RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
40


__ADS_3

. "Avril... kurasa kau salah faham. Tak mungkin Alvi selingkuh. Jangan mengada-ngada." Ucap Nadia yang jelas menampik apa yang di katakan Avril.


"Emira. Tak mungkin kalian tak mengenalnya kan? Dia yang katanya teman kakak dan Alvi, dan bukankah dia itu teman baik kak Amel. Bahkan dia ke sini pun untuk menemui Aldi."


"Liana ada disini?" Tanya Nadia setengah berteriak.


"Iya. Aku tahu pada pemilik nama itu. Tapi, Aldi bilang dia sudah menikah." Balas Bagas.


"Nah kan... kakak yakin kau hanya salah faham saja. Sebaiknya kalian bicara saja dulu." Timpal Nadia mencoba mengusir pikiran buruk tentang Alvi.


"Bagaimana keadaan Aldi? Ku dengar dia sudah pulang." Avril memilih mengalihkan pembicaraan dan tak menghiraukan ungkapan Nadia.


"Yah.. dia baik-baik saja. Tapi...."


"Tapi apa Gas?" Avril penasaran mengapa Bagas menggantungkan ucapannya.


"Aku tak yakin dia akan baik-baik saja setelah tahu kau hamil."


"Dia akan baik-baik saja Gas. Bukankah dia sudah punya pacar?"


"Mungkin. Mereka memang dekat."


"Kau sudah tahu latar belakang gadis itu?"


"Ah iya. Dia.... seorang pewaris perusahaan besar."


"Hemm baguslah. Jika sudah menjamin kebahagiaan Rei, kenapa tidak menikah saja?" Avril menyela, ia langsung berbaring dan membelakangi Bagas.


"Kau sungguh baik-baik saja?" Tanya Bagas yang tak yakin bahwa Avril baik-baik saja.


"Aku mau tidur Gas. Kak Nadia, tak apa kan jika aku tidur sebentar?" Lirihnya dengan masih membelakangi Bagas.


"I-iya tak apa." Jawab Nadia kemudian beranjak dan memberi kode pada Bagas untuk meninggalkan Avril.


"Apa kau rela jika Aldi menikahi gadis lain?"

__ADS_1


"Apa yang kau bicarakan Gas? Kau pikir aku wanita bodoh dan murahan? Bagaimana pun, aku mencintai Alvi melebihi pada Aldi. Dan juga, sekarang aku mengandung anak Alvi. Meskipun hubunganku dengan Alvi di ujung tanduk, tapi aku tak berniat menghalangi kebahagiaan Aldi dengan alasan masa lalu."


"Jika kau sudah berkata demikian, mungkin aku sedikit lega Vil. Dan aku harap semoga ada jalan keluar yang lebih baik atas masalahmu dan Alvi selain perceraian. Aku tahu, Alvi itu pria baik. Dia sangat mencintaimu. Jadi, mustahil jika dia selingkuh darimu."


"Gas... aku mengantuk." ucap Avril kini sedikit tegas mengusir Bagas.


"Oh o-oke. Maaf." Dengan ragu, Bagas berlalu keluar dari kamar Avril.


"Rei... papi tinggal ya." Ucap Bagas menghampiri Reifan yang tengah bermain dengan Ravendra.


"Papi mau kemana?" Tanyanya beralih meraih Bagas.


"Papi harus bekerja lagi sayang. Kasihan Daddy bekerjanya sendiri." Jawabnya berharap Reifan mengerti dan mau di tinggal di rumah Avril selama Aldi bekerja.


"Iya papi... Eifan mau main sama kak Raven." Ucapnya lalu kembali melanjutkan bermain dengan Ravendra. Bagas sedikit lega dan ia tak perlu khawatir lagi pada Reifan.


. Di waktu yang sama, Aldi tengah membicarakan masalah kerja sama dengan Aulian. Meskipun tubuhnya masih terasa nyeri, namun kewaspadaannya pada lawan tak pernah memudar. Hanya saja, Aldi tak memperlihatkannya. Dan seakan bersikap biasa saja.


"Aulian. Menurut data yang di berikan Bagas, dia adalah kakak dari Emilio. Tak salah lagi." Batin Aldi sembari memperhatikan setiap kata yang di ucapkan Aulian. Setelah kedua belah pihak menandatangani surat perjanjian kerja sama mereka, Aulian beranjak dan berpamitan pada Aldi yang menanggapinya dengan hanya tersenyum.


"Saya dengar anda kecelakaan?" Tanya Aulian ketika keduanya bersamaan keluar dari ruangan.


"Harusnya anda jangan memaksakan. Sehatkan diri anda terlebih dahulu." Namun, lagi-lagi Aldi hanya tersenyum menanggapi.


"Saya dengar anda memiliki putra yang menggemaskan ya?" Aulian masih terus memberikan pertanyaan pada Aldi yang jelas sedang tak ingin membahas apapun lagi.


"Saya ingin sekali bertemu dengan tuan muda kecil." Lanjutnya terasa begitu menyinggung Aldi.


"Putra saya sedang bersama mamanya."


"Jadi rumor itu salah rupanya?" Aldi menyernyit dan penasaran dengan ungkapan Aulian.


"Sebelumnya saya minta maaf. Tapi yang saya dengar rumor tentang istri anda itu....."


"Sudah meninggal." Aldi menyela cepat sebelum orang lain yang mengatakannya.

__ADS_1


"Anda tak perlu meminta maaf. Rumor itu memang benar adanya. Istri saya sudah meninggal sejak lama." Lanjut Aldi terhenti dari langkahnya dan menoleh ke arah jendela. Ia menerawang jauh pada setiap gedung yang terlihat.


"Sepertinya anda sangat mencintai mendiang istri anda." Ucap Aulian yang ikut terhenti dan melemparkan sebuah senyuman. Aldi pun hanya melempar senyum seakan ia sendiri sudah mengikhlaskan Syifa. Padahal ia tak tahu apa yang harus dikatakan untuk menggambarkan perasaannya sekarang. Di sisi lain, ia pun sedang memikirkan kabar Avril yang sudah berapa lama menghilang dari pandangannya. Dan Bagas pun belum memberikan laporan mengenai kabar Avril. Aldi melanjutkan langkahnya mengantarkan kepergian Aulian dari kantornya. Namun, ia kembali terhenti tepat di depan lift.


Tepat ketika lift terbuka, memperlihatkan Bagas yang menatapnya dengan serius. Aldi sudah faham dengan tatapan Bagas yang seakan ngin berbicara. Namun, ia harus menemani Aulian terlebih dahulu setidaknya sampai loby. Setelah itu, ia bisa menggunakan beberapa alasan untuk membiarkan Aulian pergi tanpa harus ia yang mengantarkannya. Dan karena sikap pengertian dari karyawannya, Aldi bisa langsung kembali ke ruangannya dan menemui Bagas.


"Rei tak ikut. Berarti Avil baik-baik saja." Batin Aldi yang terus menerus melirik pada lampu bertuliskan angka di atas kepalanya dan berharap liftnya segera sampai di lantai paling atas.


Aldi kemudian berlari menuju meja Bagas dengan tergesa. Rasanya antusias sekaligus penasaran akan berita baik mengenai kabar Avril.


"Bagas... Avil baik-"


"Avil hamil Al."


"Apa?" Seketika nafasnya yang terengah mendadak terhenti. Aldi mematung tak tahu harus bereaksi bagaimana pada berita ini.


"Oh.. haha... baguslah. Dengan begitu, Rei akan punya adik." Ucapnya dengan tertawa paksa yang jelas itu menutupi rasa kecewanya.


"Aku tahu apa yang kau rasakan Al. Jangan membohongi dirimu sendiri. Ada rasa kecewa di hatimu kan?" Entah kenapa, raut wajah Bagas pun terlihat begitu sendu.


"Haha kau bicara apa Gas?" Aldi memukul pelan lengan Bagas sembari terus mengalihkan pandangannya.


"Ada berita buruk lain Al. Avil berniat menggugat cerai Alvi." Tutur Bagas kemudian. Dan hal ini pun tak kalah membuat Aldi terkejut. Mengapa bisa? Tak mungkin Avril meminta cerai hanya karena alasan hamil.


"Avril bilang, Alvi selingkuh. Dengan Emira."


"Apa?" Teriak Aldi semakin terkejut. "Itu mustahil Gas. Kak Emira itu sudah punya suami."


"Apa kau tahu siapa suaminya?"


"A-aku kurang tahu Gas. Tapi dia punya perusahaan dan aku dengar dia juga seorang pimpinan sama sepertiku. Dan juga..... sial. Bagaimana jika benar Alvi suaminya? Sialan keparat itu. Brengsek! Sudah aku peringatkan jangan menyakiti Avil. Tapi..."


"Al... jangan salah faham dulu. Kita selidiki. Jangan sampai kita salah mengira. Lebih baik kau tanya dulu siapa suaminya. Bukankah dia bersikap biasa saja saat membicarakan Avil? Aku rasa bukan Alvi suami kak Emira." Ucap Bagas mencoba menenangkan emosi Aldi yang kian memuncak.


"Dan juga. Jika ada masalah pun, kita tak berhak ikut campur." Aldi hanya menghela nafas kasar merasa apa yang dikatakan Bagas itu ada benarnya.

__ADS_1


"Jika sampai terbukti Alvi menyakiti Avil, kali ini aku tak akan membiarkan Avil dimiliki orang lain."


-bersambung


__ADS_2