeya akan segera dibawa ke kamarnya. Dengan Alvi yang menemaninya, Avril tak henti-henti menitikkan air mata haru sebab ia bisa memberikan apa yang diinginkan suaminya.
Pintu terbuka, dan memperlihatkan seorang suster beserta pengawal Galih mengantarkan Zeeya kepada Avril yang sudah tak sabar untuk segera menggendongnya.
"Hati-hati sayang infusanmu." Ucap Alvi seraya membetulkan posisi agar Avril merasa nyaman. Saat berada di pelukan Avril, Zeeya terdengar merengek lalu menangis dengan keras memekik telinga.
"Uhhh sayang. Sudah lapar ya?" Candanya segera memberikan Zeeya ASI dan berhasil membuatnya berhenti. Alvi secepatnya menutupi Avril dengan pakaian khusus untuk menyembunyikan Zeeya yang tengah menyusu pada Ibunya. Alvi tak henti-hentinya membelai rambut Avril dan sesekali mengecup bagian wajahnya. Wajar saja, di ruangan itu kini hanya tinggal mereka berdua dan Zeeya saja. Namun itu tak berlangsung lama. Terlihat Nadia dan Dewi datang membawa beberapa keperluan Avril dan Zeeya selama di rumah sakit.
"Bagaimana kondisimu nak?" Tanya Dewi seraya meraih kepala Avril.
"Masih lemas Ma. Tapi sudah lebih baik." Dewi akhirnya bisa menghela nafas lega setelah mendengar jawaban Avril yang memang ingin ia dengar seperti ini.
__ADS_1
"Kalau masih lemas, jangan memaksakan." Nadia ikut memberi sarah dan nasehat. Benar-benar mengharukan. Adik kecil yang kemarin manja padanya, sekarang sudah menjadi seorang Ibu.
Bersambung