RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
90


__ADS_3

. Aldi keluar dari kamar lalu menemui Hadi di ruang kerja. Di sana sudah ada Bagas dan Reno yang menunggunya seraya berbaring di sofa memperlihatkan kondisi prihatin mereka karena kelelahan. Kemudian di susul oleh Dewi dan Reifan yang baru memasuki ruang kerja.


"Daddy.... Eifan rindu." Ucapnya langsung memeluk Aldi.


"Aih baru dua hari tidak bertemu sudah rindu?"


"Daddy jauh pergi. Eifan sama mommy. Ohhh Daddy! Mommy ada dedek bayi." Sontak Aldi langsung tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan polos putra semata wayangnya.


"Mommy kan memang ada dedek bayi nak." Ucap Aldi masih tertawa dan di ikuti Reifan yang sama-sama tertawa.


"Woy. Sudah siap?" Tanya Aldi beralih menatap pada kedua temannya dengan begitu angkuh. Reno beranjak lalu menatap Aldi dengan tajam dan ia terlihat sangat membenci Aldi hari ini.


"Aku sedang sibuk-sibuknya dan ada meeting dengan Om Andre siang ini, kau malah akan nikah lagi? Kalau bukan temanku, sudah aku bunuh kau hah!" Geram Reno mencoba meluapkan semua amarahnya. Meski demikian, Aldi hanya tertawa menanggapi kekesalan Reno karenanya.


"Apa mempelai wanita sudah siap? Sebaiknya kau cepat-cepat menikah sana. Aku sudah ingin tidur dengan tenang." Keluh Bagas masih berbaring dan memejamkan matanya.


"Andre pemilik perusahaan A?" Tanya Hadi ikut masuk dalam obrolan.


"Iya. Om kenal?" Reno menjawab sekaligus bertanya balik pada Hadi dengan antusias.


"Kenal. Kita sempat menjalin kerja sama. Itupun tidak lama, karena saat itu perusahaan Andre mengalami penurunan. Jadi tak memungkinkan jika kerja sama di lanjutkan." Mendengar jawaban Hadi, Aldi menunduk mengingat masa-masa sulit ayahnya yang ternyata bersamaan dengan jatuhnya perusahaan Andre. Salah faham pun terjadi antara keluarganya dan keluarga Andre karena alasan tersebut.


Ditengah perbincangan mereka, terdengar suara pintu di ketuk. Seketika keempat orang di ruangan itu pun menoleh ke arah pintu yang perlahan terbuka. Bagas masih tertidur seakan ia tak ingin dan tak peduli siapa yang datang. Maira menyipitkan matanya melihat tingkah Bagas yang tak ia sangka ternyata begitu santai dan tak sopan pada Hadi.


"Dinda sudah siap Om, dia sudah ada di ruangan yang Om minta." Ucap Maira melapor.


"Bagas. Kau tidak menjelaskan jadwalnya?" Tanya Hadi dengan santai namun terdengar tegas bagi Bagas sehingga membuatnya beranjak lalu duduk dengan tegap seakan rasa kantuknya hilang seketika.


"Kurang lebih jam 9 penghulunya datang, dan setelah mempelai resmi menjadi suami istri, kita akan istirahat dan tidur dengan nyenyak." Jelas Bagas dengar serius meski sebenarnya itu adalah candaan agar dirinya bisa istirahat.

__ADS_1


"Serius!" Tegur Reno seraya memukul kepala Bagas.


"Sakit ih." Protes Bagas mendelik sesaat pada Reno. "Itu memang jadwalnya Om. Satu lagi, cincin pernikahan sudah siap dan ada di Yasmin Om."


"Baiklah. Terima kasih Bagas. Kau sangat banyak membantu."


"Siap Om. Oh iya, sekarang kita ke tempat Dinda saja." Tutur Bagas melirik jam di tangannya sesaat. Melihat lirikan Reno dan Bagas yang terasa dejavu, membuat Aldi tersenyum dan menghela nafas dalam sebelum ia menyusul Hadi yang lebih dulu keluar dari ruangan.


"Ehem. Nikah dua kali." Sindir Reno dengan suara keras agar Aldi mendengarnya secara jelas.


"Aku dengar woy." Protes Aldi melirik sinis pada kedua temannya yang berada di belakangnya.


Ketika Aldi memasuki ruangan yang khusus di dekorasi dengan hiasan sederhana namun begitu menarik untuk di lihat, Aldi tertegun melihat Dinda yang sangat berbeda pagi ini. Meski hanya memakai make up tipis, namun Dinda terlihat begitu anggun dan cantik. Nasib baik semua persyaratan bisa Reno selesaikan dalam waktu sekejap dan memberitahu Dewi tentang hal ini. Dewi sendiri merasa terkejut, bahkan ia berpikir bahwa putranya mungkin berbuat macam-macam pada Dinda sehingga Hadi mengadakan pernikahan mendadak untuk mereka. Namun saat mendengar penjelasan Salma, Dewi akhirnya mengerti dan ia dapat menghela nafas lega jika keluarga Hadi sudah mempercayai Aldi sepenuhnya.


Sebelum melakukan proses ijab qabul, Aldi yang duduk di samping Dinda, ia tak memalingkan pandangannya sama sekali. Dengan menahan dagu, dan senyum yang tersimpul, Aldi berhasil membuat Dinda salah tingkah sendiri.


"Ck. Al! Jangan menatapku begitu." Dinda mengusap kasar wajah Aldi yang terus membuatnya tersipu. Meski Dinda memintanya untuk tak menatapnya terus-terusan, namun Aldi tak mendengarkan dan ia melah semakin merayu Dinda yang sudah merasa tak karuan.


"Hei. Maira!" Panggil Bagas setengah berbisik. Reno yang penasaran pun memasang telinganya untuk mencuri-curi pembicaraan apa yang tengah di bahas oleh Bagas dan Maira.


"Apa?" Sahut Maira dengan sedikit ketus.


"Ih galak." Cetus Bagas mendelik kesal. Maira yang melihatnya hanya ikut mendelik menghindari komunikasi dengan Maira.


"Kenapa kau dekat denganku?" Bagas bertanya dengan pandangan lurus ke depan.


"Aku tak tahu. Refleks." Dan Maira masih menjawab dengan ketus.


"Mau sekalian tidak?" Maira menoleh, ia tak paham maksud Bagas bertanya demikian.

__ADS_1


"Ehhh aku tanya, mau sekalian tidak?" Tanya Bagas sekali lagi.


"Sekalian apa?"


"Ya nikah lah."


"Hah?" Pekik Maira membuat semuanya terkejut dan menoleh kepada mereka secara bersamaan.


"Ma-maaf." Ucap Maira menyadari kekacauan yang di buatnya.


"Kau gila." Bisik Maira dengan bergumam namun masih terdengar oleh Bagas.


"Aku serius."


"Tapi aku tidak mau."


"Kenapa? Aku sudah punya rumah, mobil, dan gajiku cukup untuk menafkahimu."


"Aku sudah punya calon!"


"Eh? Oh. Ok!" Setelah kalimat itu terlontar, tak ada lagi yang bicara di antara mereka seakan semua kata sudah habis di ucapkan. Hal itu menarik perhatian Reno yang merasa heran akan perbedaan sikap keduanya di bandingkan sebelumnya.


Dinda terlihat begitu tegang saat Aldi mengucapkan ikrar pernikahan setelah ayahnya dalam satu tarikan nafas. Air matanya jatuh dari pelupuk mata, dan jantungnya berdegup kencang ketika para saksi sudah mengucapkan kata 'SAH'. Meski hanya pernikahan yang di hadiri oleh keluarga, namun bagi Dinda ini adalah hari istimewanya. Dinda mencium tangan Aldi dan Aldi membalasnya dengan mengecup kening Dinda. Setelahnya kedua mempelai beralih mencium tangan orang tua mereka secara bergantian. Dewi yang begitu bahagia pun tak bisa menahan diri lagi, ia memeluk menantunya dengan tangis haru dan bahagia bercampur menjadi satu.


"Semoga kamu bahagia nak."


"Jima Syifa saja bahagia, maka tak ada alasan untukku tak bahagia Ma." Mendengar ungkapan Dinda, Dewi tersenyum dan ia begitu beruntung Dinda menjadi menantunya.


Setelahnya, Baren dan Maira memberi selamat, lalu mereka melakukan foto bersama untuk di abadikan sebagai kenangan.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2