
Avril dan Alvi sibuk mengajak Reifan bermain selama Zeeya masih tertidur. Beberapa kali Reifan mencoba membangunkan Zeeya, namun bayi itu tetap tertidur lelap.
"Mommy.. kenapa adik bayi tidur terus? Eifan kan mau main." Protesnya pada Avril.
"Jangan dibangunkan Rei. Nanti Zeeya rewel." tegur Avril membuat Reifan merajuk lalu menghampiri Alvi di meja kerja.
"Ayah... Kak Aven?" tanyanya dengan singkat namun langsung di mengerti oleh Alvi.
"kak Aven tidak ke sini Rei. Mungkin Ayah Galih sedang sibuk. Jadinya tidak bawa Aven main ke sini." jelas Alvi menjawab kekesalan Reifan. Ia sangat ingin bermain.
Ketika Alvi tengah sibuk dengan laptopnya, terlihat Reifan berlari menuju area depan rumah. Tak lama, Reifan berteriak kegirangan kemudian kembali berlari menghampiri Alvi.
"Ayah... Kak Aven" teriaknya menunjuk ke luar rumah. Meski tak mengerti, namun Alvi mencoba memastikan bahwa Reifan memberitahunya tentang kedatangan Ravendra. Benar saja, terlihat Galih bersama Ravendra memasuki rumah. Di belakangnya di ikuti oleh Nadia yang menenteng sebuah tas belanjaan untuk Avril. Reifan begitu kegirangan saat Ravendra mengajaknya bermain di halaman belakang. Meski masih di dalam lingkungan rumah, Alvi meminta Siska untuk mengawasi kedua anak itu agar tak ada hal yang terjadi.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan di pintu membuat semua orang yang ada di rumah menoleh ke arah ruang tamu. Terlihat Emira tersenyum membawa bingkisan untuk Alvi dan Avril. Nadia yang baru bertemu lagi dengan Emira pun hanya terpaku dan ia tak berniat menyapa karena masih merasa terkejut sekaligus heran. Nadia pikir Emira tak menetap di Indonesia, ia tahu bahwa Emira sudah lama di London dan kemarin ke Indonesia pun hanya sebentar.
"hai Nad. Kau tak berubah." ejek Emira membuat senyum Nadia semakin mengembang.
"Jangan mengejekku. Aku akui kau memang banyak berubah setelah pindah ke London. Tapi sikap angkuhmu tetap sama saja." balas Nadia mengejek Emira. Namun bukannya marah, keduanya malah tertawa lepas menanggapi masing-masing ejekan mereka.
"Judulnya Reuni?" tanya Alvi menimpali.
"Iya. Hemmm kalau saja Amel masih ada." lirih Emira jelas terdengar oleh yang lain. Avril hanya menunduk lalu menghampiri Zeeya yang masih tertidur di tempatnya. Alvi yang menyadari ketidaknyamanan istrinya pun menyusul Avril lalu merangkul pundaknya dan ikut mengganggu Zeeya.
__ADS_1
"Jangan di ganggu. Nanti dia bangun." tegur Avril dengan sedikit ketus.
"Apa kau marah?" tanya Alvi dengan suara pelan. Dan Avril hanya menggeleng menanggapi pertanyaan suaminya tersebut.
"Maaf ya. Mungkin Emira tidak bermaksud untuk menyinggung tentang hal itu." Lanjut Alvi membuat suasana hati Avril menjadi lebih baik.
"Al... Aku ingin ke kamar mandi." ucap Emira beranjak dari duduknya.
"silahkan. Di bawah tangga ada." balas Alvi seraya menunjuk ke arah tangga. Dengan begitu, Emira bergegas menuju kamar mandi.
Ketika Galih memulai perbincangan obrolan random mereka, terlihat ia melirik ke arah putranya yang bermain kejar-kejaran dengan Reifan menuju teras depan. Dan tak lama, terdengar kedua anak itu berteriak dan berlari dengan kencang menghampiri ayah mereka.
"Ayah tolong! Ada penculik." teriak Ravendra kemudian berlindung di balik tubuh Galih.
Saat Alvi hendak melangkah, muncul orang yang tak asing bagi mereka menghampiri dan bersiap menangkap Ravendra dengan memasang wajah menakutkan.
"ayah....." rengek Reifan kemudian menangis dengan keras. Segera Alvi memeluk dan menenangkan Reifan yang ketakutan akan kejahilan Damian.
"hahaha sini anak manis... Om akan culik kalian, lalu Om akan menjual kalian." dan, saat itu juga, tatapan Alvi dan Galih menjadi tajam menatap Damian. Bisa-bisanya Damian yang sudah tua itu menjahili anak kecil.
"mau aku bunuh pakai cara apa, sialan?" geram keduanya membuat Damian tertawa kikuk.
"hahaha aku hanya bercanda. Kenapa kalian menganggap serius? Anak-anak itu sangat lucu, jadi aku gemas dan ingin menjahili mereka. Oh? Masih ada anak mungil satu lagi?" ucap Damian beralih menatap Zeeya dengan berbinar dan penuh semangat ingin mendekati Zeeya.
__ADS_1
"Jangan menyentuh Putriku!" tegas Avril menghalangi langkah Damian agar tak mendekati Zeeya.
"Kau menyeramkan setelah menjadi ibu, sayangkku." ujar Damian sambil menggoda Avril di depan Alvi langsung. Ia tahu bahwa Alvi tak akan marah karena ia hanya bercanda saja.
"Jangan panggil Mommy sayang! Mommy itu punya Eifan dan Ayah. Eifan saja yang boleh sayang Mommy." teriak Reifan merasa tak terima jika Avril di goda oleh Damian. Damian yang mendengarnya kemudian tertawa terbahak-bahak dan berpikir mengapa anak sekecil ini sudah memiliki emosi yang tak ia duga.
"Om hanya bercanda sayang. Sudah ya! Jangan di gendong terus. Sini main dengan Om. Raven! Kau sudah besar, kenapa kau masih takut pada Om?" Damian beralih melirik Ravendra yang masih bersembunyi di belakang Galih. Meski sering bertemu, namun Ravendra sangat senang membalas sikap jahil Damian padanya.
"Wajah Om seperti penculik. Kalau benar nanti aku dan Rei di jual, bagaimana?"
"Ya... Tidak bagaimana. Paling Om langsung kaya karena menjual anak pintar seperti kalian. Hahahahaha" terlihat sangat puas, Damian melirik Alvi dan Galih yang menatapnya dengan kesal.
"oke. Maafkan aku para papa muda yang galak dan tidak punya perasaan." ucap Damian mulai menyerah dan ia ikut duduk di samping Nadia. Tanpa di duga, Reifan dan Ravendra sama-sama menghampiri Damian lalu mengajaknya bermain. Dan dengan senang hati, Damian beranjak dari duduknya bersiap untuk bermain dengan kedua anak kecil menggemaskan itu.
Kebetulan, Emira selesai dari kamar mandi dan langsung menghampiri orang-orang yang mungkin sudah menunggunya.
"Avril.. Apa kau punya tissue?" tanya Emira seraya berjalan dengan bercermin pada ponselnya.
"Ada kak. Di sana. Tam jauh dari kakak." Jawab Avril seraya menunjuk letak benda yang di inginkan Emira. Saat Emira berjalan menghampiri Avril, langkahnya terhenti ketika ia menyadari ada orang lain di ruangan itu. Emira menatap lekat punggung laki-laki yang sangat ia kenali itu. Perlahan langkahnya semakin dekat, namun penuh keraguan.
"Da--Damian." panggil Emira membuat Damian yang sedang tertawa dengan Ravendra dan Reifan itu pun seketika membisu. Ia perlahan menoleh ke asal suara dan matanya menjadi dingin saat ia menatap gadis di depannya saat ini.
"Damian." lagi, Emira memanggil nama Damian dengan lirih. Namun Damian beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
Bersambung