RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
21


__ADS_3

. Aldi menyusul Reifan dan membawanya kembali memasuki rumah. Ia tak sedikitpun menghiraukan rengekan Reifan yang terus memanggil Alvi sambil menangis. Tangisan itu semakin keras membuat Dewi segera berlari dan memangku Reifan.


"Apa yang kau lakukan Aldi?"


"Oma... ayah pelgi...." rengek Reifan.


"Iya.. ayahnya ada urusan sayang. Main sama Oma ya..." bujuk Dewi dengan membawa Reifan keluar rumah. Aldi hanya melirik sejenak kepergian ibunya yang membawa Reifan, ada rasa lega namun ada juga rasa sesak ketika melihat kekecewaan Alvi saat dirinya melarang Reifan ditemui oleh Alvi. Dengan menghela nafas berat, Aldi menyusul Dewi dan ia mengikuti kemana perginya sang ibu membawa putranya.


Hingga Dewi menepi di sebuah taman dan segera Aldi pun mengikuti.


Ketika ia dengan sabar menunggu Reifan bermain, tak sengaja seseorang yang tak ia kenali menyenggol lengannya, namun pria asing itu tak sempat meminta maaf karena Aldi yang langsung memalingkan pandangannya.


"Daddy...." panggil Reifan berlari dan membuat Aldi semakin lekat menatapnya. "Ujan." Ucapnya lagi menunjuk pada awan yang semakin menghitam. Aldi menoleh dan ia pun merasa sendu. Bahkan hari semakin gelap karena mendung pun tidak ia sadari.


"Ayo pulang. Sebentar lagi turun hujan." Ucap Dewi yang menyusul Reifan namun masih enggan berbincang dengan Aldi.


"Daddy... pulang." Ajak Reifan dengan tatapan polos dan menggemaskannya.


"Ma... mama masih marah? maaf ya ma... Aldi yang selalu menyibukkan diri sendiri hanya untuk melupakan Syifa." Lirihnya.


"Semakin kamu berusaha melupakan, maka bayangan Syifa pun semakin jelas terbayang di pikiranmu."


"Lantas, Aldi harus bagaimana?"


"Berhenti pergi jauh dan fokus saja pada Rei. Mama yakin, dengan kamu tidak pergi keluar kota juga, kamu akan mendapatkan rezeki yang cukup." Mendengar permintaan sang ibu, Aldi hanya menghela nafas dalam. Ia masih enggan beranjak meskipun Dewi sudah berlalu membawa Reifan memasuki mobil.


Tak lama, hujan pun turun dengan deras. Aldi merasakan dinginnya air hujan yang mulai menyentuh langsung ke kulitnya yang hanya di balut kemeja saja.


Dewi menatap sendu pada Aldi yang ia rasa memang sedang dilanda kebimbangan. Karena tak semudah itu untuk melupakan Syifa, apalagi kehadiran Reifan malah semakin membuat Aldi terus mengingat mendiang mantan istrinya. Bukan karena apapun, Dewi saja merasakan bagaimana ada di posisi Aldi. Adam yang meninggal, dan ditambah putri sulungnya yang lebih dulu meninggalkannya.


"Oma... Daddy Main hujan." Ucapnya begitu polos menatap Aldi dari balik kaca mobil. "Eifan mau hujan Oma.." lanjutnya mendadak antusias lalu ia beranjak dan mencari sesuatu di kursi belakang. Dewi mendadak khawatir saat Reifan mengambil payung dan langsung meraih pintu.


"Mau kemana Rei?" Tanya Dewi dengan tegas walaupun dirinya tahu Reifan akan menyusul Aldi.

__ADS_1


"Mau Daddy Oma.. kasian Daddy dingin." Jawabnya kemudian kembali menoleh pada Aldi yang masih enggan beranjak.


Terlihat beberapa orang menawarkan payung, namun dengan sopan Aldi selalu menolaknya.


Hingga seseorang berhasil menarik perhatiannya dan ia menoleh menatap pada gadis yang menyodorkan payung untuknya.


"Air hujan tidak baik untuk tubuhmu. Kau bisa demam jika dibiarkan begini. Kasihan mama mu nanti, kau mungkin akan merepotkannya. Harusnya kau sudah berpikir demikian karena kau sudah tua. Meskipun usia mu belum 30 tahun, tapi tetap saja--" ucapan Dinda terhenti seketika saat Aldi tiba-tiba memeluknya dengan erat.


"Terima kasih selalu ada." Ucapnya lirih dengan suara berat. "Jika aku memintamu untuk tidak pergi, apa kau akan menetap?" Mata Dinda membulat mendengar pertanyaan itu. Ia sendiri tak tahu maksud dari pertanyaan Aldi yang dirasanya begitu tiba-tiba.


"Al... apa maksudmu?"


"Aku mau kita lebih dari sekedar teman."


"Al.. aku..."


"Dinda... aku mau kau menjadi bunda Rei." Dengan terkejut, Dinda langsung menarik diri dan menjauh dari Aldi. Payung yang ia genggam pun terjatuh membuatnya menjadi basah kuyup karena hujan.


"Aku...."


"Oh..." ucap Aldi pelan dan jelas tak akan terdengar oleh Dinda.


Reifan berhenti berontak dari pangkuan Dewi saat melihat Aldi beranjak dari tempatnya. Wajahnya datar dan tatapannya menjadi tajam. Dewi beralih melihat Dinda yang menggantikan Aldi mematung disana. Payungnya dibiarkan tergeletak dan ia membiarkan dirinya diguyur hujan yang deras.


Rasanya ingin sekali menghampiri Dinda, namun Dewi merasa tak tenang pada Aldi yang tiba-tiba pergi begitu saja.


"Ikuti Aldi saja." Ucap Dewi pada supir pribadinya.


"Baik bu." Jawabnya langsung mengikuti kemana Aldi pergi. Sempat Dewi menoleh sesaat pada Dinda yang kebetulan ia lewati. Menangis. Hanya kata itu yang terpikirkan oleh Dewi. Apa yang dilakukan Aldi sampai Dinda menangis? Pikir Dewi.


"Berhenti pak. Kita bawa gadis itu dulu. Kasihan dia pasti kedinginan."


"Baik bu." Dan, mobil itu mundur sampai didekat Dinda. Dewi menurunkan kaca mobilnya setengah sebelum memanggil Dinda.

__ADS_1


"Nak.. kau sedang apa?" Tanyanya seolah tak tahu apa yang terjadi.


"Mama?" Terlihat alis Dinda berkerut melihat Dewi yang membukakan pintu untuknya.


"Ayo masuk nak... kau bisa kedinginan nanti." Ucap Dewi yang ditanggapi anggukan pelan oleh Dinda. Beberapa saat yang lalu, ia melukai hati putranya, dan sekarang malah ibunya memberi bantuan padanya. Entah karena dorongan apa, ia seakan tak ingin menolak ajakan Dewi karena ia pun ingin bertemu lagi dengan Aldi dan menjelaskan bahwa Emilio saja belum memberinya kepastian.


"Apa yang aku pikirkan? Aku dan Lio sudah menjalani hubungan selama 2 tahun, dan sekarang Lio sudah ada disini. Harusnya aku tak punya alasan untuk meninggalkannya, atau bahkan berpaling darinya. Ada apa dengan otak ku? Kenapa aku tak rela jika Aldi marah dan menjauhiku." Batin Dinda sembari membenahkan bajunya yang sudah basah. Bahkan terlihat lekuk tubuhnya yang membuatnya semakin tak nyaman.


"Pakai ini nak. Setidaknya ini tak akan membuatmu terlalu kedinginan." Dewi memberikan sebuah mantel miliknya lalu ia membantu Dinda untuk memakaikannya.


"Bunda dingin?" Tanya Reifan meraih tangan Dinda yang gemetar. Reifan langsung memeluk Dinda dengan niat ingin menghangatkan. Namun Dinda hanya tersenyum. Jangankan hangat, dekapan Reifan saja tidak terasa.


"Bunda kenapa?" Tanya Reifan kini dengan semakin polos.


"Tidak.... kau sangat baik. Siapa yang mengajarimu?" Dinda beralih menatap Reifan dengan gemas.


"Mommy."


"Ohhh mommy ya? Mommy itu seperti apa dimata Rei?"


"Mommy cantik, baik, tapi ghrrrrr" jawab Reifan sambil memperagakan wajah seram.


"Maksudnya ghrrr?" Dinda menyernyit tak mengerti.


"Maksud Rei, galak. Gadis itu sangat galak. Mama akui. Apalagi pada Aldi." Timpal Dewi menjawab pertanyaan Dinda.


"Apa nona Syifa begitu?" Dinda semakin merasa penasaran. Yang dilihatnya, Dinda seperti orang yang lemah lembut.


"Bukan. Bukan Syifa." Dan, Dinda dibuat terkejut. Ada gadis lain yang menjadi peran ibu untuk Rei? Siapa? Yang ia tahu hanyalah Syifa saja.


"Kalau boleh tahu, apa mommy nya Rei itu ibu tirinya?"


"Kurang lebih seperti itu. Tapi sekarang hubungan mereka kurang baik."

__ADS_1


"Jika benar Aldi sudah menikah lagi, kenapa dia menginginkanku?"


-bersambung.


__ADS_2