RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
131


__ADS_3

Yasmin dan Ibunya bergegas menyusul Aldi setelah mendapat kabar bahwa Dinda masuk rumah sakit. Saat itu Aldi belum memberitahu Dinda mengalami keguguran. Aldi berencana akan memberitahu mertuanya saat sudah datang.


"Bagaimana Al?" Tanya Salma saat ia dan Yasmin baru saja sampai. Di sana masih ada Sean dan Shana menunggu kabar kondisi Dinda, dan juga Sean masih penasaran tentang hubungan Dinda dengan Aldi. Sebab, Shana tak menceritakan apapun tentang Aldi dan Dinda yang sudah menikah.


"Bu... maafkan Aldi Bu." Ucap Aldi meraih tangan Salma dengan wajah sesal dan tak sedikitpun menjawab pertanyaan Salma.


"Iya kau kenapa Al? Dinda kenapa?" Tanya Salma sekali lagi.


"Dinda... keguguran Bu. Itu karena Aldi yang tak menjaga Dinda dengan baik." Ucapnya lagi terus menerus menyalahkan diri. Semula Salma terkejut, namun ia tahu bahwa anak itu hanyalah titipan.


"Tak apa nak. Jangan menyalahkan dirimu. Semua sudah di takdirkan." Ucap Salma memberi nasehat agar Aldi tidak terus terpuruk.


"Kak... sekarang kak Dinda bagaimana?" Tanya Yasmin ikut menimpali.


"Masih ditangani dokter Yas. Maaf ya! Kakak tidak menepati janji memberimu keponakan dalam waktu dekat." Tutur Aldi membuat Yasmin menggeleng seraya tersenyum.


"Aku punya Reifan. Saat ini, ada Rei di sisiku saja sudah cukup." Mendengar ungkapan Yasmin tersebut, Aldi langsung memeluk adik iparnya itu.


"Kau memang adikku yang baik."


Sean yang sebenarnya masih bertanya-tanya akan hubungan Aldi dengan Dinda, ia melirik ke arah jemari Aldi yang ternyata sudah terpasang sebuah cincin pengikat. Dan ia ingin memastikan lagi bahwa tebakannya itu benar atau salah.


"Al... apa kau dan Dinda--"


"Sean. Aku memang mengizinkan istriku untuk menemuimu, tapi tidak untuk memberikannya padamu." Dan saat itu juga, Sean mematung mendengar kata istri yang diucapkan Aldi.


"Maaf Al. Aku tak tahu kalau Dinda sudah menikah denganmu. Yang aku tahu kalian batal menikah karena Dinda kecelakaan. Dan setelah itu, tak ada lagi berita atau isu mengenai hubunganmu dan Dinda."

__ADS_1


"Aku tahu Sean. Aku harap, setelah kau tahu semuanya, kau berhenti mengejar istriku. Dan aku tak keberatan jika kau dan Shana akan membatalkan perjanjian kerja sama kita. Asal, jangan pada ayah mertuaku. Ayah sangat senang bekerja sama denganmu."


Ditengah perbincangan mereka, seorang Dokter keluar dan meminta Aldi untuk menemui Dinda. Meski kondisinya masih lemas, namun Dinda mencoba beranjak dari posisi tidurnya ketika melihat Aldi menghampirinya. Sesegera mungkin Dinda memeluk Aldi dengan erat dan ia tak bisa menahan tangisnya.


"Maafkan aku Al. Aku tak ada apa-apa dengan Sean, dan aku tak bisa menjaga... janinku." Ucap Dinda disela isak tangisnya.


"Bukan salahmu. Ini salahku. Kalau saja aku mendengar penjelasanmu, mungkin kau tak akan berlari mengejar ku sampai kau begini."


"Aku benar-benar minta maaf Al. Dan, apa yang harus ku katakan pada Rei? Dia akan kecewa kalau dia tidak jadi punya adik dariku."


"Jangan memikirkan itu. Sekarang pulihkan kondisimu dulu, setelahnya kita pikirkan bagaimana membujuk Rei agar dia mengerti."


"Tapi Al..." belum sempat Dinda melanjutkan bicara, Aldi menyuruhnya diam dengan meletakkan telunjuknya di bibir Dinda.


"Jangan bicara lagi. Aku sama-sama bersalah. Padahal kita bisa saja menolak ajakan Shana, tapi aku juga ingin tahu Sean itu menyukaimu atau tidak."


"Tak apa. Aku tak marah. Rei pun tak akan kecewa. Aku yakin itu." Tutur Aldi mencoba menenangkan Dinda dengan merangkul kepalanya lalu mengusap bahu dan lengan atas Dinda.


"Bagaimana sekarang?" Tanya Aldi selanjutnya.


"Darahnya banyak. Tapi Dokter bilang sudah bersih, jadi tak perlu melakukan pembersihan lagi. Kuret itu menakutkan Al. Dan kata Dokter, untung saja usia kandunganku belum sampai 4 bulan. Biasanya jika sudah 4 bulan lebih, kalau keguguran itu harus melakukan pembersihan karena di dalam rahim belum benar-benar bersih saat keluar."


"Baguslah. Entah aku harus senang atau sedih. Yang jelas, aku lega kau baik-baik saja."


"Tapi apa kau kecewa Al? Apakah dulu Syifa bisa menjaga kandungannya?"


"Syifa memang tidak pernah keguguran, tapi dia tidak bisa menjaga dirinya saat melahirkan. Dan aku tak ingin itu terjadi padamu. Anak masih bisa kita usahakan, tapi jika anak lahir tanpa sentuhan seorang ibu kandung, itu menyakitkan Dinda. Aku tak bisa apa-apa."

__ADS_1


"Kalau nanti aku seperti Syifa bagaimana? Aku memberimu keturunan, tapi aku pergi."


"Apa yang kau bicarakan?"


"Tapi, kalau itu terjadi?"


"Jangan! Pokoknya jangan! Kau jangan seperti Syifa."


"Al... aku tak bisa berjanji akan terus bersamamu. Tapi, selama aku di sisimu, aku akan menjadi istri yang baik untukmu."


"Aku percaya." Balas Aldi menarik sebuah senyum manis sehingga Dinda pun merasa lega jika Aldi tak marah sedikitpun.


Sementara itu, di kediaman Alvi, Dewi masih menginap di sana selama Aldi pergi. Dan malam ini, mereka tengah berkumpul di ruang tamu bersama Emira yang kebetulan bertemu di makam. Diketahui Emira tengah berziarah ke makam Amel di waktu yang sama dengan Alvi dan Dewi. Hal itu membuat Alvi memintanya untuk datang ke rumah dan ikut berkumpul bersama mereka. Semula Emira ragu karena takut Avril akan salah faham padanya, namun, Alvi meyakinkan bahwa Avril tidak akan marah.


Ketika mereka tengah berbincang, Bu Rumi menghampiri mereka dan memberitahu adanya panggilan lewat telepon untuk Dewi. Dan saat itu juga, Dewi bergegas ke tempat dimana Bu Rumi menerima panggilan yang masih tersambung.


"Hallo." Ucap Dewi setelah ia meletakkan alat interaksi jarak jauh itu di telinganya. Tak lama, Dewi terdiam lalu menutup telepon dengan sepihak tanpa mengatakan sepatah katapun. Kemudian Dewi menghampiri Alvi dan mengatakan bahwa dirinya akan pulang dan bersiap menyusul Aldi.


"Besok saja Ma. Alvi antar. Jangan sekarang! Ini sudah malam. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Mama?" Ujar Alvi tak sedikitpun memberi izin pada Dewi untuk pergi sekarang. Layaknya anak pada ibu kandungnya, Alvi begitu posesif pada Dewi yang memang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Dan Dewi pun tak bisa membantah, ia sendiri sudah menganggap Lvi dan Avril sebagai anaknya. Lantaran Aldi yang selalu sibuk dan sekarang sudah menikah, ia merasa Aldi sedikit jauh darinya.


Esoknya, sesuai dengan yang di katakan Alvi, Dewi berangkat di antarkan oleh Alvi langsung ke kediaman Hadi. Mereka menggunakan jet pribadi milik Alvi dan sudah mengkonfirmasi pada landasan yang ada di kediaman Hadi.


Sampai di sana, Alvi turun dan mengantarkan Dewi kepada Aldi yang menunggunya bersama Reifan. Tatapan Alvi masih dingin dan bahkan ia tak melirik Reifan sama sekali. Alvi berpamitan pada Dewi karena dirinya akan langsung kembali pulang. Alvi tahu, jika ia melirik Aldi dan Reifan, maka Reifan akan memanggilnya dengan panggilan yang tak pernah ia ingin dengar. Sesegera mungkin Alvi berbalik dan melangkah menjauh dari tempat Dewi, tiba-tiba langkahnya terhenti karena Reifan memanggilnya.


"Ayah..." teriak Reifan membekukan tubuh Alvi seketika. Perasaannya tak karuan, dan jantungnya mendadak berdegup keras. Alvi menoleh dan berbalik menghadap ke arah Reifan yang ternyata sudah berlari menghampirinya. Entah apa yang membuat Reifan sedih, ia menangis saat Alvi memeluknya dengan erat.


"Ayah...." rengeknya lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2