RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
119


__ADS_3

"Akhirnya kita pulang." Ucap Avril begitu sumringah saat Alvi memindahkannya ke kursi roda.


"Di rumah pun kau masih dirawat dan akan ada dokter yang memeriksamu setiap jadwal pemeriksaan." Balas Alvi kemudian meraih Zeeya dan memberikannya pada Avril.


"Yang penting hari ini kita bisa rayakan ulang tahun Rei. Ahhh aku tak sabar Al. Kau sudah siapkan kue kan? Sudah beritahu Aldi juga kan? Anak-anak yang diundang akan datang kan?" Seakan tak ingin mendengar jawaban suaminya, Avril terus memberikan pertanyaan beruntun pada Alvi.


"Sudah semua. Dan aku sudah meminta Aldi untuk datang 2 jam sebelum acara."


"Oke baiklah. Terima kasih suamiku...." candanya membuat Alvi mendelik dan tersenyum tipis menanggapi Avril.


Di kediaman Avril, Aldi turun dan ia begitu terkagum melihat acara yang sudah disiapkan oleh Avril tersebut. Ia tak berpikir tentang alasan mengapa Alvi memintanya untuk datang ke rumahnya.


"Daddy.... itu untuk Eifan? Eifan ulang tahun Daddy?" Namun, bukannya menjawab, Aldi malah mematung seakan tak mendengar pertanyaan Putranya.


"Daddy?" Kali ini, Reifan menarik jari tangan Aldi dan berhasil membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Apa sayang?"


"Ayah dan Mommy...."


"Sut... jangan panggil begitu. Kalau tak mau panggil Uncle dan Aunty, sebaiknya jangan memanggil mereka sedikitpun. Kalau Rei ingin menyapa, katakan hai saja." Dengan cepat Aldi menyela ungkapan Reifan yang belum sempat terucapkan. Dan dengan menurut Reifan mengangguk kemudian mengikuti kemana pun langkah Aldi membawanya.


Selang beberapa waktu, terlihat mobil Alvi sudah memasuki pekarangan rumah beserta pengawal-pengawalnya. Melihat Avril yang menunggu Alvi membawa kursi roda, Aldi segera menghampiri Avril dan meminta Zeeya agar diberikan padanya. Dengan senang hati dan penuh rasa percaya, Avril memberikan Putrinya pada Aldi yang jelas sudah berpengalaman menjadi seorang ayah. Aldi merasa antusias melihat kemolekan bayi kecil yang tengah tertidur di pangkuannya sehingga ia merasa harus melihatnya bersama Dinda.


"Eifan mau lihat juga Daddy." Pinta Reifan tak sabar melihat sosok bayi mungil yang terus ia ajak bicara selama dalam kandungan.


"Adik cantik... main sama kakak ayo!" Dengan polosnya Reifan mengajak Zeeya untuk bermain.


"Eh mana bisa Rey. Zeeya masih bayi." Aldi segera menasehati Reifan agar bicaranya tak melantur.


"Ciya?" Bersamaan dengan itu, Reifan sedikit memiringkan kepalanya dan menatap polos pada Aldi.

__ADS_1


"Bukan nak. Zeeya."


"Ciya."


"Aih... hahaha Zeeya."


"Ciya.... hihihi." Reifan dan Aldi terus saling berbalas. Reifan pikir Aldi memang tengah bercanda dengannya hingga iya terus memanggil Zeeya dengan Ciya.


"Rei... dengar bund a! Zeeya! Z. E. E. Y. A. ZEEYA! Z ya! Bukan C." Jelas Dinda ditanggapi serius oleh Reifan yang langsung menyimak penjelasan Dinda tentang nama Zeeya.


"Z... Ziya?"


"Hampir sama sayang. Tapi kurang tepat."


"Tapi Eifan mau panggil Ciya boleh?"


"Boleh! Sampai kau bisa memanggilnya dengan benar, panggil lah sesukamu. Asal jangan yang aneh-aneh." Ucap Alvi memberi jawaban saat melihat Aldi yang tengah kebingungan.


Singkatnya, acara pun dimulai. Dan selama Reifan berada di sana, ia tak memanggil Avril dengan panggilan Mommy. Reifan malah melakukan kontak fisik saat ingin berbicara dengan Avril, seperti menarik bajunya, menepuk lengannya, atau memainkan jari tangannya. Meski merasa ada yang mengganjal di hatinya, Avril tak ingin berpikir negatif, ia mengesampingkan dugaannya dan beralih untuk fokus melihat Reifan dari kejauhan sebab ia tak di perbolehkan berada di tempat yang ramai. Avril memilih untuk menyusui Zeeya di ruang tamu yang tak di perbolehkan bagi siapa saja yang akan masuk.


"Kakak Rei ulang tahun sayang." Ucap Avril pada Zeeya yang menggeliat. Entah kenapa, Avril mendadak sendu saat ia teringat pada hari ulang tahun Reifan. Jelas saja, 4 tahun yang lalu, ia masih bisa berbincang sebentar dengan Syifa sebelum akhirnya Syifa pergi di pangkuan Aldi sendiri.


"Syifa. Aku pikir aku juga akan menyusulmu. Kalau kau masih hidup, aku ingin bertanya tentang kabarmu. Hari ini, Reifan ulang tahun, dan aku malah bersedih. Maaf untuk tahun ini aku tak bisa berziarah ke makammu." Batin Avril perlahan merasakan embun mengalir di pipinya. Ditengah tangis pilu yang ia tahan, Zeeya tiba-tiba menangis dengan keras tak bisa di tenangkan. Mendengar suara tangisan Zeeya, salah satu orang yang menjaga di depan pintu segera memanggil Alvi karena ia tak ingin memasuki ruangan tanpa seizin Alvi.


Mendengar laporan bawahannya, Alvi segera memasuki rumah dan menghampiri Avril yang tengah mencoba menenangkan Zeeya yang menangis.


"Kenapa sayang? Kenapa Zeeya menangis?"


"Aku tak tahu Al. Tiba-tiba Zeeya menangis begini."


"Dan kau juga menangis kenapa?"

__ADS_1


"Aku teringat Syifa Al."


"Aihhh sudah jangan memikirkan apa-apa. Sini Zeeya aku gendong!" Tanpa pikir panjang, Avril langsung memberikan Zeeya pada Alvi yang segera menimang Zeeya untuk menghentikan tangisnya.


"Putri Ayah jangan menangis sayang. Kasihan Bubun." Ucap Alvi sedikit demi sedikit dapat meredakan tangis Zeeya.


Menyadari ketiadaan pemilik rumah, Famela dan Deyan mencoba memastikan sendiri tak ada yang salah pada dugaannya. Mereka menduga bahwa Avril mungkin kembali drop sehingga Alvi harus meninggalkan acara dan menemani istrinya. Dengan sopan, Famela meminta penjaga untuk memanggil Alvi dan menunggunya di ruang tamu. Dan setelah memastikan Zeeya tertidur lelap di samping Avril yang sudah tenang, Alvi meninggalkannya untuk menemui Famela.


"Al... Avril baik-baik saja?" Tanya Famela sesaat ketika wajah Alvi sudah terlihat.


"Iya. Tadi hanya ada masalah sedikit."


"Apa kondisinya drop lagi?" Kini Deyan yang bertanya.


"Bukan. Kondisinya sudah stabil, hanya saja dia mengingat Syifa. Jadi, emosinya tak terkendali sampai Zeeya pun terbawa menangis."


"Sekarang Putrimu mana? Kalau tak keberatan, biar aku yang menjaganya selama Avril merasa emosinya tak terkontrol." Alvi tersenyum mendengar penawaran Famela yang terdengar tulus ingin membantu Avril.


"Kebetulan Zeeya sudah tidur. Dan Avril sudah tenang."


"Kalau kau butuh sesuatu, tak usah sungkan Al. Jangan karena kau lebih kaya, kau tak mau meminta bantuanku." Ucap Deyan kemudian menepuk bahu Alvi yang tertawa menanggapinya.


"Baiklah. Memangnya kapan aku segan?"


"Hahaha iya ya? Justru kau selalu seenaknya." Balas Deyan sehingga keduanya saling melempar candaan di depan Famela.


"Kalau mau bertemu Avril, dia ada di kamar tamu. Maaf aku harus ke sana lagi. Aldi mungkin akan merasa canggung jika aku tak ada."


"Baiklah."


Mendengar jawaban Deyan, Alvi segera kembali ke acara untuk menemani Aldi dna Dinda. Sejujurnya, Alvi pun merasa bahwa Reifan sedikit berbeda hari ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2