
Kemeriahan acara berlangsung khidmat, dan tamu undangan berangsur-angsur meninggalkan kediaman rumah Alvi. Sedangkan Famela masih membantu Avril untuk merawat bayinya karena kondisi Avril yang masih lemah.
"Maaf ya Fam. Aku jadi merepotkanmu." Ucap Avril yang tak enak hati melihat Famela menjadi kerepotan karenanya.
"Tak apa Avril. Aku hanya merasa sedang kembali ke tahun lalu."
"Benar juga. Anak kita sama-sama perempuan ya?" Mendengar gumaman tersebut, Famela hanya tersenyum menanggapinya seraya terus menidurkan Zeeya yang baru saja ia ganti pakaiannya.
Tak lama, Aldi dan Dinda menemui Avril yang kini tengah menyantap makanannya. Alih-alih mendapat pelukan dari Reifan, Avril malah mendapat sikap dingin dari anak kecil itu. Pasalnya, saat Reifan mengikuti Aldi ke kamar tamu, Reifan terlihat hanya berdiam diri di belakang Aldi tanpa ingin menghampiri Zeeya seperti saat Avril masih mengandung.
"Rei... sini sayang! Mommy ada sesuatu untuk kamu. Kamu tak mau menyapa adik bayi?" Tanya Avril sedikit menggoda Reifan.
"Itu bukan adik Eifan, bukan juga Ibu Eifan." Dan sontak jawaban itu berhasil membuat Avril dan Alvi tercengang. Mengapa Reifan bisa berpikir begitu? Bukankan saat Zeeya masih dalam kandungan, Reifan selalu bercanda dengannya meski berbicara random.
Belum sempat Alvi menanyakan maksud perkataan Reifan, Avril beranjak dari duduknya dengan hati-hati lalu berjalan menghampiri Reifan. Air matanya mengalir deras meski tanpa suara menatap anak kecil yang ia anggap sebagai putranya sendiri. Ketika Avril meraih wajah Reifan dan hendak berucap, Reifan memalingkan wajahnya lalu beralih menggelayut pada lengan Dinda.
"Bunda.... ayo pulang. Daddy... Eifan mau pulang." Rengeknya seraya menatap harap pada Dinda dan Aldi. Bukan hanya wajah Avril yang pucat, Alvi pun merasa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Reifan. Meski demikian, Aldi bersikap biasa saja dan langsung berpamitan pada Alvi.
"Terima kasih untuk acaranya. Maaf kalau Rei bersikap tidak sopan." Ucap Aldi dengan mengeluarkan ponselnya lalu mengetik sesuatu dan tak lama dari itu ia memperlihatkan layar ponselnya.
"Aku sudah mentransfer uang untuk mengganti biaya acara hari ini. Maaf tak seberapa tapi mungkin itu cukup untuk mewakili ucapan terima kasihku." Lanjut Aldi kemudian berlalu membawa istri dan anaknya meninggalkan kediaman Alvi. Terlihat Avril sudah terduduk lemas di atas tempat tidur dan Famela pun merasakan ada sesuatu yang ganjil pada Aldi.
"Rei.... kenapa bilang begitu pada Mommy?" Lirih Avril tak bisa menahan kesedihannya lagi. Dengan cepat, Alvi meraih istrinya dan mencoba menenangkan tangisnya.
"Sudah jangan dipikirkan. Aku yakin Rei pasti sedang kelelahan dan mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Mungkin juga dia marah karena Raven tidak ada."
__ADS_1
"Raven ikut dengan kak Galih ke luar kota kan? Dan kita juga sudah memberitahunya. Tapi..."
"Rei itu masih kecil. Emosinya belum stabil. Tak apa sayang, sudah jangan di pedulikan!" Meski merasa kesal, namun Avril sendiri tak bisa menyalahkan Rei sepenuhnya. Ia juga berpikir bahwa Rei mungkin marah karena ia tak mendampinginya saat acara ulang tahunnya seperti tahun-tahun kemarin.
Di samping itu, Aldi menepikan mobilnya di pekarangan rumah lalu pergi lagi setelah mengantarkan Dinda. Ia tak ingin mengambil resiko apapun karena kehamilan Dinda jika ia bawa ke pemakaman. Aturan dari orang tuanya masih ia percaya demi menjaga keselamatan janin yang ada di kandungan Dinda. Ini kali pertama baginya membawa Reifan berziarah ke makam Syifa. Meski dadanya merasa sesak, Dinda mencoba untuk melapangkan hatinya dan berpikir positif bahwa ini adalah rutinitas Aldi memperingati hari kematian Syifa.
"Syifa. Sekarang dia suamiku. Meski dia masih mengingatmu, aku tak rela jika dia masih mencintaimu." Ucap Dinda dengan nada pelan saat menatap kepergian mobil Aldi yang kian menjauh.
Sampai di pemakaman, Aldi menggandeng tangan Reifan menyusuri setiap batu nisan yang berjejer rapi.
"Rei sini nak!" Aldi melambaikan tangannya meminta Reifan untuk mendekat lalu membawanya di atas pangkuannya.
"4 tahun ya!" Batinnya.
"Mammy? Siapa?" Tanya Reifan dengan wajah polos menatap pada Aldi.
"Emmm kau biasa memanggil Bunda pada foto yang ada di kamar Daddy dulu. Dan dulu Daddy panggilnya selalu Mammy."
"Bunda Ifa? Mana Bundanya Daddy? Bunda pergi? Kata Oma, Bunda pergi. Terus sekarang Bundanya ada? Daddy Eifan mau Bunda Ifa." Rengek Reifan kian menjadi tangisan. Semakin lama, tangisannya semakin keras sebab Aldi tak memberi jawaban yang jelas pada Reifan.
"Daddy... Bundanya mana?"
"Bunda di sini nak!" Hanya begitu jawaban Aldi seraya memeluk Reifan dengan erat.
"Daddy bohong. Bunda tak ada di sini." semakin mendengar Reifan begini, Aldi semakin dibuat gelisah, ia tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
"Rei! Dengarkan Daddy. Hentikan tangismu. Daddy ingin bicara." Setelah Aldi mengatakan hal tersebut, Reifan mencoba menghentikan tangisnya. Setelah akhirnya Reifan mulai tenang, Aldi perlahan meraih batu nisan bertuliskan nama Istri pertamanya.
"Bunda sudah di syurga nak! Meski Rei meminta Bunda datang, Bunda tak akan kembali. Dan jasadnya terkubur di sini. Kedepannya, kalau Rei ingat Bunda lagi, Rei katakan pada Daddy! Daddy akan antarkan Rei ke sini untuk bicara pada Bunda. Rei mau bicara sekarang tidak?"
"Bunda Ifa... Eifan rindu." Hanya kalimat itu saja yang terucap dari mulut Reifan. Walaupun belum mengerti dengan kematian, namun Reifan bisa merasakan bahwa Syifa memanglah sudah pergi sangat jauh.
Setelah dirasa cukup, Aldi dan Reifan kembali ke rumah karena kemungkinan Ibu dan Istrinya sudah menunggu. Hari sudah mendekati malam, Aldi bergegas melajukan mobilnya agar Dinda tak berpikir yang tidak-tidak. Hingga akhirnya sampai di rumah, benar saja, Dewi dan Dinda tengah menunggunya pulang di depan rumah. Keduanya sama-sama beranjak dari duduknya ketika melihat mobil Aldi tiba di depan mereka.
"Kenapa masih di luar? Ini sudah mau gelap." Protes Aldi saat ia menghampiri Dinda.
"Aku khawatir Al. Kalian baru pulang sekarang."
"Iya maaf. Tadi aku mampir dulu beli sesuatu untuk Rei." Mendengar alasan yang diberikan Aldi, Dinda hanya mengangguk tanda mengerti dan tak ingin menambah masalah lagi.
Seiring berjalannya waktu, kondisi Avril sudah mulai pulih dan tampak lebih segar dari sebelumnya. Mengingat beberapa kebutuhan Zeeya yang menipis, Avril meminta izin pada Alvi untuk berbelanja seorang diri. Karena Ray sibuk, Alvi hanya meminta bawahan lainnya untuk menjaga keselamatan Avril selama di luar rumah. Avril sengaja menitipkan Zeeya pada Nadia, karena ia khawatir jika Zeeya di bawa keluar, kemungkinan Zeeya akan menangis karena tak nyaman dengan situasinya.
Sampai di mall, Avril segera mencari apa yang ia butuhkan. Dari kejauhan, Avril samar melihat sosok anak kecil yang ia kenali. Ya, dia adalah Reifan. Rasa penasarannya mulai membuatnya ingin mengikuti kemana Reifan pergi, namun ia ingat bahwa ada barang yang harus ia beli secepatnya.
Setelah membeli semua kebutuhan yang ia perlukan, Avril segera menyusul ke arah mana Reifan berlalu. Avril tersenyum riang saat ia menyadari letak mobil Aldi yang tak jauh dari mobilnya, hingga ia segera menghampiri Reifan yang kini tengah bersama pengasuhnya.
"Rei! Kamu ke sini sama siapa?" Tanya Avril berjongkok di depan Reifan.
"Iya Aunty." 'Deg!' Jawaban Reifan berhasil membuat Avril mematung seketika.
Bersambung
__ADS_1