
. Hadi masih tak mengerti dengan apa yang di maksud Aldi. Begitupun dengan Aldi yang tak paham maksud Hadi bahwa dirinya baik-baik saja. Dan Hadi baru tersadar kembali dengan anggapan Dinda bahwa Aldi sudah meninggal. Hadi meminta Aldi untuk menyambungkan panggilannya melalui telepon seluler saja, agar ia bisa membawanya langsung pada Dinda. Ketika Hadi sudah berada di kamar Dinda, terlihat putrinya itu masih melamun dengan menatap kosong ke luar jendela.
"Dinda... apa kau membatalkan pertunanganmu dengan Aldi?" Tanya Hadi secara langsung tanpa basa-basi. Namun, Dinda malah kembali menangis dan tidak menjawab pertanyaan ayahnya.
"Kenapa? Kau membatalkan pertunanganmu sendiri, lalu kau menangis saat kau anggap Aldi sudah meninggal. Ayah tanya padamu! Kenapa kau beranggapan Aldi sudah meninggal?"
"Sudah jelas cincinku ada di dekat korban yang meninggal." Jawab Dinda dengan setengah berteriak sehingga terdengar suaranya yang memekik.
"Kau dengar Al? Putriku membatalkan pertunangannya denganmu, tapi dia menangisi kematianmu." Tutur Hadi menatap dalam pada Dinda yang tak mendengar apa yang baru saja ia katakan.
"Om. Aku masih hidup Om." Protes Aldi terdengar menghela nafas gusar di seberang.
"Kau bicara saja dengan putriku langsung." Hadi segera memberikan ponselnya pada Dinda yang masih terisak dengan keras. Hal itu membuat Aldi menahan senyum mendengar isak tangis Dinda karena dirinya.
"Apa? Siapa?" Melihat putrinya yang tak karuan, Hadi susah payah menahan tawa.
"Hallo..." sapanya mencoba mengatur nada suaranya yang sudah terdengar serak.
"Apa kau sebenci itu padaku sampai kau menganggapku sudah mati?" Teriak Aldi dari seberang, dan suaranya mampu menghentikan tangis Dinda seketika.
"Eh? Ayah? Kenapa ada suara Aldi?" Tanya Dinda dengan polos menatap ayahnya yang membalas tatapannya dengan datar.
__ADS_1
"Aku memang Aldi. Lagi pula siapa yang mati hah?" Dinda semakin mematung mendengar suara Aldi yang menggelegar.
"Kau masih hidup? Terus... ini cincinnya?"
"Aku tak sengaja menjatuhkannya. Ku kira masih di hotel, ternyata kau yang menemukannya. Kau memutuskan hubungan denganku seperti tanpa memikirkan perasaanku yang hancur, lalu kenapa kau menangis dan bicara aku sudah mati?"
"Cincinnya ada di dekat korban kecelakaan yang mati. Aku kira itu kau yang terlalu setia dan menjaga cincinku sampai kau mati."
"Jangan berlebihan Dinda. Itu bukan cincin mu lagi. Kau sudah mengembalikannya padaku." Mendengar penuturan Aldi tersebut, Dinda merasa hatinya lebih teriris dari pada saat menganggap Aldi sudah mati.
"Aldi maaf...." rengeknya terus menerus menangis pilu.
"Apa pecahan perasaanku yang sudah hancur bisa kau kembalikan hanya dengan kata maaf?" Lagi, Dinda dibuat sesak oleh setiap kata yang terlontar dari Aldi. Meski demikian, ia mengakui bahwa memang Aldi pantas mengatakan hal itu padanya. Ia terlalu jahat telah mematahkan harapan Aldi yang jelas hanya berharap kepadanya saja.
"Kau serius masih hidup?" Aldi sudah tak tahu lagi harus menanggapi apa, dan ia mulai penasaran mengapa Dinda menyangka dirinya sudah mati.
"Kau pikir yang sedang bicara denganmu ini siapa?" Sontak Dinda yang masih menangis pun merasa ingin tertawa pada apa yang di tanyakan oleh Aldi. Benar, jika Aldi sudah meninggal, tak mungkin ia akan berbicara dengan Dinda sekarang.
"Dinda. Jawab dengan jujur! Apa kau benar-benar ingin berpisah denganku?"
"Aku tak tahu Al. Aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Aku merasa tak yakin dengan hubungan kita, tapi aku merasa tak rela jika kau pergi."
__ADS_1
"Itu egois Dinda. Jika kau tak bisa mencintaiku, jangan terus menggenggam ku dan memberi harapan yang akhirnya akan kau hancurkan juga. Aku sangat mencintaimu, dan Rei pun menyayangimu, bahkan teman-teman dan keluargaku sangat mengharapkan mu, dan aku tak ingin jika nantinya aku akan kecewa lagi seperti kemarin. Dinda... jika kau sudah tak mencintaiku, lepaskan aku sepenuhnya. Jangan terus menarik bayanganku sehingga aku tak bisa pergi kemana-mana setelah berpisah denganmu." Dinda mulai terdiam mendengar ungkapan Aldi tersebut. Aldi benar, ia tak seharusnya menggantungkan hubungannya dengan Aldi tanpa alasan yang jelas. Jika hanya beralasan sudah tak ada rasa, itu sama saja dengan percintaan anak remaja jaman sekarang. Dan dari usia pun mereka jelas sudah tua, dan tak ada waktu jika hanya untuk bermain-main dengan perasaan.
"Al... jika aku memintamu untuk tidak pergi, apa kau akan tetap pergi?"
"Dan jika kau benar-benar menerima diriku sepenuhnya, maka aku akan kembali."
"Kalau begitu, tolong kembali. Nyatanya aku sangat takut kehilanganmu." Mendengar permintaan Dinda, Aldi hanya bisa menghela nafas dalam sesaat dan ia tersenyum dengan hati yang terasa lega setelah beberapa waktu terasa sesak.
"Dengan bukti cincin itu di temukan olehmu, sudah jelas bahwa hanya kau yang boleh memakainya. Jadi, pakai kembali cincin pertunangan kita, lalu aku akan segera menemui mu." Kini, tangis pilu Dinda berubah menjadi tangis haru. Apa lagi saat ia memakai kembali cincin pertunangannya dengan Aldi. Hadi yang tak ingin ikut campur pun memilih berlalu dari kamar Dinda. Akhirnya, kedua anak manusia itu bisa kembali akur tanpa adanya hal yang harus di khawatirkan.
. Setelahnya, Aldi berniat untuk mencari tahu apa yang terjadi di kota S, dan apa alasan Dinda menganggapnya sudah mati,. Berkat bantuan Alvi, akhirnya Aldi tahu dan mulai mengerti akan apa yang terjadi sebenarnya. Setelah rumor bahwa Aldi masih hidup, di sebuah ruangan, terdengar suara kaca yang pecah tepat di dinding ruangan tersebut. Aulian menatap tajam pada Ken yang menunduk mendapati kemarahan Aulian yang sudah meluap.
"Kau bilang kau sudah membunuhnya. Tapi kenapa dia masih muncul di acara-acara yang disiarkan secara langsung? Jelaskan padaku Ken!" Tegas Aulian setelah ia puas melempar semua barang-barangnya yang terbuat dari kaca hingga berserakan.
"Maaf tuan. Ini kekeliruan saya. Saya pikir taksi yang di naiki Aldian itu tidak berbelok saat di persimpangan."
"Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar Ken." Aulian menggeram dan sudah tak tahu harus meluapkannya bagaimana lagi. Ken semakin menunduk tak berani berucap atau menggerakkan tubuhnya sekalipun.
"Lupakan tentang Aldian. Sekarang, mana berkas-berkas kepemilikan hotel ini?" Dengan sigap dan gerakan cepat, Ken mengambil sebuah map yang ada di laci nakas yang berada tak jauh dari meja kerja Aulian. Perlahan Aulian membaca dengan seksama isi berkas tersebut, lalu senyumannya tersimpul dengan penuh kemenangan.
"Sangat mudah mencari rekan bisnis jika di dalam surat perjanjiannya tertera nama ayah."
__ADS_1
-bersambung