
. Aulian melirik ke arah Aldi dengan lirikan penuh kemenangan saat nafas Avril tersenggal dan kian melemah.
"Ah.... ternyata kau suaminya? Jadi tadi aku berbicara denganmu? Maaf Aldian, aku tak tahu." Ucap Aulian menyeringai licik dan tak berniat melepaskan Avril.
"Lepaskan dia sialan." Teriak Aldi sembari berlari dan menerjang Aulian. Namun, karena Aulian sudah menduga Aldi akan menyerangnya, ia dengan mudah menepis pukulan yang hampir mengenai wajahnya itu. Tak kehabisan cara, Aldi menendang perut Aulian membuat Avril tergeletak.
"Avil... bangun hei. Vil... Apa yang harus ku katakan pada suamimu nanti. Vil.. ayolah! Rei akan menyalahkanku jika kau tak ada." Aldi terus mengguncangkan tubuh Avril agar segera terbangun. Namun, cengkraman tangan Aulian sangatlah kuat. Bahkan Avril sendiri sudah kehabisan tenaga untuk melawan dan mencoba melepaskan diri dari Aulian. Setelah Aulian membuat Rei pingsan dengan memberi suntikan obat, Aulian beralih membungkam Avril dengan mencekiknya sampai Aldi tiba di sana.
"Dia tak akan bertahan lama. Nafasnya sudah di tenggorokan saat kau tiba tadi. Dan sekarang mungkin nyawanya sudah melayang." Ucap Aulian dengan tertawa puas.
"Sialan. Sebenarnya apa masalahmu hah?" Teriak Aldi beranjak dan mengepalkan tangannya kuat menghadap pada Aulian yang masih terduduk di dekat reruntuhan barang-barang.
"Hahaha Aldian... kau sudah punya anak dan istri, tapi masih mendekati Dinda. Bahkan kau membuat Dinda putus dengan adikku. Meskipun aku membenci adik bodohku itu, tapi rasanya aku tak rela. Oh bukan hanya itu, kau merampas kepercayaan Hadi yang seharusnya bekerja sama denganku, tapi malah denganmu. Hadi itu punya perusahaan berpotensi tinggi jika di sandingkan dengan perusahaanku. Tapi dia malah memilih menolak ajakan kerja samaku. Semua itu gara-gara kau Aldian." Kini teriakan Aulian lebih terdengar frustasi. Aldi tak menyangka sebesar itu dendam Aulian padanya hanya karena masalah pekerjaan.
"Apa kau juga yang menyuruh Lani membuat surat palsu tentang pemindahan saham? Sampai aku bertengkar dengan teman-temanku, dan membuatku sibuk sampai kondisi perusahaanku menurun drastis."
"Oh... ternyata berhasil? Hahaha bukan hanya itu. Aku juga berhasil membuatmu tak mempercayai teman yang sangat dekat denganmu. Bagaimana rasanya dikhianati oleh teman yang menemanimu dari kecil? Pasti menyenangkan ya? Haha kau bodoh juga ternyata. Dan istrimu ini sangat pintar. Dia dengan mudah menemukan titik kejanggalan dari permasalahanmu. Mengagumkan." Aldi terheran sendiri melihat Aulian yang sudah seperti orang gila. Dia jujur sendiri, dan memuji orang dengan kesal namun di iringi tawa yang tak jelas.
"Setelah istrimu, maka kau dan anakmu yang menyusulnya Aldi." Lanjut Aulian merubah wajahnya menjadi serius. Dan tanpa di duga, Aulian mengeluarkan sebuah pistol dengan mengarahkannya pada Reifan.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan sialan?" Pekik Aldi yang tak bisa menahan dirinya saat buah hati tengah berada dalam bahaya.
"Bagaimana rasanya punya anak? Apa menyenangkan? Bukankah kau tak mempedulikan anak ini? Aku dengar rumornya kau selalu meninggalkannya. Ternyata benar, punya anak itu merepotkan. Untung saja aku sudah menghabisi anakku yang belum lahir itu. Kalau sampai dia lahir, mungkin dia akan menjadi anak yang menyebalkan dan merepotkan seperti anakmu." Entah kenapa, ungkapan Aulian ini membuat Aldi menjadi geram. Ia marah namun air matanya berderai bersamaan dengan langkah kakinya menghampiri Reifan. Sekuat tenaga Aldi berlari menghalangi peluru yang di tembakkan oleh Aulian hingga punggung kirinya mengalami luka. Aldi meringis namun tak ingin berteriak.
"Hem? Kenapa Aldi? Kau melindungi anak merepotkan itu?"
"Kau boleh merampas perusahaanku meskipun tanpa sisa Aulian. Tapi, aku tak akan membiarkanmu merampas putraku satu-satunya."
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengirimmu ke tempat istrimu berada." Sontak Aldi membeku. Di pikirannya terlintas Syifa yang tengah memeluk dirinya. Entah karena halusinasi atau refleks dari ucapan Aulian tentang 'istrinya'.
"Syifa. Apa sudah waktunya kita bertemu?" Lirihnya semakin erat memeluk Reifan.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?" Tanya Alvi tegas, wajah Aulian memucat menatap siapa orang yang datang ini.
"Alvian Revano. Dia..... berkata istri pada Avril? Jadi, Aldi bukan suaminya?" Batin Aulian sehingga terlintas ucapan Avril beberapa saat yang lalu. Yang tak lain bahwa ia sudah salah berurusan dengannya. Tak lama berselang, terlihat pula Galih menampakkan dirinya membuat Aulian membeku seketika.
"Galih Permana? Mengapa dia disini?" Batin Aulian kembali diselimuti beribu pertanyaan tentang siapa Avril sebenarnya.
"Berani-beraninya kau membuat adikku terkapar." Suara tegas Galih berhasil membuat Aulian gemetar hingga pistol yang ia pegang pun jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Sayang... bangun. Hei.... jangan bercanda. Sayang. Galih... Avril tidak bernafas." Mendadak suara Alvi gemetar putus asa. Ia mencoba memberi nafas buatan pada istrinya lalu menekan dadanya dengan perlahan. Namun, rasa paniknya malah semakin mendominasi.
"Alvi tenang. Sebaiknya kau bawa Avril dan Aldi ke rumah sakit. Tikus ini biar aku yang urus. Kau pergi sendiri bisa kan? Aku butuh bantuan Ray." Meski panik, namun Alvi menuruti ucapan Galih untuk membawa Avril dan Aldi keluar dari sana. Kini tinggal Aulian yang berhadapan dengan Galih yang tak sedikitpun merubah tatapan tajamnya.
"Apa masalahmu sampai kau membuat adikku begitu? Membawa anak sekecil Rei menjadi korban. Karena masalah apa?" Tanya Galih tanpa ingin memberi kesempatan Aulian untuk menjawab. Aulian sendiri tahu rumor tentang Galih yang merupakan pria dingin dan bahkan tak berperasaan. Pada adik iparnya pun, Galih tak segan untuk bersikap keras, hal itu juga sudah menyebar membuat Alvi mengalami penurunan saham kala itu. Namun, dengan klarifikasi dari Galih, perusahaan Alvi kembali bangkit dan stabil hingga sekarang.
"Aulian Prayoga, kau seorang presdir bukan?" Tanya Galih kemudian. Aulian benar-benar membeku di hadapan Galih, ia masih tak menyangka rencana menjatuhkan Aldi akan berujung berurusan dengan Galih dan Alvi. Kali ini ia baru sadar siapa Avril sebenarnya.
"Maaf tuan. Tapi aku punya urusan dengan Aldi."
"Dengan Aldi katamu? Kalau dengan Aldi kenapa kau tidak menyelesaikannya secara pribadi? Kenapa malah membawa adik dan keponakanku dalam bahaya? Jawab!" Teriak Galih menggelegar, bahkan terdengar sampai keluar. Ray yang sudah meringkus Ken dan Lani pun menyusul Galih kedalam gudang.
"Tuan Galih. Sudah saya bereskan."
"Baik Ray. Kau bereskan yang disini."
"Baik tuan." Setelah mendengar jawaban Ray, Galih berbalik dan keluar dari gudang. Tak lama, beberapa polisi datang dan mengepungnya.
"Sebelum menargetkan seseorang, diharapkan anda mengetahui latar belakangnya terlebih dahulu tuan." Tutur Ray tersenyum sinis saat Aulian di seret oleh polisi.
__ADS_1
-bersambung