RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
84


__ADS_3

. Malam sudah larut, namun Alvi belum terlelap sebelum ia mendapatkan kabar Aldi bagaimanapun keadaannya. Diluar terdengar suara hujan yang kian deras, Alvi menoleh sesaat ke luar jendela dan menatap lekat setiap tetesan air hujan.


"Aku harap, hujan ini tidak membawa kabar buruk untuk keluargaku." Batinnya kemudian menoleh pada Avril yang mulai terlelap. Tak lama, Alvi mendengar salah satu pelayannya datang memanggilnya.


"Maaf tuan. Ada tamu untuk anda." Alvi beranjak lalu menemui siapa tamu yang di maksud. Perlahan ia berjalan ke arah ruang tamu, dan akhirnya ia bisa menghela nafas lega setelah melihat tamu tersebut.


"Al... kau punya charger? Kebetulan rumahmu lebih dekat dari bandaran, jadi aku mampir saja ke sini. Hujannya malah semakin deras, ponselku juga mati. Oh iya, apa Rei sudah tidur?" Alvi terdiam mendengar suara Aldi yang masih sama, kakinya masih menapak di lantai, dan raut wajahnya pun masih tetap seperti sebelumnya. "Hei Al. Kenapa wajahmu begitu? Ada apa? Apa Avril sakit lagi?" Tanya Aldi selanjutnya dengan beruntun.


"Tidak Al. Avril baik-baik saja, dan Rei pun sudah tidur sejak tadi. Dan charger ada di kamarku."


"Ohhh... baiklah. Dan ku ingin mandi, apa di kamar tamu masih ada baju ganti?"


"Ada. Kau ke ruang tamu saja. Setelah mandi, jika kau mau makan, di dapur masih ada makanan."


"Baiklah."


"Apa tadi di kota S kau tak menemukan kendala?" Aldi yang sudah berbalik pun mendadak menoleh kembali lalu mengingat apa saja yang terjadi di kota S.


"Ahh. Ada. Aku di putuskan oleh Dinda, dan cincinnya malah hilang. Tapi nanti saja aku akan tanyakan pada pelayan hotel. Aku rasa jatuh di area hotel"


"Oke."


"Kenapa?"


"Tidak. Hanya bertanya saja. Soalnya tadi ada berita kecelakaan beruntun di tengah kota. Tepat di depan hotel yang Galih ambil alih."


"Ahh aku ingat. Pantas saja saat taksiku berbelok, ada suara gaduh dan di susul ledakan. Karena jadwal penerbanganku mepet, jadi aku tak tahu jelasnya."


"Oke. Aku mengerti."


"Hanya itu?" Aldi menyernyit keheranan mengapa Alvi bertanya demikian. Namun, ia yang sudah tak nyaman dengan pakaiannya segera berlalu untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Ponselnya segera ia isi daya namun tidak di hidupkan.


. Paginya, Avril dan Reifan turun dari kamar hendak sarapan menyusul Alvi. Namun pandangan Avril tertuju pada Aldi yang tengah membaca loran bersama Alvi di ruang tengah.

__ADS_1


"Daddy...." teriak Reifan dengan antusias berlari menuruni tangga.


"Awas Rei jangan berlari begitu." Tegur Avril namun tak di hiraukan oleh Reifan. Aldi menyambut Reifan dengan merentangkan tangannya kemudian memeluk putra kesayangannya.


"Bunda mana?" Seketika itu senyuman Aldi memudar mendengar pertanyaan Reifan yang begitu antusias menantikan kedatangan dirinya dan Dinda.


"Bundanya... emm... ada urusan sayang. Jadi tak bisa ikut ke sini."


"Yahhh... Rei mau bunda." Keluhnya menunduk memainkan tangan di pangkuan Aldi.


"Rei... ayo sarapan." Ajak Avril setelah ia mengerti saat melihat ekspresi wajah Aldi yang mungkin tengah menyembunyikan sesuatu. Alvi yang paham akan tatapan Avril pun segera meraih Reifan dan mengajaknya ke ruang makan. Sedangkan Avril memilih menghampiri Aldi yang menjadi murung setelah mendapat pertanyaan dari Reifan.


"Kau ada masalah?" Tanya Avril duduk di seberang Aldi.


"Hubunganku dan Dinda sudah berakhir Vil." Sontak Avril terbelalak mendengar apa yang Aldi katakan. Ia merasa tak percaya, karena sebelumnya Dinda dan Aldi sangat dekat. Bahkan hubungan mereka seperti tak akan pernah berakhir meski sempat gagal menikah karena kondisi Dinda yang tak memungkinkan untuk menjalani proses pernikahan.


"Apa ada alasannya Al?"


"Apa ada orang ketiga?"


"Dariku tak ada, tapi aku tak tahu kalau Dinda diam-diam ada hubungan dengan pria lain."


"Aku tak yakin Al. Rasanya semua anggapanmu tak masuk akal. Dinda sangat mencintaimu sampai-sampai Dinda menyuruhku untuk menjauhimu."


"Dan itu kenapa kau tak pernah menemuiku dan Rei sampai aku dengar kau dirawat karena sakit."


"Aku sakit karena merindukan Rei."


"Pantas saja. Saat kau tertidur, kau selalu memanggil Rei berulang kali."


"Maaf."


"Sudahlah. Semua sudah berlalu."

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja?" Sontak Aldi tertawa dengan lepas meski sebenarnya ingin berteriak karena rasa sakit di ulu hatinya.


"Memangnya aku kenapa? Yahhhh ini tak sebanding dengan kepergian Syifa."


"Benarkah? Lalu kenapa kau berkaca-kaca?"


"Oh ini? Aku tidak..... aih apa efek tadi ada debu yang masuk."


"Kau pikir aku bodoh? Pelayan disini sudah bersih-bersih sebelum kau bangun." Seketika itu pula, Aldi terdiam dan mulai menunduk membuat Avril semakin yakin bahwa Aldi tidak baik-baik saja.


"Aku tunggu di ruang makan." Tutur Avril seraya beranjak meninggalkan Aldi sendiri di ruang keluarga. Aldi menatap setiap tetesan air matanya yang jatuh tepat di atas punggung tangannya tanpa melewati pipinya sedikitpun.


"Nyatanya aku tidak baik-baik saja". Batin Aldi mulai menyeka embun yang nyaris kembali terjatuh dari kelopak matanya.


. Setelah makan, Aldi meraih ponselnya yang masih berada di kamar tamu dengan keadaan mati. Segera ia mengaktifkan dan pandangannya tertuju pada salah satu nama di kontaknya dengan pesan terakhir yang sudah terhapus.


Di waktu yang sama, Hadi sudah lelah membujuk Dinda yang mengurung dirinya dikamar. Dinda yang di ketahui menangis semalaman dengan memeluk kotak perhiasan milik Aldi pun berhasil membuat seisi rumah khawatir. Pasalnya setelah pulang dari lokasi kecelakaan, Dinda menangis sesenggukan dan memberitahu bahwa Aldi sudah meninggal. Meski demikian, dari pihak keluarga mereka, belum ada satupun yang memastikan dari salah satu jenazah korban kecelakaan adalah Aldi.


"Dinda... ayo buka pintunya. Kau belum makan nak!" Bujuk Hadi dari luar dengan setengah berteriak. Bersamaan dengan usaha Hadi membujuk Dinda, seorang pelayan menghampiri Hadi dan mengatakan ada telepon dari seseorang untuk dirinya. Hadi segera meraih telepon di ruang tengah yang masih tersambung dengan penelepon.


"Hallo." Sapa Hadi tepat ketika telepon sudah ia tempelkan di telinganya.


"Hallo Om." Sapa Aldi dari seberang berhasil membuat Hadi mematung mendengar suara Aldi.


"Kau... Aldi?" Tanya Hadi memastikan bahwa dugaannya adalah benar.


"Kenapa Om? Saya Aldi. Apa suara saya berbeda?"


"Tidak nak. Om bersyukur kau baik-baik saja."


"Ah iya om. Emm sebelumnya maafkan jika saya ada salah pada Om dan keluarga. Dan maaf juga jika saya tidak memenuhi keinginan Om untuk menjadi menantu Om." Hadi terdiam seketika, ia tak mengerti maksud dari perkataan Aldi.


-bersambung.

__ADS_1


__ADS_2