RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali

RTB 2: Ku Ingin Kau Kembali
18


__ADS_3

. Aldi beranjak meninggalkan Dinda yang masih termangu dan menatap Aldi dengan tatapan penasaran.


"Maaf..." ucap Dinda menghentikan langkah Aldi dan berhasil membuatnya menoleh.


"Kenapa kau memberikan bunga ini padaku?" Aldi yang mendengarnya langsung terkekeh karena berpikir bahwa Dinda tengah melamun saat dirinya memberikan bunga itu.


"Tak ada alasan khusus. Aku hanya ingin memberikannya padamu. Kenapa? Tidak mau?" Dengan cepat Dinda menggeleng menanggapi pertanyaan Aldi.


"Bukankah ini untuk seseorang?" ~Dinda.


"Memangnya kau bukan orang?" ~Aldi.


"Bukan itu maksudku." ~Dinda.


"Sudahlah. Anggap saja sebagai permintaan maafku karena pergi terlalu lama dan tidak mengabarimu." ~Aldi.


"Eh?" Dinda menyernyit dan seketika langsung gugup karena ucapan Aldi. Ia selama ini menunggu kedatangan Aldi dan mengharapkan sebuah kabar darinya. Dengan tersenyum, Aldi berlalu dan tak menoleh kembali ke belakang. Dinda menghela nafas dalam sambil menatap lekat pada bunga yang ia susun rapi di meja.


"Apa yang aku pikirkan. Sudah jelas Lio datang padamu hari ini Dinda." Ucapnya pelan dengan berbicara pada dirinya sendiri.


"Kak... ssttt." Dinda menoleh pada sumber suara yang sedikit jauh darinya.


"Apa?" Tanyanya tanpa suara.


"Sibuk?" Tanya Nisa dengan ragu.


"Tidak." Jawab Dinda dengan suara keras.


"Bohong..."


"Serius."


"Kak Dinda itu sebenarnya suka kan sama pak Aldi?" Tanya Nisa tanpa ragu dengan berjalan menghampiri Dinda yang terlihat sangat lemas.


"Aku tidak mau berharap lebih Nis. Aldi itu terlalu sempurna untukku. Di belakangnya pasti ada seseorang yang istimewa yang dia sembunyikan dari muka umum."

__ADS_1


"Maksud kakak?"


"Kau tak mungkin tidak mengerti Nis. Kau sendiri saja mengagumi Aldi kan? Aku akui dia memang tampan dan punya segalanya, tapi rasanya aku terlalu lancang jika harus berharap padanya Nis. Lagi pula, aku sudah punya Lio." Ungkapnya yang entah kenapa terdengar sedikit kecewa.


"Tak apa kak... aku rela melepas pak Aldi demi kakak. Semangat ya... kelihatannya pak Aldi juga suka pada kakak." Cetusnya begitu saja.


"Apa hanya menyukai saja, tak akan membuat hatiku sakit kan?" Batinnya menatap dalam pada pintu utama.


"Oma... tuhhhh" ucap Reifan menunjukan mainan yang ada ditangannya.


"Kamu sedang main apa sayang?" Namun Reifan tak menjawab ia hanya tersenyum dan terdengar tawa kecil. Lalu tak lama, ia menjadi murung dan matanya pun berkaca-kaca.


"Aihhh kenapa lagi? Sini Oma peluk sayang." Segera Dewi meraih Reifan dan membawanya dalam pangkuan.


"Daddy....." rengeknya mulai menangis tanpa teriakan. Dewi merasa sedikit heran akan sikap Reifan. Biasanya Reifan selalu menangis keras, namun sekarang hanya terdengar isakannya saja.


"Daddy nya belum pulang sayang. Sebentar lagi ya, daddy ada pekerjaan."


"Daddy lama. Daddy tidak sayang Eifan Oma." Ucapnya mengejutkan Dewi seketika. Bagaimana anak sekecil ini bisa berpikir demikian? Dewi sendiri kini tak bisa lagi menjawab asal. Sepertinya Reifan mulai mengerti bahwa Aldi sering kali mengabaikannya dan dengan sengaja meninggalkan Reifan begitu saja, meskipun dengan alasan pekerjaan.


"Ayah...." rengeknya yang terdengar samar oleh Dewi. Ia segera menyusul Reifan keluar. Dan benar, ternyata Alvi yang datang.


"Sudah... kenapa kamu menangis?" Terlihat Avril berada tepat dibelakang Alvi dengan membersihkan wajah Reifan.


"Eifan... mau ayah saja." Ucapnya disela isak tangisnya. Avril dan Alvi hanya menyernyit tak mengerti maksud Reifan apa.


"Sayang.... kenapa bicara begitu?" Avril menatap nanar pada Reifan dan mungkin ia juga mengerti mengapa Reifan sampai begitu.


"Daddy sebentar lagi pulang sayang. Daddy kan bekerja untuk kamu juga." Ucap Alvi dengan terus menenangkan Reifan agar tak terus menangis.


"Tap.. daddy... tidak pulang ayah... daddy benci Eifan...." lagi, Reifan menangis tersedu-sedu dan membenamkan wajahnya pada pundak Alvi.


"Ehhh Eifan jangan begitu. Kalau Eifan bicara lagi, mommy marah sama Eifan. Mommy tak akan kesini lagi."


"Aaaaaa mommy..... mommy juga jahat.... mommy tak sayang Eifan..." teriaknya semakin keras mendengar ancaman Avril. Alvi menoleh dan melirik sinis pada Avril yang tertawa kikuk dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Sudah... sini mommy gendong sayang..." dan akhirnya Reifan beralih ke pangkuan Avril yang menjadi sendu memeluk Reifan. Menyadari kesedihan Avril, Alvi menghela nafas dalam sesaat lalu berjalan ke arah mobil dan mengambil sesuatu. Ia kemudian memberikan mainan rubik yang awalnya ia beli untuk Ravendra, namun karena melihat Reifan yang tak henti terisak dan seakan butuh sesuatu untuk tenang, ia mencoba untuk memberikannya pada Reifan.


"Al... itu untuk Raven." Ucap Avril jelas menunjukkan ketidak setujuannya untuk memberikan mainan itu pada Reifan.


"Tak apa... kita beli lagi untuk Raven nanti. Lagi pula ini hanya mainan, ini untuk menenangkannya saja agar tak menangis terus." Jawab Alvi dengan mengacak warna yang semula rapi kini menjadi berantakan.


"Ini.... mainkan sesukamu." Ucap Alvi selanjutnya sambil mengacak rambut Reifan yang sedikit memanjang. "Rambutmu sudah panjang. Kita rapikan rambutmu sekarang. Mau?" Lanjut Alvi yang ditanggapi anggukan oleh Reifan. "Yasudah... kalau begitu sini... ayah gendong kamu." Reifan kembali pada pangkuan Alvi setelah Alvi mengatakan kalimat ajakan itu.


"Tapi Al... kau mau menyetir." Ucap Avril terdengar sedikit kesal.


"Siapa bilang aku yang mau menyetir." Jawab Alvi begitu santainya memasuki mobil. Menyadari niat Alvi, Avril hanya bisa menggeleng tak habis pikir sambil ikut memasuki mobil.


"Ma... aku pergi dulu ya." Ucap Avril berpamitan pada Dewi yang sedari tadi menatap nanar kebersamaan Reifan dan Alvi.


"Iya. Hati-hati." Jawabnya tersenyum tanda mengizinkan Reifan dibawa pergi.


"Andai Aldi seperti Alvi. Mungkin aku tak akan khawatir pada Reifan dengan berlebihan terus seperti sekarang. Syifa... andai saja. Jika takdir bisa mama ubah, mama ingin kau disini. Mama ingin melihat Reifan tumbuh dibawah asuhan ibu kandungnya." Gumam Dewi dalam hati. Batinnya menjerit ketika mengingat mendiang menantu yang selamanya tak akan pernah kembali lagi padanya.


Ketika Dewi hendak berbalik dan akan melangkah memasuki rumah, terdengar suara mobil yang sangat ia kenal. Bukannya menyambut, Dewi malah terus berlalu dan menutup pintu dengan kasar. Aldi berlari menyusul Dewi yang dirasanya sedang marah.


"Ma..." panggilnya membuka pintu. "Ma... aku pulang." Lanjutnya tanpa jawaban. "Ma... Rei mana?" Lagi, ia bertanya tanpa mendapat jawaban dari sang ibu. Aldi menghampiri Dewi yang fokus membereskan mainan Reifan di ruang tengah bersama dengan asisten rumah tangganya.


"Ma.. Rei dirumah Avil ya?" Tanyanya lagi, namun tetap saja Dewi masih mendiamkan Aldi tanpa ia tahu alasannya.


"Mama kenapa ma? Aldi baru pulang, tapi mama malah mendiamkan Aldi begini? Ada apa? Mama ada masalah? Atau ada sesuatu pada Rei?" Mendengar beberapa pertanyaan itu, Dewi hanya melirik tajam pada Aldi yang langsung memahami lirikan sinis ibunya.


"Mama marah? Kenapa?" Tanya Aldi lagi dengan duduk di samping Dewi.


"Siapa suruh kamu pulang?" Aldi menyernyit mendapati pertanyaan di luar dugaannya.


"Mama bicara apa sih ma? Ini kan rumah Aldi juga. Rei mana ma?"


"Untuk apa kau menanyakan Rei, sementara kau sendiri tak pernah peduli pada Rei." Dan seketika Aldi terdiam. Memang benar, ia bersikap seakan tak peduli pada Reifan.


-bersambung

__ADS_1


__ADS_2