
. Reifan semakin keras menangis mendengar ucapan Alvi yang terlontar begitu saja. Avril mulai cemas dengan tangisan Reifan yang tak kunjung berhenti meski dirinya dan Alvi sudah bergantian menenangkannya. Bagaimana pun caranya, Avril tak henti-henti menghibur Reifan agar tak terus menangis.
. Di waktu yang sama, Dewi menatap nanar pada Aldi yang masih belum membuka mata. Meskipun masih bernafas, namun Dewi tetap takut jika tiba-tiba Aldi harus menyusul ayah dan kakaknya. Dewi tak bisa menahan embun di matanya ketika mengingat mendiang putri dan suaminya.
"Al... apa kamu tega membiarkan mama sendirian? Bukankah kamu bilang akan menjaga mama sampai tua? Dan tidak ada perjanjian jika kamu yang pergi lebih dulu kan?" Lirihnya terus mengusap punggung tangan Aldi. Ditengah kesedihannya, terdengar pintu terbuka dan Dewi tersenyum ketika melihat siapa yang datang.
"Kau kemari nak?" Tanya Dewi menyeka air matanya.
"Mama menangis?" Tanya Dinda yang berdiri tepat di samping Dewi.
"Aldi kapan bangun ya? Mama rindu." Jawab Dewi kembali tak bisa menahan air matanya.
"Dinda yakin Aldi pasti cepat pulih ma... dan mungkin sebentar lagi Aldi bangun."
"Mama jadi ingat mantan Aldi. Mama takut ini karma darinya karena dulu Aldi sudah mengkhianati gadis sebaik dia." Tutur Dewi mengerutkan alis Dinda. Ia penasaran siapa mantan Aldi yang terdengar sangat dekat dengan Dewi ini. Dan apa maksud dari karma yang dikatakannya?
"Oh Din... mama tinggal sebentar." Dinda mengangguk menanggapi Dewi yang tersenyum kemudian ia berlalu dari tempat duduknya. Kini giliran Dinda yang duduk dan menatap dalam wajah Aldi. Ia masih tak tahu mengapa selama Aldi koma, ia selalu menjenguknya. Dan jika di bandingkan, kesedihannya karena putus dengan Emilio padahal cukup untuk membuatnya sedih dan putus asa. Namun, melihat kondisi Aldi yang begini tepat setelah ia tolak perasaannya, Dinda lebih gelisah mengira bahwa ini murni kesalahannya. Bahkan selama itu pula, ia tak tahu mengenai keadaan toko. Setiap harinya, ia selalu pergi ke rumah sakit dan kembali pulang. Ia hanya menyempatkan ke toko hanya beberapa saat saja.
Begitupun dengan hari ini, ia memilih untuk menjenguk Aldi setelah mampir sebentar ke toko.
Mata yang tertuju pada wajah pucat Aldi, pikirannya berkecamuk mengingat perpisahannya dengan Emilio. Bagaimana pun, ia sudah menjalin hubungan cukup lama. Suka duka sudah mereka lalui bersama, dan hubungan itu harus berakhir dengan kesalahan dari Dinda sendiri. Andai saja ia tak terlalu dekat dengan Aldi, mungkin perpisahannya dengan Emilio tak akan terjadi. Di waktu yang sama, Dinda pun menyesal karena melukai hati Aldi hingga kecelakaan.
. "Kondisinya masih kritis bos." Ucap seorang bertubuh kekar yang berdiri dibelakang sosok yang sedang duduk santai menatap ke arah jendela.
"Awasi terus. Pastikan dia mati dalam waktu yang singkat." Balasnya sembari menyesap rokok ditangannya.
"Baik bos." Jawabnya kemudian berlalu meninggalkannya sendiri.
"Aldian Mahendra. Setelah kau mati, perusahaanmu akan jatuh ke tanganku. Dan kekasihmu akan menjadi milikku." Batinnya menyunggingkan senyum puas.
. "Kau kesini lagi?" Tanya Noah ketika masuk dengan seorang perawat di belakangnya.
"Iya." Jawab Dinda dengan melempar senyum.
__ADS_1
"Aku akan memeriksanya, bisakah kau keluar dulu?" Dan Dinda hanya mengangguk menanggapi Noah, ia berlalu menjauh dan keluar dengan menutup pintu tanpa suara. Hatinya terus menyebut nama Aldi berharap agar ia baik-baik saja.
Ponselnya berbunyi membuyarkan lamunannya seketika, diambilnya ponsel itu di dalam tas, lalu ia menerima panggilan dengan menata suaranya terlebih dahulu.
"Ada apa Yas?" Tanyanya langsung.
"Kakak tidak ada niat pulang?" Tanya Yasmin dari seberang.
"Belum Yas. Kakak masih ada urusan." Jawab Dinda.
"Ayah menyuruh kakak pulang. Ayah sudah tidak akan menjodohkan kakak. Sumpah." Bujuk Yasmin begitu serius.
"Bukan masalah perjodohan, tapi kakak memang belum bisa pulang Yas. Teman kakak kecelakaan, dan itu karena kakak. Jadi, sebelum dia sadar, kakak ingin menemaninya disini. Kalau bisa, sampai dia pulih kembali seperti sebelumnya. Sebelum kakak membuatnya begini." Jelasnya menegaskan.
"Apa kakak menabrak orang? Kakak baik-baik saja? Apa harus ganti rugi? Kalau begitu aku bicara pada ayah ya."
"Tidak Yas. Jangan. Jangan sampai ayah tahu."
"Kenapa kak?"
"Al-Aldian kak?" Pekik Yasmin membuat Dinda menjauhkan ponselnya.
"Kan kak Aldian itu yang mau di jodohkan dengan kakak." Lanjut Yasmin dengan masih terkejut. Namun, sayangnya Dinda belum sempat mendengar celotehan Yasmin karena ia masih menjauhkan ponselnya.
"Sudah ya... kakak mau menanyakan kondisinya. Nanti kakak telepon lagi." Ucap Dinda kemudian. Yasmin mengiyakan dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Hemmm kak Dinda... ternyata lagi ngurus calon suami.. hihi. Kalau ayah tahu, bagaimana reaksinya ya?" Ucapnya berbicara sendiri sambil menatap wallpaper miliknya dengan pajangan fotonya dan Dinda yang dipenuhi senyum gembira.
. Setelah Noah selesai memeriksa, Dinda kembali masuk dan ia tak bisa memalingkan wajahnya dari wajah Aldi yang belum ada tanda-tanda akan bangun kembali. Ketika ia menyalahkan Aldi karena perpisahannya dengan Emilio, namun, Dinda kembali berpikir, saat pelariannya, ia di bantu oleh Aldi.
"Tak mungkin aku membenci orang baik sepertimu." Ucapnya pelan.
Ketika Dinda hendak berbalik, terlihat alis Aldi tergerak, kemudian jemari Aldi pun ikut menunjukkan pergerakan. Dinda menoleh dan memastikan bahwa yang ia lihat itu benar adanya. Dan, semakin lama, bukan hanya alis, terlihat Aldi seperti hendak berbicara sesuatu.
__ADS_1
"Syi... Fa...." lirihnya jelas sangat pelan. Bahkan Dinda pun tak bisa mendengarnya. Saat Dinda meraih tangan Aldi, Aldi pun membalas genggaman Dinda lebih kuat.
"Jangan pergi." Ucapnya sedikit keras.
"Al... kau sadar?"
"Jangan pergi. Kembalilah." Dan, Aldi masih bergumam tanpa membuka matanya.
"Aku disini Al.." lagi, Dinda mencoba membantu Aldi untuk tersadar. Ia membiarkan Aldi meraih pipinya dan perlahan matanya terbuka. Aldi melirik pada Dinda yang menitikkan air matanya saat ia menoleh.
"Syukurlah." Ucapnya pelan dan masih terdengar oleh Aldi.
"Kau?" Aldi menyernyit heran. Hanya Dinda? Dan mengapa harus Dinda? Dimana Avril? Baren? Atau ibunya? Namun kenyataan ini tak ia permasalahkan. Yang ia sesali sekarang hanyalah kesadarannya. Karena selama koma, dalam mimpinya Syifa terus berada disampingnya. Tak terasa, air matanya begitu deras berderai. Mengapa hanya mimpi? Mengapa tidak nyata saja Syifa memeluknya? Rasa sesalnya kembali menyelimuti batin Aldi atas kematian sang istri.
"Al... maafkan aku." Lirih Dinda yang berpikir bahwa Aldi menangis karena luka di tubuhnya.
"Apa tanganku patah?" Tanya Aldi sesaat melirik pada Dinda yang mengangguk menanggapi pertanyaannya.
"Pantas saja sakit." Cetusnya santai. "Tapi lebih sakit saat hatiku yang patah. Obatnya tak ada." Lanjutnya semakin membuat Dinda merasa bersalah.
"Al... kumohon maafkan aku. Aku tak bermaksud. Maaf jika hatimu patah. Tapi, tolong maafkan aku." ~Dinda.
"Kenapa kau menangis? Ini bukan salahmu." ~Aldi.
"Tetap saja aku merasa bersalah." ~Dinda.
"Tidak. Sudah... jangan menangis terus." ~Aldi.
"Tapi...." ~Dinda.
"Sudah... aku tidak marah padamu. Asal kau baik-baik saja, aku sudah lega." ~Aldi.
"Siapa yang mengkhawatirkan siapa. Entah malaikat apa yang menjelma menjadi dirimu Al... kau begitu baik." ~Dinda.
__ADS_1
"Aku tidak sebaik itu. Jika aku baik, tak mungkin Tuhan mengambil semua orang yang aku sayangi." ~Aldi.
-bersambung.