RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
29


__ADS_3

. Pintu terbuka, terlihat Dinda memasuki ruangan dengan senyum yang mengembang. Aldi dan Noah terdiam bersamaan ketika Dinda berjalan menghampiri keduanya.


"Masih diperiksa?" Tanya Dinda berdiri di samping Noah.


"Sudah selesai." Jawab Noah membereskan alat medisnya dan melempar senyum ramah sebelum ia berlalu dari hadapan Dinda.


"Kau kemari lagi?" Tanya Aldi yang beranjak untuk duduk.


"Memangnya tidak boleh?"


"Bukan begitu. Kau kan sedang sibuk. Aku dengar dari kemarin tokomu sedang ramai pembeli ya?" Sontak Dinda tersenyum mendengar penuturan Aldi. Ia mengangguk pelan sambil meraih tangan Aldi dengan antusias.


"Kau tahu? Aku sangat senang. Tidak sia-sia aku membuka toko disini." Ucapnya dengan berbinar. Aldi tak kalah antusias mendengarkan setiap cerita Dinda.


"Setiap usaha, pasti ada hasilnya. Setiap niat baik, pasti ada jalannya. Dan ini mungkin jalan dan hasil dari niat baikmu." Ucap Aldi sembari menepuk pelan pipi Dinda yang berhasil membuatnya tersipu.


"Tapi, beberapa hari ini, aku belum bertemu temanku." Tatapan Dinda meredup, terlihat sendu dan kesepian.


"Siapa?" Tanya Aldi penasaran.


"Kau juga mengenalnya. Dia Av--"


"Kak Aldi......" panggil seseorang dari arah pintu. Terlihat ia berlari kecil menghampiri Aldi dan dengan manja meraih bahu Aldi.


"Tasya?"


"Kak Aldi kecelakaan tapi tidak memberitahuku." Rengeknya membuat Dinda perlahan melepaskan genggamannya.


"Maaf Tasya... tapi aku juga baru bangun belum lama ini." Jawab Aldi dengan nada yang sangat sopan.


"Ihhh tapi tetap saja kan aku ini calon istri kakak." 'Deg' Dinda terdiam mendengar penuturan Tasya yang begitu mengejutkannya.


"Siapa yang bilang Tasya?" Aldi mendadak panik, apa lagi melihat ekspresi Dinda yang membuatnya lebih gelisah.


"Bukankah kita di jodohkan, mama Dewi sudah merestui kita." Jawabnya dengan percaya diri. Aldi menepuk dahinya dan ia mulai kesal dengan situasi canggung ini.

__ADS_1


"Tasya... kesepakatan itu belum disetujui. Dan aku sudah bilang pada mama untuk tidak melanjutkan perjodohan kita." Jelas Aldi membuat Tasya terkejut. Hatinya benar-benar teriris mendengar kalimat yang membuat dadanya sesak.


"Apa? Kakak membatalkannya? Kenapa? Apa karena wanita ini?" Tasya menunjuk Dinda dengan amarah yang meluap.


"Tasya.... dengar!"


"Ihhh kakak jahat." Tasya berlalu dengan tangis yang pecah meninggalkan ruangan Aldi.


"Mengapa tak bilang?" Tanya Dinda masih menatap lekat pada pintu yang baru saja tertutup.


"Kau cemburu?"


"Al... aku tidak bercanda."


"Kenapa kau marah?"


"Aku tidak marah."


"Lalu?"


"Tak ada."


"Ish Al." Mata Dinda membulat ketika ia menoleh dan mendapati wajah Aldi kini begitu dekat dengannya.


"Kau terlalu dekat Al." Lirih Dinda memalingkan wajahnya yang tersipu.


"Aku sudah punya calon istri sekaligus ibu untuk putraku. Jadi, jangan berpikir aku akan menerima wanita lain dihidupku. Ingat itu!" Tegas Aldi menundukkan pandangan Dinda.


. Di perusahaan D, Alvi tengah sibuk menata kembali pekerjaan yang sempat ia tunda dengan sengaja. Di jam makan siang, ia merasa begitu kelelahan. Matanya terpejam sesaat, dan ia langsung teringat pada ucapan Galih kemarin.


"Kau begitu menyayanginya, mengejarnya mati-matian, dan sekuat tenaga berusaha untuk membuatnya luluh dan menjadi milikmu. Tapi, dengan alasan begini, kau malah mengabaikannya? Jika saja aku tak mengerti perasaanmu, aku sudah membawa adikku pulang sekarang. Saat aku tahu alasan Avril bersikap demikian, aku juga tak bisa menyalahkannya. Sekarang, aku hanya ingin kau temui adikku dan bicara baik-baik. Karena jika sampai ayah tahu, aku tak menjamin ayah akan membiarkan Avril tinggal di rumahmu lagi." Nasehat itu terus menerus berputar di kepala Alvi. Benar, semua yang dikatakan Galih memanglah benar.


"Ray... siapkan mobil." Ucapnya memejamkan mata.


"Tapi tuan. Setelah makan siang, anda harus--"

__ADS_1


"Aku mau pulang Ray." Kalimat itu berhasil membuat Ray diam, dan ia sedikit menyunggingkan senyum tipis sebelum akhirnya menyetujui permintaan Alvi. Ray segera menyiapkan mobil dan mengantarkan Alvi menuju rumah.


Hingga ketika sampai, Alvi segera berlari dan mengabaikan seluruh ART nya yang menyambut dirinya di sepanjang langkahnya. Avril membuka pintu kamar dengan keras membuat Avril terlonjak karena terkejut. Alvi kembali berjalan cepat menuju Avril yang tengah terbaring di tempat tidur. Matanya sembab, mungkin karena terus menangis akibat ulahnya. Dan Avril tertidur pun mungkin untuk menenangkan dirinya. Saking sedihnya, bahkan Avril kini tidur dengan Reifan. Siang atau pun malam.


Avril berpaling dari tatapan Alvi dan ia segera memeluk Reifan yang tengah tertidur pulas. Air matanya mengalir kembali membasahi bantal di bawahnya.


"Sayang maafkan aku." Lirih Alvi mengusap kepala Avril dengan lembut. Namun, Avril enggan berbalik dan memilih terus membelakangi Alvi.


"Maaf sudah membuatmu tersinggung. Harusnya aku tidak berkata begitu. Sekarang, apapun keputusanmu akan aku terima. Asal kau baik-baik saja." Mendengar itu, Avril memejamkan matanya berharap kantuknya kembali membawanya ke alam mimpi. Karena ia begitu takut jika hal yang baru saja ia dengar itu hanya sebatas mimpi.


"Sayang...." Alvi kembali memanggil Avril dengan sangat lembut, kemudian ia mengecup kepala dan pelipis Avril dengan hangat. Alvi mengusap dahi Avril yang masih terasa hangat.


"Apa kau sakit?" Namun Avril tak menjawab. Ia lebih memilih diam. Egonya terlalu tinggi hanya untuk menjawab pertanyaan suaminya. Alvi melepas jas dan kemejanya, ia kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual. Tak lupa, Alvi menutup pintu rapat-rapat sebelum ia kembali ke tempat tidur.


"Jika sakit, jangan memeluk Rei. Nanti Rei tertular. Sini.... aku saja yang peluk." Ucap Alvi sembari memutarkan tubuh Avril agar menghadap ke arahnya. Dan kini terlihat air mata Avril masih menggenang dan kemudian terjatuh dengan deras meskipun matanya masih tertutup. Alvi menatap nanar wajah Avril dan ia langsung ikut berbaring lalu memeluk Avril dengan penuh kasih sayang.


"Maaf..." lirihnya lagi. Dan kali ini, Avril membalas pelukan Alvi lebih erat. Alvi terus memberikan kecupan hangat di dahi dan kepala Avril untuk menenangkan.


"Jika aku salah, dengarkan! Jangan malah pergi." Rengeknya menahan suaranya agar tak membuat Reifan terbangun. Terdengar tangisnya tersenggal membuat Alvi semakin merasa bersalah.


"Sudah... maaf. Aku salah."


"Jangan pergi lagi."


"Iya tak akan. Sudah... jangan menangis. Nanti cantiknya hilang." Avril semakin membenamkan wajahnya di dada Alvi. Ia perlahan kembali terlelap dan Alvi pun enggan melepas pelukannya dari sang istri.


. Setelah kembali dari rumah sakit, Dinda langsung menghadapi ramainya pembeli yang hampir memenuhi toko. Kebanyakan dari mereka bilang bahwa toko ini di rekomendasikan oleh Avril. Dan benar, ternyata tidak sedikit orang yang menyukai rangkaian bunga Dinda. Dinda sejenak berpikir, mengapa bisa usaha yang ia rintis hanya untuk sekedar pelarian saja bisa seramai ini. Rasanya sudah tak ingin lagi kembali ke rumah. Selain untuk melupakan Emilio, ia juga sudah merasa nyaman di kota ini.


Ditengah kesibukan Dinda melayani setiap pelanggan, dering ponselnya berhasil menarik perhatiannya. Segera Dinda meraih dan melihat siapa penelepon dan ia menyernyit mendapati nomor tak dikenal tertera dilayar ponselnya.


"Hal--"


"Pulang, atau adikmu tak akan selamat." Dinda terbelalak dan nafasnya mendadak sesak mendapati kalimat yang tak bisa ia cerna.


"Apa maksudmu? Siapa kau?" Dinda semakin panik dan tanpa sadar mengabaikan pembeli.

__ADS_1


"Aku? Siapa ya? Apa Aldian selamat? Atau mati?" Pertanyaan beruntun itu cukup membuat Dinda menebak bahwa orang di seberang adalah pelakunya.


-bersambung


__ADS_2