
. Aldi bersiap dengan memakai stelan jas untuk bekerja. Namun kali ini, Dinda melihat Aldi begitu berbeda, Aldi terlihat sangat menawan. Dinda merasa tak rela jika Aldi menjadi tontonan wanita-wanita di luar sana yang mungkin akan mengaguminya. Dinda mendelik kemudian ia mencengkram jubah handuknya ketika mendapati Aldi begitu tampan.
"Kau masih marah padaku? Apa kau kesal karena semalam? Bagaimana caranya agar kau memaafkanku?" Aldi bertanya seraya menghampiri Dinda dan langsung memeluk Dinda dari belakang.
"Maaf ya sayang." Ucap Aldi kemudian.
"Al... bisa tidak kalau kau sembunyikan wajahmu?"
"Hah?" Aldi melongo dan tak paham akan permintaan Dinda yang tak masuk akal itu.
"Wajahmu terlalu tampan. Kalau wanita-wanita di luar sana mengagumimu bagaimana? Kau akan berpaling?"
"Hei kau ini bicara apa?" Aldi memutar tubuh Dinda sehingga kini keduanya saling berhadapan. "Dengar. Sudah aku bilang aku tak akan pernah berpaling darimu. Kenapa kau selalu berpikir yang tidak-tidak?" Lanjutnya namun masih membuat Dinda ragu akan perasaan Aldi padanya.
"Aku sudah memakai ini, dan kau masih ragu?" Kini Aldi mengangkat tangannya yang memperlihatkan sebuah cincin melingkar di jari manisnya. Dinda perlahan luluh dan ia mulai mengerti meski rasa cemburunya masih menggebu tanpa alasan.
"Sekarang, izinkan aku bekerja, dan doakan semua urusanku lancar dan membuahkan hasil. Ini untuk keluarga kita juga. Aku akan fokus bekerja, tidak akan pernah melirik wanita manapun." Aldi mencoba membujuk istrinya agar ia bisa segera berangkat tanpa harus mengkhawatirkan hal apapun yang belum ia selesaikan di rumah.
"Baiklah. Hati-hati." Akhirnya Dinda bicara juga, sehingga Aldi menghela nafas lega mendengarnya. Kemudian Aldi tersenyum lalu menunjuk pipinya dengan manja. Dan Dinda pun memberi kecupan di tempat yang di inginkan suaminya. Lalu Aldi membalasnya 3 kali lipat dari yang Dinda berikan. Aldi mencium pipi, kening dan bibir Dinda sebelum ia berangkat.
"Dah sayang. Jangan lupa sarapan ya. Maaf tidak bisa menemanimu." Aldi melambaikan tangan sebelum ia benar-benar berlalu dari kamar, dan Dinda pun membalas lambaian tangan suaminya dengan di iringi senyum sebagai penghantar kepergian Aldi.
Setelah Aldi berangkat, Dinda mencari pakaian yang memungkinkannya untuk menutupi lehernya. Ia tak habis pikir pada Aldi yang memberi tanda di manapun ia mau.
"Mengerikan. Dia sudah berpengalaman, sedangkan aku hanya amatiran." Gumamnya sendiri seraya terus mencari baju.
. Hari ini, seisi rumah sudah tak ada, Dewi di ketahui tengah menghadiri acara di rumah tetangganya yang tak jauh dari rumahnya. Sedangkan Reifan sudah ke rumah Avril karena sedari pagi sudah meminta untuk di antarkan ke sana. Dinda yang tak tahu harus apa, ia memilih untuk ke toko dan sarapan di sana.
Sesampainya di toko, ia segera memasuki ruangan pribadinya dan membuka agenda serta catatan keuangan yang di siapkan oleh Nisa dan yang lain. Sembari melahap makanan, Dinda asyik membaca satu persatu laporan yang di buat Nisa setiap harinya.
__ADS_1
Menjelang siang, Dinda merasa bosan, ia merangkai sebuah bunga yang dulu sering ia rangkai. Hal itu membuat Nisa terdiam melihat hasil rangkaian bunga yang selama ini ia rindukan.
"Kak Dinda. Ini kan...." ungkapan Nisa terhenti begitu saja, rasanya ia tak cukup mengumpulkan kata-kata untuk menanyakan mengapa Dinda bisa merangkai bunga itu padahal masih dalam kondisi amnesia.
"Kenapa Nis? Sepertinya kau mau bertanya sesuatu?"
"Anu... kak..." belum sempat ia bertanya, terdengar ada seorang pembeli memasuki tokonya sehingga Nisa harus kembali menelan pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
. Ketika hari sudah sore, Dinda pulang lebih dulu ketika Aldi sudah menjemputnya. Nisa begitu bahagia melihat kebersamaan Dinda dan Aldi yang kian hari kian dekat. Nisa yang tak tahu mereka sudah menikah, ia menyelipkan doa agar mereka cepat menikah.
"Kenapa malah ke toko sayang?"
"Aku tak tahu harus apa di rumah. Jadi yaa aku ke toko saja."
"Katanya masih sakit." Sontak Dinda terdiam tak langsung menjawab pertanyaan di luar nalar suaminya. Ia merasa malu mengapa Aldi membahas tentang ini.
"Emm su-sudah tidak." Jawabnya gugup.
"Ta-tapi masih terasa sakit." Ucapnya kemudian dengan terlihat wajah gugupnya. Namun, Aldi tak menanggapi, ia terus fokus pada jalan yang di lewatinya dan sesekali melirik pada Dinda sesaat.
Sampai di rumah, Aldi langsung membersihkan diri karena ia merasa lelah bekerja di kantor. Sedangkan Dinda, memilih untuk berbaring di ranjang seraya memainkan ponselnya. Aldi ikut berbaring di samping istrinya dan ia pun memainkan ponsel sama seperti Dinda.
Tak lama, Aldi melemparkan ponsel ke sembarang arah, kemudian ia membenamkan wajahnya pada rambut Dinda.
"Al.. aku belum mandi. Pasti rambutku sudah bau." Ujar Dinda memberitahu.
"Tidak apa-apa." Jawabnya hanya begitu. Lalu Aldi memeluk Dinda dan mulai memejamkan matanya.
"Al... jangan tidur sekarang. Tak boleh."
__ADS_1
"Hmmmm."
"Apa kau sakit?"
"Hmmmm."
"Ishhh jangan begitu. Aku tak mengerti kalau kau tak langsung memberitahuku."
"Aku lelah sayang. Mau istirahat. Kau mandi sana. Nanti tolong pijat kepalaku. Rasanya aku pusing."
"Baiklah." Dinda beranjak setelah ia mendengar apa yang di katakan Aldi. Belum sampai 3 langkah, tangannya kembali di tarik sehingga Dinda kehilangan keseimbangan. Ia menimpa Aldi akibat tarikan itu. Aldi yang berada di bawahnya pun meraih wajah Dinda dan kembali memeluknya.
"Jangan pergi ya..." lirih Aldi kembali memejamkan matanya.
"Tapi aku mau mandi Al..." jawab Dinda mencoba terlepas dari suaminya. Namun saat menyadari ada yang aneh pada Aldi, Dinda terdiam seraya mengelus kepala Aldi dengan lembut.
"Aku tak akan meninggalkanmu Al. Aku berjanji." Tutur Dinda akhirnya bisa terlepas dari Aldi. Rasa takut kehilangan mungkin membuat Aldi menjadi posesif.
. Malamnya setelah mandi dan makan malam, Aldi tiduran di pangkuan Dinda. Ia yang lelah di tempat kerja pun di pijit oleh istrinya untuk sekedar mengurangi rasa pening.
"Bunda... kalau ayah di cium pipi pasti langsung sembuh." Ucap Aldi dengan masih memejamkan mata.
"Nah kan ayah bundanya sudah keluar." Bati Dinda yang langsung mencium pipi Aldi. Aldi terbangun dan menatap Dinda dengan heran.
"Kenapa?" Tanya Dinda yang sama-sama terheran.
"Pipi yang ini." Jawab Aldi seraya menunjuk pipi yang satunya. Dan dengan menurut, Dinda mencium pipi Aldi tersebut. Dan seperti biasa, Aldi membalasnya dengan bertubi-tubi.
"Ampun Al. Geli." Protes Dinda seraya tertawa karena kejahilan Aldi. Keduanya bercanda dan tertawa berdua tanpa ada siapapun yang mengganggu.
__ADS_1
-bersambung