
. Selepas kepergian Emilio, raut wajah Dinda berubah kesal, ia memaki Emilio tanpa henti sampai makanan pesanan mereka datang Dinda masih terlihat begitu kesal.
"Mau sampai kapan kau begitu? Kasihan makanannya." Tegur Aldi.
"Kenapa ya? Orang semacam Lio itu, hanya melihat wajahnya saja sudah membuat kesal."
"Kalau wajahku?" Goda Aldi kini membuat Dinda memalingkan wajahnya dengan salah tingkah.
"Kau sama saja." Jawabnya sedikit ketus.
"Hemmm... tapi kenapa salah tingkah? Ayolah sayang. Aku tahu kau ingin mengatakan bahwa aku lebih tampan dari dia kan?"
"Tidak. Kalian sama saja."
"Apanya yang sama? Sikapmu berbeda saat dulu kau mengenalkan Emilio sebagai pacarmu padaku, dan sekarang kau mengenalkanku pada Emilio sebagai tunanganmu. Wajahmu lebih bahagia saat kau menyebutku 'sayang' tadi. Saat Emilio, kau terlihat tertekan.... emmm bukan, tapi terlihat... emmm apa ya...."
"Kau mau mengejekku terus? Kalau begitu aku tidak mau makan." Dinda merajuk dengan meletakkan alat makannya dan memalingkan wajah sembari melipatkan tangan karena kesal.
"Iya iya maafkan aku. Sini aku suapi... aaaaa.... ayo lihat kesini, dan buka mulutnya." Bujuk Aldi sudah siap menyuapi Dinda dengan menggantungkan sendok berisi makanan di dekat wajah Dinda yang masih berpaling.
"Kalau tidak mau makan, aku cium kau sekarang juga!" Ancam Aldi dengan berbisik tepat di telinga Dinda. Dengan terbelalak, Dinda segera melahap makanan dari Aldi. Ia panik melihat senyum Aldi yang begitu menakutkan.
"Mengerikan. Apa Syifa juga selalu tertekan seperti ini? Dasar duda gila." Batin Dinda terus memaki Aldi.
"Kau mengoceh apa dalam hati hem? Wajahmu jelas kau sedang memakiku kan?" Mendengar pertanyaan Aldi ini, Dinda yang semula mengunyah pun berhenti mengunyah. Matanya membulat seakan bertanya dari mana Aldi tahu dia sedang memakinya.
"Jangan memasang wajah begitu. Aku hanya menebak saja, dan ternyata kau memang memakiku dalam hati. Karena kalau tidak, wajahmu tak akan panik begini." Ucap Aldi mengusap wajah Dinda dengan terkekeh dan melanjutkan makannya.
"Hei Al. Aku boleh bertanya?"
"Bertanya apa?"
"Kau dan Avril pernah pacaran?"
"Iya. Kenapa?"
"Dia begitu santai." Batin Dinda yang terheran akan sikap Aldi ini. Memang berbeda dengan Emilio yang selalu mengalihkan pembicaraan jika sudah menyangkut mantan pacarnya.
__ADS_1
"Kau cemburu pada Avil?" Tanya Aldi membuyarkan lamunan Dinda seketika.
"Ti-tidak."
"Hemmm benarkah? Kenapa berpaling?"
"Isshhh sudah Al. Jangan mengejekku terus."
"Tapi kenapa kau menanyakan itu?"
"Ya... ya aku ingin tahu siapa saja mantan pacarmu."
"Hanya Avil dan Syifa saja."
"Bohong."
"Kenapa harus bohong? Memang kenyataannya hanya mereka saja."
"Aku tak percaya Al. Kau itu tampan. Tak mungkin kau hanya punya dua mantan pacar."
"Ehhh kau bilang aku tampan? Jujur juga ternyata." Dinda yang baru menyadari ucapannya yang keceplosan, sontak menutup wajahnya yang mulai merona.
"Hahahaha kau sangat lucu sayang."
Emilio mengepalkan tangannya dari balik jendela kaca yang jauh dari posisi Dinda dan Aldi.
"Aku tak akan menyerah Dinda. Sebelum kau resmi menjadi milik Aldian, aku akan terus berusaha mendapatkanmu." Ucap Emilio kemudian berlalu dengan perasaan sesal yang menyesakkan dadanya.
. Singkatnya, Aldi akan kembali sore ini, Dinda yang kini sudah menjadi presdir pun tak bisa ikut dan harus menunggu beberapa waktu lagi untuk bertemu dengan Aldi. Memang seperti perpisahan sepasang kekasih yang masih ABG. Dinda menyaksikan kepergian Aldi dengan harapan keduanya akan di pertemukan lagi tanpa ada ujian yang mungkin bisa membuat mereka menyerah. Meskipun ia sendiri sering mendengar akan ada ribuan ujian yang datang sebelum hari pernikahan. Dan yang paling mengerikan dari kematian ialah datangnya orang di masa lalu, alias mantan.
. Hari demi hari telah berlalu, masing-masing dari keduanya menjalani hari dengan kesibukan mereka sendiri. Di tambah untuk mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan, Dinda di buat sibuk sendiri karena tidak di dampingi oleh Aldi. Suatu hari, Aldi yang tak tega mendengar Dinda yang sangat sibuk untuk pernikahan mereka pun menyuruh Bagas untuk menggantikannya membantu Dinda. Namun, saat Bagas sudah berada di hadapan Dinda, ia terheran karena Dinda tidak seperti orang yang kelelahan.
"Jadi, hari ini mau kemana nona?" Tanya Bagas dengan sopan.
"Jangan Formal begitu. Kita seumuran juga." Ucap Dinda yang merasa tak nyaman pada Bagas.
"Lalu, harus memanggil apa?"
__ADS_1
"Dinda saja. Anggap aku temanmu, bukan majikanmu."
"Baiklah."
"Aih. Langsung menurut?" Batin Dinda yang merasa terkejut.
"Hari ini aku ada janji dengan Maira di mall." Jawab Dinda yang melewati Bagas dan memasuki mobil.
"Lalu? Aku bagaimana? Kau tidak butuh bantuanku?" Tanya Bagas selanjutnya dengan keheranan. Ia di tugaskan Aldi untuk membatu Dinda, tapi Dinda malah ingin meninggalkannya.
"Kau istirahat saja. Kau baru datang Bagas. Nanti kau kelelahan"
"Tidak tidak. Dinda, aku masih bisa bekerja. Kau tenang saja." Ucap Bagas yang terlihat seperti panik dan langsung mengambil alih kemudi. Meski tak tega, namun Dinda membiarkan Bagas untuk membantunya. Sampai di mall, Dinda mengajak Bagas untuk ikut menemaninya.
"Mau apa?" Tanya Bagas mulai merasa curiga bahwa ia akan di dekatkan lagi dengan Maira.
"Bantu aku memilih baju. 3 hari lagi aku ada acara, dan aku tak punya gaun formal." Jawab Dinda.
"Bukankah ada temanmu? Kenapa harus denganku?"
"Aishhh aku juga butuh penilaian dari laki-laki. Kalau kau tidak mau, aku bisa memberitahu Aldi tentang ini." Mendengar ancaman Dinda, Aldi hanya bisa menyetujui permintaannya. Dengan terpaksa, Aldi mengikuti Dinda kemanapun ia mau. Tatapannya mulai berpaling saat ia melihat Maira dari kejauhan. Sikapnya masih acuh saat Dinda dan Maira berpelukan tanda pertemuan mereka. Lalu, Dinda menatap Bagas penuh harap membuat Bagas merasa risih.
"Apa? Kau mau aku memeluknya juga?" Tanya Bagas sehingga Maira memeluk dadanya sendiri. Bisa-bisanya Bagas mengatakan hal itu dengan lantang di tengah keramaian.
"Kau ingat dia kan?" Tanya Dinda mencoba untuk mengetes ingatan Bagas.
"Kau pikir aku sudah pikun? Aku dan dia bertemu seminggu yang lalu." Jawab Bagas semakin terdengar kesal.
"Aihhh sepertinya kau kesal."
"Aku tidak suka ditempat seperti ini Dinda...."
"Ya sudah... kalau begitu cepat bantu aku mencarikan gaun!" Titah Dinda setelah tahu alasan Bagas terlihat begitu kesal dan tak nyaman.
"Di sini saja Din. Aku sudah melihat-lihat tadi." Ujar Maira menunjukkan gerai pakaian yang tak jauh darinya. Ketika Dinda tengah memilah beberapa gaun, Bagas melirik pada Maira yang juga kebetulan melirik ke arahnya.
"Kau bekerja disini?" Tanya Bagas mencairkan suasana.
__ADS_1
"I-iya." Jawab Maira yang sebenarnya adalah pemilik mall tersebut.
-bersambung